Tiga Generasi Sultan

Tiga Generasi Sultan
76. Down


__ADS_3

...Happy Reading...


Ray terlihat senyum-senyum sendiri dalam dekapan Hana, yang sedang mengumpat habis Adelia dan Ganesh saat ini.


Memang suasana seperti ini yang Ray inginkan, bermesraan berdua saja dengan Hana tanpa ada pihak ketiga dan lainnya.


Dasar pasangan suami istri mesvm, tega-teganya ninggalin adeknya sendiri di kantor, gw bilangin aunty Mala sama uncle Carlos baru tahu rasa.


" Tapi aku ada meeting Ray sebentar lagi, gimana dong?" Hana mengusap lembut kepala Ray dengan lembut.


" Tinggal aja nggak papa kak, aku sudah biasa sendirian kok." Jawab Ray yang masih memeluk perut Hana dengan erat, karena Hana dalam posisi bersandar di meja kerjanya.


" Enggak, apa bedanya aku dengan kedua kakakmu nanti, mana aku nggak tau selesainya sampai jam berapa lagi." Ucap Hana sambil memikirkan sesuatu.


" Beneran kak nggak papa, aku nggak mau menggangu kinerja kakak, aku kesini cuma pengen denger suara kakak aja, soalnya sudah dua hari kakak nggak datang ke rumahku." Umpat Ray yang menunjukkan sikap ngambeknya.


" Maaf Ray, dua hari ini aku pulang malam terus, meeting sama klien sampai malam." Jawab Hana dengan jujur.


" Ya sudah, bukan salah kakak." Jawab Ray dengan lemah, dia pun paham bagaimana pekerjaan seorang CEO karena daddynya terkadang juga seperti itu.


" Kalau begitu kamu ikut kakak meeting saja ya, ini cuma meeting di kantor sama staf-staf saja kok, nggak di luar kantor, gimana?" Hana menemukan ide yang menurutnya bagus.


" Aku takut ganggu kakak nanti, aku tunggu disini saja." Jawab Ray dengan ragu.


" Nggak ganggu kok, kalau kamu sendirian disini aku malah nggak tenang nanti saat meeting." Hana langsung melepas pelukan dan merapikan bajunya.


" Ayok kita ke ruang meeting sekarang." Hana membenahi kemeja Ray dan menggandengnya keluar ruangannya, dia tidak mau ada kata penolakan kali ini.


" Waah... siapa itu? bukannya kita cuma meeting dengan staf kantor saja?"


" Mungkin itu kekasih CEO kita?"


" Wow... sweet banget ternyata big bos kita, mana gandengan terus dari tadi? meeting kantor saja sampai dibawa kekasihnya?"


" Iya... tapi kenapa dia pakai kaca mata hitam? ini kan didalam ruangan?"


" Iya juga ya, biar terlihat keren kali?"


" Tapi emang keren kok, ganteng banget lagi."


Rentetan kasak-kusuk dari para staf yang sudah menunggu Hana diruang meeting langsung terdengar ditelinga Ray, membuat dirinya merasa canggung dan tidak enak hati.


" My Hana, aku tunggu di luar saja ya?" Pinta Ray sambil berbisik didekat Hana.


" Nggak boleh, kamu disini saja." Hana langsung menarik kursi Ray dan merapatkan ke kursinya.

__ADS_1


" Tapi aku nggak enak jadinya, aku kan nggak tahu apa-apa disini?" Bisik Ray kembali.


" Sudah, kamu duduk santai saja ya, aku usahain biar cepet selesai meetingnya ya?" Hana bahkan menautkan jemarinya ke jemari Ray.


" Okey, meeting kita mulai, silahkan bacakan laporan dari divisi utama." Ucap Hana langsung memulai meetingnya.


" Kak, nggak mau dilepas dulu tangannya? nanti dilihatin karyawan kakak loh." Bisik Ray kembali.


" Emang kenapa kalau mereka lihat?" Hana bahkan mempererat tautan jemarinya.


" Emang kakak nggak malu?" Tanya Ray perlahan, dia sebenarnya bahagia diperlakukan seperti itu oleh Hana, namun dia takut mempermalukan Hana nantinya.


Cup


Hana malah mencivm jemari Ray didepan staf-staf kantor dengan santainya.


" Cieeeeee... uhuiii... nona sweet banget deh?" Ledek semua stafnya dengan kompak.


" Tuh kan kak?" Ray sampai menundukkan kepalanya sendiri.


" Konsentrasi... lanjutkan meetingnya, jangan terusik oleh hal apapun di ruangan ini, mengerti!" Ucap Hana dengan tegas.


Herm... gimana mereka mau konsentrasi kak, bahkan tangan kita kakak taruh diatas meja.


" Okey... meeting selesai, kalian bisa kembali keruangan masing-masing, terima kasih." Ucap Hana yang membuat mereka semua lega.


Saat pintu lift mereka terbuka, Ray sama sekali tidak bergerak, sedangkan Hana lupa menggandeng lengan Ray, karena dia terlihat sibuk dengan ponselnya karena ada klien yang menghubunginya.


" Pak, silahkan masuk?" Jawab staf itu yang menahan pintu lift agar tidak tertutup dulu.


" Kalian duluan saja, saya menunggu Hana." Jawabnya sambil merasa kikuk.


" Ini nona Hana sudah masuk kok, ada disamping saya?" Jawab salah satu staf lainnya.


" Hah? Hana?" Teriak Ray sambil mera ba-ra ba dikanan kirinya.


" Apa dia tidak bisa melihat?"


" Bukannya nona jelas-jelas sudah masuk?"


" Kasian sekali apa dia buta?"


" Jadi kekasih CEO kita buta?"


" Pantesan didalam ruangan tadi pakai kaca mata hitam, kirain biar keren, ternyata buta."

__ADS_1


" Hussh... jangan bergitu, jangan keras-keras!"


Saat mendengar kata buta, Hana baru tersadar dengan keberadaan Ray.


" ASTAGA RAY!" Hana langsung mematikan ponselnya dan berlari keluar lift.


Apa aku pantas untukmu, dalam keadaan diriku yang seperti ini my Hana..


" Kak?" Ucap Ray dengan nada lemah, entah mengapa dia yang jadi merasa malu sendiri.


" Maaf, aku ada telpon penting dari klien tadi, jadi lupa menggandengmu." Hana merasa sangat bersalah kali ini.


" Nona, mari saya bantu." Jawab staf lain yang langsung ikut keluar.


" Tidak perlu, aku bisa sendiri, ayok Ray... kaki kanan dulu." Ucap Hana yang langsung menggandeng pinggang Ray dan menuntunnya untuk masuk kedalam lift.


" Maaf nona, saya tidak tahu kalau kekasih anda itu---"


" Tidak masalah dan tidak ada yang perlu dipermasalahkan, hanya satu pesan untuk kalian, jangan pernah memandang orang hanya karena kelemahannya saja, karena belum tentu kita yang sempurna lebih baik darinya!" Hana langsung memotong perkataan staf kantornya dengan tegas.


" Kita makan siang dulu yuk sayang, kamu pasti sudah lapar, mau makan apa?" Bahkan Hana sengaja memanggil Ray dengan sebutan sayang yang mesra, padahal saat itu juga belum saatnya jam makan siang.


Dia hanya ingin menjaga mental Ray saja, agar tidak down didepan orang banyak yang sedang mencoba merendahkan dirinya.


" Nanti saja, kita keruangan kamu dulu." Jawab Ray dengan lemah.


" Baiklah, kita sudah sampai, ayuk kita keluar." Hana langsung menggandeng lengan Ray dengan erat, dia sungguh menyesal melupakan Ray sejenak karena telpon dari kliennya tadi.


Sedangkan para staf kantor Hana kembali saling berbisik dan saling menyalahkan, karena sepertinya Hana merasa kesal karena umpatan mereka yang spontan.


" Kakak, aku mau pulang saja." Ucap Ray saat sudah sampai di ruangan Hana.


" Loh... kan belum lama datang, masak sudah mau pulang, tunggu satu kali meeting lagi ya, nanti kita pulang bareng, okey?" Hana langsung mengenggam jemari Ray yang ternyata sudah berkeringat.


" Kak, bagaimana kalau kita su.. sudahi saja, emm... hu... hubungan kita." Ray berkata dengan gugup dan ragu.


" Ngomong apa sih Ray." Hana sudah menduga Ray akan down seperti ini.


" Kita pu.. putus saja." Air mata Ray langsung menetes dari kedua sudut matanya.


Dia sungguh tidak rela mengatakan ini, hatinya sungguh terluka, tidak pernah terbayangkan di hidupnya, dia yang akan mengakhiri dulu hubungan yang sedari dulu dia inginkan, namun dia tidak ingin Hana malu karena punya kekasih buta seperti dirinya.


..." Kapal tidak tenggelam karena air di sekelilingnya; kapal tenggelam karena air yang masuk kedalamnya, jadi jangan biarkan apa yang terjadi di sekelilingmu masuk kedalam pikiranmu dan memberatkan dirimu."...


Yok... yang mau ngasih kopi dan kembang sekebonnya, monggo dipersilahkan 🙏🙇‍♀️

__ADS_1


__ADS_2