Tiga Generasi Sultan

Tiga Generasi Sultan
137. Bestie


__ADS_3

...Happy Reading...


Kediaman rumah keluarga besar Carlos siang ini sepi, karena mulai hari ini Hana dan Raymond pindah kerumah mereka yang baru.


" Mom... Hana sama Ray mana?"


Saat ditinggal suaminya bekerja, Adelia memang sering datang kerumah orang tuanya, karena dia tidak suka jika sendirian dirumah.


" Mereka sudah pindah ke rumah barunya nak, kamu kapan datang?" Mala langsung tersenyum menyambut putrinya dengan perut yang sudah mulai besar.


" Iya, tumben cepet banget mereka pindah?" Adelia langsung menyandarkan kepalanya di pundak mommy tercinta.


" Bagus mereka cepat pindah, kalau tidak sakit kedua mata mommy ini melihat mereka nempel aja kayak lem tikus!" Umpat Mala yang beberapa kali memergoki anak dan anak menatunya itu bermesraan disembarang tempat.


" Mama ini ngomong tikusnya mantep banget?" Adelia langsung terkekeh melihat ekspresi mamanya.


" Dua orang itu memang suka curi-curi waktu kayak tikus!" Umpat Mala tetap kekeh.


" Mau tikus juga dia anak mommy." Jawab Adelia yang hanya bisa tersenyum saat menanggapi gerutuan sang mommy.


Tulilut


Saat Adelia masih asyik mendengarkan ocehan Mala tiba-tiba ponselnya berdering.


" Eh.. tumben Dimas nelpon?"


Adelia langsung menggeser tombol hijau di ponselnya.


" Hallo mas? tumben nelpon?" Jawab Adelia yang langsung penasaran.


" Del... apa kamu punya waktu?"


" Maksudnya?" Adelia langsung mengernyitkan kedua alisnya, apalagi saat mendengar suara Dimas yang terdengar lesu.


" Emm... kalau kamu tidak keberatan, bisa kita ngobrol santai, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu."


" Tentang?"


" Aku tidak mau ngobrol di ponsel, boleh kita bertemu?"


" Hmm.." Adelia merasa ragu, dia sudah tidak bekerja lagi, kalau mau keluar berdua saja dengan Dimas dia tidak mau suaminya ngamuk gara-gara itu.


" Boleh kah?"


" Apa ini penting?"


" Hmm.. " Dimas tidak mau menjelaskan masalahnya di ponsel saja.


Tumben Dimas seperti ini, apa dia ada masalah ya? tapi aku takut kak Ganesh marah, tapi aku juga kasihan kalau Dimas sampai depresi lagi karena tidak punya teman ngobrol, karena selama ini dia hanya mau terbuka denganku.


" Apa aku boleh ajak teman?"


" Siapa?"


" Emm... Hana bagaimana? dia orang yang bisa aku percaya, soalnya perutku sudah mulai membesar Mas, jadi aku takut nyetir mobil sendirian." Padahal ini hanya alasannya saja.


" Okey, kita ketemuan di kafe biasa ya?"


" Siap Mas!"


Ada apa dengannya? sepertinya masalahnya sangat rumit?


" Mom... mana alamat rumah baru Ray?" Adelia langsung kembali mendekat kearah mommynya.


" Buat apa?" Tanya Mala.


" Mau ngajakin adek ipar healing!"


" Healing?"


" Hehe... jalan-jalan mom, sudah lama banget nggak pergi berdua dengannya."


" Okey... mommy kirim alamatnya lewat chat ya."


" Makasih mom."


" Tapi siapkan mental dan mata kamu kalau kesana, nanti kamu kaget lagi masuk kerumahnya trus melihat mereka lagi jungkat-jungkit dengan gilanya." Umpat Mala yang hanya menduga saja.


" Ya nggak mungkinlah mom, ini masih siang kali, pasti mereka juga lagi beberes rumah baru kan?"


" Semoga saja dugaan mommy salah, kamu diantar sopir kan?"


" Iya mom."


" Kalau begitu hati-hati dijalan, okey?" Mala mengusap perut Adelia sekilas dan berlalu kembali ke dapur.


Jarak rumah orang tuanya dengan rumah Ray tidak begitu jauh, mereka masih sama-sama berada dikawasan rumah elit.


Akhirnya Adelia sampai didepan rumah mewah milik adeknya, dia menyuruh sopirnya menunggu didepan saja, karena dia hanya ingin meminta Hana menemaninya sebentar saja.


" Hmpt.. owh my Hana.."


Saat Adelia ingin mengetuk pintu dia mendengar suara Ray dari dalam, ternyata pintunya tidak terkunci, bahkan terbuka sedikit.


" Sayang.. ough, lebih dalam lagi."


Telinga Adelia kembali menangkap suara Ray, dia mencari keseluruh ruangan yang masih berantakan dengan barang-barang bawaan mereka, maklumlah kalau sudah berumah tangga sendiri pasti banyak perabot yang dibeli, apalagi rumah itu baru.


" Ray... Hana? kalian dimana?" Adelia langsung berteriak memanggil keduanya ketika ada suara tapi tidak ada orangnya.

__ADS_1


Bruk!


Tiba-tiba Adelia seperti mendengar orang yang sedang terjatuh dilantai.


" Yank... jangan dilepas, sebentar lagi aku sampai, lanjutin yank!" Ucap Ray dengan santainya, karena dia sudah hafal dengan suara Adelia.


" Allohuakbar!"


Adelia mendekat kearah asal dari suara mereka dan langsung melotot saat melihat Ray dan Hana yang berada dilantai dengan posisi menyatu.


" Ngapain kakak kesini!" Ray langsung membalikkan tubuh Hana dan menutupi baju istrinya yang sudah compang camping oleh perbuatannya, dengan tubuhnya sendiri.


" Astaga Ray! ini masih siang loh? apa nggak bisa nunggu sampai malam gitu?" Umpat Adelia yang langsung memalingkan wajahnya.


" Kakak aja yang datang nggak tepat waktu!" Padahal Ray tidak memakai sehelai benang pun, dan tetap tengkurap diatas tubuh Hana.


" Sudah gila kalian ya, kalau orang lain yang masuk gimana? dih... amit-amitlah kalian berdua ini." Adelia langsung mengusap perutnya, seolah mengatakan kepada calon bayinya agar tidak meniru kelakuan paman dan tantenya nanti kalau sudah dewasa.


" Emang siapa yang berani memasuki rumahku kalau bukan kalian, ini kawasan elit, nggak akan ada sales atau apapun itu yang boleh masuk kesini."


" Ya tapi kan nggak dibawah sofa ruang tamu juga kan Ray? bisa didalam kamar kalian kan?" Adelia hanya bisa memejamkan mata melihat kelakuan adeknya, ternyata memang benar kata mommynya, adeknya itu sudah gila karena cinta.


" Mas... sudah cepetan turun!" Hana yang berada dibawah kungkungannya langsung memukuli lengan kokoh suaminya.


" Sebentar yank, tujuh kali genjotan lagi pasti udah keluar, nanggung banget ini." Ray bergantian mengambil alih kendali.


" Tapi ada kakakmu itu, temui dulu itu bumil, kasian kan?" Hana tetap berontak, namun Ray malah sengaja menggenjotnya.


" Mas.. auh! stop mas!" Hana pun ragu, antara malu namun hentakan senjata suaminya mampu membuatnya menggila saat Ray semakin memperdalam serangannya.


" Sebentar sayang, tahan ya!" Ray bahkan mempercepat laju torpedonya dikecepatan paling maksimal.


Hingga membuat mereka berdua tanpa sadar melengvh dengan kuat karena merasakan sensasi yang luar biasa!


" Arggghh!"


Akhirnya mereka berdua tergolek lemas diatas lantai secara bersamaan, setelah sama-sama mengejang dengan nikmatnya, karena telah sampai dipuncak secara bersamaan.


" RAAAAAAAAAAY... HANAAAAAA... kalian memang sudah tidak waras ya!"


Akhirnya Adelia sendiri yang tidak tahan dan memilih pergi keluar dari sana sebelum tingkat kesabarannya terkikis habis oleh sepasang pengantin baru yang gila itu.


" Huft... sabar ya nak, kalau mau ditengokin ayah nanti malam ya? sekarang kita temui dulu Om Dimas ya, dia sahabat mama, jadi kita harus menolongnya."


Adelia mencoba berbicara dengan janin yang berada didalam perutnya, walau Adelia sering melihat aurat Adeknya saat dia masih but@ dulu, namun lain saat tubuh itu menumpu dengan tubuh lain, walau dia sering merasakan sendiri, namun saat hanya menjadi penonton saja itu sensasinya begitu menggiurkan.


" Cepat jalan pak, ke kafe langgananku ya."


Adelia sudah tidak memperdulikan lagi kalau Ganesh marah nantinya saat tahu kalau dia bertemu berdua saja dengan Dimas. Yang terpenting dia segera pergi dari rumah adek gilanya itu.


Dari sudut kafe terlihat Diams sudah duduk sendirian dengan tiga gelas minuman disana, mungkin dia mengira Adelia datang bersama Hana.


" Adelia? kamu sudah datang? mana Hana? kok kamu cuma sendirian saja?" Tanya Dimas sambil clingak-clinguk melihat keluar kafe.


" Hana sedang.. emm.. sudahlah, lupakan pengantin gila itu, mereka tidak penting." Ucap Adelia kesal, tidak mungkin juga dia ceritakan kalau Hana sedang melakukan proses produksi kepada pria yang belum menikah.


" Kenapa? ada apa?" Tanya Dimas yang langsung tersenyum saat melihat sahabatnya itu.


" Itu yang seharusnya aku tanyakan kepadamu bukan? tumben kamu ngajakin ngobrol diluar?"


" Hmm... boleh aku bertanya?"


" Tentang apa?"


" Kemana Hesti? kenapa nomornya juga nggak aktif?"


Wah... apa ini masalah cinta segitiga diantara mereka ya?


" Emm.. aku..." Adelia ragu untuk menjawabnya, karena dia menyiapkan jawaban untuk versi Arka ternyata malah Dimas yang bertanya duluan.


" Aku yakin kamu pasti tahu dimana Hesti berada saat ini kan?"


" Emang kenapa?" Tanya Adelia yang sebenarnya tidak bisa berbohong.


" Aku ingin tahu dimana dia berada?" Jawab Dimas dengan raut wajah yang lemas.


" Kalau aku tidak bisa memberitahumu sekarang, apa kamu akan marah denganku?" Tanya Adelia yang mencoba menelisik wajah sahabatnya itu.


" Kalau kamu tidak bisa memberitahuku, katakan kepadanya, kalau ayah sakit sekarang, dan itu karena Hesti."


Degh!


Adelia langsung memegang dadaanya sendiri, antara terkejut dan takut pula, karena dia yang memberikan ide agar Hesti menepi di Villa milik keluarganya sejenak.


" Emang om Arka sakit apa? apa sakitnya parah?" Tanya Adelia yang langsung terlihat prihatin.


" Hmm... lumayan dalam lah." Jawab Dimas yang semakin membuat Adelia lebih merasa bersalah lagi.


" Huh... Dimas, boleh aku tanya sesuatu denganmu?"


Sebelum mengatakan yang sebenarnya, Adelia ingin tahu sejatinya perasaan Dimas itu seperti apa, atau seperti yang ditakutkan Hesti waktu itu.


" Tentu, tanyakan saja." Jawab Dimas yang langsung menyandarkan punggungnya ke kursi.


" Maaf kalau ini menyinggungmu, tapi apa benar kamu menyukai Hesti?" Tanya Adelia perlahan namun Dimas terlihat diam belum memberikan jawaban.


" Dimas, kamu dan Hesti adalah sahabatku, kalian berdua sama-sama penting bagiku, aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi dengan kalian berdua."


" Entah, aku pun ragu, kamu tahu sendiri kan aku orangnya bagaimana dan seperti apa?" Karena memang Dimas juga termasuk salah satu pasiennya dulu.

__ADS_1


" Itulah... makanya aku ingin bertanya langsung denganmu?" Adelia langsung menyeruput minuman yang sudah Dimas pesankan.


" Kalau dibilang suka, ya aku suka dengannya."


" Kalau cinta?" Tanya Adelia dengan cepat, karena suka saja belum tentu cinta pikirnya.


" Kalau itu aku belum bisa memastikannya Del."


" Tapi kalau ayah kamu, aku bisa memastikannya kalau dia mencintai Hesti, dari semua curhatan yang sudah aku dengar." Adelia langsung menuju topik utama pembicaraannya.


" Hmm... mungkin." Dimas pun mengganguk, namun mulutnya seakan sulit untuk mengatakan 'Ya'.


" Kenapa kamu tidak merestui hubungan mereka saja Dimas?"


" Aku sempat berfikir ingin melakukan ta'aruf dengan Hesti Del."


" Kalau seperti ini keadaannya, apa kamu yakin Hesti mau menerimanya?"


" Entahlah, untuk itu aku ingin bertemu denganmu, karena aku juga bingung dengan perasaan ini."


" Dimas.. aku bukannya ingin membela salah satu diantara kalian, tapi.. memaksakan sesuatu yang belum tentu ada kepastiannya itu, tidak baik akhirnya."


" Tapi aku tertarik dengan Hesti, bahkan mungkin saat Hesti belum bertemu dengan ayah, apa aku salah? sedangkan ayah sudah pernah menikah, bagaimana dengan almarhum mamaku? apa ayah akan melupakannya begitu saja setelah Hesti datang kedalam kehidupannya nanti?"


Rentetan curahan hati Dimas langsung keluar dengan sendirinya.


" Aku tahu perasaanmu Mas, tapi aku yakin itu bukan cinta, kamu hanya merasakan ketakutan yang belum tentu terjadi."


" Tapi aku sungguh-sungguh ingin ta'aruf dengan Hesti jika dia bersedia?"


" Dimas... aku tahu siapa Hesti, secara kasarnya nih.. sudah pasti dia akan menolakmu, walau mungkin ayahmu melepasnya untukmu, namun Hesti tidak akan menerimamu walau itu permintaan dari ayahmu sekalipun, kamu tahu alasannya apa?"


" Apa?"


" Karena sudah pasti Hesti akan menjaga hati ayahmu, karena dia memang sangat menyayangi ayahmu itu."


Adelia memilih bicara jujur saja, karena tidak ingin masalah keduanya semakin rumit seperti nantinya.


" Apa aku tidak berhak bahagia Adelia?"


" Tentu kamu harus bahagia Dimas, tapi mungkin bukan dengan Hesti."


" Huft!" Dimas terlihat membuang nafasnya dengan kasar.


" Dimas... it's not you! kamu biasanya tidak seperti ini kan Mas?"


" Begini deh Mas... seumpama nih ya, Hesti mau menerimamu tapi terpaksa, apa kehidupanmu akan bahagia nantinya? cinta sepihak itu sakit Dimas, lebih baik merelakan dan mencari kebahagiaan lain dari pada mencoba memaksakan, namun hanya luka hati yang kita rasakan."


" Come on Dimas... aku percaya kamu tidak selemah itu, bukannya aku membela Hesti, tapi aku perduli dengan kamu, kamu pasti bisa bahagia saat kamu bisa menemukan seseorang yang punya rasa yang sama denganmu."


" Hidup kamu masih panjang Dimas, apalagi kamu sudah jadi dosen sekarang, dosen muda tampan dan mapan, siapa sih yang nggak tertarik denganmu?" Rentetan nasehat juga keluar dari mulut Adelia sebagai seorang sahabat.


" Kamu!" Ucap Dimas dengan cepat.


" Dimas, aku serius!" Jawab Adelia.


" Hmm.. aku juga cuma bercanda kok, tapi memang kamu tidak pernah tertarik kok denganku!"


" Dimas... sebentar lagi aku sudah jadi emak-emak berdaster loh ini."


" Kenapa emangnya, baju lebaran yang cantik dan mahal saja cuma dipakai beberapa jam, masih kalah dengan daster yang bisa membuat nyaman setiap saat bukan."


" Pffttthh... kok sampai situ kamu mikirnya, sepertinya kamu mau jadi pecinta emak-emak berdaster ya?"


Akhirnya mereka berdua bisa tersenyum lepas dengan candaan yang tanpa dia sengaja.


" Apapun itu, aku tahu kamu kuat Dimas, lupakan Hesti kamu pasti akan dapat pengganti yang lebih cocok denganmu, si Hesti itu lebih cocok jadi ibu kamu! hehe..."


" Ckk... jadi judulnya, ibu tiriku adalah sahabatku gitu?"


" Hahahaha... wah, cocok sekali itu?"


" Bahagia sekali kamu melihat aku begini ya, sahabat macam apa kamu?"


" Dimas... jangan pernah meratapi segala sesuatu yang hilang dari hidupmu, sebab Allah akan menggantinya dengan bentuk yang lain. Terimalah kekecewaan yang hanya sementara, jangan sampai kehilangan harapan yang tak terbatas, aku yakin kamu pasti bisa!"


" Hmm... doakan aku ya?" Akhirnya Dimas sedikit merasa lebih tenang.


" SAYANG! SEDANG APA KAMU DISANA!"


" Habislah aku, tuh kan dia bisa tahu aku pergi dengan siapa!"


Tiba-tiba suara Ganesh langsung menggelegar dari arah pintu kafe.


" Huft... pesan makan juga belom, udah dateng aja itu pengawalmu!" Ledek Dimas yang langsung terkekeh.


" Hush... dia suamiku, goodluck for you, aku tahu kamu bisa melewati semua masalahmu dengan bijak, tetap menjadi Dimas yang aku kenal ya? jangan risaukan betina di dunia ini, karena penduduk wanita di dunia ini lebih banyak populasinya, okey... tetap semangat Mas, aku mau pergi menjinakkan pawangku dulu, bye!"


" Suruh Hesti menemui ayahku!" Ucap Dimas kembali.


" Siap Bestie! you are the best!"


Adelia mengancungkan kedua jempolnya ke arah Dimas dan memilih pergi menghalangi suaminya masuk kedalam, karena sudah pasti hanya akan ada keributan disana nantinya.


Realita tetap realita, tak peduli kamu menghindar atau tidak, semua itu tidak mengubah kenyataan yang ada.


Salah satu cara untuk tetap bertahan hidup adalah dengan cara menerima kenyataan hidup dengan keikhlasan.


..."Dalam hidup, kadang kamu harus menerima bahwa tak semua harapan jadi kenyataan. Dan yang kamu butuhkan adalah keberanian untuk merelakan."...

__ADS_1


"


__ADS_2