Tiga Generasi Sultan

Tiga Generasi Sultan
86. Menuju Destinasi


__ADS_3

...Happy Reading...


Raymond kali ini bahkan tidak tahu harus bilang apalagi dengan apa yang dilakukan Hana kekasihnya, antara terkejut, kaget, tidak menyangka dan juga bahagia bercampur aduk menjadi satu.


Sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan sama sekali di hidupnya, kini terjadi disaat yang menurutnya tidak tepat.


" Kak... jangan lakukan itu, nanti kakak menyesal!" Teriak Ray kembali, pikirannya pun jadi kacau saat ujung botol miliknya sudah menyentuh tutup idamannya.


" Aaaaaaarrrggghhhh!" Hana menjerit kes@kit@n saat pintu mahkotanya dia hantamkan sendiri ke ujung keris kesayangan milik Raymond.


" Oh.. astaga, apa kakak sudah gila?" Setelah burung peliharaan satu-satunya merasakan nikm@t dan kehang@tan didalam sana, Ray malah dengan santainya menaruh kedua tangannya dibelakang kepala, sebagai bantal ternyamannya, bahkan posisinya seperti sedang berjemur di tepi pantai.


" Ray... sakit Ray...!" Hana masih mematung ditempat dengan posisi kedua kakinya menghimpit tubuh Ray.


Ya ampun? aku harus bagaimana ini? kenapa first time harus dalam keadaan seperti ini? mau di lepas sudah terlanjur, lanjut sajalah...


" Kakak kurang pemanasan sih tadi." Jawab Ray dengan santainya, sambil menikmati sens@si yang tidak pernah dia dapatkan sebelumnya.


" Masak sih? setahuku kalau mau begitu@n nggak harus lari, sit up apalagi push up kok?" Umpat Hana sambil meringis menahan rasa perih di aset berharga miliknya.


" Pfffttthhh... bukan pemanasan yang seperti itu kakak sayang?" Ray menahan senyumannya sambil sedikit menggerakkan pedang pusaka miliknya dengan perlahan.


Mau menolakpun tidak bisa, mau memberontak juga sudah terlanjur masuk gawang, tidak ada yang bisa dia lakukan selain melanjutkannya saja.


" Emang kalau tadi aku pemanasan dulu nggak akan sakit Ray?" Tanya Hana dengan polosnya.


" Hmph... te.. tetep sakitlah!" Ucap Ray sambil sedikit mengg○yangkan pinggvlnya.


" Aw.. sakit Ray, jangan gerak-gerak dong!" Hana kembali merasakan kes@kitan saat Ray bergerak.


" Huh... maaf kak, nggak sengaja, refleks ini." Ucapnya sambil tersenyum canggung.


" Haduh... makin perih ini Ray, gimana dong?" Hana bahkan takut bergerak saat keris itu masih men@nc@p ditempat yang semestinya.


" Yaa... mau gimana lagi, sudah terlanjur masuk kali kak!" Jawab Ray dengan entengnya.


" Trus gimana ini, mau maju apa mundur Ray, aku harus bagaimana, jangan diam saja?" Hana memukul dad@ bidang Ray dengan kesal saat dirinya malah terlihat pasrah.


" Ya elah... gerak salah, diam juga salah, emm.. begini saja, kakak mau maju terus, sakit tapi en@k atau mau mundur, sakit tapi nggak en@k?" Ucap Ray yang langsung memberikan sebuah pilihan.


" Apaan sih Ray, nggak ngerti aku, kenapa semua sakit?" Hana semakin puyeng dibuatnya, rasa perih di pusat intinya membuat pikirannya menjadi oleng.

__ADS_1


" Namanya juga baru pertama kali kak, intinya gini deh... kakak mau en@k, apa nggak en@k?" Tanya Ray yang juga sulit menjelaskan detailnya, otaknya pun ikut oleng karena benda sensitif itu masih enjoy didalam sana.


" Ya sudah pasti yang en@k lah, mana ada orang yang mau nggak en@k, nggak jelas banget kamu ini." Gerutu Hana sambil terus meringis kesakit@n.


" Kalau begitu biar aku yang melanjutkannya, kakak diam saja dan tinggal menikm@tinya saja."


Seolah kekuatan yang sudah lama terkubur muncul kembali dan berkumpul pada diri Ray, dia pun sudah tidak tahan sedari tadi, tidak bisa di pungkiri naluri seorang pria jika sudah dalam posisi seperti itu, apalagi dengan orang yang benar-benar dia sayang sejak dulu hingga kini, akal sehatnya seolah berhenti sesaat, bahkan seluruh tubuhnya seolah berkata ' Hantam sajalah, yang lain pikir belakangan'.


Ray langsung bangkit dan mendorong tubuh Hana untuk mengganti posisi, akhirnya Ray yang mendominasi permainan sekarang.


" Ray... mau ngapain kamu?" Bisik Hana sambil menahan tubuh Ray diatasnya.


" Katanya tadi mau en@k, jadi apa enggak?" Ucap ray yang masih mengatur deru nafasnya, walau dia belum bisa melih@t, namun tangannya bisa mer@b@ dan mencari-cari benda-benda yang bisa membuat Hana jadi mer€m mel€k disana.


" Tapi Ray, ini s@kit." Andai Ray bisa melih@t wajah Hana, dia pasti tidak tega melanjutkannya karena ternyata air mata Hana sudah keluar dari dua sudut matanya.


" Tahan sebentar ya kak, nanti katanya lama kelamaan sudah enggak lagi." Perlahan tapi pasti Ray mulai menelusuri pemandangan semesta alam dibawah sana dengan kedua tangan kokohnya.


" Kok katanya sih, ini masih p€rih Ray." Hana bahkan memejamkan kedua matanya.


Krek!


" Argh Ray... kenapa kamu merobeknya?" Hana langsung memukul lengan Ray.


" Aku mau cari sesuatu yang bisa membuat kakak melupakan rasa sakit yang kakak alami sekarang." Dalam situasi seperti itupun mereka masih saling berdebat satu sama lain dan bahkan saling tarik menarik kain yang masih tersisa menutupi tubuh Hana.


" Ray... iish... @h... emh... @h...!" Hana mulai terbang melayang ke langit tujuh bidadari saat Ray mulai mengeluarkan jurus otodidak dengan lihai pada dirinya.


Suara jeritan kesakit@n Hana lama kelamaan berganti dengan suara des@h@n, yang membuat Ray semakin semangat mendayung perahunya, menuju ke destinasi wisata yang paling indah didalam hidupnya.


" Ka... kakak, ma... maafkan aku!" Ucap Ray disela-sela kerja kerasnya.


" Owh... Ray?" Hana tidak mampu lagi berkata-kata, hanya nama Ray yang sedari tadi keluar dari mulutnya.


" A.. aku sayang kakak!" Walau keringat bercucuran dan membasahi seluruh tubuhnya, dia tetap tidak menghentikan aksinya, karena yang kurang dari dirinya hanya penglih@t@nnya bukan staminanya.


" Hmph... argh!" Hana sudah tidak bisa berpikir lagi.


Ray langsung menarik pedang pusakanya, disaat tegangan listriknya sudah berada dipuncak tertinggi dan memunt@hkan lahar panasnya diatas tubuh Hana.


Seketika dia ambruk diatas tubuh Hana, begitu juga dengan Hana yang langsung lemas seketika, dia seperti merasakan kekalahan dalam adu Taekwondo, kekuatan dan kesaktian tubuhnya seolah menghilang dan berganti menjadi suatu kenikm@t@n yang tidak terkira.

__ADS_1


" Kak, gimana rasanya?" Tanya Ray setelah beberapa saat kemudian.


" Apanya Ray?" Jawab Hana dengan lemah.


" Pake nanya lagi, mau ganti posisi nggak?" Tawar Ray dengan santainya.


" A... aku nggak ngerti kamu ngomong apaan?" Umpat Hana.


" Emm... saat itu kakak lihat apa dikamar kak Adelia dan suaminya?" Ucap Ray sambil memelvk tubuh Hana yang juga banjir dengan keringat.


" Ngomong apaan sih kamu Ray?" Hana mencoba menepisnya, namun dia mengingatnya juga, karena hal itu sudah terekam didalam otaknya walau ingin dia lupakan.


" Nggak usah ngomong kak, praktekin aja!" Ray langsung bangkit dan menarik tubuh Hana.


" Buruan, waktu kita cuma malam ini saja!" Ucap Ray yang seolah dikejar target dan waktu.


" Enggak lah Ray... aku takut!" Umpat Hana sambil menggelengkan kepalanya.


" Takut disaat seperti ini juga sudah percuma, sudah terlambat kakak sayang, kita lanjut saja ya kak!" Walau baru pertama kalinya, namun naluri seorang laki-laki terkadang selalu bisa menjadi Suhu dalam waktu yang sesingkat-singkatnya jika sudah seperti ini.


" Ray!"


Raymond langsung memangku tubuh kekasihnya kembali dan melanjutkan ronde kedua, entah set@n apa yang sudah merasuki kedua orang ini, sehingga melakukan hal yang tidak semestinya dilakukan oleh pasangan, sebelum mereka mendapatkan label 'Halal'.


" Mereka lagi ngapain sih? apa mereka sedang berantem ya? aduuh... ngeri pisan euy? nona Hana sampai menjerit-jerit seperti itu?"


" Apa aku ketuk pintunya saja ya, tapi tadi ada suara lain sih?"


" Tapi aku takut kalau kena marah, kalau aku dipecat bisa berabe nanti, bahkan kreditan motor, kulkas, kasur dan panciku masih beberapa periode lagi?"


" Hah, biarkan sajalah mereka mau berbuat apa? aku tidur saja, badanku merinding semua didepan pintu ini."


" Atau jangan-jangan ada.... hwa... set@n kali ya!"


Asisten rumah tangga Raymond yang ternyata masih menunggu didepan pintu itu langsung berlari menuju kamarnya, meninggalkan kamar Tuan mudanya yang tiba-tiba terasa menjadi horor.


..." Setiap rangkaian cerita itu pasti ada penyesalan, di situlah kita bisa ambil makna dan arti sebuah kehidupan."...


Haduh... othor merasa gimana gitu nulis part ini, tapi yaa... mau gimana lagi, semua orang pasti pernah khilaf, apalagi Ray dan Hana, kalau begitu lanjut aja kali ya 😂


Yang pasti jangan lupakan jejak jempol kalian, othor tunggu ya bestie🥰

__ADS_1


__ADS_2