
...Happy Reading...
Saat Ganesh berusaha terus mendekati Adelia dan tidak memberinya celah sedikitpun untuk bisa lepas dari pandangan matanya, Raymond tidak mau kalah untuk terus mendekati Hana dan berusaha untuk segera mendapatkan hati Hanami yang sangat dingin seperti batu es itu.
" Kakak?" Panggil Raymond dengan manjanya, hilang sudah kewibawaannya saat dia sedang merayu Hana.
" Apa?" Hana mendongakkan wajahnya kearah Ray yang muncul dengan kemeja berwarna pink, dengan tangan dibelakangnya membawa sesuatu.
" Kakak suka cowok yang romantis atau cowok yang cuek-cuek asyik?" Ray bahkan menaikkan kedua alisnya dengan senyum yang tidak pernah surut.
" Entahlah." Jawab Hana yang tidak menggubris ocehan Ray jika sudah menjurus masalah cinta-cintaan.
" Kok entah sih kak, masak iya orang hidup tidak punya selera?" Sampai sekarang bahkan Ray belum bisa memahami sosok Hana secara mendalam.
" Yang sudah, yang biasa-biasa ajalah." Jawab Hana sok cuek, padahal dia sudah mulai menyukai tingkah lucu Ray saat merayu dirinya.
" Ckk... benarkah? kalau begitu bolehkah aku minta sesuatu denganmu kak?" Tanya Ray yang terlihat serius.
" Minta apa?" Hana langsung terlihat siap sedia.
" Tangan kakak." Jawab Ray, senyum tipisnya terlihat manis sekali saat dia sedang menatap Hana.
" Tangan? buat apaan sih dek, jangan aneh-aneh deh." Hana langsung kembali memainkan ponselnya dan mengabaikan tatapan mata Ray yang membuat hatinya sering gundah gulana.
" Sini in dulu tangannya kenapa sih kak? nggak bayar ini, kenapa pelit amat!" Ray langsung saja menarik tangan kiri Hana karena terlalu gemas.
" Biar apa sih Ray?" Hana kembali melembutkan suaranya.
" Biar cinta aku ke kakak, nggak bertepuk sebelah tangan, hehe." Raymond langsung meletakkan satu buket bunga yang dia minta dari WO yang mendekor halaman rumahnya tadi dengan khusus.
Astaga, ini bocah manis bener deh, tapi aku tidak mau dia menggangapku menerima cinta dia hanya sebagai pelarian saja, dan entah kenapa hatiku seolah belum yakin dengannya.
" Untuk apa ini?" Hana yang memang tidak pernah menerima bunga malah heran sendiri jadinya.
" Untuk apa saja bolehlah, asal jangan dimakan sudah!" Ray langsung mendengus kesal, andai saja Hana seperti Polwan ditempat kerjanya, pasti dia sudah teriak histeris karena perlakuan manisnya.
" Kamu pikir kakak hantu apa, suka makan bunga!" Hana bahkan langsung meletakkan buket bunga itu di meja dengan acuhnya.
" Kakak kan memang hantu, makannya sering gentayangan di pikiran aku, hehe.." Semangat Ray tidak putus sampai disitu, apapun akan dia coba lakukan agar selalu bisa membuat Hana tersenyum.
" Enak saja kamu kalau ngomong ya." Benar saja, senyuman cantik Hana langsung terbit walau hanya sekilas.
" Senyum kakak itu loh, ngangenin banget!" Ray bahkan mendekatkan wajahnya kearah Hana yang langsung melotot.
" Nikah aja yuk kak, capek tau kangen mulu tiap hari." Celetuk Ray yang membuat mata Hana langsung terbelalak, kata-kata Ray selalu diluar dugaannya.
Astaga, dia ngajak nikah kayak ngajak main-main saja, apa semua pria seperti ini?
" Ray.. sini duduk, kakak mau bicara." Hana menepuk kursi disebelahnya dengan tenang.
__ADS_1
" Kenapa? perasaanku kok malah jadi nggak enak gini ya?" Hana yang tidak biasanya bersikap tenang seperti itu malah membuat Ray merasa ketakutan sendiri.
" Gimana ya ngomongnya?" Hana mencoba memikirkan darimana dulu dia harus membahas masalah hatinya, takut kalau nanti akan melukai hati Ray.
" Apaan sih kak, jangan bikin orang jantungan deh?" Ray sudah punya firasat buruk kali ini.
" Kakak paham bagaimana perasaan kamu sama kakak, tapi untuk sekarang ini kakak hanya bisa berteman dulu dengan kamu." Hana mencoba mencari kata-kata yang tidak terlalu menyakitkan namun bisa dimengerti, karena sebenarnya dia hanya belum bisa meyakinkan diri sendiri saja.
" Kenapa?" Ray sudah menduga Hana akan membicarakan masalah itu.
" Ya mungkin karena hati aku belum siap aja." Hana bahkan tidak berani memandang wajah Ray.
" Kakak belum bisa move on dari kak Ganesh? astaga kak, besok mereka sudah akan menikah, masak iya kakak masih mau ngarep sama suami orang?" Ray tidak habis pikir, kenapa sulit sekali mendapatkan wanita seperti Hana pikirnya.
" Bukan karena nggak bisa move on Ray, aku juga bukannya mengharapkan kak Ganesh kembali, aku sudah tidak punya perasaan apa-apa dengannya." Hana mencoba memberikan pengertian kepada Ray yang sepertinya sudah sedikit emosi.
" Apa kakak membenciku?" Ray langsung tersenyum miring saat menatap wajah cantik Hana, ingin marah namun dia tidak punya hak juga.
" Tidak Ray, sungguh aku tidak pernah membencimu dari dulu sampai sekarang, bahkan sampai kapanpun." Jawab Hana langsung tidak enak hati, karena memang itu kenyataan yang ada.
" Lalu kenapa kakak tidak mau menerimaku? aku sudah menunggu kakak dari empat tahun yang lalu loh?" Ray mulai mengeluarkan unek-uneknya, seolah dia ingin membuktikan kata-katanya dulu.
" Aku kan tidak menyuruhmu? dan aku juga tidak menjanjikan untuk menerimamu langsung saat kita bertemu kembali bukan?" Hana pun mulai terpancing dengan kata-kata Ray, sehingga suasana disana terasa memanas.
" Apa sih kak kurangnya aku?" Ray terlihat begitu terpukul karenanya, seolah harapannya selama ini tidak sesuai dengan ekspetasi dirinya.
" Tapi apa lagi?" Ray langsung tidak bisa duduk dengan tenang, badan yang memang belum istirahat ditambah amarah yang sedikit terpancing membuat emosinya tidak stabil.
" Tolong beri kakak waktu dong Ray, jangan begini, tolong jangan bikin aku jadi terbebani dengan hal seperti ini Ray." Hana ikut bangkit berdiri dan mendekati Ray.
" Apa? jadi aku ini kakak anggap sebagai beban untuk kakak, di hidup kakak begitu?" Sungguh tidak terlintas dipikiran Ray jika akan seperti ini jadinya.
" Haduh salah ngomong lagi deh gw, bukan seperti itu Ray maksud kakak." Hana mengacak rambutnya dengan kesal, dia tidak perduli lagi dengan tatanan rambutnya.
Padahal tadi sebenarnya niat hatinya hanya untuk memberikan sedikit pengertian, bukan berdebat seperti ini.
" Huh... seharusnya dari dulu saja kakak bilang kalau kakak membenciku dan aku hanya bisa menjadi beban untuk kakak, jadi aku tidak akan berharap lebih dari kakak." Ucap Ray dengan nada yang memang tidak bersahabat seperti biasanya lagi.
Dia berfikir mungkin saatnya untuk mundur dari harapan yang tidak pasti, karena sungguh menyakitkan ketika kamu memiliki seseorang di hatimu, tetapi kamu tidak dapat memiliki mereka dalam pelukanmu.
Seolah perjuangan yang Raymond lakukan selama ini hanya sia-sia, dia memperjuangkan wanita yang salah.
" Ray maafkan aku, aku tidak bermaksud begitu?" Hana mencoba bersikap tenang, agar suasana disana tidak semakin buruk dan tidak terkendali karena dia juga masih sadar bahwa acara ditempat ini belum berakhir, dia tidak ingin membuat keributan di acara orang dengan urusan pribadinya.
" Aku nggak nyangka loh, kakak bisa ngomong seperti itu? aku kira hati kakak sudah welcome denganku, ternyata aku salah." Ray langsung tersenyum kecut sambil meratapi nasipnya sendiri.
" Ray... sungguh aku tidak ingin menyakiti hatimu, tapi tolong beri kakak waktu ya?" Hana mencoba menarik lengan Ray namun dia langsung menghindar, seolah suasananya jadi terbalik sekarang, awal mulanya Ray yang merayu, sekaran giliran Hana yang merayu.
" NO, thanks! kakak nggak perlu capek-capek mikirin aku lagi, aku tidak akan mendekati kakak lagi."
__ADS_1
Duaaaarr!
Entah mengapa ada rasa sedih dan kecewa dihati Hana, saat mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Ray malam ini.
" Ray, bukan begini maksud kakak, aku bukannya nggak suka dekat dengan kamu, cuma---" Hana berusaha menatap wajah Ray agar dia luluh, namun Ray langsung memalingkan wajahnya.
" Cuma apa? aku jadi beban untuk kakak, karena aku sering menggoda kakak, merayu kakak, begitu?" Keluar sudah semua kekesalan dari diri Ray, ternyata menahan rasa memang menyesakkan da da pikirnya, lebih baik keluarkan saja semua, toh sudah tidak ada yang perlu dia jaga hatinya lagi.
" Ray tolonglah, bukan begini yang kakak inginkan, aku tetap ingin berteman denganmu, sampai kapanpun itu, aku senang berada didekatmu Ray." Hana kembali membujuk Ray yang seolah sudah membatu.
" Jadi kakak mau PHP in aku begitu?" Entah mengapa emosinya seolah meluap-luap hari ini.
" Bukan PHP in Ray, astaga... kamu salah sangka denganku." Hana jadi lemas sendiri, karena memang bukan seperti ini maksud dan tujuannya tadi.
" Aku kecewa sama kakak, aku kira walau kakak nyebelin tapi sebenarnya kakak nyenengin, ternyata aku salah lagi." Umpat Ray kembali, semangatnya sudah luntur, seolah tidak ada lagi yang bisa dia harapkan dari gadis ini.
" Ray?" Suara Hana semakin melemah.
" Maaf, kalau aku menggangu kakak selama ini, maaf juga jika kata-kata dan ucapanku tidak berkenan dihati kakak."
" Aku akan mundur, aku tidak akan mengusik kakak lagi." Ray berbicara bahkan tidak mau memandang wajah Hana, takut jika dia tidak sanggup, karena perasaan Ray yang begitu dalam dengannya.
Degh!
" Ray... apa-apaan sih kamu?" Hana sampai melongo terlebih dahulu sebelum kembali berbicara, jantungnya seolah berhenti berdetak walau sesaat.
" Kakak bisa tenang sekarang, atau kalau kakak masih terbebani saat melihatku, kakak bisa pura-pura tidak kenal denganku saja." Ucap Ray kembali yang semakin menyesakkan hati Hana.
" Karena tidak mungkin kan kita tidak bertemu lagi, karena orang tua kita berteman dekat, jadi pasti tanpa disengaja suatu saat nanti kita pasti akan bertemu, bukan karena aku mencarimu, tapi karena aku memghormati pertemanan orang tua kita." Ray tidak main-main dengan ucapannya, dia lelaki yang berprinsip, jika dia sudah bertekad apapun bisa terjadi.
" Ray, kamu marah sama kakak?" Hana terlihat sedih sekali malam ini, andai saja dia tahu ucapannya akan berakhir seperti ini, dia tidak akan mengucapkan kata-kata itu tadi.
" Ya jelaslah aku marah!" Umpatnya dengan intonasi yang meninggi, untung mereka berada di pojokan halaman, jauh dari keluarga mereka yang masih asyik mengobrol.
" Maafkan aku Ray, jangan begitu dong?" Hana terlihat sangat menyesalinya sekarang.
" Kakak itu terlalu DINGIN, untuk aku yang gampang PILEK!" Kata-kata Ray pelan namun terdengar menusuk.
" Ray?"
" AKU PERGI!" Ray langsung balik kanan meninggalkan Hana yang terlihat memejamkan kedua matanya dengan lemah.
Disaat marah pun kata-kata Ray masih sering menggelitik hatinya, namun Hana sungguh tidak ingin memaksa berhubungan jika memang dia belum bisa sepenuhnya yakin menerima Ray lahir dan batin.
Apalagi saat mendengar dan melihat kisah cinta Ganesh yang tragis, semakin membuatnya seolah enggan untuk mengenal teori cinta-cintaan. Namun hatinya seolah juga tidak rela jika Ray pergi jauh darinya, maksud hati tadi hanya tidak ingin terlalu terikat, bukan terpisah seperti sekarang.
..."Cinta memang harus diperjuangkan. Namun, ketika dia tidak bisa membalas dan menerima, kita harus terima dengan lapang dada."...
..."Jangan biarkan cinta yang bertepuk sebelah tangan memengaruhi harga dirimu dan membuatmu tidak bahagia dengan diri sendiri. Sebaliknya, jadikanlah orang itu inspirasi untuk selalu menjadi lebih baik dan bahagia dalam hidup."...
__ADS_1