Tiga Generasi Sultan

Tiga Generasi Sultan
68. Pedih


__ADS_3

...Happy Reading...


Kecelakaan itu memang tidak bisa dihindari, entah mengapa mobil didepannya berhenti secara tiba-tiba, sedangkan Ray yang curiga dengan mobil yang seolah mengejar dirinya terus menerus menambah kecepatan laju mobilnya, sehingga mobilnya menghantam keras kendaraan didepannya.


Untung saja, masyarakat setempat segera membantu mengevakuasi mereka berdua, sehingga mereka lebih cepat tertolong.


Kondisi keadaan Hana tidak terlalu parah, hanya sedikit lecet saja, dia pingsan karena terlalu syock namun keadaan Ray yang terlihat mengenaskan, pecahan kaca mobil bagian depannya menghantam kepala dan tubuhnya, bahkan sebagian pecahan kaca pun ikut menancap ditubuhnya karena dia melepas sabuk pengaman dan memeluk tubuh Hana untuk melindunginya.


Seluruh keluarga besar mereka sudah berkumpul, bahkan Simon dan Raras pun ikut datang menemani kedua sahabatnya yang sedang terkena musibah.


" Raaaaaaaaaaaaaayy!"


Tiba-tiba Hana yang tadinya masih pingsan terbaring di ranjang rumah sakit, berteriak histeris memanggil nama Ray, bahkan Simon dan Raras yang berada diluar menemani Carlos dan Mala pun ikut terkejut dan langsung masuk kedalam ruangan Hana untuk melihat kondisinya.


" Hana, sayang... kamu sudah bangun nak?" Shanum dan Mark yang berada disampingnya langsung memeluk tubuh putri mereka satu-satunya.


" Ray.. mana Ray?" Teriak Hana dengan keras.


" Mama papa, aku dimana? mana Ray?" Dia seperti orang kebingungan.


Entah mengapa wajah Ray terbayang-bayang dipikirannya, seolah tadi dia bermimpi buruk tentang Ray.


" Hana, tenang nak, Ray masih diruang tindakan, dokter sedang memeriksanya, kita doakan saja ya, agar dia baik-baik saja." Shanum langsung memeluk putrinya agar dia tidak terlalu histeris.


" Ray nggak kenapa-kenapa kan mah? aku pengen lihat Ray, hiks.. hiks.." Air mata Hana langsung jatuh dengan derasnya.


Dia masih teringat detik-detik dimana mereka kecelakaan, Ray memeluknya karena ingin melindunginya, karena mobil itu terlalu keras menghantam mobil yang ada didepannya.


" Kita tunggu Ray keluar dari ruangan tindakan ya nak, nanti papa anter kamu nemuin Ray." Mark mengusap air mata yang membanjiri pipi Hana.


" Aku pengen nemenin Ray pah, aku mau lihat Ray sekarang juga!" Tangisan Hana kembali pecah saat mengingat beberapa saat sebelum mereka kecelakaan, dia begitu terlihat tampan saat menggombalinya, namun tidak disangka mereka akhirnya harus terdampar dirumah sakit seperti ini.

__ADS_1


" Belum boleh sayang, Ray masih ditangani oleh dokter, kamu mau lihat Ray baik-baik saja kan?" Shanum berusaha tetap sabar dan tenang.


" Iya mah." Hana hanya bisa mengganguk lemah saja.


" Kalau begitu sabar dulu ya, kita doakan kesembuhan Ray dari sini okey?" Shanum dan keluarga mereka belum ada yang tahu kalau mereka berdua berpacaran, hanya Adelia dan Ganesh yang sudah mulai curiga saat itu, namun belum sempat bertanya.


" Hana, apa kepalamu terasa pusing atau sakit gitu? dibagian mana nak? biar papa panggilkan dokter ya untuk memeriksamu?" Tanya Mark yang masih terlihat khawatir.


" Enggak pah, aku baik-baik saja." Jawab Hana lemas.


" Kalau begitu, bisa tolong kamu ceritakan kronologinya nak? apa yang terjadi tadi?" Tanya Mark perlahan.


Mark sedikit curiga dengan kecelakaan itu, karena pihak polisi masih menyelidiki kasus itu, namun Mark juga ingin mengetahuinya sendiri, itu terjadi karena murni kecelakaan atau ada faktor oknum lain yang sengaja ingin menyelakai putri dan putra sahabatnya.


" Pah... apa nggak nanti aja nanyanya? Hana baru sadar loh pa?" Shanum tidak tega melihat keadaan Hana yang terlihat seperti orang ling lung saat mengingat kejadian itu.


" Maaf.. maaf ya nak, papa hanya ingin membantu pihak polisi menyelidikinya, kalau kamu masih belum nyaman, jangan dijawab dulu, istirahat saja ya nak." Mark langsung mengusap kepala Hana perlahan.


" Lalu, apa ada hal lain yang mencurigakan?" Tanya Mark yang mulai menyimak.


" Saat kami sudah berada diseparuh perjalanan, tiba-tiba ada mobil sedan berwarna merah yang seolah mengikuti mobil kita pa." Hana kembali meneteskan air matanya.


" Kalian berdua tidak mengenalnya?" Mark tidak tega menanyakan hal itu, namun hanya putrinya yang tau persis kronologinya, karena Ray bahkan belum sadar sampai saat ini.


" Tidak, bahkan saat kami pindah jalur pun dia tetap mengikuti mobil kami, dan saat Ray ingin menghubungi rekannya, tiba-tiba mobil didepan kami berhenti mendadak, dan laju kecepatan mobil kami cukup cepat jadi Ray... hiks.. hiks!" Hana seolah tidak sanggup mengingat kejadian Naas itu.


" Sabar sayang, Ray pasti baik-baik saja." Shanum mengeratkan pelukan ditubuh putrinya.


" Mobil kami menghantam keras mobil didepan kami, dan Ray meluk Hana pah, setelah itu aku tidak ingat lagi." Hana bahkan sampai terisak kembali mengingat wajah Ray yang entah bagaimana sekarang.


" Baiklah, papa tinggal keluar sebentar ya, biar papa bicara sama pihak kepolisian juga." Mark langsung bergegas mengambil ponselnya.

__ADS_1


" Hati-hati pah." Shanum langsung memegang lengan suaminya.


" Pasti sayang, kalau ada apa-apa hubungi papa ya." Mark memeluk kepala Shanum sekejab dan langsung meninggalkan ruangan itu.


Sial... siapa lagi yang ingin bermain-main dengan keluarga besar kami, tapi kenapa dia mengincar Ray dan Hana? apa masih pelaku yang sama? atau ada Oknum lain yang ingin mencoba mencelakai keluarga kami, aku tidak akan membiarkan mereka hidup dengan tenang, siapapun itu pelakunya!


Di ruang tunggu Mala tak henti-hentinya menangis, sedari awal dia diberitahukan pihak rumah sakit kalau putranya mendapatkan musibah kecelakaan dan berada di ruang Unit Gawat Darurat dia sudah menangis histeris, bahkan kemeja yang Carlos pakai sudah basah dengan air mata kesedihan istrinya itu.


Sedangkan Adelia terduduk lemas dipelukan Ganesh, dia sungguh tidak menyangka ahli balap walau amatiran seperti Ray bisa mendapatkan kecelakaan yang cukup parah seperti itu, namun itulah kuasa Tuhan, jika Dia sudah berkehendak tidak ada yang bisa menghindar.


" Dengan keluarga pasien bernama Raymond?" Pintu Unit Gawat Darurat itu terbuka, muncullah dokter dan beberapa perawatnya disana.


" Iya dok, saya ayahnya." Carlos langsung berjalan mendekat kearah dokter itu dengan tergesa-gesa.


" Bagaimana keadaan putra saya dokter?" Walau terlihat lemah, Mala tetap berjalan mendekati dokter itu untuk mengetahui keadaan Ray didalam sana.


" Emm... begini bapak, ibu." Dokter itu terlihat menghela nafasnya terlebih dahulu, seolah berat mengatakan keadaan pasien yang baru dia tangani.


" Anak saya baik-baik saja kan dokter?" Mala langsung meneteskan air matanya, entah mengapa dia seolah mendapat firasat buruk tentang putranya.


" Kalau kondisi tubuh putra ibu baik-baik saja, hanya sedikit luka dan memar-memar saja, hasil X-ray tubuhnya juga bagus, tidak ada tulang yang patah, tapi..." Dokter itu terlihat memejamkan kedua matanya sejenak sebelum kembali menjelaskan.


" Tapi? kenapa dokter? apa yang terjadi?"


Mala sudah kembali lemas, dia melihat dari wajah dokter itu yang terlihat muram, seolah sesuatu terjadi dengan putra kesayangannya, Mala begitu dekat dengan Raymond, entah apa yang akan terjadi dengannya nanti, jika sesuatu yang buruk menimpa putra kebanggaannya itu.


TO BE CONTINUE...


..."Orang yang kuat bukan mereka yang selalu menang, melainkan mereka yang tetap tegar saat terjatuh."...


..."Tidak semua musibah adalah azab. Beberapa di antaranya adalah karena rahmat Allah untuk membawa kita kembali kepada-Nya."...

__ADS_1


__ADS_2