
...Happy Reading...
Setelah semua persiapan lengkap, Raymond dan teamnya segera pergi ke tempat dimana Ganesh dan Adelia pergi bulan madu. Perjalanan jauh tidak membuat semangat Ray luntur begitu saja, dia ingin segera menyelesaikan tugasnya dan kembali ke negara tercinta menemui sang pujaan hatinya.
" Siap Ndan, tumben dari tadi senyam-senyum saja melihat ponselnya? cieee... roman-romannya ada yang baru jadian nih?" Ledek salah satu rekan terdekat dari Ray.
" Woah... apa wajahku terlihat bersinar terang sekarang?" Ray bahkan terus saja tersenyum walau dia sedang menghadapi kasus yang cukup berat kali ini, karena selama perjalanannya menuju kemari, hanya wajah Hana yang selalu terbayang-bayang di pikirannya.
" Emm... mungkin seterang lampu petromax." Jawab Rekan Ray dengan santai.
" Dasar kau ya! kalau petromax itu redup namanya, jaman sudah berubah, dunia sudah maju, sudah ada lampu LED kenapa masih dibandingkan dengan lampu petromax." Ray langsung melotot kesal.
" Haha... bercanda kali Ndan, karena masih ada waktu, boleh lah berbagi pengalaman dulu kita, tentang kapan jadian misalnya, curhat dong mah?" Rekan Ray itu menirukan ustazah yang dulu sering tampil di tv pagi.
" Kamu pikir aku mamah de deh? hmm... tapi karena aku lagi senang, baiklah akan aku ceritakan kisah cintaku yang paling romantis dan juga baru bersemi kemarin." Ray langsung mengingat kejadian dimana dia pergi ke kantor Hana untuk meminta kepastian hubungan sebelum keberangkatannya menuju kemari, karena apapun bisa terjadi setelah kepergiannya, jadi agar dia bisa tenang dalam bertempur nantinya, lebih baik dia memastikan hubungannya terlebih.
Flashback
" Woaah... besar juga kantor dari my Hana, padahal katanya ini cuma kantor cabang saja." Ray melangkahkan kakinya memasuki pelataran kantor yang bertingkat-tingkat itu.
" Permisi mbaknya, aku mau bertemu dengan sekertaris dari kantor ini." Ray bertanya keberadaan Hana ke ruangan resepsionis kantor itu.
" Hah?" Karyawan wanita itu langsung mengamati seragam lengkap dan juga pangkat dan tidak lupa nama yang tertera dibaju yang Ray kenakan.
" Apa dia ada di ruangannya?" Ray kembali menyadarkan lamunan karyawan itu yang terlihat terbengong sesaat setelah melihat ketampanan Ray, apalagi dengan kaca mata hitam yang bertengger di atas hidung mancungnya, membuat wajah Ray terlihat lebih cool.
" Owh ya ada... tapi?" Dia terlihat ragu, bahkan sedikit bimbang takut kalau dia salah bicara jika nanti ada kasus penangkapan atau apapun itu yang menyangkut sekertaris di perusahaan itu.
" Anda tunjukkan saja dimana ruangan sekertarisnya, aku yang akan menemuinya sendiri ke dalam ruangannya." Ucap Ray kembali yang memang tidak mau buang-buang waktu disana.
" Kalau begitu mari saya antar saja." Antara takut namun juga kepo, tentang apa yang terjadi dengan sekertaris diperusahaan itu, begitulah wanita, rasa penasarannya mengalahkan segalanya.
" Baiklah kalau anda tidak keberatan." Jawab Ray dengan senang hati, dia langsung mengikuti kemana arah langkah sang resepsionist itu.
Ting
__ADS_1
Akhirnya lift mereka sampai di sebuah ruangan yang bertuliskan sekertaris, namun Ray terlihat mengerutkan keningnya, karena ternyata sekertarisnya bukan Hana, bahkan seorang pria.
" Heh? dimana my Hana? apa dia sudah pindah kantor?" Ray menatap tajam pria itu yang juga menatapnya dengan heran.
" Ya... ada yang bisa kami bantu pak polisi?" Tanya pria itu yang tidak kalah terkejut, perasaan dia tidak menjadwalkan bosnya bertemu dengan pihak yang berwajib.
" Apa aku salah kantor ya?" eeh... tapi kemarin dia bilang kantor ini kok." Ray malah komat kamit sendiri sambil mengingat-ingat nama perusahaan itu.
" Permisi? apa ada yang bisa kami bantu pak... emm... pak Ray?" Tanya pria itu sambil membaca name tag di seragam Ray.
" My Hana? owh...maksud saya apa nona Hanami sudah pindah bagian ya?" Tanya Ray dengan ragu.
" Apa maksud anda nona Hanami CEO baru kita?" Tanya sang sekertaris itu mencoba memastikan.
" CEO? sejak kapan dia jadi CEO, woaah.. gadis itu memang selalu memberiku kejutan." Entah mengapa Ray malah seolah merasa tersaingi kehebatannya, padahal mereka beda bidang.
Karena sebenarnya itu adalah salah satu cabang perusahaan dari Anderson Group yang telah diberikan atas nama Mark, dan memang menjadi milik Mark sepenuhnya, sebagai tanda jasa karena sudah menjadi asisten sekaligus tangan kanan Simon selama ini.
" Apa maksud pak polisi nona Hana yang itu?" Sekertaris itu menunjuk Hana yang sedang berjalan keluar dari ruang meeting bersama staf-staf lainnya.
" Owh my Hana?" Dia seolah tertegun melihat Hana yang begitu terlihat anggun dengan rok span dan jas yang terlihat pas di badannya, apalagi melihatnya menggunakan kaca mata kerja, seolah menambah kecantikan diwajahnya.
" Kakak?" Ray langsung tersenyum dan melambaikan kedua tangannya untuk menyapa Hana.
" Ray? sedang apa kamu disini?" Hana berjalan mendekatinya dengan diikuti staf-staf wanita yang langsung menunjukkan pesona mereka masing-masing.
" Nona, sejak kapan nona punya adek setampan dia?"
" Iya nona, seorang anggota polisi lagi?"
" Woaah... untuk usia dibawah kita dia terlalu hebat, lihat saja pangkatnya?"
" Benar-benar mengagumkan?"
" Nona, aku berjanji akan membantu anda memenangkan tender kali ini, asalkan nona mau memperkenalkan dia denganku?"
__ADS_1
" Heh... aku juga mau kali, aku saja nona?"
Rentetan celotehan dari para staf dibawahnya hanya membuat Hana semakin kesal saja, dan tidak ada niatan sedikitpun untuk menjawabnya.
" Kakak sudah selesai belum meetingnya, kita makan siang bareng yuk?" Ray langsung berjalan mendekati Hana.
" Belum, aku juga belom lapar, nanti saja." Jawab Hana yang memang masih punya agenda satu meeting lagi.
" Apa mau saya saja yang nemenin pak polisi? owh maaf, karena umur kamu masih dibawah kami, aku panggil adek polisi yang terhormat saja gimana? hehe.. aku juga sudah lapar kok." Salah satu staf Hana langsung menawarkan diri denan suka rela.
Apa dia bilang? adek polisi? haish.. aku cuma mau makan sama my Hana!
" Heh? jangan terlalu sungkan, saya kemari bukan untuk bertugas." Ray hanya bisa nyengir sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Jadi kamu kesini untuk apa? pamer begitu? apa mau cari perhatian kepada para wanita di kantor ini?
" Sini kamu!" Hana menjentikkan jarinya kearah Ray.
" Ada apa kak?" Bisik Ray yang menanggapinya dengan serius.
" Ngapain kamu ke kantor pakai baju dinas begini? kenapa? kamu mau pamer kalau pangkatmu sudah tinggi diusiamu yang masih muda begitu?" Hana bahkan memelototinya dengan kesal.
" Owh... tadi aku sekalian mampir aja kak, niatnya mau ngajakin kakak makan siang gitu." Jawab Ray dengan senyum yang selalu mengembang.
" Satu lagi, kalau dikantorku, jangan pernah memanggilku dengan sebutan 'kakak', kamu mengerti!" Bisik Hana seolah memberikan ancaman kepada Ray.
" Loh... emang kenapa?" Tanya Ray yang langsung terheran-heran, biasanya dia tidak pernah protes seperti ini pikirnya.
" Tunggu sebentar, aku harus mengambil hasil laporan dulu." Hana langsung beranjak pergi kedalam ruangannya, meninggalkan Ray yang masih terdiam dan bertanya-tanya.
Sebenarnya apa salahku? kenapa kak Hana terlihat marah sekali? apa karena aku pakai baju dinas, dan takut para stafnya salah paham, dikira dia bermasalah begitu, owh... mungkin iya, karena dia kan paling takut berurusan sama polisi.
Raymond kembali menggerutu, seakan semua yang dia lakukan salah dimata Hanami, namun demi cinta, apapun akan dia lakukan, karena kesabarannya menghadapi Hana, bak luasnya Lautan di negri ini.
..."Kejarlah suatu jalan, betapapun sempit dan bengkoknya, di mana kamu dapat berjalan dengan yang namanya cinta."...
__ADS_1
(Lanjut part 2)
Jangan lupa bunga, kopi dan teman-temannya ya bestie😊 pokok e jempolmu semangatkuh👍🏻👈