
...Happy Reading...
Semua tenaga dan akal fikiran, kami kerahkan bersama, hingga akhirnya kami menemukan titik temu, siapa gadis yang ikut menyerang kakak iparku saat mereka sedang bulan madu saat itu, walau menurut saksi, dan ahli IT yang bekerja sama dengan kami saat melacaknya, gadis itu memang tidak ada dalam komplotan yang ikut andil dalam terjadinya kecelakaan yang menimpaku.
Namun karena memang mereka satu komplotan, aku tidak mau ambil resiko, sekalian saja aku bab@t habis sampai ke akar-akarnya, lagi pula kita tidak tahu kalau mungkin dia membantu dibelakang tempat kejadian perkara.
" Menurut petunjuk Maps lokasi terakhir gadis itu ada di desa sekitaran sini." Ken mengamati Maps dan jalanan setapak menuju desa yang asri dengan tanaman hijau disepanjang jalan itu.
" Kenapa aku seperti tidak asing dengan jalan ini?" Aku mencoba melihat kanan kiri, karena sepertinya aku pernah melewatinya.
" Benarkah? tumben kamu mau jalan-jalan ke pelosok desa seperti ini? setahuku kamu tidak punya teman atau kerabat di desa?" Ken yang sedari dulu menjadi teman terdekatku langsung memicingkan kedua matanya.
" Astaga!"
" Kenapa? ada apa?" Ken langsung menegakkan tubuhnya saat mendengar umpatanku.
" Apa kamu punya foto gadis itu?" Aku langsung mencurigai sesuatu.
Setelah aku perhatikan, jalanan kecil ini adalah jalan menuju makam paman yang sudah mendon○rkan kedua mat@nya untukku, aku masih ingat dengan jelas, karena beberapa hari yang lalu aku sempat ziarah kesana setelah pulang dari rumah sakit.
" Ada sih, tapi kurang begitu jelas, soalnya dia pakai topi dan masker serba hitam, hanya kelihatan matanya saja, tapi kalau postur tubuhnya sih boleh tahanlah, bisa dibilang semlehot, hehe.." Ken memang ahlinya kalau sudah menilai postur tubuh lawan jenis.
" Dasar, otak kamu itu isinya Babon ayam saja, nggak ada yang lain kah?" Aku langsung menoyor lengan Ken dengan tatapan jengah.
( Babon \= Betina)
" Hehe... hiburan brother, mata ini sudah lama mengering dan gersang, karena kurangnya siraman kasih sayang." Ken bahkan tersenyum dengan segala angan-angannya.
" Bukannya kamu sudah punya pacar sekarang, apa kamu belum pvas hanya dengan satu kekasih saja? seberapa besar hatimu, bisa menampung beberapa wanita disana?" Tanyaku dengan heran.
" Ckk... dia ditugaskan diluar kota brother, huft... aku benci sekali hubungan LDR." Ken terlihat lesu saat membayangkannya.
" Tak apalah, demi karier calon istrimu juga kan?"
" Memanglah, tapi kami berdua tidak ada yang mau mengalah soal domisili nantinya, soalnya dia harus mengajar disana, setidaknya sepuluh tahun baru bisa pindah tempat."
" Waduh... berat juga ya? apa tidak bisa pindah tempat kerja karena mengikuti tempat kerja suami begitu?"
" Entahlah, itu mengapa aku lebih suka punya istri ibu rumah tangga saja, biar bisa aku bawa kemana saja yang aku mau, dan bisa aku pakai siang atau pun malam sesuka hatiku." Ucap Ken yang memang sering ceplas-ceplos sesuka hatinya.
__ADS_1
" Sabar lah bro, kalau jodoh pasti bersatu juga, kalau enggak ya cari lagi."
" Padahal hubungan kami, ibarat kata sedang Uwuw-uwuwnya, ehh... malah harus terpisah jarak dan waktu." Ken membuang pandangannya kearah jalan setapak yang kita lewati.
" Curhat Babon Ayam aja kalian ini, nggak mikirin kita yang jomblo ini apa? kita sudah sampai, itu rumah gadis itu!" Umpat rekan kami lainnya, yang ternyata sedari tadi menjadi pihak pendengar obrolan kami.
" Ini rumahnya?" Aku langsung mengamati rumah itu dengan seksama.
" Kalian yakin? kenapa tidak seperti rumah penjahat kelas kakap ya? rumahnya biasa aja, apa gaji penjahat yang sudah go internasional cuma sedikit ya sob? nggak nyangka gw?" Ken kembali ber sua, dengan segala unek-uneknya.
" Mungkin dia penjahat sederhana bro, yang tidak mau mengumbar harta kekayaannya, bisa jadi dirumahnya tersimpan bongkahan emas dan berlian?"
" Bisa juga dia penjahat yang low profil gitu kan?"
" Bisa jadi itu!"
Rekan kerjaku langsung mengeluarkan pendapat mereka masing-masing.
" Ciihh... kalian kebanyakan nonton serial drama!" Aku sungguh tidak menyangka dengan pemikiran teman-temanku ini.
" Kalau begitu, siapa yang turun duluan?" Tanya Ken kembali.
" Kenapa harus aku? nanti kalau aku nggak tega gimana saat melihatnya? gw pria sejati sob, pantang melawan seorang gadis?" Ucap Ken dengan tengilnya.
" Dia itu musuh kita, kamu turun untuk menyelidikinya, bukan untuk menggodanya, apalagi menjadikannya seorang istri, jadi cepat turun, kalau nanti dia berulah, kita semua baru ikut turun!"
" Kenapa nggak sekarang saja kita semua terjun langsung, mempersingkat waktu kawan, hari sudah mulai gelap ini?"
" Nanti dia curiga, lagian belum tentu juga dia pelakunya, GPS kan belum tentu akurat!"
" Haish... nasib-nasib, nanti kalau dia yahud kalian jangan iri ya!"
" Ambillah... karungin! bawa pulang sekalian buat sesaji besok saat malam jumat kliwon!" Aku langsung menepuk bahu Ken agar dia cepat turun dan menyelidiki penghuni rumah itu, karena itu memang keahliannya.
Kami sudah terbiasa bekerja sebagai team saat melakukan investigasi, jadi kami sudah tau bagian kami masing-masing, walau kami sering bercanda namun tangan dan otak kami bekerja dengan tepat.
Setelah beberapa saat menunggu, terlihat seorang gadis berpostur tubuh tinggi, langsing dan cukup padat berisi atau lebih tepatnya seperti yang Ken pikirkan tadi.
" Heh?" Saat aku mengamatinya dengan lebih jelas lagi, dia seperti orang yang aku kenal, bahkan aku sampai mengucek kedua mataku, takut jika salah menganalisa, atau mungkin ada yang salah dengan penglihat@nku.
__ADS_1
" Siapa Ndan? apa kamu mengenalnya?" Tanya rekanku yang ikut mengamati gadis itu.
" Siapa nama gadis itu?" Aku ingin segera memastikannya.
" Kalau memang pelakunya adalah salah satu dari penghuni rumah itu sih, dalam identitasnya seharusnya bernama Anindya, karena dia satu-satunya anak perempuan dirumah itu." Temanku langsung mengotak-atik laptop dipangkuannya.
" Siapa nama lengkapnya?" Aku semakin yakin disaat wajah gadis itu terlihat jelas dari tempat dudukku.
" Anindya Samantha."
" APA? SAMANTHA!"
Aku sungguh tidak percaya saat nama itu disebut, namun memang gadis itu juga yang aku temui di makam paman berhati baik beberapa hari yang lalu, dan dengan jelas memperkenalkan diri sebagai Samantha, aku memang tidak sempat mampir kerumahnya karena hari mulai gelap, dari tempat pemakaman itu kami sekeluarga langsung pulang kembali kerumah.
" Panggil Ken kembali, suruh dia balik kesini!" Aku bingung harus berbuat apa, inikah alasan uncle Simon dan uncle Mark menutup kasus ini beberapa hari yang lalu?
Aku masih ingin memastikannya, namun saat ini bukan waktu yang tepat untuk melakukan tindakan dengan gadis itu, karena aku berhutang budi terlalu banyak dengan ayahnya, jika memang Samantha memang ikut andil dengan komplotan Mafia itu.
" Tapi Ndan?"
" Tidak ada tapi-tapian, cepat suruh Ken kembali ke mobil, kita balik ke kota sekarang!"
" Kamu yakin brother? tidak ingin melanjutkan penyelidikan ini kembali?"
" Biar aku yang akan mengurusnya, kita balik sekarang!"
" Baiklah!"
Rekanku langsung berjalan turun menemui Ken, walau dengan raut wajah yang penuh tanya.
" Huuftt... aku sudah curiga, pasti kedua uncle hebatku itu punya alasan tertentu, sehingga beliau menyisakan nyawa gadis itu."
" Haissh... aku pasti terlambat pulang ini sampai ke kota, kak Hana pasti langsung ceramah dadakan besok, aku harus menyiapkan cara untuk merayunya agar dia tidak marah nanti."
Berulang kali aku menghela nafas panjang sambil melirik arloji ditanganku, dan masih tidak habis pikir jika Samantha adalah seorang Mafia atau penjahat kelas kakap.
Karena saat pertama kali aku melihatnya di pemakaman ayahnya, dia terlihat seperti gadis lugu dan lemah lembut, bahkan saat melihat air matanya jatuh berderai diatas pusara ayahnya, hatiku seolah ikut tersayat karenanya.
Kita memang tidak bisa menilai seseorang hanya dengan penampilannya saja, karena casing tidak menjamin kualitas isi didalamnya. Namun aku belum bisa menyimpulkannya sebelum tahu apa alasan Babon Mafia itu sebenarnya.
__ADS_1
... "Takdir memang misteri. Manusia hanya bisa mengira dan menduga ke mana takdir atas pilihan hidupnya bergulir, karena Tuhan mengkaruniai kita akal dan budi, karena manusia bukan sebentuk boneka."...