Tiga Generasi Sultan

Tiga Generasi Sultan
87. Menyesal


__ADS_3

...Happy Reading...


Kesalahan bukanlah kegagalan, tapi bukti bahwa seseorang telah melakukan sesuatu.


Suasana kamar Raymond tiba-tiba hening sesaat, saat mereka berdua sudah selesai melakukan pertempuran fanas yang awal mulanya tidak mereka rencanakan, hujan pun rintik-rintik mulai membasahi bumi, seolah menjadi saksi akan dosa terindah yang mereka ciptakan malam ini.


" Hiks.. hiks.. hiks.."


" Kak, ada apa? kakak menangis ya?" Ray mulai mer@ba tubuh Hana yang meringkuk dan membelakangi tubuhnya, yang saat ini masih terasa lelah.


" Ray... aku sungguh menyesal melakukan itu tadi." Ucap Hana dengan suara paraunya.


" Astaga my Hana, sini aku pelvk." Ray langsung menarik tubuh Hana kedalam pelvkannya, dengan sisa-sisa tenaganya.


" Ini semua gara-gara kamu Ray, aaa... aku benci kamu Ray!" Hana tiba-tiba menangis tersedu sambil memvkvli da da bidang Ray.


" Pfffttthh.." Entah mengapa Ray malah tertawa sambil mengeratkan pelvkannya.


" Kenapa kamu malah tertawa, aku takut Ray, kamu ini jahat banget sih!" Hana bahkan kembali terisak didalam pelvkan kekasihnya.


" Harusnya, kakak itu takutnya sebelum memasukkannya tadi, kalau sekarang sudah terlambat, lagian siapa suruh kakak g@nas banget jadi orang." Jawab Ray sambil mengusap lembut rambut kekasihnya.


" Aku cuma coba-coba aja tadi." Ucap Hana yang juga mengumpat dirinya sendiri, kenapa dia tidak berpikir panjang pikirnya.


" Padahal sudah berapa kali aku bilang 'jangan' kan? kakak fikir itu mainan apa? beraninya coba-coba hal seperti itu." Ucap Ray yang tidak bisa berhenti tersenyum.


" Mana kutahu kalau jadinya seperti ini?" Umpat Hana dengan lirih.


" Seperti ini gimana maksudnya? bukannya kakak suka tadi?" Ledek Ray dengan gemas.


" Arggh... aku benci kamu Ray, pokoknya balikin kayak semula Ray, aku nggak mau tahu!" Hana pun bingung mau mengumpat Ray bagaimana.


" Hahaha... kakak ini lucu sekali, mana bisa dibalikin seperti semula, nih ya kak... kalau kakak sudah meneroboskan gawang itu, jebol sudah Tanggulnya, mana bisa diperbaiki lagi seperti semula, mustahil kakak sayang." Ray ingin sekali melihat wajah kekasihnya saat ini, namun sayang sekali dia tidak bisa mengabadikannya.


" Jadi aku sekarang sudah nggak per@wan lagi Ray?" Entah mengapa Hana sangat menyesalinya sekarang.


" Itu kan kemauan kakak sendiri? kakak yang memulainya, aku hanya melanjutkan saja tadi, ya sudah, mau gimana lagi? katanya mau menikah denganku, jadi mau sekarang atau nanti juga itu buat aku kan kak, sama aja... sudah jangan menangis lagi." Ray malah merasa lebih tenang sekarang.


" Hiks.. hiks... aaaaa... kalau papa sama mama tahu pasti aku dimarahin Ray, beliau pasti kecewa denganku" Hana semakin merasa bersalah saat mengingat kedua orang tuanya.


" Kalau kakak nggak bilang, gimana mereka bisa tahu? kan cuma ada kita berdua disini, keluargaku juga belum pulang, semua aman okey?" Ray mencoba menenangkan kekasihnya.


" Kenapa aku b○doh sekali sih Ray?" Gerutu Hana.


Cup


" Tidak ada yang salah dalam hal ini, lagian kita sama-sama suka kan?" Ray meninggalkan beberapa kecvpan di kepala Hana, rasa sayangnya bahkan bertambah kali lipat saat ini kepada kekasihnya itu.

__ADS_1


" Awas saja kalau kamu berani selingkuh dibelakangku, aku sudah merelakan mahkotaku untukmu, kalau kamu sampai berkhianat, aku tidak akan memaafkanmu, aku tuntut kamu!" Hana langsung mencengke ram lengan Ray.


" Apa buktinya coba?" Ray sengaja meledek kekasihnya.


" Kyaaaa! bisa-bisanya kamu minta bukti, owh tunggu dulu!" Hana langsung bangun dan mengambil ponselnya.


Cekrik!


Hana langsung menfoto sprai yang menjadi saksi bisu kegilaan mereka berdua malam ini, karena disana tersisa bercak berwarna merah.


" Aku sudah punya fotonya, suatu saat nanti akan aku tunjukkan kepadamu!" Hana langsung menyimpan kembali ponselnya.


" Entah kapan aku bisa melih@tnya kak." Jawab Ray yang tiba-tiba sedih saat mengingatnya.


" Jangan begitu Ray, suatu saat kamu pasti bisa melih@t lagi, owh... atau mau aku do norkan satu m@taku untukmu?" Tiba-tiba terlintas ide di pikirannya.


" NO!" Jawab Ray dengan lantang.


" Kenapa? kita bisa saling melengkapi nantinya, aku yang kanan kamu yang kiri, tidak masalah bagiku, asal aku tetap bisa melih@tmu Ray." Ucap Hana dengan sungguh-sungguh.


" Jangan coba-coba melakukan itu, buang jauh-jauh rencana gila kakak itu, aku tidak mau, TITIK!" Jawab Ray dengan tegas dan lugas.


" Kalau begitu jangan bersedih lagi dong Ray, kamu harus semangat, kita berdoa semoga ada orang baik di dunia ini yang akan membantumu, okey?" Hana menangkupkan kedua tangannya ke wajah Ray.


" Baiklah, asal kakak janji tidak akan melakukan hal itu, aku tidak mau kamu kenapa-kenapa my Hana, aku sudah sangat merasa bersalah karena tidak bisa menjagamu, jadi kamu harus bisa jaga diri sendiri, jangan sampai kamu terluka ya kak, karena aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika itu sampai terjadi." Ray bahkan terdengar mengancam.


Umur boleh muda tapi sifat dan kedewasaan seseorang tidak diukur dari faktor usia.


" Aku juga kak, makanya jangan sampai berfikir seperti itu, apalagi selingkuh, itu mustahil bagiku, yang ada juga aku yang takut kakak selingkuh, diluar sana pasti banyak yang mengincar kakak, sudah cantik, keren, jadi CEO lagi, kalau memikirkan itu bahkan hampir gila aku kak." Ray menyembunyikan wajahnya di cervk leher Hana.


" Tapi aku sudah tidak per@wan lagi sekarang Ray?" Hana kembali bersedih saat mengingatnya.


" Aku juga sudah ternod@i oleh kakak!" Balas Ray tidak mau kalah.


" Aaaa... yang rugi aku bukan kamu Ray!" Teriak Hana.


" Dari awal aku sudah bilang kan, kakak sih masih bandel saja?" Ray menyentil kening Hana perlahan.


" Mommy... daddy, maafkan aku!" Hana kembali terisak karenanya.


" Hehehe... sudahlah kak, tidak akan terjadi apapun karena itu." Ray pun kembali tersenyum saat mengingat kejadian luar biasa malam ini.


" Astaga, kalau aku hamil gimana Ray?" Hana langsung merasakan ketakutan akan hal itu.


" Enggak, isinya aku buang di luar tadi, tapi kalau memang kamu hamil aku tidak masalah kak, itu pasti anakku, karena sampai kapanpun, kamu hanya boleh mengandung anakku kak, mengerti?" Ray kembali membawa Hana kedalam pelvkan hangatnya.


" Hmm.. tapi kenapa kita tidak menikah saja? besok kita nikah yuk Ray?" Pinta Hana dengan tiba-tiba.

__ADS_1


" Aku juga mau kak, bahkan pengen secepatnya, tapi aku ingin sekali melihat wajah kakak dihari pernikahan kita, boleh nggak kalau kakak bersabar menunggu beberapa waktu lagi?" Padahal didalam hatinya dia tidak ingin Hana malu, karena menikah dengan pria yang cac@t sepertinya.


" Hmm.. ya sudahlah, yang penting kalau ada apa-apa kamu tanggung jawab ya!" Ucap Hana yang terdengar mengancam, padahal dia sendiri yang memulai kesalahan malam ini.


" Asiap boss! jangan khawatir, emm... kakak tau nggak sih, kenapa flashdisk itu bisa menyimpan banyak file?" Entah mengapa dengan kejadian malam ini dia malah sedikit merasa tenang.


" Kenapa emangnya?" Hana langsung menatap wajah kekasihnya yang masih tampan dalam keadaan apapun, bahkan saat berkeringat seperti ini, dia terlihat maskulin sekali.


" Karena kalau banyak menyimpan perasaan ke kamu, itu aku, hehe..." Ray bahkan kembali bisa menggombal setelah sekian lama, karena ingin menghibur kekasihnya.


" Hehe... aku kangen banget tahu Ray, kangen kamu yang kayak gini, sudah lama banget aku nggak digombalin sama kamu." Hana akhirnya bisa tersenyum saat perlahan sikap Ray yang dulu mulai terlihat kembali.


" Benarkah? kirain cuma aku, tiap malam aku juga selalu merindukan wajah kakak yang bersemu merah saat aku gombalin."


" Makanya, jangan bersedih terus, aku rindu Ray yang dulu, selalu riang, gokil, kang gombal, kang resek, kang nyebelin dan masih banyak lagi deh!"


" Hmm... makasih kak karena selalu ada buatku, kakak itu kayak bersin tahu nggak di hidup aku." Ucap Ray yang mulai menyerangnya kembali.


" Kok bersin sih Ray, jadi aku jorok nih?" Hana langsung cemberut mendengarnya.


" Bukan, kalau kakak bersin bilang apa?" Tanya Ray.


" Alhamdulilah." Jawab Hana sambil mengira-ngira.


" Ya udah, aku sangat bersyukur punya kakak dihidup aku, Alhamdulilah banget pokoknya, i love you my Hana."


" Dasar Kang Gombal."


" Kak, tambah satu ronde lagi boleh nggak?" Ray mulai menggoda kekasihnya kembali.


" Nggak! aku nggak mau lagi nglakuin itu!" Umpat Hana.


" Jangan begitu dong kak, trus nanti kalau sudah menikah kalau malam kita ngapain? main kelereng begitu?"


" Ya maksudnya nunggu kita menikah, baru kayak gitu lagi, masih s@kit tau Ray."


" Bohong, tadi aja kakak mendes@h kuat sekali, trus siapa tadi yang bilang, fast... faster Ray aw.. aw, gituh?" Ray bahkan mengucapkan dengan nada mengejek.


" Aaaaaaaa... bisa diem nggak kamu Ray!" Hana malu sendiri jadinya.


" Bahahaha... wo.. o... kakak ketahuan, tadi keen@k@n, ahaha.."


Pergulatan fanas malam itu akhirnya diakhiri dengan saling meledek dan perang bantal, walau Hana menangis karena Tanggulnya sudah jebol, namun ada hikmah sendiri dibalik kejadian itu, karena Ray sedikit mendapatkan kepercayaan dirinya dan mulai kembali kesifatnya yang dulu lagi.


..."Orang harus berjuang untuk mendapatkan apa yang diinginkan, tetapi harus ingat, tidak ditemukan perjuangan tanpa kesalahan."...


Hmm... mana semangatnya dong?

__ADS_1


__ADS_2