
...Happy Reading...
Semua acara berjalan dengan lancar hingga akhirnya tanpa terasa waktu sudah mulai larut malam, para tetangga dan sahabat mereka sudah pulang, Samantha yang sedari tadi dipepetin sama si Kevin teruspun akhirnya memilih segera berpamitan untuk pulang duluan dan Kevin semakin dibuat penasaran oleh sosok gadis itu.
" Ray... kamu mau ikut pulang apa nginep disini?"
Carlos langsung mendekati putranya saat melihat jarum jam ditangannya.
" Pulang aja lah dad, pengen mandi, biar capeknya hilang."
Walau belum mengadakan pesta resepsi namun ternyata dia juga merasakan lelah, karena memang dia kurang istirahat dari kemarin, apalagi tidak ada persiapan yang lebih untuk acara malam ini.
" Ya sudah... kalau begitu kita pulang saja sekarang, mommymu juga sudah kelihatan capek."
" Capek ngapain juga si mommy itu?" Ray memperhatikan wanita yang sudah melahirkan dirinya ke dunia ini yang tengah duduk sambil menyandarkan kepalanya dikursi.
" Capek selfi sama ngerumpi dengan dua sahabatnya itulah." Jawab Carlos dengan cepat, karena memang seperti itulah kenyataannya.
" Kalau begitu aku panggil kak Hana dulu ya." Ray langsung tersenyum dan berlalu mencari Hana yang sedang berganti pakaian didalam kamarnya.
" Kakak sayang." Ray menyembulakan kepalanya ke kamar Hana.
" Ada apa?" Jawab Hana saat para penata rias itu membantu Hana melepas kebaya dan beberapa hiasan dikepalanya.
" Boleh masuk?" Tanya Ray yang langsung membuat Hana terkekeh.
" Masuk sajalah, emang ada tulisan larangan dipintu itu?" Jawab Hana yang malah merasa aneh dengan tingkah suaminya itu.
" Aku tunggu mereka sampai menyelesaikan pekerjaannya aja dulu deh." Ray memilih bersandar ditengah-tengah pintu sambil bersidekap dan terus memandang ke wajah istrinya.
" Tunggu sebentar ya mas Ray, ini sudah mau selesai kok."
Sebagai penata rias pengantin yang punya banyak jam terbang sudah sering mendapi tingkah lucu dan kocak saat mereka sedang beres-beres, jadi mereka sudah paham apa yang diinginkan pengantin prianya, apalagi ini waktunya sudah hampir tengah malam.
" Santai aja lagi mbak, nggak usah buru-buru." Ray tersenyum sambil menyandarkan kepalanya ke pintu.
" Sepertinya suami mbak Hana itu sedikit pemalu ya?" Tanya mbak penata rias itu saat melihat pesona Ray.
" Beuuuh... bukan lagi, tapi sering malu-maluin!" Hana langsung berkomentar, dari ujung mananya Ray terlihat seperti pria pemalu pikirnya.
Pembalasan yang terlupakan sejenak kini mulai muncul lagi, membuat Hana tersenyum menyeringai ke arah suaminya.
" Woalah... yang penting ganteng mbak, pasti semua kekurangannya tertutup oleh wajah tampannya itu, hehe.." Celetuk mbak penata rias itu.
Ketampanan Raymond memang tidak diragukan lagi, jadi siapapun yang memandangnya pasti akan memujinya, apalagi kalau sudah melihat senyumannya, terkintil-****** pastinya.
" Kalau begitu kami permisi ya mbak, semua sudah selesai." Dua penata rias Hana akhirnya berkemas karena sudah menyelesaikan tugasnya.
" Silahkan mas, mbak Hana sudah selesai, monggo kalau mau digarap sudah bersih, yang semangat mas biar bisa langsung gol." Ledek perias itu sambil berlalu dari sana dengan senyum ledekan.
" Ciiih... nggak tau aja dia, kalau aku sudah menjebolnya, bahkan tanpa melihat letaknya!" Umpat Ray yang langsung terkekeh perlahan dan berjalan mendekat kearah istrinya.
" Kenapa Ray?" Hana masih mengotak atik ponselnya.
" Panggil sayang bisa nggak kak?" Ray langsung menjelingkan kedua matanya.
Walaupun dirinya lebih muda, tapi seorang suami tetap menjadi imam keluarga yang harus dihormati.
" Orang kamu juga masih panggil aku kak kok?" Hana tidak mau kalah.
" Tapi kan kalau aku ada sayangnya, nggak langsung nyebut nama." Ray pun tidak teri.a begitu saja.
" Kemarin dipanggil mas malah ngamuk? dikira aku menduakan cintamuh dan selingkuh sama yang lain, kamu pikir aku itu cewek murahan gitu, yang suka obral sana-sini apa?" Hana mengingat kejadian beberapa hari yang lalu.
" Heleh... gitu aja ngamuk istriku ini, sini-sini sayang, aku peyuuk duyuu..." Ray langsung bertingkah imut dan memeluk tubuh istrinya dari belakang.
" Dasar nyebelin kamu, sudah makan belum tadi?" Hana langsung tersenyum melihat ketengilan suaminya itu.
" Belum.. pengennya cuma mau makan kamu?" Ray langsung tersenyum penuh makna.
Owh... tidak bisa, tidak akan semudah itu sayang.
" Apaan sih, aku capek." Sebenarnya walau Hana lelah, api kalau untuk sekedar melayani keinginan suaminya dia bisa, namun Hana memang sengaja ingin mengerjai suaminya.
" Sayang... kita pulang yuk?" Ucap Ray sambil menghujani kecvpan ditengkuk istrinya, seolah partikel-partikel yang ada ditubuhnya hidup semua saat sudah menempel seperti itu.
" Pulang kemana? ini kan sudah dirumahku?" Hana menengadahkan wajahnya.
Cup!
__ADS_1
Ray langsung tidak membiarkan bibiir ranum itu nganggur begitu saja, apalagi sekarangdia bisa bebas mau nglakuin apa saja dengan istrinya.
" Biarpun ini rumah kamu, tapi saat kata Sah tadi sudah terucap, kamu harus selalu ikut dengan suamimu ini, kemanapun aku pergi, itu baru yang namanya istri yang soleha, mengerti sayang?" Ray membalikkan tubuh istrinya dan mengusap lembut pipinya.
" Okey, tapi besok saja ya Ray." Hana jadi tersenyum malu-malu, karena dia belum terbiasa bermesraan seperti ini.
" Kok Ray lagi!" Raymond kembali kesal, saat istrinya masih memanggil namanya.
" Hehe... iya-iya dedek sayang." Hana lansung mengeratkan pelvkan dipinggang suaminya.
" Kok ada dedeknya sih?" Ternyata Ray masih belum terima.
" Karena kamu juga masih manggil aku kakak sayang, jadi biar klop, ntar kalau diluar rumah biar kita disangka kakak adek, trus bisa laku lagi, gimana?" Hana bahkan menaikkan kedua alisnya, sengaja untuk menggoda suami tengilnya.
" Woo... maunya! awas saja kamu yank, mau apa aku tulis di kening kamu itu, biar ada tanda sudah laku!" Dengan cepat Ray langsung mendorong tubuh Hana ke arah kasurnya dan membantingmya disana, akhirnya mereka berdua ambruk bersamaan.
" Boleh aku panggil mas aja?" Hana langsung memelvk leher suaminya.
" Hmm... boleh deh, daripada manggil nama."
Saat Ray mulai mengikis jarak dan memiringkan kepalanya, Hana langsung menjauhkan wajah mupeng suaminya.
" Katanya mau pulang, ya sudah mas pulang dulu aja sana, kita jumpa besok sore selepas pulang dari kantor."
" Kamu ngusir aku, dan apa tadi? jumpanya besok sore? enak saja mana ada pengantin baru sudah pisah rumah." Ray langsung tidak terima.
" Ya enggak, tadi katanya mau pulang, kamu pasti nggak bawa baju ganti kan kalau menginap disini? aku kan mau mengucapkan selamat tinggal sama kamarku malam ini." Hana mengedarkan pandangan keseluruh ruangan kamarnya.
" Diih...orang aku mau bobok ngak pake baju kok malam ini, jadi tidak masalah tidur dimana saja." Ray langsung berganti menggulingkan tubuh Hana dan mendudukkan istrinya diatas perut sispexnya.
Wah... bisa hancur ini nanti misiku kalau posisiku kayak gini.
" Kok nggak ada foto sih dikamar kamu yank?" Ray baru kali ini masuk kedalam kamar istrinya.
" Buat apa?" Hana tersenyum akhirnya bisa bermesraan seperti ini dengannya.
" Ya buat dilihatlah."
" Dulu sih punya banyak, foto aku sama kak Ganesh waktu kecil sampai masa sekolah, gede-gede banget lagi, apa boleh aku pasang lagi?" Hana ingin melihat reaksi suaminya.
" Berani kakak pasang lagi, aku eksekusii orangnya langsung!" Ray langsung mencengkeram lengan istrinya dengan kesal.
" Heh yank... masa lalu itu tidak perlu diputar, dijilat apalagi dicelupin!"
" Ya tapi kan masih boleh dirab@ dan diterawang kan, hehe.."
" Ada ada jawaban kamu tuh!" Ray bahkan mencomot bagian dari tubuh Hana sesuka hatinya.
" Tangannya ini, udah gatal, nakal lagi!" Hana langsung mencubit lengan Ray yang malah terkekeh.
Ternyata se asyik gini punya istri, tau gitu habis Sunat dulu minta nikah saja, eeh... tapi kan belum kenal Hana juga.
" Kak.. perk○sa aku lagi dong kak?" Seketika keluar ide jahilnya Ray.
Hana langsung melotot saat mendegar ocehan suaminya.
" Apaan sih kamu ini Ray!" Hana tidak habis pikir, bisa-bisanya dia ngomong seperti itu.
" Katanya mau panggil mas, baru sebentar sudah amnesia." Rutuk Ray kembali.
" Habis mulut kamu itu kalau ngomong ya, nggak bisa apa di rem duluan gitu, sembarangan saja kalau ngomong." Hana langsung melengos kesal.
" Kenapa sih, orang cuma ada kita berdua kok disini, lagian aku kangen malam itu yank, aku pengen digituin sekali lagi ya, please yank!"
Moment itu sangat berkesan dihidupnya, jadi ingin sekali dia mengulanginya, penasaran ingin melihat wajah Hana kalau sedang ngefly seperti apa.
" NGGAK!"
Hana langsung saja menolaknya, bagaimana tidak, sekarang Ray sudah bisa melihat dirinya, sudah pasti dia malu berat jika harus aktif dan menggila seperti malam itu.
" Nolak suami dosa loh yank, pengen yank, ayoklah?"
Ray menaikkan kedua kakinya dibahu kasur dengan Hana yang masih nangkring diatas perutnya sambil terus merengek meminta mengulang kembali adegan malam itu.
" Apaan sih mas, nggak mau iih.." Hana langsung berontak ingin turun dari sana.
" Ayolah yank, udah pas ini posisinya, tinggal goyangin dikit aja kan?" Ray terus saja memaksa istrinya, apalagi saat melihat perubahan raut wajah Hana yang sudah mulai memerah karena menahan malu, dan itu semakin membuat Ray senang.
" Ckk... nggak mau aku!" Hana langsung mengambil remote AC disebelahnya dan membesarkan suhu diruangannya menjadi paling dingin.
__ADS_1
" Kenapa sih yank, dulu aja semangat kok, ayo tolong perk○sa aku dong yank, pengen banget nostalgia ini, buruan." Ray bahkan menyentil semua aset Hana yang terlihat menonjol disana.
" Kamu ini gilak apa gimana, ada orang minta diperk○sa duluan, ya cuma kamu ini." Hana ingin beranjak berdiri namun langsung Ray tahan.
" Sensasinya itu lain loh kak, anggap ini permintaan seorang suami kak, yah?" Dengan segala cara Ray membujuk istrinya agar dia melakukan hal gilanya saat malam itu.
" Hiss... kamu ini." Hana mengeratkan gigi putihnya dengan kesal.
" Anggap ini sebagai penebus dosa kamu yank, karena kamu telah berani merebut keperjakaanku duluan dan dengan santainya men○daiku diriku yang suci ini."
Padahal tadi rencananya bukan begini, namun mau gimana lagi, masak iya ribut dimalam pertama Sah, kan nggak enak kalau ada yang denger dari luaran sana.
Ganti rencana lah...
" Atur posisimu!"
Hana bangkit dari perut Ray setelah beberapa saat terdiam dan berpikir, kemudian melemaskan dulu otot lehernya ke arah kanan dan kekiri.
" HAH? owh.. okey siap yank!" Jawab Ray dengan mantap.
Terkejut? sudah pasti namun memang ini yang Ray harapkan.
" Kita mulai sekarang!"
Hana seakan ingin mulai bersiap adu taekwondo dengan lawan, namun biasanya dia mengencangkan sabuk pengamannya, kalau ini dia langsung melepas kemejanya dan menyisakan tang top didalamnya.
E... Buset slebeeeew... gini nih asyik, jadi semangat kan akunya!
Ray langsung menelan salivanya sendiri sambil bersiap-siap, ada rasa deg-degan dan ada juga rasa senang, juga takjub pastinya karena tanpa disangka istrinya ini menurut dengan perintahnya.
Perlahan tapi pasti Hana mulai mendekat kembali kearah suaminya, wajahnya terlihat datar dan bahkan setenang air, arah tatapan matanya tepat ke kedua bola mata suaminya, sedangkan Ray malah terlihat cengengesan, walau hatinya ser-seran, dia tidak menyangka Hana yang biasanya cuek bebek bisa seperti ini.
" Kamu mau aku mulai dari mana?" Tanya Hana yang membuat Ray jadi melongo.
" Hah?"
" Mau dari atas atau dari bawah saja?"
Pertanyaan Hana semakin membuat dia menggila, bulu kuduknya pun terlihat berdiri, mungkin karena suara Hana atau karena suhu ACnya yang terasa sangat dingin menusuk ke tulang.
" Emm... dari mana ya, haduh... aku kok malah jadi pengen pipiis duluan ya yank." Entah karena grogi atau karena hawa dingin, dia jadi kebelet kencing.
" Nggak! mungkin itu bukan pipiis yang biasa, jadi kamu nggak boleh kemana-mana takut nanti moodku malah hilang." Hana tersenyum meyeringai.
" Enggak yank... aku beneran mau kekamar mandi, sebentar aja ya yank."
Wajah Raymond terlihat memerah, kamar ruangan Hana memang ACnya teramat dingin baginya malam ini.
" Aku tidak peduli." Hana langsung menaiki tubuh Raymond dengan mesra.
" Sayang... tolong ini sudah diujung yank, lima menit saja ya... please?" Ucap Ray sambil mendekap burung perkututnya yang sudah ingin muntah.
" Tadi minta? Mana ada orang mau perk○sa bisa dimintain tolong!" Hana malah sengaja duduk diatasnya sambil mengg○yangkan tubuhnya kekanan dan kekiri.
" Aku pasrah aja mau kamu apain deh nanti, tapi aku mau ke kamar mandi dulu sekarang."
Bukan Hana namanya kalau tidak nekad, saat wajah suaminya benar-benar sudah kocar kacir, dia malah sengaja mengusapnya perlahan benda pusakanya dengan sedikit menekannya.
" Yank... ampun, aku sudah nggak tahan lagi!" Ray semakin meringis menahan rasa sesak dicelan@nya.
Ray ingin mendorong dan menjatuhkan tubuh Hana ke kasur, namun dengan mudahnya ditangkis oleh Hana dengan kekuatannya.
" Aku belum selesai mas, heh... astaga kenapa sudah basah, kamu....?"
Hana langsung ingin melompat turun dari tubuh Ray, namun tanpa sengaja kaki kirinya menumpu pada pedang pusaka Ray.
" Aaaaaaaaaaaaaaaaaaa... awas kamu yank!"
Dan terjadilah apa yang tidak Ray harapkan, kelakuan Hana membuat torpedonya menangis saat itu juga.
" Aish... aku nggak mau ya ngasih jatah ke kamu malam ini, masak udah gede ngompol dicelana, hahaha!"
Namun Ray tidak memperdulikan lagi ledekan dari istrinya, dia langsung melompat dan ngacir dari ranjang untuk pergi ke kamar mandi, sambil memegangi celananya yang sudah sedikit basah.
..."Cinta perlu dijaga dan dipupuk. Dan lahan terbaik untuk menjaga dan memupuknya adalah pernikahan."...
..."Pernikahan bagaikan melihat daun yang jatuh di musim gugur. Selalu berubah dan makin indah."...
.
__ADS_1