Tiga Generasi Sultan

Tiga Generasi Sultan
29. Detik-detik menjelang


__ADS_3

...Happy Reading...


..."Tiada hubungan terindah seorang laki-laki dan perempuan kecuali hubungan dalam pernikahan."...


Ketika berbicara tentang pernikahan, Allah berfirman bahwa pasanganmu adalah pakaian untukmu.


Sebuah pakaian itu mungkin tidak pas atau bahkan terkadang tidak sempurna seperti apa yang kita inginkan, tapi bagaimanapun juga itu menutupi ketidaksempurnaan, melindungi, dan mempercantik dalam diri kita.


Begitu juga dengan Adelia yang mencoba menerima Ganesh dengan hati legowo dengan segala kekurangannya, karena memang tidak ada manusia yang sempurna, begitu juga dirinya yang juga banyak kekurangan.


" Adelia, kamu sudah siap nak?" Mala datang dengan kebaya yang tidak kalah mewah dari putrinya.


" Bismilah aja mom." Jawab Adelia yang sebenarnya juga masih ngambang, seperti yakin tidak yakin bahwa hari ini dia akan melepas masa lajang.


" Itu yang paling penting nak." Mala tersenyum bangga menatap putrinya, selain cantik dia juga berhati lembut dan mulia, juga selalu bisa tersenyum dalam keadaan apapun, walau didalam hatinya tidak ada yang tahu.


" Mala, boleh aku bicara berdua dengan calon menantuku?" Tiba-tiba Raras sudah nongol dibelakangnya dengan baju berwarna senada dengannya.


" Raras, kalian sudah datang?" Mala tersenyum menatap calon besan juga sahabat terbaiknya dari jaman dahulu kala.


" Sudah, semua sudah menunggu dibawah, tapi bolehkah aku ngobrol sebentar dengan Adelia, berdua saja?" Pinta Raras yang sengaja ingin ngobrol empat mata dengannya.


" Tentu, aku akan tunggu kalian dibawah." Mala langsung meninggalkan mereka berdua, dia tahu betul bagaimana bijaknya seorang Raras, seberapapun buruknya Ganesh, Mala tidak terlalu khawatir melepas Adelia untuknya, karena ada Raras yang akan membantunya untuk selalu mengawasi putranya sendiri.


" Adelia, emm... sebelum acara berlangsung, aunty mau tanya sekali lagi, kamu benar-benar bersedia menikah dengan putra aunty?" Raras merangkul bahu Adelia perlahan.


" Iya aunty, kalau tidak bersedia ngapain Adelia ada disini, sudah pakai baju yang beratnya hampir satu kwintal ini?" Jawab Adelia sambil berbicara basa-basi.


" Hmm... kamu cantik sekali sayang." Raras tersenyum, namun sebenarnya dia malah ingin menangis, ada rasa kasihan melihat nasip pernikahan mereka yang seolah terpaksa, walau dia tahu kedua orang itu sebenarnya saling menyukai, namun waktu dan keadaannya memang kurang tepat.


" Terima kasih aunty." Adelia ingin membalas pelukan Raras dengan erat, namun konde dikepalanya terasa berat, jadi dia hanya tersenyum dan berdiri mematung saja.


" Harusnya aunty yang berterima kasih kepadamu, karena kamu telah sudi menerima Ganesh dihidupmu." Ucap Raras menatap sendu wajah Adelia.


" Jangan ngomong begitu aunty, Adel ikhlas lahir batin kok menerima kak Ganesh menjadi suami Adel." Jawab Adelia mencoba untuk menghibur Raras yang terlihat merasa sangat bersalah.


" Jika kamu terpaksa, kamu belum terlambat nak, aunty bisa bantu kamu kabur dari sini, lompat lewat jendela mungkin?" Ucapan Raras terlihat serius kali ini.

__ADS_1


" Aunty serius?" Raut wajah Adelia pun terlihat serius.


" Apa kamu mau melakukannya?" Raras yang sebenarnya hanya bercanda, malah jadi terlihat ketakutan sendiri, rencana yang sebenarnya sudah matang malah dia gagalkan sendiri pikirnya.


" Ya enggaklah aunty, ribet lompat lewat jendela pakai kebaya panjang seperti ini." Adelia dengan santainya mengibaskan ujung kebaya yang dia pakai.


" Alhamdulilah, aunty malah jadi deg-degan sendiri, padahal aunty cuma bercanda tadi lho nak." Raras mengusap da danya berulang kali sambil bernafas dengan lega.


" Tapi aku serius aunty, aku bisa kabur lewat pintu samping, nggak harus lewat jendela, jadi nggak ribet dong." Bahkan Adelia langsung beranjak berdiri seketika.


Dyarr!


" Adelia? seriusan kamu mau kabur? kamu berubah pikiran gitu? jangan Del, kasian Ganesh nanti, bisa kumat lagi nanti gila nya!" Raras langsung memeluk tubuh Adelia dengan erat.


" Tapi bo'ong aunty, hehe.."


Ucapan Adelia bak air hujan yang menguyur deras disaat musim kemarau tiba, jatuh membasahi lahan kering kerontang tak berpenghuni, adem banget yang dia rasakan.


" Adelia, kamu luar biasa, aunty menyerah." Raras bahkan mengacungkan dua jempolnya karena Adelia telah berhasil ngeprank dirinya.


" Aunty duluan loh tadi yang mulai?" Adelia bahkan tersenyum dengan cantiknya.


" Masih calon aunty."


" Kamu tidak punya niatan untuk kabur beneran kan?" Raras menajamkan pandangannya.


" Ya enggaklah aunty, semua sudah siap, nggak mungkinlah aku mempermalukan diri sendiri dan semua keluarga kita."


" Aunty tenang saja, semua pasti berjalan lancar seperti yang kita rencanakan."


Sungguh bijak kata-kata Adelia, sebagai seorang dokter psikologi dia selalu bisa menenangkan hati orang yang ada di sekelilingnya.


" Aunty lega, semaleman aunty sampai kurang tidur memikirkan kalian nak."


" Walaupun kalian berdua menikah dalam keadaan belum siap dan terpaksa, tapi aunty berharap kamu bisa ridho menerima segala ketentuanNya ya sayang." Pinta Raras dengan senyum lega.


" Pasti aunty."

__ADS_1


" Walau begitu, pernikahan adalah sesuatu yang sakral, jangan karena saat kalian menikah dalam keadaan terpaksa, jadi jika nanti ada masalah kecil ataupun besar yang datang menghadang kalian langsung menyerah begitu saja."


" Perjuangkan pernikahan kalian ya nak, jika ada masalah coba selesaikan dulu baik-baik, bicarakan berdua dengan kepala dingin."


" Insya Alloh aunty."


" Jika masih sulit dan tidak menemukan solusinya, carilah kami, kami adalah keluarga, yang pasti akan memberikan saran yang terbaik untuk kalian, jangan langsung dibawa ke meja hijau ya nak? aunty mohon dengan sangat."


" Keluarga akan selalu ada untuk kalian sayang, kamu percayakan pada kami semua?"


Raras sudah memikirkan pernikahan mereka sampai sejauh itu, dia hanya tidak ingin hubungan anaknya kandas tanpa sepengetahuan mereka.


" Iya aunty, aku akan berusaha menjadi istri yang baik untuk kakak."


" Jika Ganesh melakukan kesalahan atau berani menyakitimu, jangan segan-segan mencari aunty ya, aunty pasti akan memberikan pelajaran yang berharga untuk suamimu itu."


" Masih calon aunty."


" Aissh... dari tadi kamu bikin jantung aunty mau copot saja, ayo kita turun saja! semakin cepat kalian Ijab Qobul, semakin tenang hati aunty, aduuh... aku tidak mau wajahku berkerut karena terlalu stress memikirkan kalian." Raras langsung menangkupkan kedua telapak tangannya kewajahnya sendiri, yang terasa memanas karena senam jantung sedaritadi.


" Aunty, boleh aku yang nemenin Adelia turun?"


Saat Raras ingin menggandeng Adelia turun, tiba-tiba Hana sudah berdiri dibelakang mereka sejak tadi.


" Hana?" Mereka berdua seolah terkejut karenanya.


" Boleh aku yang gandeng Adelia turun ke kursi pelaminannya?" Tanya Hana dengan senyum manisnya.


" Tentu Hana sayang, semoga kamu cepat nyusul juga ya, sama itu si dedek polisi tentunya kan, hehe.." Raras langsung melenggang pergi meninggalkan mereka berdua.


Boro-boro aunty, entah mengapa aku seperti dicampakkan olehnya kemarin, sampai saat ini dia bahkan tidak chat aku? padahal biasanya dia sudah memenuhi chat di ponselku dengan segala gombalan manisnya, argh... aku sangat menyesal bicara begitu kepadanya kemarin.


" Hana?" Adelia langsung menggoyangkan lengannya saat Hana malah terlihat terbengong saat Raras sudah hilang dipandangan mereka berdua.


" Hah? iya..?" Hana langsung tersentak dalam lamunan.


" Kok malah melamun sih? kita turun sekarang?" Tanya Adelia sambil tersenyum canggung.

__ADS_1


Dia sebenarnya masih merasa tidak enak hati dengan Hana, walau sekarang Hana sudah tidak bersikap seperti empat tahun yang lalu, namun bagaimanapun juga Adelia pernah menorehkan cerita lara dihati Hana.


... "Janganlah engkau menuntut pasanganmu untuk sempurna, tapi sempurnakanlah dirimu agar engkau mampu menutupi kekurangannya."...


__ADS_2