
...Happy Reading...
Disaat kasus Ganesh belum terselesaikan, seluruh keluarga melarang Ganesh dan Adelia untuk keluar rumah, walau hanya ke mini market seberang jalan sekalipun, rumahnya dijaga dengan ketat, para pengawal berjas hitam selalu siaga dua puluh empat jam bergantian untuk menjaga rumah mewah itu.
Luka ditubuh Ganesh pun sudah kering, bahkan jahitannya sudah dilepas semuanya tadi oleh dokter pribadi keluarga Simon.
" Huft... apa kabar somay, lotek, gado-gado di pinggir jalan sana ya, rasanya ngangenin banget lagi." Adelia yang sempet beberapa kali mampir kesana jadi rindu ingin makan di warung itu.
" Istriku, lagi ngapain ini?" Ganesh yang sudah bisa berjalan tanpa kursi roda langsung mendekati istrinya yang termenung didepan jendela kamarnya.
" Ya.. nggak ngapa-ngapain kok kak, cuma cari udara segar saja." Jawab Adelia langsung tersenyum melupakan sambel kacang disemua makanan tersebut.
" Sayang.. bantuin aku buka perban dan ngasih salep di lukaku dong?" Pinta Ganesh yang sebenarnya hanya modus belaka, padahal seharusnya dia bisa melakukannya sendiri, namun dia sengaja ingin memancing istrinya saja.
" Hah? luka yang mana?" Tanya Adelia dengan ragu, seolah dia sudah punya firasat buruk.
" Ini yang di area paha, masih sedikit basah kayaknya, jadi sedikit perih kalau nggak ditiupin." Ucap Ganesh dengan segala akal bulusnya.
" Aku panggilin dokter yang tadi saja ya kak? mungkin dia belum jauh, jadi bisa puter balik lagi." Jawab Adelia yang entah mengapa malah seperti orang ketakutan, karena letak luka itu memang memanjang sampai bagian atas kaki Ganesh.
" Cuma buka perban dan ngasih salep aja nih yank, nggak harus panggil dokter juga kan? masak kamu nggak bisa? kamu jijik ya lihat bekas lukaku?" Ucap Ganesh langsung memasang wajah pura-pura tersakiti.
" Bukan, bukan begitu kak, tapi... emm, owh iya aku panggilkan momim saja ya?" Raras menyingkat nama mommy mertua menjadi momim begitu juga dengan Ganesh.
" Adelia...!" Teriak Ganesh dengan kesal, namun Adelia sudah berlari ngacir duluan mencari Raras yang entah dimana keberadaannya.
Astaga... kenapa dia polos sekali, apa dia ketakutan sekarang? masak iya jadwal unboxingnya gagal terus? apa kata dunia bos?
Ganesh langsung menjambak sendiri rambutnya dengan kesal, dia sungguh tidak menyangka beberapa tahun dia meninggalkan gadis itu namun kepolosannya masih sama.
" Momim, momim dimana?" Adelia mencari-cari Raras diseluruh ruangan rumah itu, dia ingin meminta bantuan Raras selaku ibu kandungnya untuk membantu membuka perban yang memang dekat dengan barang berharga milik Ganesh.
__ADS_1
" Nyonya sudah masuk kamar non, ada yang bisa bibi bantu?" Namun yang muncul malah asisten rumah tangganya, karena hari memang sudah malam, waktunya orang untuk beristirahat.
" Benarkah? apa momim sudah istirahat ya?" Adelia jadi kembali ragu untuk meminta bantuan kepada sang ibu mertua.
" Sepertinya non, kalau butuh sesuatu biar bibi saja yang membuatkan, nona mau makan atau minum apa?" Tanya si bibi yang sebenarnya sudah kelihatan ngantuk itu, namun dia terbangun karena mendengar suara Adelia.
" Nggak ada bi, cuma mau ngobrol sesuatu sama momim, biar aku coba ke kamarnya dulu ya, bibi lanjut istirahat saja okey?" Adelia langsung balik kanan dan menuju kamar Raras dan Simon.
" Hemm... sebaiknya jangan non, karena mungkin juga percuma saja, mereka pasti sedang sibuk bekerja banting tulang jam segini." Umpat si bibi denan senyum yang tertahan, dia sudah bertahun-tahun bekerja di rumah besar ini, jadi sedikit banyaknya dia sudah hafal dengan kebiasaan Tuan dan Nyonya besarnya saat jam-jam segini.
Banting tulang? jam segini? kerja apa mereka?
" Nggak papa bi, sebentar aja kok!" Adelia tetap nekad kesana, lagian juga ini demi putra kesayangan beliau pikirnya.
Saat tangan Adelia baru saja mau menyentuh pintu kamar mertuanya untuk mengetuk, tubuhnya seolah mematung, saat mendengar suara-suara yang membuat bulu kuduknya tiba-tiba meremang.
" Omegot yes abang..." Sayup-sayup terdengar suara ibu mertuanya dari dalam sana.
" Mereka sedang apa sih? kalau olah raga ngapain dikamar? kan ada ruang fitnes dibelakang, gede lagi?" Adelia semakin ragu untuk mengetuknya, takut jika dia akan menggangu nantinya.
" Sedikit lagi bang... yuk.. yuk semangat bang, uhh!" Terdengar kembali suara Raras yang entah mengapa membuat lengan Adelia jadi merinding semua.
" Apa mereka sedang maen game ya? tapi game apa, masak iya mobil legend? apa mereka tahu permainan anak muda jaman sekarang?" Adelia kembali termenung memikirkan game yang dia saja tidak berminat untuk memainkannya.
Plok.. plok.. plok...
Lama-lama terdengar bunyi seperti orang yang sedang bertepuk tangan didalam sana.
" Woaahh... kalau itu sih beneran lagi olahraga si momim, mungkin ini kali ya rahasia momim jadi awet muda, olahraga tiap malam?" Bahkan dia mondar mandir didepan pintu itu.
" Tapi gimana dengan perban kak Ganesh? apa aku saja yang buka? hmm... ya sudahlah, mau gimana lagi, biar aku saja yang mengolesi salepnya juga."
__ADS_1
Akhirnya Adelia memilih balik kanan kembali kekamar suaminya, dengan ide baru yang terlintas di pikirannya.
" Kak?" Walau masih bimbang dan ragu dia membuka pintu kamarnya.
" Astaga sayang, ngapain kamu pakai kaca mata hitam segala." Teriak Ganesh yang langsung terkejut melihat istrinya sendiri.
" Nggak papa kak, sini mana yang mau dikasih salep?" Adelia berjalan mendekat kearah suaminya.
" Sayang... ini malam hari loh, ngapain kamu pakai kaca mata hitam segala, lagian ini dikamar kita sayang, kalau kamu silau tinggal matiin aja lampunya, ngapain ribet-ribet pakai kaca mata hitam begitu!" Ganesh langsung berusaha menarik kaca mata hitam itu.
Apa-apaan lagi si Adelia ini? segitu takutnya dia melihat bagian-bagian terdalamku? padahal juga masih ada karung dalamnya! owh Tuhan... haruskah aku berterima kasih dan bersujud syukur sekarang, karena punya istri sesuci dia?
" Jangan kak, aku malu." Jawab Adelia yang langsung memundurkan wajahnya dan tetap memegangi kaca matanya.
Woaaah... ingin sekali aku membanting tubuhnya sekarang, tapi aku nggak mau dia semakin ketakutan, aku kan mau mende sah berjamaah dengannya.
" Malu kenapa? aku suamimu Adelia, apa kamu sudah lupa?" Ingin sekali dia tertawa tapi kasihan juga lihat wajah bingung dari istri polosnya.
" Emang kenapa sih kak, lagian cuma kaca mata saja doang kan, nggak ngaruh juga sama luka kakak?" Jawab Adelia tetep ngotot dengan ide gilanya.
" Hmm... nggak sekalian saja kamu pakai masker, sarung tangan dan baju APD yank? biar bisa melindungi diri dari virus yang membandel?" Ledek Ganesh yang tidak habis pikir dengan kelakuan istrinya.
" Emang kakak punya, sini biar aku pakai sekalian?" Adelia malah menanggapinya dengan serius.
" Kyaaaa...! Adelia Aghata, mesti gimana lagi aku menjelaskan sama kamu, aku ini suamimu dan asal kamu tahu, apa yang ada ditubuh kamu itu SEMUA MILIKKU!" Ucap Ganesh sambil menekankan kata-kata terakhirnya, lama-lama gemas juga dia melihatnya.
Tidak ada kata-kata yang bisa menggambarkan betapa kesal dan prustasinya Ganesh saat ini. Dan mungkin ini juga termasuk salah satu Karma untuknya, karena biasanya dia dengan begitu mudahnya mendapatkan wanita manapun yang dia inginkan, bahkan hanya dengan kedipan sebelah matanya saja.
... "Cinta adalah ketika kebahagiaan orang lain lebih penting daripada kebahagiaan Anda."...
TO BE CONTINUE...
__ADS_1
Kita lanjut yang mantep-mantep setelah ini, jangan lupa siapkan kopi dan bunganya bestie☺