
...Happy Reading...
Ken yang masih merasa kebingungan pun akhirnya kembali kedalam mobil, dia tadi baru sempat basa-basi dengan gadis itu.
" Ada apa brother? aku baru saja melancarkan aksiku untuk berkenalan dengannya?" Ken langsung mulai protes saat mobil kami sudah bergerak menjauhi rumah Samantha.
" Apa kamu sudah berhasil berkenalan?" Tanyaku dengan tatapan jengah.
" Ya belumlah... baru juga dia mau menyebutkan namanya, kamu sudah menyuruhku untuk kembali ke mobil." Gerutunya.
" Apa aku menggangumu?"
" Tentu saja!"
" Apa dia cantik?"
" Jelas, ehh..." Ken langsung memukul mulutnya sendiri, karena berbicara terlalu jujur.
" Dasar mata keranjang, nggak bisa lihat babon yang bening sedikit saja!" Aku langsung menoyor lengan Ken yang duduk disampingku.
" Hmm... tapi entah mengapa aku seperti tidak asing melihat mata yang berwarna hitam kecoklatan itu." Tatapannya jauh menerawang kearah jalanan.
" Eleeeh... kalau Mafia cantik aja kamu bilang tidak asing, coba kalau cowok, kamu pasti langsung bilang itu mata serangga yang harus dibasmi!" Ucap rekanku yang satunya.
" Beneran brother, aku seperti pernah melihatnya, tapi dimana ya?" Ken menggaruk tengkuknya sendiri mencoba mengingat-ingat kembali.
" Halu aja kamu, tolong percepat laju mobilnya, aku sudah ditungguin ini." Sedari tadi bayangan wajah kak Hana sudah berubah menjadi angry bird di pikiranku.
" Sepertinya kita harus istirahat dulu, daripada berbahaya dalam berkendara disaat kondisi tubuh sudah lelah dan kurang asupan makanan seperti ini."
" Betul itu Ndan, besok kita bisa berangkat pagi-pagi sekali, jadi sampai kota mungkin masih siang hari."
" Haduh... gimana ya?" Aku kembali memikirkan kemarahan kak Hana nantinya, namun benar juga apa yang dikatakan rekan-rekan kerjaku, keselamatan dalam berkendara adalah yang paling utama sekarang.
" Santai lah sob, udah ngebet banget atau gimana sih? nikahin aja kenapa? daripada galau menahan rindu." Ucap Ken yang langsung sok bijak, padahal dia juga galau saat mengingat kekasihnya yang nun jauh disana.
" Maunya juga gitu, tapi keadaan belum memungkinkan, ditambah gadis itu masih misteri bagiku." Aku kembali mengingat Samantha, bayangan wajahnya yang sedang pilu diatas pusara ayahnya bergantian dengan wajah-wajah mafia yang kejam, membuat bulu kudukku terasa meremang.
" Siapa tadi namanya?" Tanya Ken kembali.
" Samantha." Jawabku dengan cepat.
" Hmm... nama yang cantik, begitu pula orangnya, sayang sekali dia babon mafia, kalau dia hanya gadis lugu dan polos, sudah pasti aku culik dia dan akan aku bawa dia menuju ke kursi pelaminan."
" Semenjak LDR otak kamu memang sedikit sèngèt ya brother?" Aku tersenyum miring melihat raut wajah Ken, sudah pasti dia sedang membayangkan wajah mulvs Samantha.
__ADS_1
" Aku masih penasaran, aku pernah melihat mata itu dimana ya?" Ken sampai memukul kepalanya perlahan, dia terlihat berusaha keras untuk mengingatnya.
" Ayahnya yang mendon○rkan kedua mat@nya untukku." Ucapku yang membuat mereka semua menoleh kearahku.
" WHAT?" Ken langsung terlonjak kaget saat mendengarnya.
" Yakin kamu sob?"
" Yaa... kalau memang gadis mafia itu bernama Samantha, itulah orangnya." Aku pun masih belum begitu percaya, namun beberapa kejanggalan yang terjadi seolah memang dialah salah satu dari kelompotan mafia itu.
" Kamu mengenalnya?"
" Baru beberapa hari yang lalu aku berkenalan dengannya, kami berjumpa di pusara ayahnya."
" Ini Gila sih? apa ini yang dinamakan Karma itu pasti berlaku? disaat anaknya ikut andil dalam hal mencelakaimu, ayahnya lah yang menolongmu?" Ken bahkan juga merasa tidak percaya dengan kenyataan ini.
" Tapi saat kecelakaan itu terjadi tidak ada Samantha ditempat kejadian perkara." Ucapku dengan yakin.
" Namun saat penyerangan kak Ganesh, dia salah satu pelakunya." Ucap Ken langsung menimpali.
" Kalau itu memang benar, karena kakak iparku sendiri yang mengatakannya."
" Gw masih belum percaya loh? padahal tadi suaranya lemah lembut banget, mendayu-ndayu gitu sapaannya, bikin ser-seran deh pokoknya." Ken langsung mulai curhat.
" Aku pun sama."
" Kok ayam goreng crispy maksudmu apa?"
" Yoi... keras diluar lembut didalam begitu."
" SAE LOH MARJUKI." Kami langsung menoyor tubuh Ken secara bersamaan.
" Hmm... tapi aku tadi sempat melihat dari rekaman cctv walau hanya sekilas, serangannya itu nggak kaleng-kaleng loh, gerakannya itu berasal dari tekhnik bela diri yang sudah tingkat tinggi, lalu kenapa dia bisa jadi Mafia sekarang?"
" Kalau aku yang lebih herannya itu, dia jadi mafia kelas kakap tapi kenapa keluarganya masih terlihat miskiin? dan saat penyerangan kak Ganesh itu, kejadiannya mereka di benua Eropa sana kan?" Ken kembali berpikir keras.
" Apa mungkin untuk biaya pengobatan dan kuliahnya ya?"
Karena memang seingatku, mommy pernah menanyakan tentang kegiatannya sekarang dan katanya dia masih kuliah bahkan di kampus kak Adelia dan kak Ganesh dulu, walau mungkin tidak satu angkatan, karena Samantha masih terlihat sangat muda.
" Owh... astaga!" Ken langsung melotot saat mengingat sesuatu.
" Apaan? ngagetin aja kamu ini!" Aku sampai mengusap dadaaku karena kaget.
" Aku pernah bertabrakan disana, dia berlari dan menabrak tubuhku, saat kita mengusut ke negara itu, yaa... aku sempat ngobrol walau sekilas, ternyata dia perempuan cantik itu, ckk... sayang sekali, padahal aku sempat berfikir kalau dia itu jodohku nanti." Ken terlihat sangat kecewa sekali.
__ADS_1
" Sudahlah, biar aku sendiri yang akan mengurusnya nanti, setelah itu kita istirahat dulu nanti cari kedai buat makan."
Akhirnya kami menemukan satu kedai makanan yang buka dua puluh empat jam, belum ada hotel disana, tidur dimanapun kami tidak masalah, yang penting perut kenyang mata pun bisa dengan mudahnya terpejam walau tidak bisa full.
Hingga akhirnya suara ayam berkokok pun mulai terdengar, setelah cuci muka dan melakukan kewajiban kami dipagi hari, kami kembali sarapan pagi dan akan mulai melanjutkan perjalanan pulang.
" Waktu makan lima menit, dimulai dari sekarang!" Ken melihat arloji ditangannya, seolah Kami sedang ikut wajib militer saat itu.
" Astaga.. aku sudah terbiasa makan disuapi, jadi aku lupa makan cepat." Umpatku yang langsung melotot melihat rekan-rekanku yang baru selesai ngomong sudah habis seperempat piring.
" Siapa yang lambat, dia yang bayar!" Ucap Ken yang langsung tersenyum menyeringai.
" Kau memang ya Ken!" Aku melotot kearahnya.
" Masih baik tidak aku suruh cuci piring skalian, haha!" Setengah piring sudah ludes dihadapannya.
" Terserah kalian lah, memang aku juga sih yang niatnya nanti mau bayar, tapi kalau ada yang mau nyuapin aku, aku kasih bonus deh, boleh nambah sepvasnya, di bungkus pun bolehlah." Ucapku yang membuat mereka langsung melengos.
" Diih... anda kira Eyke cowok apaan!" Ucap Ken yang langsung menjeling kearahku.
" Bahahaha.." Merekapun langsung tertawa diselingi dengan umpatan-umpatan kecil yang menghangatkan suasana.
Tanpa terasa perjalanan mereka sudah cukup jauh, aku akan mengantarkan satu-persatu kerumah mereka masing-masing.
" Hmm... sebaiknya aku lansung kerumah kak Hana saja, daripada dia semakin ngamuk nantinya."
Aku langsung menekan pedal gas mobilku kearah rumah kak Hana, berbagai rayuan sudah aku persiapkan, bahkan gombalan mautpun sudah aku susun sepanjang perjalanan kerumahnya, karena aku tidak bisa pulang sesuai waktu yang dia inginkan, lambat laun aku mulai paham kelemahannya, dia paling tidak bisa menahan senyuman saat gombalanku mulai terdengar ditelinganya, walau dia mengelaknya, namun rona merah dipipinya tidak bisa dia pungkiri.
Cekiiiiiiiiiiiiiiiiiiiitttt!
Saat aku mulai memasuki gerbang rumahnya yang memang sudah terbuka itu, aku langsung mengerem mobilku secara mendadak dan berlari keluar sambil membanting pintu mobilku dengan keras.
" APA-APAAN INI!"
Aku melihat rumah kak Hana yang sudah dipenuhi dengan bunga-bunga segar berwarna putih, bahkan melengkung sepanjang jalan menuju pintu utama rumahnya, membuat duniaku seolah morat-marit, tiba-tiba sesiang ini, dalam kondisi capek, lelah dan kurang tidur, aku diharuskan Senam Jantung sesaat.
" HAPPY ENGAGEMENT "
Sebuah tulisan yang membuat kedua mat@ku seolah hampir keluar dari cangkangnya, bahkan tulisan itu terlihat indah dengan dihiasi bunga-bunga disekelilingnya.
" HANAMI, KELUAR KAMU SEKARANG JUGA!"
Aku langsung berkacak pinggang dan berteriak sekeras-kerasnya tepat didepan sebuah rangkaian bunga yang harumnya semerbak mewangi, tapi ibarat bau b@ngkai di hidung seorang Raymond karena menahan amarah yang tidak terkira.
..."Mengetahui saja tidak cukup karena kita harus menerapkan. Keinginan saja tidak cukup karena kita harus melakukan."...
__ADS_1
To be Continue...