
...Happy Reading...
Hari ini Adelia kembali masuk kerja karena sudah mengambil cuti lebih lama, bukan karena takut dipecat sebagai psikolog disana, namun karena dia juga sudah sumpek sendiri, kalau terus-terusan dirumah dengan keadaan yang seperti itu, ditambah lagi Ray tidak ada dirumah karena masih berada di kantor Hanami, jadi mommynya pun bisa istirahat di dengan tenang.
" Adelia." Saat Adelia baru turun dari mobil, terdengar orang berteriak memanggilnya.
" Dimas?" Adelia langsung tersenyum melihatnya.
Terlihat Dimas berlari kearahnya, sudah lama dia tidak bertemu dengannya semenjak Adelia menikah hari itu.
" Hai.. apa kabar? kamu sehat kan?" Dimas langsung menjabat tangannya.
" Sehat Mas, kamu sendiri gimana?" Adelia memang selalu kagum dengan Dimas yang selalu sopan dalam memperlakukan wanita.
" Aku baik, tapi kenapa kata rekan kerjamu tadi, sudah seminggu lebih kamu ambil cuti? apa yang terjadi denganmu?" Tanya Dimas yang masih selalu khawatir dengan Adelia, tadi dia kebetulan lewat dan sengaja mampir, tapi kata rekannya Adelia izin, dan saat ingin pulang ternyata dia melihat mobil Adelia dari kejauhan.
" Owh... iya, bukan aku yang sakit, tapi adekku Ray yang sakit." Wajah Adelia kembali muram saat mengingat nasip adeknya.
" Emang dia sakit apa?" Dimas mengerutkan keningnya.
" Kita lanjut ngobrol dikantin saja gimana? sudah ditungguin Hesti disana soalnya."
" Okey, kebetulan aku juga belum sarapan." Jawab Dimas dengan semangat.
" Jam segini belum sarapan? ya ampun... makanya nikah Mas, biar ada yang masakin sarapan kalau pagi." Ledek Adelia sambil melangkahkan kakinya menuju kantin tempat dia bekerja.
" Kamu sih udah nikah duluan, jadi aku harus cari kandidat baru lagi ini." Jawab Dimas dengan santainya.
" Dimas, kamu---" Adelia yang orangnya sensitif langsung merasa tidak enak hati.
" Bercanda Adelia, serius amat sih jadi orang, hehe.." Dimas langsung terkekeh sendiri sambil menyengol lengan Adelia.
" Astaga... deg-deg an aku Mas, kirain beneran, padahal aku sudah menggangapmu sebagai kakak dari dulu." Jawab Adelia.
" Itu dia masalahnya, makanya kita tidak bisa menikah, haha.." Ucap Dimas dengan senyum santainya.
" Siapa yang mau nikah?" Tiba-tiba Hesti muncul dengan membawa dua minuman ditangannya.
" Kamu!" Jawab Adelia ngasal saja.
" Huh... lagi nggak minat bahas masalah pernikahan." Jawab Hesti sambil memutarkan kedua bola matanya.
" Yaiyalah... orang kamu jomblo, jangan lama-lama tau Hes, ntar jadi perawan tua, kamu sih suka milih-milih." Ucap Adelia sambil tersenyum.
" Emang milih yang kayak siapa Hes?" Dimas ikut nimbrung obrolan mereka.
" Yang dewasa, nggak kayak bocah!" Jawabnya dengan mantap.
" Maksud kamu mau yang tua? atau duda gitu?" Ledek Adelia.
__ADS_1
" Duda kalau masih keren apa salahnya? malah lebih mateng ya kan?" Hesti tidak mau kalah.
" Gw aminin, baru tahu rasa kamu!" Umpat Adelia sambil tersenyum.
" Amin." Jawab Hesti yang langsung menangkupkan kedua tangannya ke wajahnya sendiri tanpa rasa takut.
" Emang gila kamu ya Hes?" Adelia langsung menyentil kening sahabatnya itu.
" Biarin... tetap menggila dong, di era gempuran para mantan ngajak balikan!"
" Memang nggak waras ni bocah, kayak yang punya mantan aja luu!" Umpat Adelia yang rindu dengan sahabatnya yang satu ini, dialah yang selalu membuatnya tersenyum setiap hari.
" Mantan khayalan, hehe... btw gimana keadaan Ray, sudah dapat pe ndonor ma ta belum? dih... aku jadi ikut sedih deh, nggak bisa lagi ngebanyol sama dia?" Jawab Hesti yang langsung lemas saat mengingat Ray yang selalu kompak dengannya.
Dia sempat merasa bersalah, sudah ngerjain Hana sebelum kejadian hari itu, dan menghubungi Ray untuk meminta maaf, namun berulang kali Ray menjelaskan di sambungan telpon, kalau mereka kecelakaan bukan karena bertengkar gara-gara masalah itu.
" Hmm... itu dia masalahnya, belum ada kabar dari rumah sakit, padahal daddy dan kakak sudah mencari bahkan sampai keluar negri, belum ada kabar sampai saat ini."
" Kasian sekali Ray, dia pasti tersiksa banget."
" Aku nggak tega aja ngelihat Ray yang jadi sensitif, kadang juga ngamuk nggak jelas, dan yang lebih terluka lagi mommy, setiap malam dia menangis di depan kamar Ray." Adelia mengusap wajahnya dengan lunglai.
" Memangnya adekmu sakit apa? kenapa harus membutuhkan donor ma ta?" Tanya Dimas yang ikut berkomentar setelah menyimak obrolan mereka sedari tadi.
" Dia kecelakaan Mas, kedua matanya terkena remukan kaca mobil, dan sampai sekarang tidak bisa melihat." Jawab Adelia sambil menyeruput minuman yang Hesti bawa.
" Hmm.. gimana ya?" Dimas langsung teringat dengan kejadian beberapa hari yang lalu.
" Gimana apa? kamu kenal seseorang yang bisa membantu adekku? Dimas kalau ada tolong beritahu aku, berapapun bayarannya kami akan menyanggupinya Mas, help me please." Adelia langsung memegang kedua bahu Dimas dengan semangat.
" Dosa nggak sih kalau kita minta seseorang buat donorin kedua ma ta nya?" Ucap Dimas dengan ragu.
" Kenapa? dia butuh uang kah?" Adelia malah menjadi tidak enak hati saat mendengar kata dosa.
" Bukan, tapi dia sudah sakit parah, dan dokter sudah memvonis hidupnya mungkin sudah tidak lama lagi." Jawab Dimas yang ikut bersedih karenanya.
" Kalau dia ikhlas, kenapa harus dosa? asal sebelumnya kita bicara baik-baik dengannya, dan meminta persetujuan darinya, why not?" Hesti mencoba mengutarakan pendapatnya.
" Tapi gw nggak tega ih.. kasian, dia aja sudah sakit parah, ditambah harus mendo norkan kedua ma ta nya." Adelia yang tidak tegaan menjadi tidak bersemangat lagi.
" Coba aja dulu Del, siapa tahu itu jawaban dari doa kita untuk Ray?"
" Emang dia siapa Mas?" Walau tidak yakin, tapi Adelia ingin mencobanya.
" Saudara ayahku." Jawab Dimas sambil menundukkan kepalanya, entah mengapa jadi kepikiran saudaranya yang sudah sakit-sakitan itu.
" Kira-kira apa dia bersedia Mas?"
" Hmm... aku nggak yakin sih, tapi dia pernah bilang andai dia dapat membantu seseorang disisa-sisa umurnya dia pasti akan bahagia katanya."
__ADS_1
" Benarkah?"
" Iya... karena dulu dia juga pernah dapat cang kokan gin jal dari seseorang, tanpa mau dibayar sepeserpun." Jawab Dimas yang mendengar cerita dari ayahnya saat mereka menengok beberapa hari yang lalu.
" Boleh aku bertemu dengannya Mas?" Adelia langsung tersenyum, walau belum pasti, namun setidaknya ada setitik cahaya terang untuk adeknya.
" Tentu, tapi nanti biar aku bicarakan dulu dengan ayah, aku juga takut sih mau ngomong gimana, tapi akan aku coba deh." Dimas tidak mau gegabah dengan hal ini.
" Tolong kabari aku secepatnya ya Mas." Pinta Adelia.
" Okey, tapi aku tidak bisa menjanjikan itu semua Del dan aku pun tidak bisa memaksa jika memang ayah tidak menyetujuinya." Jawab Dimas yang tidak mau memberikan harapan tinggi sebelum ada kepastian.
" Aku paham maksud kamu Mas, jangan dipaksa, karena ini bukan masalah yang sepele, kalau memang dia tidak bersedia mungkin belum jalannya untuk Ray bisa melihat sekarang, kita bisa usaha lain lagi." Jawab Adelia yang mengerti dengan kondisi Dimas.
" Kita berdoa saja, nanti kalau ada kabar baik, aku kasih tau kamu ya?"
" Terima kasih banyak Mas, kalau dia bersedia, aku dan seluruh keluargaku ingin mengunjunginya terlebih dahulu, tapi kalau tidak ya nggak papa, jangan terlalu dijadikan beban ya Mas." Tanpa sadar Adelia menarik dan menggengam kedua jemari Dimas.
Cekrik!
Tiba-tiba Hesti menfoto Adelia saat mengenggam tangan Dimas dengan erat.
" Hesti, apa-apaan kamu!" Adelia langsung mencoba merebut ponsel Hesti.
" Haha... aku cuma ngetes kamera ponselku aja ini!"
" Hapus nggak!" Teriak Adelia yang langsung panik.
" Enggak mau, haduh... kalian terlihat mesra sekali ya, kalau suami elu lihat, kira-kira ekspresinya bagaimana ya!"
" Kamu mau apa?" Ucap Adelia langsung to the point, temannya yang satu ini memang ada gila-gilanya, jadi dia sudah tidak kaget lagi.
" Dih... kamu kok ngomong gitu sih? kamu pikir aku cewek apaan, emm... tapi ayam bakar madu enak kali ya Del siang-siang begini?"
" BERANGKAT! jangan kayak orang susah!" Ucap Adelia tidak mau mengambil resiko, kalau sampai suaminya lihat foto itu, sudah dijamin nggak bakalan bisa jalan dia besok pagi.
Semoga saudara ayah mau menyetujuinya, aku pengen banget bisa membalas kebaikanmu Adelia, tanpa bantuanmu entah jadi apa aku sekarang, atau bahkan mungkin aku sudah menjadi salah satu penghuni rumah sakit ji wa tanpa pertolonganmu itu.
" Dimas, kenapa bengong, ayok ikut pesan makan mumpung gratis!" Teriak Hesti yang memecahkan lamunan panjang Dimas seketika.
" Tapi?"
" Dia istri CEO tajir mlintir, jangan sungkan biar aku yang nanggung dosanya, kamu tinggal makan saja, hehe!" Entah mengapa Hesti langsung terlihat akrab dengan Dimas.
Dimas pun langsung tersenyum, dia lebih nyaman ngobrol sama cewek yang terbuka seperti mereka, daripada perempuan yang malu-malu, karena serasa hidupnya tidak berwarna.
..."Harapan adalah kemampuan untuk melihat bahwa ada cahaya meskipun semua dalam kegelapan."...
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KALIAN YA BESTIE😊
__ADS_1