Tiga Generasi Sultan

Tiga Generasi Sultan
72. Rindu menusuk hati


__ADS_3

...Happy Reading...


Terkadang Hidup memang sering tidak lancar seperti apa yang kita inginkan, tidak baik-baik saja disaat kita tidak siap menerima semua kenyataan yang ada, namun hidup harus terus berjalan dengan semestinya dan seperti yang seharusnya, tidak ada pilihan lain selain harus tabah menjalaninya.


Hanami pun begitu, disaat cinta sedang bermekaran, dikala kasih sedang bersemi dan rindu menusuk hati, dia harus dihadapkan dengan musibah yang menimpa kekasihnya, dan sekarang pun dia hanya bisa menatap layar monitor karena sebuah tanggung jawab dengan apa yang sudah papanya percayakan kepadanya.


" Selamat siang nona, ada proposal yang harus anda periksa dan tanda tangani sekarang juga." Ucap sekertaris Hana yang sudah membawa beberapa tumpuk berkas untuk diserahkan kepadanya.


" Apa bisa aku tanda tangani saja tanpa harus memeriksanya?" Tanya Hana yang langsung membuat sang sekertaris memundurkan wajahnya karena terkejut dengan apa yang dia dengar.


Hanami seseorang yang selalu bekerja dengan mengutamakan ketelitian, itu kenapa dia bisa menjadi sesukses ini membawa nama baik perusahaannya, karena hampir pekerjaannya sempurna, tidak ada kesalahan yang membuat para investor dan perusahaan yang bekerja sama dengannya merasa kecewa bahkan mereka selalu puas bisa bekerja sama dengan Hana.


" Apa nona sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja?" Tanya Sekertaris Hana sambil mencoba menelisik wajah CEO nya.


" Argh... aku memang sedang banyak pikiran." Hana mengusap wajahnya yang terlihat layu bahkan berat badannya turun beberapa kilo minggu ini, walau tidak sedang menjalani program diet sama sekali.


" Kenapa nona tidak mengajukan cuti saja? istirahat sejenak, menenangkan hati dan pikiran?" Saran dari sang sekertaris yang terdengar bagus dan menyenangkan.


" Apa aku boleh mengambil cuti?" Tanya Hana balik.


" Hehe... maaf, sepertinya tidak bisa nona, karena anda adalah CEO di perusahaan kita, memang anda mau meminta cuti kepada siapa?" Ucap Sekertaris itu dengan sejujur-jujurnya.


" Aisssh... kau ini!" Ingin sekali dia mengeluarkan semua jurus yang dia kuasai untuk menjatuhkan sekertarisnya itu diatas ring tinju sekalian.


" Semangat boskuh, hehe!" Dia bahkan mengepalkan kedua tangannya ke udara untuk menyemangati Hanami yang terlihat kesal dengannya.


" Enyah kau dari sini, selesaikan pekerjaanmu sekarang juga!" Umpat Hana yang langsung menyadari kebodohannya sendiri.


" Kalau begitu saya permisi nona, saya tunggu proposalnya karena harus segera kita serahkan ke klien kita."


" Hmm baiklah.."


" Owh... satu lagi nona." Sekertaris itu kembali menoleh kearah Hanami.


" Apalagi!"


" Jangan lupa makan, karena sakit hati tidak ditanggung oleh Bpjs nona, hihi." Sang sekertaris itu langsung kabur duluan sebelum sesuatu benda melayang kewajahnya.


" Kyaaaaa! kamu pikir aku perempuan korban patah hati apa!" Hana langsung kembali berteriak dengan sekertaris yang tidak tau apa-apa tentang masalah Hana itu.


" Aaaaaaaaaa... Ray, aku tidak bisa berpikir luas karenamu!"

__ADS_1


Hana bahkan susah tidur dalam beberapa hari ini, jadwal makan pun tidak teratur sama sekali, bahkan dia pernah seharian tidak makan karena terlalu stres memikirkan Ray.


Dia selalu teringat dengan keadaan Ray yang terpuruk karena keadaannya, yang terkadang masih sering histeris kalau mengingat kenyataan yang harus dia terima, atau bahkan dia melamun sendirian.


Bahkan Mala dan Adelia yang selalu menemaninya tidak pernah dianggap ada walau sering mengajaknya untuk ngobrol, tapi Ray hanya diam saja, melamun seperti orang yang kosong dan tidak punya harapan hidup saja.


" Apa aku kerumah Ray saja ya?" Hana menutup berkas yang baru saja ingin dia baca.


" Tapi nanti semakin menumpuk pekerjaanku, mana besok kejar deadline lagi." Hana kembali membuka laptopnya.


" Argh... aku tetap nggak bisa konsentrasi kalau mengingat Ray, aku harus gimana ini Ray!" Hana menghantukkan kepalanya sendiri keatas meja, dia benar-benar prustasi melihat orang seceria Ray menjadi lemah seperti itu.


Tulilut... tulilut


Tiba-tiba ponsel Hana berbunyi dan membuat Hana semakin pusing mendengarnya.


" Aaa... siapa lagi yang menelponku!" Hana langsung menjawabnya tanpa melihat siapa penelponnya.


" Hallo ini siapa, aku sedang sibuk!" Umpat Hana dengan mata terpejam dan kepala yang masih menempel diatas meja kerjanya.


" Hmm... my Hana, apa aku menggangumu?" Terdengar suara parau dari balik telponnya.


" Iya... tapi kalau aku menggangu kakak, aku akan menutupnya." Ucap Ray dengan lemah.


" Owh tidak, sama sekali tidak, tadi aku kira kamu sekertarisku, dia hobi sekali ngerjain aku, jadi aku kesal dengannya, tolong jangan diambil hati ya Ray?" Hana langsung bangkit dan memilih masuk kedalam ruangan kecil tempat dia beristirahat kalau sedang lelah di kantor.


Dia memilih membuka jendelanya untuk menikmati udara luar yang sebenarnya panas terik itu.


" Kakak dimana? apa tidak di kantor sekarang?" Ray mendengar suara samar-samar dari lalu lalang kendaraan jauh dibawah sana.


" Emm... tidak penting aku berada dimana sekarang, kamu ingin aku pergi kemana? apa kamu ingin bertemu denganku?" Ucap Hana yang membuat Ray menjadi tertegun sejenak.


" Apa kakak tidak sibuk?" Ray berkata dengan perlahan.


" Tentu... tentu aku sibuk Ray, tapi kalau kamu ingin bertemu denganku, aku akan kesana sekarang juga." Jawab Hana walau dengan ragu.


" Jangan seperti itu, aku jadi merasa lemah didepan kakak, padahal cita-citaku dari dulu ingin selalu ada untuk kakak, dan melindungi kakak setiap waktu, karena itulah aku jadi seorang anggota polisi." Ucap Ray yang membuat Hana semakin prustasi mendengarnya.


" Jangan ngomong begitu Ray, kamu tetap nomor satu untukku, sampai kapanpun itu." Ucap Hana yang tidak ingin membuat Ray bersedih, karena itu juga salah satu pesan dari dokter waktu itu.


" Temui aku kalau kakak sudah senggang nanti, selesaikan dulu pekerjaan kakak." Ucap Ray yang mencoba untuk terus baik-baik saja, disaat hatinya sedang dirundung pilu dan digempur dengan keadaan yang menyesakkan da da.

__ADS_1


" Pasti, aku akan segera menyelesaikan pekerjaanku." Ucap Hana yang langsung semangat membuka berkas didepannya kembali.


" Terima kasih kak."


" Kenapa harus berterima kasih, kamu mau aku bawain apa Ray? makanan atau minuman apa?" Hana selalu mencoba untuk tetap terdengar riang walau hanya pura-pura didepan Ray.


" Aku tidak butuh apa-apa, aku cuma mau kakak saja."


" Cie... sweet banget kamu sih Ray." Ledek Hana yang sudah lama tidak digombali oleh Ray, dia begitu rindu sosok Ray yang seperti ini.


" Hmm... aku akan menunggumu." Ucap Ray kembali.


" Okey, jangan lupa istirahat ya, secepatnya aku akan menemuimu, bye Ray." Hana langsung menutup ponselnya begitu suara Ray tidak terdengar lagi.


" Huh... aku bisa gila kalau terus seperti ini, aku bawa saja pekerjaanku kesana, siapa tahu aku bisa lebih konsentrasi mengerjakannya didekat Ray." Hana langsung mengemasi barang-barang dan dokumen yang tadi diberikan sekertarisnya.


" Nona, anda mau kemana?" Sekertaris Hana langsung berlari mendekatinya saat melihat Hana menenteng tas kerjanya.


" HEALING!" Jawab Hana tanpa menoleh sedikitpun.


" Hah? lalu proposalnya gimana?" Sekertaris itu langsung panik.


" Tanyakan saja pada rumput yang bergoyang!" Umpat Hana yang seolah tidak perduli.


" Loh kenapa rumput, apa nggak bisa anda saja yang bergoyang nona?" Jawabnya dengan refleks.


" APA KAMU BILANG!" Bentak Hana yang semakin emosi dibuatnya.


" E.. copot.. copot! hehe.. maksud saya, kenapa tidak bertanya dengan anda saja begitu." Sekertaris itu langsung memukul bi birnya sendiri yang terdengar kurang sopan.


" Nanti akan aku kirim secepatnya! jangan hubungi aku kalau tidak mendesak, mengerti!" Teriak Hana yang mencoba sabar kembali.


Sekertarisnya itu memang berkompeten, tapi terkadang otaknya memang sering miring tidak jelas, namun dia juga sering menghiburnya.


" Asiap nona!" Sekertaris itu memilih membungkukan tubuhnya saja, takut kalau salah bicara lagi.


Akhirnya Hana menekan pedal gas mobilnya menuju rumah Ray, walau kadang terasa lelah, namun setiap hari Hana berusaha untuk selalu berkomunikasi dengan Ray kalau tidak bisa menemuinya secara langsung.


... "Cara untuk meringankan penderitaan ketika ditimpa kesusahan dan musibah. Sadari bahwa itu telah ditakdirkan, itu hanya sementara, bisa saja lebih buruk dari itu, serta sadari bahwa banyak pahala yang akan kamu raih dengan musibah tersebut."...


TO BE CONTINUE...

__ADS_1


__ADS_2