
...Happy Reading...
Hesti POV
Kedua Mataku seakan enggan terbuka, saat tubuhku merasakan kehangatan yang luar biasa, melebihi selimut tebalku yang aku beli kredit ditempat langgananku, karena harganya melebihi sewa kontrakanku selama satu bulan, namun karena korban iklan aku beli juga.
" Hmm... beli dimanalah ini selimutnya, jadi pen kredit lagi."
Antara sadar dan tidak sadar aku menggumam perlahan dan meringkuk didalamnya.
" Wah... bad cover mahal ini pasti, wanginya beda gini? maskulin banget, mirip sama wangi parfum Om Arka ya?" Celotehku kembali.
" Owh iya... aku kan nginep di Restorannya Om Arka, bangun siang aja sekalian lah, mana anget banget disini, mungkin karena dekat kompor kali ya?"
" Uhh... mana nyaman banget lagi, nggak sia-sia jadi waitress tanpa gaji kalau gini sih."
" Tapi ini apa? guling kali ya? kok bernafas?" Aku kembali mengeratkan pelukanku.
" Astaga... jantungnya kok berdetak sih, jangan-jangan dia..." Perlahan aku mulai merab@nya dan belum berani membuka mata, karena takut ini hanya mimpi.
" Hmpt!"
Aku langsung mengatupkan bibirrku saat membuka mata, yang kata orang seksih seperti punya artis luar negri, walau kenyataannya saat itu bibirku sedang sariawan, jadi terlihat Jenor.
" Apa dia benar-benar om Arka? atau aku hanya bermimpi?"
Aku pejamkan mataku berulang kali, namun suara dengkuran halus dari bibirrnya membuat mataku enggan berkedip menatap wajah tampannya, alis matanya yang tebal, hidungnya yang mancung, rahangnya yang tajam, dan bibirrnya yang emh...
" Pesona duda memang beda ya?"
Aku memberanikan diri menyentuh pipinya yang belum terlihat kerutan sedikitpun, walau anaknya sudah seumuran denganku.
" Lengannya besar sekali? pantesan aunty Mala dulu menyukainya, dia pasti rajin berolahraga, pantesan awet muda."
Rasa-rasanya saat ini, aku ingin waktu berhenti agar Om Arka tidak segera bangun dan aku masih bisa menatap wajahnya sedekat ini berlama-lama.
Apalagi dalam posisi PW seperti ini, kami hanya duduk disofa dan saling berhadapan dengan tangan kanan kokohnya yang melingkar ditubuhku dan juga tangan kirinya menjadi bantal kepalaku, sungguh moment yang tidak pernah akan aku lupakan selama perjalanan hidupku.
Aku pernah punya pacar, tapi tidak pernah merasakan senyaman ini dalam pelukannya, setiap berduaan dengan pacarku yang aku anggap dewasa, bisa mengayomi, namun ternyata umur lebih tua bukan jaminan juga, selalu saja ada perbedaan pendapat yang ujung-ujungnya bertengkar dan harus putus.
Bahkan aku pernah punya pacar yang sengaja aku cari yang lebih muda, ternyata lebih parah lagi, aku yang harus memanjakannya, aku malah lebih terlihat seperti kakaknya, menemaninya bermain di Mall, nongkrong di kafe, bahkan duel main game online dan akhirnya aku kembali memutuskan untuk berpisah dan menjomblo saja sampai sekarang.
Tapi Om Arka beda, sedari pertama kali aku melihatnya, tatapan kedua matanya seolah teduh dan cara bicaranya tenang, sikapnya terlihat mengayomi, entah mengapa aku langsung tertarik saat melihatnya, dia mengingatkan aku kepada sosok almarhum ayah kandungku.
Setelah beberapa saat berlalu, kedua mata Om Arka seolah akan terbuka, dan aku memilih pura-pura memejamkan kedua mataku seperti orang yang masih tertidur, agar tidak ketahuan kalau aku diam-diam menikmatinya.
" Hmmm.."
Perlahan dia melepaskan pelukan ditubuhku dan menggeser kepalaku agar kembali bersandar dibahu sofa. Aku seolah tidak rela waktu cepat sekali berlalu, aku masih ingin mengulang satu malam lagi tidur dipelukannya, walau itu mustahil bagiku, karena mungkin matahari sudah mulai mengintip diluar sana.
" Hesti."
Setelah beberapa saat dia terduduk disampingku, dia mulai bersuara, entah dia memandangku atau ngapain aku tidak tahu, yang aku tahu dia masih berada disampingku dan menepuk pipiku perlahan saat ini.
" Hmm.."
Aku pura-pura terjaga, dan mengeliat dengan elegan, biar terkesan seperti wanita berkelas, padahal kalau dirumah, saat bangun tidur suaraku mengeliat bahkan mungkin terdengar sampai dikamar kontrakan sebelah rumah.
" Aku dimana?"
Karena bingung mau bilang apa, dan jantungkupun masih berdetak lumayan kencang, pura-pura lupa adalah cara jitu, apalagi saat bangun tidur melihat kenyataan aku berada dalam pelukannya, ini sungguh seperti dalam mimpi.
" Kamu masih di Restoranku, maaf aku tidak mengantarmu pulang, karena sudah tengah malam."
Aku tahu Om, dan itu memang kemauanku, hehe...
" Mau sholat subuh berjamaah denganku? mumpung belum telat ini?" Karena aku diam saja dia kembali berbicara dengan senyum manis walau terlihat berat karena bangun tidur.
" Boleh."
Aku menggangukkan kepala dengan membalas senyumannya, sungguh calon imam yang baik, walau sudah berumur tapi tetap tampan dan yang lebih adem dihati, dia ternyata sholeh, sungguh calon imam yang sempurna menurutku.
Dimas... harusnya dari dulu kamu memperkenalkan ayahmu denganku, agar status jombloku tidak terlalu lama.
" Ya sudah... kamu ambil air wudhu dulu dikamar mandi ujung sana, biar aku ambil air wudhu dibelakang saja."
" Siap Om." Aku langsung beranjak berdiri dan ingin segera ke kamar mandi karena sudah disemangatin calon ayang, walau jadi atau enggak pikir belakangan saja.
Namun tiba-tiba kakiku tersandung dengan sendal om Arka, dan membuat tubuhku limbung karena seolah nyawaku belum terkumpul semua saat bangun dari tidur.
__ADS_1
" Ehh.."
Saat aku hampir terjatuh, Om Arka langsung menangkapku dan menarik tubuhku kembali dengan reflek.
Ayeeee!
Aku terduduk dipangkuannya, ternyata Tuhan maha baik, saat aku bersabar menunggu jodoh darinya, dia hadiahkan Om Arka untukku sebagai penyemangat hidupku.
Walau belum tahu bagaimana perasaannya denganku 'seng penting yakin' itulah pedoman hidupku selama ini.
" Hati-hati Hesti... jangan terlalu terburu-buru, masih ada waktu kok." Dia mengusap lenganku dengan perlahan.
Astaga... Mleyot hati adek bang!
" Pelan-pelan saja, nanti aku tunggu di Mushola Restoran ya."
Om Arka bahkan memapahku untuk berdiri, rasa-rasanya aku pengen langsung ngajak dia nikah saja hari ini, mumpung aku libur, tapi itu juga tidak mungkin kan, jadi berkhayal saja sepertinya yang tidak dosa.
" Hehe... maaf om." Akhirnya aku pergi mengambil air wudhu dengan senyum yang tidak pernah pudar.
Setelah sholat berjamaah kami berakhir, om Arka masih duduk bersila di atas sajadah didepanku, dia terlihat berdzikir dan berdoa dengan khusyuk sekali, mata ini serasa adem ngelihatnya, seperti dialiri air Surga, walau belum pernah kesana.
Saat melihat jemari tangannya menengadah, ingin sekali rasanya aku menyalaminya dan mengecvp tangannya dan kemudian dia meninggalkan civman manis di kening dan pipiku.
Owh... it's my dream maszehh!
Namun itu memang hanya khayalanku saja, karena kenyataannya tidak bisa karena dia belum menjadi mahrom bagiku.
Namun doa disetiap sujudku, aku selalu berharap punya imam yang selalu bisa menuntun hidupku ke jalan yang benar, walau ibadahku belum sempurna, semoga kelak Tuhan memberikan jodoh yang bisa menyempurnakan agamaku diwaktu yang tepat.
Amin...
" Hesti... mau sarapan apa, biar Om masakkan untukmu?" Setelah dia melipat sarung yang membuat om Arka tambah ganteng berkali-kali lipat dan sebuah kopyah berwarna senada dengan baju kokonya, dia menawariku untuk membuatkan sarapan.
Sungguh nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan? sudah tampan, mapan, perhatian, pokoknya om Arka is the best bagiku.
" Apa aja, asal berdua sama om, hehe..."
Karena suka ngombal dan bercanda adalah my style, jadi aku tetap menjadi diri sendiri walau didepan sang pujaan hati.
" Nasi goreng mau?" Dia berkata lembut sekali, dan memang seperti itulah pria idamanku selama ini, apalagi yang nggak bisa masak kayak aku.
" Pfftthhh... kirain nasi putih dikasih garam sama kecap aja enak kalau makan berdua sama om?" Om Arka terlihat menahan tawanya.
Perkataannya sungguh membuatku terbengong, ternyata dia bisa juga satu server denganku.
" Ahaha... Om bisa aja, makan sama garam doang bisa hipertensi aku Om." Aku langsung terkekeh saja dan mengikuti langkahnya menuju dapur.
Dipakainya celemek yang tertata rapi disudut ruangan, dia keluarkan semua bahan yang dibutuhkan dari sebuah kulkas segede almari tiga pintu, tidak lupa dia mengeluarkan bumbu yang diperlukan untuk memasak nasi goreng.
" Aku bantu apa nih om?"
Walau tidak pandai memasak dan hanya bisa merebus mie instant dan telor ceplok saja, yang terkadang itupun sering gosong ditepinya, tapi kuningnya belom mateng, namun setidaknya aku bisa lah mengupas bawang atau memotong sayuran pikirku.
" Kamu bantu lihat Om saja." Ucapnya yang sengaja ingin melucu sepertinya.
" Nggak mau!" Ucapku dengan cepat, dan langsung membuat Om Arka menaikkan kedua alisnya.
" Kenapa?" Tanyanya dengan raut wajah yang terlihat kecewa, ternyata dia sudah mulai bisa menerima keberadaan wanita lain dihadapannya.
" Gara-gara senyuman Om itu loh, kayak susuu benderaa."
" Kok bisa?" Ternyata dia belum begitu tau siapa aku yang sebenarnya.
" Nikmatnya sampai tetes terakhir."
Eaaaaaa!
Entah bagaimana mengambarkan wajah Om Arka saat ini, antara terkejut, kaget dan tidak menyangka kalau ternyata aku seberani itu menggombalinya mungkin.
" Om." Karena dia memilih membalikkan wajahnya dan meneruskan menumis bumbu yang harumnya langsung membuat perutku keroncongan, aku malah jadi ingin mengombalinya lagi.
" Hmm.." Entah bagaimana kondisi wajah dan hatinya saat ini, aku tidak bisa melihatnya, karena dia tidak mau menatapku.
" Lihat aku Om." Ucapku sok manja.
" Aku lagi masak Hesti, nanti gosong masakannya."
Arghh... ternyata dia tersenyum, dan dengan sabarnya dia menatapku walau sekilas dan memilih mengaduk nasi diwajan.
__ADS_1
" Om itu kayak kamera tau nggak?" Aku langsung beraksi kembali.
" Kenapa emangnya?"
" Soalnya tiap lihat Om, pengennya senyum terus."
" Heissh... sudah dong Hesti, jangan buat Om malu begini."
" Hahaha... kenapa Om mesti malu coba?" Aku loncat dari tempat dudukku dan mendekat ke arah Om Arka.
" Tunggu disana aja Hesti, sambil duduk aja, kamu kan sudah capek daritadi malam bantuin Om."
" Biarpun aku capek, kalau deket Om semua lelahku terobati."
" Astaga... begini rasanya berteman dengan anak muda, aku bahkan tidak bisa berkutik kamu buat." Ucap Arka sambil mengambil sendok untuk mencicipi masakannya.
Berteman doang nih Om? lebih nggak bisa kah?
" Aku mau cobain Om." Aku langsung mendekatkan wajahku kearahnya.
" Boleh."
Dengan refleksnya dia meniup satu sendok nasi goreng itu terlebih dahulu dan menyuapkannya ke mulutku.
" Hmm... rasanya itu kayak lengan Om deh."
" Kok lengan Om sih?"
" Mantabbek, hehe..."
Hari ini rasanya dunia hanya milik kami berdua, bahkan wajah Om Arka sedikit memerah karena terlalu banyak tertawa saat denganku.
" Kalian sedang apa disini?"
Tiba-tiba terdengar suara yang tidak asing bagi kami.
" Dimas? kamu sudah pulang nak?" Om Arka terlihat gugup kali ini, entah apa yang membuatnya begitu aku tidak tahu.
" Hmm.." Tatapan dari Dimas terlihat menyelidik, karena sepagi ini kami sudah berada di dapur restoran, padahal buka nya masih nanti agak siangan.
" Mau sarapan nasi goreng nak? ini sudah mateng kok." Jawab Om Arka yang memang tidak pandai akting sepertiku.
" Ayah ngapain sama Hesti pagi-pagi disini?" Dimas seolah mencurigai kami berdua, walau kami memang menginap bahkan bobok berdua walau hanya di kursi, namun apa hubungannya dengan dia pikirku.
" Ayah tadi... itu... anu..." Jawab Om Arka yang terlihat tidak punya alasan untuk menyangkalnya.
" Tadi pagi aku ketemu ayah kamu didekat warung ujung sana, karena aku kelaparan mau cari warung makan semua masih tutup, trus Om Arka kebetulan lewat, dia kasian liat aku, jadi dia buka restoran dadakan takut aku pingsan dijalan, hehe..."
Karena wajah Dimas terlihat seperti orang yang tidak suka, jadi aku membantu Om Arka untuk bersandiwara.
" Trus ayah kenapa nggak pulang tadi malam?"
" Siapa bilang?"
" Bibi."
" Ayah nginep di restoran, tadi malam koki utamanya pingsan jadi aku menggantikannya, kalau nggak percaya tanya aja sama karyawan ayah nanti."
Haduh... gimana sih Om Arka ini, ngapain suruh nanya ke karyawan restoran, jelas-jelas mereka melihat aku disini sampai restoran tutup.
" Kamu nggak kerja Hes?" Dimas langsung mengalihkan pandangannya kearahku yang terlihat santai seperti biasa.
" Aku lagi libur, makanya tadi jalan-jalan pagi."
" Ya sudah, kita sarapan bertiga yuk, nasi gorengnya sudah mateng ni." Arka langsung menghidangkan nasi goreng keatas meja restoran.
Takut? enggak sih.. sebenarnya aku santai aja, mau ketahuan Dimas kalau aku berduaan dengan ayahnya juga nggak masalah, apalagi mau diajakin nikah sekarang sama Om Arka, lebih tidak masalah lagi, bahkan aku senang.
Namun aku melihat wajah gugup dan ketakutan itu dari Om Arka, mungkin dia takut Dimas marah atau salah paham atau apapun itu aku tidak tahu.
Yang jelas malam ini aku bahagia sekali bisa berduaan sama Om Arka sampai kepergok anaknya sendiri. Entah bagaimana yang terjadi jika Dimas melihat kami sedang tidur berpelukan disofa tadi malam, mungkin akan lebih heboh daripada ini.
Misi perjuangan belum selesai, disaat ayahnya sudah mulai menunjukkan hilalnya, ternyata anaknya yang belom bisa welcome, namun aku harus sabar, karena aku tahu bagaimana perasaan seorang anak seperti Dimas, karena punya orang tua sambung itu tidak semudah yang kita bayangkan, apalagi untuk beradaptasi.
Bahkan pikiranku sudah menuju kesana, padahal belum tentu Om Arka punya rasa yang sama denganku. Tetapi sebagai manusia aku hanya bisa mencoba dan berusaha, karena semua takdir Tuhan sudah digariskan, kita tinggal menunggu saatnya tiba saja.
POV Hesti Off
...(Don’t cry when the sun is gone, because the tears won’t let you see the stars." )...
__ADS_1
...(Jangan menangis saat matahari pergi, karena air mata tidak akan membiarkanmu melihat bintang)...