![TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz--berpindah-ke-zaman-keemasan-.webp)
Bila yang ditunggu-tunggu sudah tiba waktunya kadang orang tidak lagi merasa hal itu berharga bahkan bisa menjadi beban bagi orang tersebut.
Bak kini Idaline menerima berita kepulangan dari Fusena. Berita yang dia tunggu-tunggu rasanya menjadi beban yang amat berat.
Dia ingin pulang, sangat ingin.
Tapi bagaimana dengan anak dalam kandungannya?
Jika yang diceritakan Sudewi benar, maka Idaline asli memiliki ilmu hitam yang menyesakkan.
Bagaimana bila anaknya terluka karena ilmu tersebut?
Bagaimana bila anaknya terpengaruh ilmu tersebut?
Idaline memegang kepalanya pening. Dia rindu keluarganya tapi dia tidak bisa meninggalkan anaknya di sini tanpa kejelasan.
Djahan saja belum tentu dapat melindungi anaknya jikalau anaknya menuruni ilmu hitam dari si Idaline asli.
"MBAKYU!!" teriak Fusena berlari menangkap Idaline yang hampir terkena bebatuan sungai.
Fusena memeriksa denyut nadi Idaline lalu merebahkan raga Idaline di tanah dengan pahanya sebagai bantalan.
"Pak tua, kenapa?" tanya Utih melihat wajah Fusena berekspresi mengeras.
Fusena melirik sekilas Utih lalu kembali menatap Idaline tanpa berkedip. Ia terus memperhatikan wajah Idaline sampai perlahan kelopak mata yang tertutup itu terbuka.
"Uh? Sudah pagi? HAH? SUDAH PAGI??" Idaline bangun terduduk menyadari ini hari pernikahan sahabatnya.
Dia melirik Fusena yang tampak suram di sejuknya pagi hari. Dia berdiri dan mengibas-ngibaskan pakaiannya tidak memedulikan Fusena karena hari adalah hari yang panjang.
"Jika terus bergerak kasar, bisa saja mbakyu keguguran lagi."
Idaline tidak terkejut, Fusena memiliki telinga dan mata di seluruh tempat. Berita yang harusnya rahasia itu terdengar sampai ke telinganya.
Idaline menjulurkan tangannya meraih tangan Fusena kemudian dia mengarahkan tangan Fusena ke perutnya.
"Ini keponakanmu."
"Heh, keponakan ya?" Fusena tersenyum miris dan menarik tangannya.
"Kenapa? Kamu tidak menghendaki aku memiliki anak di sini?"
"Bukan begitu. Mbakyu bukannya sudah bilang akan pulang sekarang?"
"Aku ingin melahirkan anak ini.."
"Dan membesarkannya?" sambung Fusena.
Idaline tidak mampu berkata-kata. Jika mengurusnya itu berarti akan menjadi waktu yang lama bahkan mungkin selamanya.
"Itu kupikirkan nanti," ucap Idaline. "Bagaimana kandunganku?" tanya Idaline. Fusena tahu tentang kehamilan kali ini berarti Fusena telah memeriksa dirinya saat tidak sadarkan diri.
Fusena mengusap wajahnya dan berbalik memunggungi Idaline. "Dia baik. Sangat baik. Mbakyu jangan banyak pikiran. Itu saja."
Idaline termangu menunggu hilangnya seluruh asap dari portal yang dibuka Fusena.
Dia baru beranjak dari sana setelah pelayan yang disewa Widya datang mengundangnya.
"Dia pasti kecewa karena aku melanggar janji. Bagaimanapun, bunda dan ayah adalah bulik dan pakliknya."
Idaline diam saat dirias para wanita, ini adalah hari bahagia sahabatnya, dia harus tampil sempurna.
Idaline berkaca pada kaca buram yang agak bening dari kaca-kaca yang ada.
Riasannya sangat komplit dari pemerah bibir, pemerah pipi, pemerah bibir, dan juga penebal alis dan penebal bulu mata.
Mungkin jika dibandingkan dengan sebelum-sebelumnya, Idaline hari ini sangat cantik.
Widya tersenyum bahagia melihat wajah segar sahabatnya. Dia kemudian duduk di pelaminan dan menjalankan segala adat istiadat yang berlaku di sana.
Adipati Kadiri turut hadir dalam pernikahan sederhana itu. Sapta adalah keluarga yang berpengaruh, tentu saja dirinya tidak bisa mengabaikan pernikahan putri tertua keluarga Sapta.
Dia bahkan mempersiapkan seluruh kebutuhan Widya dan tamu-tamunya. Dia akan memastikan semuanya berjalan dengan lancar agar mendapat nilai plus dari keluarga Sapta.
Dan sepertinya perjalanan dia ke sini diberkati Tuhan, dia mendapatkan pandangan menyegarkan dari salah satu tamu yang diundang Widya.
__ADS_1
Perempuan yang mengenakan kebaya putih dengan jarik hitam putih, riasan sederhana di wajah, dan perhiasan yang tidak terlalu megah membuatnya tampil beda.
Kecantikan perempuan itu memikat hatinya membuat sang adipati ingin mengurungnya di kamar.
"Sepertinya kita harus memenuhi kamar dengan kembang melati," gumam sang adipati.
Dayang dan pelayan yang mengerti maksud tuan mereka langsung undur diri dan mempersiapkan yang dibutuhkan tuannya.
Mereka akan mendekat ke perempuan yang dituju namun suara tepukan tangan menggema dan akhirnya mereka kehilangan jejak perempuan tersebut.
Idaline yang telah menunggu menjadi tamu pertama yang menyalami Widya dan Bimo. Dia menyalami Bimo lalu menyalami Widya dan menempelkan pipi kanan dan kiri ke pipi Widya.
"Selamat, beb. Nikmatilah waktu berdua dulu. Jangan cepet-cepet buat momongan." Idaline mengedipkan matanya menggoda Widya.
"Bimo, jagalah Widya. Jika tidak, aku akan langsung datang mengambil kepalamu," ancam Idaline menatap Bimo.
Sahabatnya sudah mendapat banyak ke susahan di dunia modern, dia berharap di dunia kuno ini sahabatnya mendapatkan kebahagiaan yang besar.
"Anda tidak perlu khawatir, Yang Mulia," kata Bimo.
"Kamu sedang berjanji pada temannya, bukan pada Maharani," koreksi Idaline.
"Siap, nyonya." Bimo meletakkan tangannya di pelipis. Sontak saja Widya memukul bahu Bimo.
Yang harus disalahkan adalah Widya, dia mengajari cara memberi hormat seperti itu dan Bimo melakukannya untuk memberi hormat pada Idaline.
"Rasanya tua sekali," kesal Idaline lalu dia memeluk Widya dengan erat. "Berbahagialah," bisiknya.
"Maaf," ucap Widya meneteskan air mata. Dia telah mengorbankan Idaline untuk menikahi pria bengis dan memasuki istana megah yang banyak intrik di dalamnya, sedangkan dirinya sendiri berbahagia dengan kekasih hatinya.
Widya berharap Idaline juga menemukan pujaan hatinya.
Dia sangat berharap Idaline bisa menemukannya di sini agar mereka bisa hidup bersama-sama dalam dunia yang sama.
Tapi jika meminta ini rasanya dia menjadi serakah.
"Hust. Yang lalu sudah berlalu. Aku yang mengambil keputusan. Sekarang lupakan semua itu dan fokuslah ke masa depanmu!"
"Udelia, aku mengundang suamimu," bisik Widya menatap Djahan yang turun dari gajahnya. "Kamu bisa melarikan diri. Cukup katakan iya. Kami sudah menyiapkan semuanya,. Widya ingin membayar kesalahannya.
Widya merenggut dan mengusap dahinya. Dan sang suami menangkup wajah Widya lalu meniup-niup dahi Widya yang tadi disentil Idaline.
Idaline memutar bola matanya malas. Dia hanya menyentil sedikit tidak sampai membekas.
"Selamat nona Sipta dan tuan Bimo," ucap Djahan. Dia langsung mendapatkan giliran karena tidak mungkin ada yang berani berjalan di depannya.
"Mohon tuan Mahapatih jangan memanggil saya begitu," kata Bimo tak enak hati.
"Anda sekarang bagian keluarga Sapta. Jangan merasa sungkan."
Bimo mengangguk. "Terima kasih, tuan Mahapatih."
"Udel, aku ingin menemui tamu lain." Perlahan Widya melepaskan pelukan Idaline. "Silakan berbincang dengan nyaman."
"Ayo duduk," ajak Djahan.
Idaline melengos pergi tidak menerima tawaran Djahan kemudian seseorang mencekal tangannya.
Idaline menggertakkan giginya. Pria ini rasanya semakin tak masuk akal!
"Djahan kamu.." Idaline menggantung ucapannya karena pria itu bukanlah Djahan. "Siapa dia?" batinnya bertanya-tanya.
"Manis, berbahagialah-"
"Lepaskan!" Idaline mencoba melepas cekalan di tangannya.
Pria itu tidak melepas tangannya malah berusaha meraih dagunya.
Sedetik kemudian terdengar keriuhan di sekitar Idaline. Tangan pria itu terlepas dan terhempas.
"Berani sekali kamu menyentuh istriku, adipati Kadiri!" berang Djahan mengelap kerisnya ke selendang yang dikenakan sang adipati.
"Mohon, ampuni hamba, Tuan Mahapatih." Dengan tangan terputus dan darah masih mengalir, adipati Kadiri bersujud di kaki Djahan.
"Enyahlah!" usir Djahan. "Dan bersiaplah!" tambahnya membuat suasana bertambah tegang.
__ADS_1
Djahan menarik napas dalam-dalam. Dia menuntun Idaline yang terdiam karena ulahnya. Dia tahu Idaline tidak terbiasa melihat kekerasan apalagi sampai melihat darah mengalir.
Yang sebenarnya adalah Idaline terdiam karena Djahan masih mengakui dirinya sebagai istri setelah yang dia lakukan.
"Ah rasanya cintaku bertambah padamu," batin Idaline berbunga-bunga.
"Terima kasih." Idaline menerima gelas dari Djahan.
"Kamu belum memberi tahunya," buka Djahan setelah hening.
"Aku tidak ingin menambah rasa bersalahnya."
"Idaline, mohon maafkan ucapanku waktu itu. Aku sudah hilang akal."
"Mahapatih, ucapan Anda tidak ada yang salah." Idaline menghela napas. Yang mengetahui dirinya pasti berpikir seperti itu makanya tidak ada bangsawan tingkat tinggi yang menghentikan gosip yang disebarkan keluarga Mihir.
Sebagian berpikir Idaline sangat tamak ingin naik ke tahta Maharani dan sebagian lain yang menggunakan otaknya berpikir berita ini bagus untuk menakan Idaline agar tidak semena-mena menyuruh Hayan ini dan itu.
Idaline tidak peduli berita tentangnya tapi sekarang berita itu akan mempengaruhi anaknya.
"Aku benar-benar minta maaf," sesal Djahan.
"Tidak perlu.." Suara Idaline berubah serak dan air mata membasahi pipinya, lalu Idaline mengusap pipinya dengan kasar.
Djahan menangkap tangan Idaline dan mengusap air matanya. "Maaf. Maaf. Maaf," ucapnya berulang kali sembari memeluk Idaline.
Suara srot-srot ingus terdengar jelas bersumber dari hidungnya, Idaline melotot melihat ingusnya menempel di selendang Djahan.
"Tidak apa, sayangku." Djahan mengambil sisi selendang lain dan mengusap hidung Idaline yang basah.
Malu-malu Idaline mendorong keras udara di hidungnya dan melepaskan lendir yang menghalangi jalur pernapasan.
Tangan Djahan yang bersih menyentuh hidung dan wajah Idaline menghilangkan bercak air yang menetes dari keduanya.
Idaline membiarkannya sebab wajahnya terasa lengket.
"Djahan, bersabarlah. Aku akan coba kembali ke sini secepat mungkin," tutur Idaline.
Ah padahal dirinya baru saja melepaskan kesempatan pulang yang diberikan Fusena.
Sepupunya terlihat kecewa, entah apakah dia masih bisa menghubunginya seperti biasa atau tidak.
"Aku tidak sabar. Bersamalah denganku sekarang. Mereka sedang lemah." Djahan serius dengan kata-katanya.
"Di mana jiwa ksatriamu, Djahan? Kalau hanya demi wanita kamu bisa begini, kelak keinginanmu akan bertambah dan kamu tidak akan bisa menahannya,! marah Idaline.
"Bersabarlah, sayang. Aku akan langsung menemuimu begitu kemari!" janji Idaline.
"Kalau begitu izinkan aku ikut merawat bayi ini," gumam Djahan. Dia tidak mungkin membenci bagian dari Idaline.
Kemarin dia benar-benar merasa cemburu karena Hayan yang baru sebentar bersama Idaline mendapatkan berita yang sangat menggembirakan.
Berbeda dengan dirinya yang sudah lama begitu mendamba bersatu dengan Idaline, dia justru mendapatkan kabar duka terlebih dahulu.
"Tentu saja. Kelak ajarilah dia menjadi orang yang tangguh," pesan Idaline. "Dan maaf–"
"Sst. Anak kita sudah bahagia di sana."
"Iya."
••• BERSAMBUNG •••
© Al-Fa4 | 13 November 2021
Sabar ya..!
Tenang tenang semua akan terjadi.
Termasuk seperti yang di TIKZ 3.
Kalian yang belum liat bisa ikuti author di
FB : Lee Lunaa ( Al-Fa4 )
IG : @alsetripfa4
__ADS_1
W@ttpad : @al-fa4