TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]

TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]
SEASON 2


__ADS_3

Halo bagaimana kabarnya teman-teman?


Masih setia menunggu kan?


Masih lah ya.


Makasih banyak yang selalu setia sama akuh. Eh sama Idaline dan Djahan, eh eh eh atau sama Idaline dan Hayan? Atau kelean lebih suka Candra? Menunggu Idaline sama Indra?


Season 2 ini kita akan menceritakan tentang....


baca dulu kuy blurb atau uraian singkatnya langsung scrol aja. ini di bawah covernya yaa



TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]


Dia terbangun dari komanya dan melupakan segala yang telah terjadi di sepanjang tidurnya


Dia lupa bahwa dia pernah berpindah ke zaman keemasan dan menjadi perempuan dengan derajat tertinggi di sana.


Kemudian dia terlempar ke zaman keemasan dan tidak lagi memiliki identitas seperti sebelumnya.


Kekuatan, kekayaan, kekuasaan tidak ada lagi di tangannya.


Bagaimana dia menghadapi semua orang yang meragukannya?


Inilah kisah Udelia yang sebelumnya berpindah ke zaman keemasan, dengan merasuki raga seseorang.


Kini terlempar ke zaman keemasan, dengan raganya sendiri yang tidak memiliki identitas apa pun.


Apakah suami-suaminya dan anak yang dilahirkannya mengenali dirinya?

__ADS_1


Yuk baca buat cari tahu!


© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]


Untuk informasi selanjutnya ayuh mampir ke sos med author :


FB : leelunaaalfa4


IG : alsetripfa4


Cuplikan BAB 1 :


Udara dingin diiringi alunan merdu nyanyian para penghuni kolam, membuat manusia-manusia penghuni rumah ingin berlama-lama di pinggir jendela, sembari menikmati minuman ataupun makanan yang menghangatkan tubuh.


Menghirup aroma tanah basah menjadi kesenangan sendiri bagi sebagian orang.


Termasuk Udelia perempuan berambut hitam legam, sedang menikmati teh hangat di bawah rintik hujan, serta menghirup tanah basah yang menenangkan jiwanya.


Dua pria dewasa itu, satunya menutup jendela, satunya lagi membawa Udelia kembali berbaring di kasur, dan menimbun selimut di atas tubuh kakaknya.


"Angin tidak bagus," ucap John, adik pertama Udelia, setelah menutup tirai jendela.


"Dingin, mbak." Lamont, adik kedua Udelia, mengganti teh kakak sulungnya dengan teh baru dari nampan yang dibawanya, usai meletakkan lima lapis selimut untuk menghangatkan kakaknya.


"Hei. Aku sudah sembuh!"


Udelia merenggut. Dia selalu diperlakukan seperti anak kecil oleh adik-adiknya, hanya karena dirinya jatuh koma akibat kelelahan bekerja.


Padahal dia sudah bangun dari koma tiga bulan yang lalu dan sudah kembali sehat tanpa sedikit pun kekurangan fungsi anggota tubuh.


"Kalian berdua, bawakan hidangan untuk tamu kita," perintah Watika, ibu mereka yang muncul di depan pintu.

__ADS_1


"Baik, nyonya!" ucap John dan Lamont bersamaan. Mereka melesat pergi menuju dapur.


"Nak Eva dan ...?" Watika berbicara pada dua perempuan yang berdiri di sampingnya.


Dari pandangan Udelia, dua tamu itu terhalang tembok.


"Perkenalkan saya Dina, sepupu Eva," kata perempuan berambut pendek.


"Ah iya. Nak Eva dan nak Dina datang berkunjung, nok. Silakan berbincang dengan santai." Watika mempersilakan keduanya untuk masuk ke kamar sang putri.


"Terima kasih bun," ucap Eva, teman sepermainan Udelia yang merupakan kakak kelasnya saat di sekolah.


"Baik bu," sahut Dina.


Keduanya memasuki kamar, memunggungi Watika yang menatap nanar putrinya.


Beberapa kali Watika mendapati putrinya sedang melamun, seolah dunia telah hancur. Tapi jika ada orang lain, Udelia akan tersenyum lebar bak tidak memiliki beban.


Putrinya itu seperti menyembunyikan luka yang besar.


Watika menarik kedua sudut bibirnya saat matanya bertemu dengan mata putrinya, kemudian dia meninggalkan Udelia bersama teman-temannya.


"Maaf baru datang," sesal Eva.


.


.


.


FB : leelunaaalfa4

__ADS_1


__ADS_2