![TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz--berpindah-ke-zaman-keemasan-.webp)
5 tahun kemudian..
Di sebuah lapangan luas tampak dua kubu saling memandang dengan marah sementara pemimpin salah satunya bersikap santai dan pemimpin lainnya tersenyum dengan sejuta kerinduan.
"Orang yang terus memikirkan perdagangan, tidak peduli rakyatnya yang hampir mati, bagaimana bisa istana menunjuk kamu untuk jadi Wiyasa kami?"
"Lancang sekali!" Seorang prajurit bergegas mengacungkan tombaknya ke leher lelaki yang protes pada tuannya. Ia terkejut merasakan dorongan kuat dari arah kiri dan sedetik kemudian tubuhnya terpental jauh hingga puluhan meter.
Tangan putih mulus menjulur ke samping tampak telapak tangannya mengarah pada prajurit yang terpental, perlahan bekas kekuatan menghilang dari telapak tangannya dan pemilik tangan itu menurunkan tangannya menjadikan pakaian kembali menutupi lengannya.
"Sepertinya kamu kurang mendidik anak buahmu, Hayan," Suaranya sangat normal, namun di telinga Hayan itu seperti sebuah nyanyian. Sangat lembut dan indah.
"Mereka sedang melakukan tugasnya. Siapa sangka pemberontak yang tersebar beritanya adalah guru?"
Hayan mengepalkan tangannya. Sudah bertahun-tahun ia tidak berjumpa dengan wanita di depannya. Seharusnya ia benci pada orang yang mendapatkan hal yang lebih tinggi dari dirinya yang merupakan calon raja di masa depan.
Tetapi, hanya ada kerinduan di dalam relung hatinya. Tidak ada rasa iri maupun rasa benci bahwa Idaline telah mengudara lebih tinggi darinya.
Yang ingin ia lakukan hanyalah terus berada di sisi Idaline dan di saat sekarang, Hayan ingin membawa Idaline dalam dekapannya. Namun ia sadar tidak memiliki ikatan apa pun pada Idaline, belum lebih tepatnya.
"Guru..?!" bisik terkejut pengikut di belakang Hayan. Para prajurit menatapnya tajam membuat mereka berhenti.
Idaline menegakkan tubuhnya yang sedikit condong akibat mengeluarkan kekuatan sedikit lebih banyak untuk membuat prajurit istana terpental jauh. Ia menghadap Hayan dan menatapnya lurus. "Lalu kamu akan menangkapku?" tantangnya.
"Mana mungkin, guru sudah menyelamatkan daerah yang kekeringan hanya dalam waktu satu bulan. Aku datang ingin meminta maaf karena beritanya tersendat dan baru sampai padaku sepekan yang lalu," Hayan membungkukkan sedikit badannya pada masyarakat di belakang Idaline. "Begitu mendengarnya aku bergegas datang ke sini,"
"Jangan rendahkan dirimu," ucap Idaline membantu Hayan bangun.
"Hewan-hewan mengadu padaku. Tanpa mereka, daerah di sini tidak akan terekspos. Awalnya memang bencana tapi Demang kemudian menghalau air mengalir dari tempat yang jauh bersama dengan tuan Hasto, Wiyasa di Watek Kabalan." ujar Idaline tentang alasannya dapat berada di sana.
Idaline menggerakkan tangannya. Beberapa gadis kecil muncul bersama-sama memegang nampan yang terdapat bongkahan emas yang besar. "Karena keserakahan mereka atas harta, tidak peduli keselamatan penduduk. Mohon Yuwaraja menyelidikinya dengan teliti,"
"Murid dari Petapa Agung dan guru dari Yuwaraja tidak akan berbohong. Kesaksian Raden Ajeng Paramudita sudah cukup. Kami akan menghukum yang terlibat sesuai kejahatan yang mereka lakukan," kata Hayan.
Idaline berbalik menuju rakyat yang menatapnya takut-takut, ia tersenyum menenangkan. "Wiyasa kalian sudah datang. Dia akan berbuat adil, tidak seperti berita bohong yang disebarkan keluarga utama Hasto. Yuwaraja kita sudah memiliki segalanya, yang ia inginkan hanyalah kemakmuran untuk rakyatnya,"
"Guru, bisakah kamu tinggal di sini untuk mengurus Kabalan bersamaku?"
"Iya, nona. Tidak. Raden Ajeng, mohon tinggal di sini," sahut salah satu rakyat di depan Idaline.
"Tidak bisa begitu. Murid Petapa Agung harus berpetualang memberikan berkatnya pada orang-orang," bisik orang didekatnya.
Kemudian seorang pemuda dari tengah kerumunan maju mewakili masyarakat. "Yang Mulia, mohon maafkan kami tidak melayani Anda dengan benar. Malah membiarkan Anda ikut bekerja menggali tanah membuat danau buatan untuk menampung air yang kami butuhkan. Sekarang izinkan kami melayani dengan benar agar beban di punggung kami tidak terasa berat,"
"Bekerja keras bisa membuat tubuh menjadi bugar. Dan Ono, bicaralah seperti biasa,"
"Saya..saya mana berani," Ono menatap air muka Idaline.
"Kamu sangat berani melihat wajah Raden Ajeng seperti itu," Tatapan tajam Hayan membuat Ono bersimpuh.
"Saya sudah berani bertindak kurang ajar,"
"Kami mohon ampun tidak mengenali Raden Ajeng yang begitu bersinar," ucap masyarakat lainnya sambil bersimpuh.
"Memujiku sekali lagi lalu kalian akan mendapat hukuman," geli Idaline terhadap pujian. "Ayo ke rumah Wiyasa," Idaline menarik lengan Hayan tidak mau lagi ada keributan. "Lima tahun tidak bertemu kamu jadi tinggi sekali," Idaline sampai harus mendongak untuk melihat wajah Hayan.
Pertumbuhan wanita memang terbaik di masa kanak-kanak!
"Kebiasaanmu terlalu fokus pada masalah tidak juga berubah," Hayan tersenyum. "Itu akan jadi masalah,"
"Mari saya bantu," ucap kusir pada Idaline. Wajahnya terkejut saat Idaline melayang ke udara.
"Hayan!" teriak Idaline merasa tubuhnya terbang.
"Tubuh guru ringan sekali. Setiap hari hanya bertapa kah?" Hayan meletakkan Idaline ke dalam kereta. "Sepertinya tidak ada yang berubah,"
"Aku sudah seperti ini, untuk apa dirubah?"
"Benar. Tidak perlu berubah," Hayan menaiki kereta dan duduk di samping Idaline. "Jalan," perintahnya.
••••••••••••••••••••
"Holo Hasto telah berbuat sewenang-wenang sebagai Wiyasa yang ditunjuk Yang Mulia Paduka Sri Ratu. Dia telah membuat masyarakat sengsara hingga menyebabkan kematian 1.239 warga di seluruh Kabalan. Meski Kademangan lain sudah membaik, Kademangan Cepeng terus mengalami kekeringan, ujung sungai di perbatasan dihalangi oleh bebatuan besar. Warga Cepeng tidak mendapatkan makanan dan minuman secara teratur yang menyebabkan banyak warga terjatuh sakit," ucap Karuna Parama, hakim yang dibawa Hayan.
"Sudah kubilang istirahat saja," ucap Hayan melihat Idaline masuk ke dalam ruangan.
"Saksi harus hadir di hari persidangan," jawab Idaline.
"Holo Hasto juga menghalau informasi sehingga keraton tidak mendapat kabar. Hara Hasto yang merupakan adik kandung Holo Hasto ditahan dan diperlakukan dengan kejam karena berusaha pergi memberitahukan istana. Terima kasih kepada Raden Ajeng Paramudita yang telah menginformasikan sehingga keraton bisa bekerja dengan cepat,"
"Padahal wanita itu menerima empat kilo emas dari kami!" interupsi Holo.
"Aku tidak memintanya. Tapi karena itu aku tidak perlu mengambil contoh langsung dari tanah di dalam sungai,"
"Dengar kan? Dia menerimanya dengan lapang! Kamu datang karena mendengar emas di wilayahku kan?" tukas Holo menunjuk wajah Idaline.
__ADS_1
"Uh Holo Hasto, kusarankan kamu diam," ucap Karuna.
"Padahal dia sudah menghina dengan jelas. Wahai hakim yang adil, kamu ingin dia bicara seberapa banyak?" sindir Hayan.
"Holo Hasto membohongi warga dan keraton tentang keberhasilannya mencegah bencana dengan kekuatan pribadi sehingga mendapatkan gelar Abimantrana. Uang yang diberikan atas gelarnya ia gunakan untuk berfoya-foya, berjudi dan bermain wanita. Ia mengirim putrinya, Rekta Hasto untuk memata-matai Yang Mulia Yuwaraja yang sedang mengembangkan perdagangan di daerah pantai lalu berusaha menjual perhiasan dari sungai Cepeng di tengah tugas yang Yang Mulia Yuwaraja berikan,"
"Tidak, Yang Mulia. Putriku benar-benar datang untuk mengembangkan kemampuannya, dia tidak ada hubungannya dengan semua yang terjadi. Anda tahu kemampuannya," tatap nanar Holo pada Hayan.
"Lalu kejahatan besar yang terakhir adalah menghina Raden Ajeng Paramudita yang sudah diakui secara resmi sebagai anak angkat Yang Mulia Ratu. Holo menuduh murid dari Petapa Agung terlibat dengannya,"
"Raden Ajeng? Kukira itu namanya," gumam Holo syok.
"Selanjutnya adalah kejahatan-kejahatan lain yang Holo Hasto lakukan......" Karuna membaca seluruh laporan yang menjalar hingga tanah. "Kepada Loka, demang di Kademangan Cepeng. Tertulis pertanyaan, apakah harta lebih penting dari nyawa wargamu?"
"Hamba mengira awalnya emas-emas itu akan berubah menjadi makanan dan air untuk warga,"
"Apa kamu tidak tahu perihal batu yang menghalangi?" tanya Idaline.
"Ini tidak bisa dipercaya, namun hamba baru mengetahuinya saat Ono datang mengantar kami pada Anda yang sedang berusaha menghancurkan batu,"
"Selanjutnya diskusikanlah dahulu dengan warga,"
"Guru paling tahu kondisi di lapangan," ucap Hayan ketika Karuna menatapnya.
"Kekayaan Loka akan diambil semuanya. Karena keteledorannya membuat banyak warga menderita, Loka akan dihukum penjara di bawah tanah. Dalam setahun keluarganya hanya boleh mengunjungi tiga kali. Untuk penjahat lain, karena keserakahan dan keegoisannya, dia dan keluarganya akan dihukum gantung di tengah Watek,"
"Yang Mulia, putri kami menyukai Anda makanya berani datang meski berbahaya. Dia adalah anak yang ceroboh, mohon pikirkan dia sekali lagi. Anda tahu kan kemampuannya asli bukan dibuat-buat. Anda akan kesulitan mencari Kandha lain sepertinya. Yang Mulia!"
Kandha merupakan sebutan untuk orang yang memeriksa barang impor dan ekspor yang memasuki sebuah wilayah, terdapat dua bagian yaitu Patya Tanaha sebagai pengawas di daratan dan Pecat Tandha sebagai pengawas di lautan. Sebutan Kandha biasanya digunakan untuk orang-orang di atas Patya Tanaha dan Pecat Tandha yang memberikan tugas pada mereka.
"Menjual barang ilegal di tengah transaksiku dengan pedagang-pedagang besar merupakan kejahatan putrimu dan ketidakbecusan seorang Kandha. Bagaimana jika barang tersebut tersebar beritanya setelah ada orang yang dirugikan?" lontar Hayan.
Holo diam tidak menjawab. Kesalahannya akan keserakahan menghancurkan putrinya. Padahal ia tahu kemampuan putrinya sangat baik dan bisa saja jalannya mulus bila ia tidak memaksa putrinya menjual perhiasan ilegal.
"Hamba senang bisa melayani Yang Mulia," lirih Rekta sebelum diseret keluar. Sempat ia menaruh harapan namun ia gelengkan kepala melihat raut dingin di wajah Hayan.
"Keluarga dan para pelayan yang tidak bersalah kenapa harus dihukum? Kita hukum penjahatnya saja," usul Idaline terenyuh melihat air mata Rekta dan orang-orang yang tidak tahu menahu apa pun.
"Mereka abdi dalem kediaman Watek. Semuanya terlibat," jawab Hayan tak terbantahkan. "Hujan yang tiba-tiba saat kekeringan membuat warga beramai-ramai datang ke kolam ingin menadahkan air. Tebingnya longsor lalu menimpa mereka semua," Hayan menceritakan bencana yang terjadi sebelum orang-orang serakah itu melakukan aksinya.
"Aku tidak tahu bagian itu. Pantas banyak sekali yang meninggal," Idaline mengingat-ingat burung dan hewan lain yang meminta tolong padanya. Mereka memang bilang banyak orang terbaring di tanah, namun ia pikir itu hanyalah orang-orang yang pingsan akibat kelaparan.
"Guru sudah melakukan dengan baik. Bagaimana kalau kembali ke kamar?"
"Mereka sedang beristirahat setelah menerima bantuan," Hayan berdiri menunggunya. "Guru benar-benar pendek," ucap Hayan saat Idaline berdiri di sebelahnya.
"Aku ini tumbuh. Kamunya saja yang menjulang tinggi. Eh. Djahan?" Idaline berlari kecil ke arah lelaki yang datang dari pintu masuk kediaman Wiyasa. "Hm. Selamat datang Mahapatih," ucap Idaline merasa diperhatikan semua orang.
"Jangan sungkan. Bicaralah seperti biasa,"
"Haha. Ada apa Mahapatih kemari?" tanya Idaline sambil tertawa kering.
"Sudah kubilang bicara biasa saja," tegur Djahan. "Kebetulan aku baru kembali dari Sadeng. Di surat kamu bilang sedang di sini," Djahan menggerakkan tangannya. Ia membuka kandang kayu, mengeluarkan isi di dalamnya. "Ini terimalah," Djahan memberikannya pada Idaline.
"Ya ampun lucu sekali–" belum sempat Idaline memegang, kucing putih di tangan Djahan memberontak lalu berlari dengan kencang. "Tidak usah ditangkap," ucapnya melihat para prajurit bersiap pergi.
"Di surat kamu terus bilang ingin memelihara kucing. Kupikir Petapa Agung melarang, ternyata karena hal lain,"
"Nanti kuceritakan," Idaline tersenyum pada Djahan. Ia gosok cincin yang tersemat di tangan kanannya menggunakan jempol kemudian muncul sebilah belati. "Aku membuatnya sendiri," ucap Idaline saat Djahan menerimanya. "Semoga kamu selalu dilindungi!" do'anya.
"Ehem," deham Hayan mendekat pada Idaline dan Djahan.
"Maafkan saya tidak menyadari Anda berada di sini. Salam saya untuk Yuwaraja semoga selalu diberkati," Djahan menempelkan tangannya di dada tanpa membungkuk.
"Anda juga, Mahapatih,"
"Semalam terlalu lelah jadi tidak sempat memberikan ini," Idaline menggosok lagi cincinnya.
Idaline merasa tak enak sudah memberikan Djahan hadiah di depan Hayan, sekalian saja ia memberikan hadiah yang telah disiapkannya pada Hayan meski lebih tepat memberikannya saat berada di dalam ruangan.
"Ini terimalah," Ia memberikan fountain pen pada Hayan dan tak lupa isinya.
"Apa ini?" tanya Hayan membolak balik pena yang baru dilihatnya.
"Begini caranya," Idaline meletakkan tinta pena di buk, tempat duduk di depan rumah, dan menggenggam tangan Hayan mengajarinya mengisi tinta pada pena tersebut.
Wajah Hayan memerah merasakan sentuhan lembut Idaline.
"Kamu cobalah sendiri,"
"Ya? Ya?" ucap Hayan tidak paham karena tidak bisa fokus.
"Begini," ulang Idaline. "Pasti sulit karena ini benda masa depan," maklumnya.
Hayan mencobanya setelah Idaline selesai menjelaskan kedua kali. Ia pun berhasil mengikuti dengan sempurna.
__ADS_1
"Bagus sekali," Karena tangan Idaline tidak sampai pada kepala Hayan, ia mengacungkan jempolnya memberi selamat.
Hayan menundukkan kepalanya mengerti keinginan Idaline. Gadis itu tersentak melihatnya, namun kemudian mengusap kepala Hayan dan tersenyum lebar. "Bagus sekali," ulangnya.
"Kami akan berdiskusi. Kalian pergilah," Djahan menatap tajam dayang dan pelayan yang memandang tanpa ragu pada Hayan dan Idaline. Mata mereka bergelora siap bergosip. "Bagaimana kalau kita berbincang di sana?" Djahan menunjuk kursi dan meja di bawah pohon.
"Saya ada urusan lain. Permisi," Hayan pergi memeriksa berkas-berkas pekerjaan dan melihat langsung keadaan masyarakat. Bagaimanapun ia memiliki tanggung jawab besar sebagai seorang Yuwaraja dan Wiyasa Kabalan.
Idaline menikmati kesejukan angin yang berhembus ditemani kecanggungan. Djahan menjadi teman penanya, namun beberapa hari terakhir Djahan mengirimkan pesan yang sulit dibalasnya.
Djahan mengetuk-ngetukkan jarinya di meja juga merasa canggung. Idaline belum membalas pesan-pesannya, ia berpikir Idaline ingin menjauhinya tetapi melihat Idaline datang menyambutnya, Djahan tidak lagi memiliki pikiran Idaline berniat menjauh.
"Tentang yang aku tulis di surat," buka Djahan berdiri dari tempatnya dan mendekat pada Idaline. "Maukah kamu menikah denganku?" Ia memberikan kotak yang bersisi sepasang kelat bahu dan gelang binggel kana pada Idaline.
"Suruh mereka pergi baru aku jelaskan," putus Idaline setelah berpikir panjang kali lebar dalam otaknya. Ia pun menyukai Djahan tetapi rasa ingin pulangnya mengalahkan segala rasa yang ada.
Djahan mengangguk. Telu dan Papat yang bersembunyi pergi menjauh.
"Kupikir kekuatanmu sudah kembali," sindir Idaline. Ia masih tidak mengerti kenapa orang nyaman diawasi oleh orang lain. Hatinya malah bergidik jika mengetahui ada mata yang mengintainya.
"Mereka yang memaksa,"
"Duduklah yang nyaman," Idaline menunjuk kursi yang ditinggalkan Djahan.
"Jadi, apa akhirnya kamu akan menjelaskan?" tanya Djahan penasaran. Ia menurut untuk duduk kembali ke tempatnya.
"Aku bukan dari sini. Aku dari dunia yang jauh,"
"Kamu sudah mengatakan ini pada siapa saja?"
"Orang dari dunia ini, baru kamu,"
"Selanjutnya berhati-hatilah saat membicarakan ini,"
"Kamu tidak terkejut ada orang lain?"
"Manusia di dunia ini bukan hanya kita saja,"
"Benar-benar mahapatih yang cerdas,"
Djahan mengambil gelang dari dalam kotak dan memakaikannya pada Idaline sambil berkata, "Aku tidak akan menyerah karena hal ini. Meski suatu saat kamu kembali, aku tidak dapat menahan rasa ingin bersamamu ketika melihatmu berada di hadapanku,"
Djahan melepaskan tangan Idaline dan memandangnya penuh cinta. "Bagaimana denganmu? Apa kamu ingin menghabiskan sisa waktu di sini bersamaku?"
"Aku takut menyulitkanmu. Bisa saja ketika terbangun aku lupa pada semuanya," Akhirnya Idaline memilih menyuarakan pikirannya. Ia tidak bisa tidak menjawab pertanyaan Djahan. Pernyataan yang meluncur bahkan terlalu menyakitkan.
"Kenangan indah tidak akan menyulitkanku," Djahan menarik sudut bibirnya.
"Kamu benar-benar gigih," Idaline menghela napas, ia bahkan sampai berpikir untuk menerima Djahan. Tetapi bolehkah? Bagaimana kalau ke depannya malah sulit?
"Apakah ada bagian dariku yang tidak berkenan bagimu?" tanya Djahan penasaran. Biasanya orang menolak karena tak suka atau keraguan muncul karena ada hal yang tidak disukai.
"Bukan seperti itu," Idaline menjadi bingung ingin menjawab apa. Rasanya ingin menolak tegas seperti sebelumnya namun tangan Djahan yang terbuka lebar membuatnya jadi ingin menaruh harap di sana.
"Yuwaraja akan membutuhkanmu dalam membangun ulang kota. Jawablah lamaranku setelah selesai," putus Djahan bangkit dari duduknya.
"Baiklah. Kamu juga carilah wanita yang nyata dalam masa ini," Idaline akan memantapkan hatinya bila Djahan sudah bertemu dengan kebahagiaannya. Dengan begitu ia pun bisa lebih lega melihat orang yang ia sayangi bahagia.
"Aku pergi," Djahan melangkah meninggalkan Idaline tidak membalas permintaan Idaline.
Idaline sendiri terdiam, rasanya kakinya seperti dipaku dan tidak dapat bergerak. Sekali lagi Idaline menghela napas. "Djahan, hatiku sangat lemah. Namun karena ini bukan duniaku maka aku harus menahan diri," gumam Idaline memerhatikan punggung Djahan yang menghilang di balik kereta.
••• BERSAMBUNG •••
© Al-Fa4 | 21 Agustus 2021
Teman-teman mohon dukungan like dan komennya biar othor semangat.
Terima kasih buat teman-teman setia dan teman-teman yang baru bergabung.
Semoga menyenangkan!
Sehat selalu semuanya.
Love, Al-Fa4
Today In History :
21 Agustus 1969 M
Al-Aqsha dibakar.
Sebagian tempat sholat hangus terbakar
dan Mimbar Shalahuddin peninggalan dari 1187 M berubah menjadi abu.
__ADS_1