![TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz--berpindah-ke-zaman-keemasan-.webp)
"Tuanku, penobatan Yuwaraja akan dilaksanakan besok. Kita memang harus bergegas pergi sekarang, namun kudengar nona Widya telah tenang," ucap Asha, salah satu selir Baga Sapta. Mereka sudah menetap selama dua bulan di desa untuk memperhatikan pengobatan Widya.
"Itu hal yang bagus. Kita bisa pergi dengan tenteram," Baga menatap dingin sang selir.
"Seseorang berkunjung setiap malam ke tempatnya untuk menenangkannya," tambah Asha membalas tatapan Baga.
Baga menatap ke dalam mata Asha mencari kebenaran. Selirnya itu membalas tatapannya dengan teguh. "Matahari belum tinggi, siapkan para pengawal!"
Tak butuh waktu lama untuk mereka mendobrak pintu gudang. Suasana di dalam gudang sangat bersih dan banyak perabotan terbaik yang tidak ada di desa tersebut bahkan beberapa sulit didapatkan oleh keluarga Sapta.
Asha memelototi tabib bayarannya yang berdiri dengan tenang tidak melakukan sesuai skenario untuk mengadu pada Baga Sapta bahwa Widya Sipta telah menjadi gila. Asha melirik Widya yang segar dan cantik seperti mendapat perawatan khusus para putri di keraton, tidak ada satu pun titik merah yang ia pesan pada sang tabib.
"Saya masih sangat waras untuk memilih pihak yang benar," pikir sang tabib. Ia tidak memberikan obat apa pun dan hanya melaporkan secara rutin sesuai ucapan Idaline.
"Turunkan senjata kalian kalau tidak ingin kehilangan kepala kalian," Idaline menatap tajam membuat semua prajurit gemetar menjatuhkan tombaknya.
"Kalian sangat penakut pada seorang pemuda pendek sepertinya?!" geram Asha menunjuk Idaline yang berpakaian serba hitam.
Idaline merasa kesal. Apa tubuhnya benar-benar serata itu sampai disamakan dengan seorang pria?
Idaline terdiam. Usia tubuhnya baru sembilan tahun.
"Nak, kamu sangat berani menerobos kediamanku!" Hawa kuat keluar dari tubuh Baga. Idaline mengarahkan tangannya ke Widya dan membuat lingkaran di sekitarnya.
"Kamu ingin seluruh kediamanmu rata dengan tanah?" pancing Idaline melepaskan ikatan tali yang menggantung di sabuknya.
"Lancang sekali!" Baga mengurungkan niatnya mengeluarkan keris begitu melihat lencana yang ditunjukkan Idaline.
"Tuan..?" panggil Asha.
"Membuang anak secerdas ini ke pinggiran, memasungnya karena rumor tak masuk akal, mengurangi jatah makan seorang gadis bangsawan, tidak memperhatikan kualitas ruangan yang dipenuhi debu dan kotoran hewan.."
"Apa?" Baga menatap Asha yang gemetaran.
"..melecehkan Raden Ajeng dengan menyebutnya seorang pria, mengacungkan senjata pada Raden Ajeng Paramudita, mengeluarkan kanuragan dengan sembrono, menantang perang murid Petapa Agung. Menurut tuan Baga yang seorang penasihat kerajaan, apa hukuman yang pantas?"
"Pemusnahan keluarga," jawab Baga cepat.
"Kerajaan kita sedang melakukan perluasan wilayah, sangat tidak bagus menghilangkan satu keluarga besar. Yah meski keluarga besar dari kerajaan yang telah takluk juga banyak yang bagus,"
Baga diam tidak dapat membantah. Secara tradisi, keluarga kerajaan yang menyerahkan diri baik-baik akan menjadi keluarga tingkat tinggi. Belum lama ada dua kerajaan kecil yang melihat kerajaan yang lebih besar dari mereka dihancurkan berkeping-keping, dua raja itu langsung menyerahkan diri begitu mahapatih datang mengatur wilayah kerajaan besar tersebut.
Ratu memutuskan mereka menjadi kepala daerah yang merupakan keluarga tingkat menengah dengan alasan sembilan keluarga besar ditambah para putri yang akan menjadi bhre sudah cukup menjadi keluarga tingkat tinggi yang mengatur di puncak. Kalau satu menghilang, baru ada kesempatan bagi mereka untuk beranjak naik.
Peluang menjatuhkan keluarga Sapta lebih besar jika menyinggung tradisi tersebut. Pasti nanti akan ada yang membantu Raden Ajeng Paramudita meski sebenarnya tuntutan Raden Ajeng itu sudah sangat memberatkan dalam penilaian Baga.
"Tidak perlu berpikir dengan keras begitu," ucap Idaline menyadarkan Baga. "Untuk kesalahan pada putrimu sendiri, hukumlah si pelaku dengan pantas. Untuk kau dan para pengawal, kuberi satu kesempatan hidup berbakti pada kerajaan,"
__ADS_1
"Terima kasih, Yang Mulia." Para pengawal bergegas bersujud di bawah kaki Idaline.
"Pendidikan keluarga Sapta sangat bagus sekali," sindir Idaline pada Baga Sapta, Asha, dan para dayang yang masih berdiri. "Enyahlah," usir Idaline mengeluarkan kekuatan dari telapak tangannya, para pengawal yang berada di dalam ruangan terpental keluar dan pintu yang terbuka tertutup dengan keras.
"Siapkan kamar untuk nona pertama dan Yang Mulia Raden Ajeng," perintah Baga. Ia berdiam diri di depan gudang.
"Tuan, kita harus ke upacara penobatan Yuwaraja," ajak Asha.
"Pergilah. Aku akan berangkat malam nanti,"
Idaline menatap Widya yang masih bertapa. Gadis itu membuka matanya perlahan lalu menghela napas panjang. "Aku tidak berbakat dalam petapaan,"
"Sayang sekali, padahal tanpa kanuragan dan sihir pun kamu bisa mengalahkan para pengawal kediaman ini hanya dengan bela diri. Kalau begitu perkuat saja bela dirimu, beruntung ingatanmu bercampur jadi tak perlu berusaha pintar,"
"Haha aneh rasanya. Biasanya aku paling gak bisa tentang materi. Ternyata enak juga lebih tahu dari orang lain," bangga Widya memperhatikan jari-jari lentiknya. Tangannya dahulu kasar, ia merasa sensasi berbeda saat memiliki tangan yang mulus.
"Kita lakukan kontrak hewan saja," anjur Idaline.
"Bukannya tidak bisa kalau tanpa kekuatan?" ragu Widya.
"Fisik kuat berarti aura tubuhmu juga kuat. Kalau terus berlatih bela diri, akan cukup kok untuk memanggil mereka. Hanya akan sedikit lelah, tapi bisa teratasi dengan fisik kuat seperti fisikmu yang dulu," papar Idaline melipat tangannya ke atas menunjukkan sedikit otot tangannya.
Widya memejamkan mata merasakan kekuatannya sendiri tanpa menyerap aura dari sekitar. Ia fokuskan kekuatan itu pada dahinya lalu membuka mata melihat cahaya di depannya mulai menampakkan hewan panggilan.
"Oh si genit. Memang ya jiwa Maluku akan dapat hewan Maluku juga," sanjung Idaline memperhatikan burung berwarna cokelat zaitun dengan bulu di dada berwarna zamrud, ada pula dua pasang bulu putih yang panjang keluar menekuk dari sayapnya.
"Masalah jika hewan biasa. Tapi hewan yang sudah berlatih hingga menjadi hewan spirit, tidak akan ada yang mempertanyakan. Lihatlah ukuran burung bidadari ini, mana ada burung bidadari yang sampai satu meter,"
"Berikan darahmu di mahkotaku supaya ukuranku jadi sebenarnya," Burung bidadari berjenis kelamin jantan itu menunduk menunjukkan mahkotanya yang berwarna ungu dan ungu-pucat mengkilat pada Widya yang telah terpilih menjadi majikannya.
"Memang berapa ukuranmu? Loh?? Kok? Kok hewan bisa bicara?" syok Widya menunjuk-nunjuk burung besar yang masih setia di posisinya.
"Selamat menanti keanehan lainnya," Idaline terkekeh melihat keterkejutan Widya. Sahabatnya itu sedang memperhatikan burung bidadari dengan saksama.
Widya menetralkan emosinya lalu merobek jempolnya dan meneteskan darahnya ke mahkota burung bidadari. Cahaya terang keluar menyilaukan mereka, tubuh burung tersebut menjadi tiga kali lipat.
"Cuma tiga meter," cemooh Idaline.
"Memang pernah lihat yang lebih besar dariku?! Aku tidak merasakan kontrakmu pada burung,"
Cip. Cip. Cip. Terdengar di telinga Idaline seperti membalas cemoohannya. "Garuda telurnya saja sebesar badan dewasamu ini," ucapnya melihat ekspresi sang burung. "Jadi siapa namanya?" tanya Idaline mengabaikan ekspresi terkejut burung bidadari.
"Manusia bisa menemui garuda? Kami saja sulit." heran si burung bidadari.
"Zamrud. Warna hijau di dadanya seperti permata emerald. Tapi dia jantan,"
"Baiklah, Zamrud. Jagalah majikanmu. Sudah dua bulan aku di sini, Fusena tidak bisa menunggu lebih lama,"
__ADS_1
"Bisa tidak..ah tidak. Hati-hati di perjalanan!"
"Do'akan aku cepat menemukan cara kembali," Idaline tidak bisa membawa orang, sebagai gantinya waktu perjanjian menginap satu bulan ditambah menjadi dua bulan.
"Pasti," Widya menatap pintu yang berbunyi. "Masuklah,"
"Yang mulia, sepulang dari istana, tuan telah berdiri di halaman menunggu selama dua hari tanpa tidur dan makan," ucap tabib.
"Oh sudah selama itu. Pantas lapar sekali," Idaline merenggangkan badannya.
Widya berjalan mengekori Idaline. "Kamu selalu bersinar di mana pun," batin Widya dan ia tersenyum simpul.
"Tuan masih kuat ya padahal sudah berumur," Idaline tersenyum formal.
"Hamba memberi salam pada Yang Mulia Raden Ajeng. Maafkan hamba yang tidak menjamu dengan benar," ucap Baga menundukkan kepalanya.
"Aku menemuimu ingin berkata, Widya telah kuajari beberapa hal, sama seperti Pangeran," ujar Idaline tak mempedulikan Baga yang masih menunduk. "Nah, Widya. Kalau kamu sudah berpindah, kirim surat melalui batu yang kuberikan," pesan Idaline lalu ia menghilang dari pandangan mereka.
"Kamu telah mendapat pengajaran dari orang yang sama dengan pangeran, bersikaplah yang bijak. Sore nanti kita berangkat ke ibukota," tutur Baga lembut.
"Baik, ayahanda,"
Saat Idaline berkunjung ke kediaman Sapta di samping keraton, Widya tidak ingin kembali karena menemukan ibunya, ibu tirinya, dan adik-adiknya berada di kediaman yang sama.
Dengan alasan tubuh yang lemah, Widya melanjutkan pendidikannya di rumah dan terus bersama keempat adiknya yang masih sangat kecil.
Setiap berkunjung Idaline terus menanyakan keinginan Widya untuk pulang. Berkali-kali Idaline mencoba membujuk Widya namun gadis itu selalu tegas menjawab akan tetap di dunia barunya.
Idaline tidak pernah lelah memberikan pengertian pada Widya bahwa dunia mereka seharusnya berada di tempat yang berbeda, tetapi kini rasanya Idaline harus turut meyakinkan dirinya sendiri.
Karena dirinya menemukan pujaan hatinya di dunia yang seharusnya tidak menjadi tempat tinggalnya.
••• BERSAMBUNG •••
© Al-Fa4 | 31 Agustus 2021
Jangan lupa like dan komen ya untuk menyemangati author
Makasih banyak lohhh vote dan hadiahnya
Jaga kesehatan yaa
Love, Al-Fa4
Today in History :
31 Agustus 1876 M
__ADS_1
Pelantikan Sultan Abdul Hamid II