TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]

TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]
018 - LAPORKAN SEMUANYA (2)


__ADS_3

Tercetus dalam benak Idaline keinginan melihat kejutan selanjutnya yaitu alasan-alasan ratu memilih remaja yang baru memasuki usia dewasa menjadi Mahapatih.


"Benar. Sebagai gantinya silakan katakan, akan saya penuhi sesuai kemampuan saya."


"Anda boleh mencari jadwal kosong Anda untuk belajar. Tapi saya ingin bersantai di tempat ini setiap waktu luang saya." Idaline terjeda memikirkan ucapannya memancing kecurigaan. "Saya hanya akan duduk diam di ruang tamu."


"Saya mengerti." Djahan mendengar laporan dari Siji dan Loro bahwa Idaline telah menyinggung pangeran.


Satu-satunya Pangeran Kerajaan Maja itu tidak akan segan menghabisi setiap jiwa yang menyinggung perasaannya walau usianya baru sejumlah jari tangan beberapa hari lagi.


"Kalau begitu saya permisi kembali."


Djahan menatap kepergian Idaline. Ia berharap gadis kecil pemberani itu tidak akan mati sia-sia.


"Tuan, apakah saya tetap mengawasi Raden Ajeng?" Loro muncul bersimpuh di belakang Djahan.


"Tidak perlu. Kamu kembali saja ke barak patroli."


"Dimengerti." Loro menghilang dalam sekejap mata.


Loro sudah ia perintahkan untuk mengawasi Idaline sejak awal pertemuan mereka.


Saat Djahan bertolak akan menjemput putri mendiang sahabat ratu yang tinggal di Janapada sepekan setelah pengangkatan resminya, ternyata Idaline disembunyikan usai kecelakaan itu untuk menghindari pelaku penyerangan yang masih berkeliaran.


Kemudian Djahan memutuskan mencari Idaline di dekat lokasi kejadian, ketika itulah ia dikalahkan oleh sihir dan kanuragan yang telah dikuasai ketiga anak lelaki dari keluarga berbeda yang mencoba menjatuhkannya tanpa mencari tahu kebenaran.


Djahan mengacungkan jempol bagi setiap orang yang tidak mudah memberikan informasi. Tanpa peringatan darinya, ketiga anak lelaki itu tidak pernah membuka mulut atas kejadian mengalahkannya.


Ditambah kemenangan dirinya di meja debat semakin menciutkan nyali ketiganya.


Tetapi lukanya adalah hal fatal jika sekali saja terekspos. Maka jalan teraman adalah memastikan keempat orang itu tidak berbicara sembarangan, menaruh setiap mata dan telinga di sisi keempatnya.


••••••••••••••••••••


"Sebelum beristirahat. Raden Ajeng, apa Anda dapat mengerjakan ini?"


"Guru, itu adalah hal yang sulit untuk pelajaran kali ini." sahut Indudewi.


"Benar guru, bahkan Idaline baru masuk kelas ini." bela Netarja.


Anak-anak yang belum dewasa akan diajari tata krama sebelum masuk akademik saat usia dewasa, 7 tahun untuk wanita dan 10 tahun untuk pria. Tentu saja berbeda bagi keluarga kerajaan. Ada banyak literatur yang harus dihafal dan dikuasai sebelum masuk akademik.


"Usia dewasa apanya?" protes Idaline.


Tapi ia tidak memungkiri tubuh mereka seperti anak remaja dan banyak juga rakyat jelata serta anak selir dan gundik yang menikah pada usia itu. Otaknya mengingat tubuhnya sendiri yang hanya memiliki tinggi 153 cm saat memasuki kepala dua. Sudah tidak bisa tumbuh lagi.


Pikiran Idaline beralih ke empat pasang mata yang menatapnya. Ia belajar bersama tiga putri cantik, tidak terlihat tanda-tanda kemunculan Hayan sampai akhir kelas.


"Apa kelasnya khusus?"


Idaline sudah mewanti-wanti berbagai jalan keluar jika pangeran itu memberikan jebakan di dalam kelas maupun di luar ruang kelas. Setiap saat rasanya ia tidak bisa melepaskan kewaspadaan.


"Bukan seperti itu Yang Mulia. Raden Ajeng telah mendapat gelar Paramudita, tentu saja hal seperti ini tidak akan sulit."


"Guru, Anda yakin sekali saya bisa menyelesaikan pembagian dan perkalian ini. Tapi Anda harus memberi saya libur hingga kelas sampai pada pelajaran ini." tawar Idaline.


"Tentu saja. Jika kemampuan Anda sudah setinggi itu, Anda harus menuju kelas lainnya."


Secepat kilat Idaline menuliskan semua jawabannya.


"Ini..betul semua." syok guru. Ia kira ratu memberikan gelar untuk melindungi Idaline dari tangan-tangan jahat karena berasal dari rakyat jelata.


Dengan gelar, Idaline memiliki kedudukan lebih tinggi dari para bangsawan dan mereka tidak bisa semena-mena. Tapi ternyata Idaline benar-benar menguasai.


"Nah guru, karena sudah selesai. Sampai jumpa beberapa pekan lagi."


"Tunggu!" Indudewi memegang tangan Idaline, menahannya yang ingin kembali ke Kedaton Sedap Malam. Ia membimbing Idaline ke ruang makan di sebelah kelas mereka.

__ADS_1


"Sudewi dapat menerima pelajaran sekali diajarkan. Guru sulit mengatur waktu untuk mengajarkan kami berdua yang kesulitan, tolong ajari salah satu dari kami saat kesulitan."


"Aku mengajari kalian?"


"Kami akan mengajari tata krama untukmu." tawar Sudewi. Ia bisa menguasai dengan cepat karena masih teringat kehidupan sebelumnya.


Namun kakaknya, Indudewi, dan Netarja berbeda. Sudewi sudah merasakan pusingnya belajar yang terbatas waktu. Jika Idaline mau mengajari, akan bertambah ilmu mereka.


Sudewi tidak tahu dari mana Idaline mendapatkan pengetahuan seluas ini. Sebelumnya bahkan Idaline adalah yang terakhir mendapatkan gelar. Garis takdir yang mungkin berbeda membuat hatinya sedikit tenang.


"Semoga tidak ada ilmu hitam." harap Sudewi.


Idaline bergidik mendengar tata krama. Ia dapat berdiri dan duduk dengan tegak, tapi untuk berjalan tanpa menjatuhkan piring atau buku yang diletakkan di atas kepala sangatlah susah.


Ia lolos saat menyendokkan sup dengan elegan, tapi sulit mengatur tangannya agar tidak kotor ketika makan dan ketika ada yang menyangkut di gigi, ia menggerakkan lidah dengan aneh.


Belum lagi dirinya yang pilih-pilih makanan, tidak suka yang pahit, asam, kecut, dan pedas. Padahal selain yang berbahaya, bangsawan harus menerima semua hidangan yang diberikan.


"Ibu Bejo akan mengajariku."


Meski tegas, Bejo yang dipilih ratu untuk mengurus Idaline membiarkan dirinya tidak memakan hal-hal yang tidak disukainya karena selera manusia berbeda.


Mungkin karena dahulu Bejo adalah kepala koki di Keraton Capuri, istana kediaman para raja yang kini ditinggali ratu dan suaminya.


"Kamu berlatih dengan ibu Bejo?" tanya Sudewi menatapnya ngeri. Yang ia tahu pengurus sekaligus guru tata krama Idaline adalah Ina, guru yang lembut bukan guru tegas seperti Bejo.


"Iya."


"Ih padahal dia kejam sekali," sahut Indudewi, Netarja menganggukkan kepalanya.


Tidak salah, setelah Bejo datang ke kediamannya. Setiap mereka bertemu, Bejo akan memperhatikan Idaline dengan teliti dan mengajarinya saat itu juga jika terjadi kesalahan.


Harusnya tidak seperti itu karena akan melukai harga diri seseorang ketika mengoreksi kesalahannya di depan banyak orang, meski orang-orang itu menutup mata dan telinga.


"Itu lebih baik daripada memakan hal yang kecut atau pedas."


Sudewi pun baru mengetahuinya karena di kehidupan sebelumnya Idaline menerima semua hadiah dan ajakan. "Apa benar-benar berubah?" batinnya.


"Camilannya akan dingin kalau kita berbincang terus." Idaline menatap meja yang penuh berbagai jenis makanan. Ia tersenyum lebar, semuanya adalah makanan manis.


"Ke mana makanan kecut dan pedas kita?" Indudewi melirik Idaline, tidak mungkin gadis itu merubah hidangan yang telah diminta tuan putri. "Siapa?" tanyanya penasaran begitu pula Sudewi.


"Bagaimana? Kamu akan mengajari kita?" tanya Netarja tidak memedulikan berubahnya menu makanan.


"Baiklah. Semampu saya."


Setelah menyelesaikan kelas bidang pengetahuan, mereka pergi ke kelas tata krama. Idaline yang semula berencana kabur ke tempat Djahan tidak dapat kabur karena dihimpit di tengah ketika berjalan menuju kelas yang berada di bangunan lain. Indudewi dan Netarja mengalungkan tangan mereka di lengannya.


"Pita, ambilkan kotak dalam pendingin." Idaline melemparkan alat tulis ke atas meja lalu menghempaskan tubuh ke kursi panjang, guru tata krama terus memaksanya memakan hal yang tidak disukainya karena sebentar lagi akan ada pesta ulang tahun Hayan.


"KYA!" teriak Idaline melihat sesosok makhluk duduk di pojok ruang santainya sambil menatapnya tajam.


"Ada apa Yang Mulia?" khawatir dayang yang masuk memeriksa keadaan.


"Tidak ada, aku hanya terkejut." Idaline memegang jantungnya yang berdetak cepat. Dayang menganggukkan kepala kembali keluar melaksanakan perintah Idaline yang sempat tertunda.


"Ada masalah apa Yang Mulia datang ke kamarku?" Idaline meluruskan badannya di kursi masih berbaring.


Hayan meletakkan gelas tehnya dan kembali menatap tajam Idaline. "Kamu benar-benar tidak punya tata krama."


"Jika ingin mengomel silakan keluar. Saya benar-benar capek." Idaline tidak peduli jika nyawanya akan melayang, tubuhnya sangat lemas dan perutnya sakit menahan pedas juga tenggorokannya kering karena terus melahap benda kecut. Tidak ia pedulikan yang akan terjadi.


"Aku datang untuk belajar padamu."


"Hah? Bukannya itu cuma alasan?"


"Jangan membuang waktu. Ini bagaimana cara menyelesaikannya?" Hayan menyodorkan kertas tulisan tangannya.

__ADS_1


Idaline yang lemas ingin tidak meladeni merasa gusar melihat jawaban yang ditorehkan di sana. Ia tidak bisa membiarkan temannya menjawab dengan salah ketika di kelas saat sebagai Udelia, ia akan menjelaskan dengan sejelas-jelasnya agar jawaban temannya benar tanpa memperlihatkan hasilnya.


Tidak peduli berapa lama waktu yang dihabiskan, ia akan menjelaskan hingga tuntas cara terbaik yang mudah dipahami teman-temannya. Idaline mengambil duduk tegak lalu mulai mengajari Hayan.


"Seperti ini?" tanya Hayan mencoba menjawab soal.


"Tidak. Anda harus ke bagian ini dulu. Sepertinya penambahan dan pengurangan angka acak masih tidak Anda kuasi ya?"


"Yang Mulia, hamba mengantarkan cokelat."


"Letakkan di sini." Idaline menikmati tiap gigitan cokelat yang telah mengeras dalam pendingin. "Anda mau? Ini dapat menghilangkan panas pada otak." Idaline menyodorkan kotak berisi cokelat pada Hayan.


"Terima kasih." Tanpa ragu Hayan memakannya. Tanpa sepengetahuan Idaline, Hayan sudah menenggak salivanya berkali-kali menghirup aroma baru yang terasa lezat.


"Bagaimana rasanya?"


"Unik."


"Nah lalu mari kita belajar penambahan dan pengurangan dengan angka acak." Idaline mengusap tangannya ke kain bersih. Lelahnya hilang berganti semangat menghilangkan ketidaktahuan.


Hayan memperhatikan ucapan demi ucapan Idaline dengan saksama.


"Aku tidak tahu ada metode yang mudah seperti ini daripada menuliskannya ke samping."


Idaline menepuk dahinya. Hayan akan kesulitan belajar jika tidak paham penulisan aksara jawa dengan benar.


"Yang Mulia bisa menggunakan metode yang sama, tapi tolong penulisannya tetap seperti guru Anda. Angka ini hanya untuk coret-coretan."


Idaline diam memperhatikan Hayan yang suram. Lalu ia mengerti Hayan belum paham cara menulis dan membaca. "Dari tadi aku jelasin dia cuma nyoret-nyoret sesuai ucapanku??"


Idaline mengelus bahu Hayan dan tersenyum simpul. Ia geser pelajaran menghitung dan mulai mengajari satu persatu aksara jawa dengan metode paling sederhana yang sejak tadi masuk ke dalam otak Hayan.


Hayan adalah tipe yang harus mengulang beberapa kali untuk memahami sebuah teori. Menyambung titik-titik menjadi tulisan pun Idaline ulang beberapa kali baru Hayan mengerti.


Idaline tidak mengucapkan kata-kata selain yang diperlukan untuk menjelaskan materi. Setiap mengulang, Idaline akan menjelaskan seolah itu adalah kali pertama ia jelaskan, terus hingga Hayan paham dan mahir tanpa bantuannya.


Bukan salah seorang anak bila lambat dalam belajar.


Bagaimanapun, semua manusia diciptakan dengan kekurangan dan kelebihan masing-masing.


Tidaklah perlu marah sampai menghardik anak bodoh jika tak pandai dalam satu pelajaran yang dalam pandangan masyarakat merupakan hal luar biasa.


Setiap manusia memiliki kecakapannya masing-masing.


Tidak ada yang salah jika ia lebih mahir dalam praktik, dalam fisik lebih dari materi-materi yang didapatkan dari sebuah buku.


Yang seharusnya dilakukan adalah memberinya semangat. Jika itu ilmu yang wajib dipelajari, cobalah mencari jalan lain untuk menyampaikannya. Dan jangan biarkan bakat anak terpendam begitu saja.


"Karena kamu sudah mengajariku pelajaran yang sulit kucerna selama ini, katakanlah jika ingin sesuatu."


•••BERSAMBUNG•••


© Al-Fa4 | 23 Juli 2021


Author note:


Author menggunakan kata Keraton sebagai tempat tinggal penguasa tertinggi juga sebagai keseluruhan tempat mencakup kedaton, bale', aula, taman-taman, dan semua yang mencakup tempat tinggal keluarga kerajaan.


Kedaton untuk tempat tinggal para putra-putri juga selir dan ibu suri.


Bale' digunakan sebagai tempat tambahan, kaya gazebo gitu juga tempat terbuka yang biasanya buat nari atau mendengarkan musik sambil menikmati pemandangan.


Jangan lupa tinggalkan like dan komentar apapun asal tidak melanggar norma, komen Z aja gpp kok kalo bisa hehe.


Terima kasih banyak untuk vote dan hadiahnya.


Love you all.

__ADS_1


__ADS_2