TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]

TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]
051 - PINGITAN


__ADS_3

"Jadi kakanda sudah tau?" Netarja mengira dirinya, Indudewi, dan Sudewi adalah yang pertama diundang oleh Idaline ke pernikahannya dengan mahapatih, ternyata kakandanya sudah terlebih dahulu diundang.


Hayan tersenyum kecut memikirkan Djahan yang berbicara dengan tegas dan Idaline yang malu-malu kala mengundangnya datang ke pernikahan mereka. "Aku tamu pertama."


"Sudah menentukan tanggal dan lainnya itu berarti sudah lama kan?" Netarja menatap kesal Hayan yang diam membenarkan. "Lalu bagaimana dengan sumping itu? Ukirannya bunga wijayakusuma, orang-orang pasti membicarakannya," cecar Netarja yang masih berjalan mengikuti Hayan.


Hayan menghentikan langkahnya. "Netarja Wijaya Sri Rajasaduhiteswari Bhre Pejeng."


"Hamba siap menerima perintah." Netarja bersimpuh begitu Maharaja memanggilnya dengan formal.


Hayan menatap rambut Netarja yang berkonde dan berhiaskan permata dan emas. "Berkumpullah dengan para wanita. Di sana banyak informasi berguna," titah Hayan. "Tidak usah khawatir. Semua yang ada di bhumi ini adalah milikku." Hayan membalikkan kepalanya menatap jalan yang menuju ruangan gantinya.


"Tidak mungkin kakanda memaksa Tuan Mahapatih kan?" khawatir Netarja teringat kisah pamannya.


"Nenek kita adalah putri raja terakhir kerajaan Singo, kakek kita pendiri kerajaan ini, dan ibu kita adalah ratu yang bersama ayah kita mampu memperluas wilayah kekuasaan kerajaan. Pergilah lakukan hal yang seharusnya."


"Hamba mengerti." Netarja mengepalkan tangannya. "Kakanda," panggilnya sambil berdiri. "Meski aku mendukung kalian berdua. Jangan sakiti ayunda. Aku menyayangi kalian!"


"Tenang saja," sahut Hayan dari kejauhan.


••••••••••••••••••••


"Yang mulia, ini adalah Gotho Pandya, murid hamba. Anak yang cerdas tapi tidak mau bergaul dengan sesamanya," ujar Pamget menunjuk dengan tangannya ke arah seorang anak berselendang biru yang sedang bersandar di pohon dengan menekuk tangannya di belakang kepala. Anak itu mengangkat sedikit kelopak matanya dengan malas.


"Anda bawa siapa lagi? Tidak perlu repot-repot memikirkan teman pelayan seperti saya." Gotho menatap Idaline dari atas ke bawah. "Hei wanita! Jangan mau diiming-imingi uang olehnya," anjurnya kembali memejamkan mata.


"Kalau kamu pelayan, seharusnya kamu bersujud di depan Yang Mulia Raden Ajeng."


Gotho berjingkat menegakkan tubuhnya lalu bersimpuh di depan Idaline. "Ma-maafkan hamba tidak menyadari keagungan yang besar." Gotho sangat cerdas. Dia tahu satu-satunya Raden Ajeng yang belum dilantik adalah orang yang berbeda.


"Tuan kepala akademik, aku masih banyak hal lain yang harus dilakukan," ucap Idaline mengabaikan Gotho yang tidak sopan.


"Oh iya, saya ingin memohon pada Anda untuk menemani Gotho sehari ini. Sebagai ganti saya akan memenuhi satu keinginan Anda."


"Karena dia anak yang cerdas." Idaline tergiur janji yang terlontar dari mulut Pamget. Ia menatap Gotho yang masih bersimpuh beberapa meter dari mereka. "Ikuti aku."


"Baik, Yang Mulia."


"Yang Mulia Raden Ajeng Paramudita memasuki ruangan."


"Kami memberi salam pada Yang Mulia Raden Ajeng. Semoga Yang Mulia selalu diberi kesejahteraan," ucap para wanita yang sedang membuat camilan dan masakan untuk para pria dan sebagiannya sedang menenun selendang.


"Bangunlah. Lanjutkan pekerjaan kalian." Idaline mengambil duduk di pojok ruangan, tepatnya di dekat hidangan yang telah matang. Gotho berdiri dengan risau, ia sudah menyinggung Raden Ajeng dan gurunya pasti meminta beberapa hal pada Idaline.


"Mau?" tawar Idaline membuka bungkus pudak, makanan yang terbuat dari tepung beras, gula jawa, dan santan kelapa yang dimasukkan ke dalam kemasan berupa pelepah daun pisang.


"Terima kasih, yang mulia." Gotho menerima makanan dari Idaline.


"Kita ke tempat lain," ajak Idaline tak enak jika orang lain bekerja sementara dirinya tidak bekerja, tetapi ia sedang tidak ingin bekerja. Jadi lebih baik tidak dilihat dan melihat orang yang bekerja.


Gotho mengekor di belakang Idaline dengan patuh.


"Karena masih lama.." Idaline menimang tujuan mereka. Jika menunggu di tempat istihat, matanya akan sakit. Jika berkeliaran, ia akan berjumpa para tukang gosip. Bertemu bhre-bhre baru pun pasti sulit.


"..kita pergi ke kediamanku," putus Idaline. "Kalian pergi saja ke tempat lain," perintah Idaline pada para dayang yang mengikuti.


"Baik, Yang Mulia," jawab para dayang.


Gotho menautkan jarinya dan berdiri tak nyaman, dengan kepala tertunduk ia mengintip Idaline yang masih sibuk memakan camilannya sambil mencoret-coret kertas. "Jika Yang Mulia ingin menginterogasi hamba silakan dimulai," ucapnya membuat Idaline terheran-heran.

__ADS_1


"Integorasi?" Idaline mengerutkan dahinya berpikir. "Haha," tawa Idaline menutup mulutnya mengerti yang dikhawatirkan sang anak lelaki tembam dan berkulit kecokelatan akibat kurangnya perawatan. "Ya ampun tidak ada hal seperti itu. Kemarilah makan kue bersama."


"Hamba mana berani,"


"Kamu berani bertanya,"


"A-ampuni hamba." Gotho bersujud di kaki Idaline. Ia telah melakukan dua kesalahan.


"Kalau ingin dimaafkan duduklah lalu habiskan kue di piring itu dengan hati-hati." Idaline menunjuk piring yang berada di depannya. "Jangan mengeluarkan suara," imbuhnya.


"Baik, Yang Mulia." Gotho pelan-pelan menghabiskan kue yang ia sukai maupun yang ia tidak sukai.


Idaline menopang dagunya, sesekali mengusap dahinya yang berkerut dan mengacak rambutnya gusar. "Sudah kuduga tetap tidak bisa," keluh Idaline. Ia meremas kertas di tangannya lalu membuangnya ke lantai. "Haaaaa." Idaline menghela napas panjang. Sesaat pandangan Idaline dan Gotho bertemu.


"Maafkan hamba." Gotho buru-buru menundukkan pandangannya. Wajah Idaline yang berantakan terlihat seksi di mata Gotho. Gotho menggelengkan kepalanya menghilangkan hal senonoh yang dipikirkan otaknya. "Tiga kali aku melakukan kesalahan. Sebelumnya tidak seperti ini...!"


"Katanya kamu cerdas, apa kamu bisa menggambar?"


"Hamba takut mengecewakan," jawab Gotho seperti mencicit.


"Tidak apa. Gambarlah." Idaline menyerahkan kertas dan kuas. "Bentuknya begini dan begini. Di sini tali panjang lalu di sini agak bulat, disambung dengan rok. Hm rok itu seperti bunga kantil yang kuncup." Idaline menggerakkan tangannya membuat pola, Gotho memperhatikannya dengan saksama lalu mulai menggambar.


"Silakan, Yang Mulia," ucap Gotho selesai menggambar sesuai arahan Idaline.


"Gambarmu bagus sekali dan jelas," puji Idaline. Rona merah terkuras dari wajahnya. "Ayo buat bentuk yang lain."


Dengan menahan malunya, Idaline menggambarkan bentuk yang diinginkannya dan Gotho menggambarnya dengan tepat.


"Yang Mulia, waktu sudah berlalu," kata Gotho menyadari sinar matahari mulai redup. Ia telah selesai menggambar beberapa bentuk.


"Benar katamu. Nah Gotho, kamu boleh menjual desain itu pada penjahit. Katakan padanya itu untuk mempererat hubungan suami istri. Nama pakaian ini adalah lingerie." Idaline mengetok dua kali meja, dua dayang kamarnya bergegas masuk. "Berikan ini pada kepala penjahit. Langsung berikan dan ingat, jangan ada orang lain yang melihat."


"Baik, Yang Mulia."


"Baik, Yang Mulia." Gotho menatap punggung Idaline. "Baru kali ini ada yang tidak bertanya." Gotho tersenyum tulus. "Kalau aku bercerita apa beliau akan memberikan perasaan yang tulus atau sekedar formalitas seperti yang lain?" tanyanya dalam hati.


"Yang mulia.." panggil Gotho dengan nada sedikit manja.


"Iya?" sahut Idaline.


"Apakah hamba boleh menjumpai Yang Mulia?"


"Mungkin tidak dalam waktu dekat. Kamu bisa tanya pada gurumu."


"Terima kasih." Gotho menundukkan kepalanya. "Beliau juga tidak membuat janji yang tidak pasti. Nyaman sekali." Sejurus kemudian Gotho terbelalak merasakan sentuhan pada kepalanya.


"Hari ini menyenangkan ya?" Idaline tersenyum lebar lalu berjalan dengan riang hingga sampai di lapangan.


"Iyaa." Gotho memegang kepalanya, ekspresi terkejutnya berubah menjadi senyuman lebar. "Hamba juga senang sekali."


"Bagaimana?"


"Beliau tidak seperti orang yang Anda kirim sebelum-sebelumnya. Sangat peka, tidak bertanya perihal luka di tangan saya." jawab Gotho melihat Idaline yang duduk jauh di depan.


"Kamu ini aneh sekali. Orang senang diberi perhatian, kamu malah menghindar," heran Pamget.


"Sudah saya katakan ratusan kali, saya tidak suka diremehkan."


"Padahal khawatir bukan berarti meremehkanmu."

__ADS_1


Gotho diam memikirkan ucapan gurunya. Ia bukannya tidak bisa membedakan khawatir dan meremehkan, tetapi kekhawatiran dari orang lain sangatlah tidak nyaman, berbeda bila Raden Ajeng yang memandangnya khawatir.


Gotho telah membayangkannya. Jika ia bercerita dan Idaline memberikan reaksi yang sama, rasanya hatinya menilainya dengan nilai yang  berbeda. "Saya tidak menerima perasaan yang palsu," simpulnya.


Setelah pesta penobatan selesai, Gotho terkejut anak-anak yang merundungnya dihukum tangan terikat di pohon dengan tubuh menggantung.


Hadiah lukisanmu.


"Padahal mereka untuk latihanku. Tapi terima kasih." Gotho melipat kertas lalu dimasukkan di sela gagampangnya.


••••••••••••••••••••


"Jangan ditekuk terus mukanya." Djahan mengusap dahi Idaline. "Katakanlah. Aku akan khawatir kalau berpisah seperti ini."


"Aku ingin memberikan undangan pada teman di desa, tapi dia tidak ada."


"Sudah titipkan pada keluarganya?" tanya Djahan lembut mengusap kepala Idaline.


"Sudah. Tapi tetap tidak tenang." Idaline melepaskan tautan tangannya di atas meja lalu ia merangkul lengan Djahan dan menempelkan kepalanya ke bahu calon suaminya itu.


"Mungkin ada yang harus diurus, nanti kalau selesai dia akan datang," kata Djahan menenangkan.


"Benar, banyak hal yang harus diurusnya. Semoga saja cepat selesai." Idaline menahan tangan Djahan yang menjauh dari rambutnya lalu ia letakkan kembali ke rambutnya yang dikucir kuda. "Apa perebutan posisi kepala keluarga? Saat bertemu akan kujitak kepalanya," terkanya. Idaline memejamkan mata merasakan usapan Djahan yang semakin turun ke wajahnya. Tubuhnya terasa merinding namun hatinya terasa nyaman.


"Sudah waktunya pingitan. Jaga dirimu baik-baik." Djahan menarik tangannya dari wajah Idaline. Sebelumnya ia tidak mengerti kenapa orang-orang bisa terikat dengan orang yang dicintainya, tetapi kini rasanya ia tidak ingin berpisah dari Idaline.


"Iya." Idaline mengangguk dengan semangat. Hal yang dilakukan dengan spesial akan memberikan kesan mendalam daripada terburu-buru apalagi menyerahkannya dengan gratis.


Djahan hendak mengecup dahi Idaline namun ia mengurungkan niatnya. Djahan keluar diliputi perasaan bangga telah menekan dirinya demi orang terkasih.


"Bi, jagalah Raden Ajeng," ucap Djahan melihat Bejo di pintu membawa air hangat.


"Baik, tuan."


Idaline menghela napas panjang begitu pingitan dimulai. Banyak peraturan yang sangat memberatkan dirinya.


"Calon pengantin jangan mengeluh terus."


Idaline membersihkan wajahnya dengan air yang dibawa Bejo. "Aku benar-benar tidak makan apa pun selain nasi dan air?" keluhnya.


"Karena Anda mengambil waktu tercepat. Kalau dua bulan masih bisa memakan buah. Sekarang tinggal sebulan lagi,"


"Apa yang bisa kulakukan di dalam kediaman selama sebulan?" andai ada hp, sambung Idaline dalam hati.


"Kami akan melakukan perawatan untuk Anda,"


"Kalau begitu aku harus berolahraga,"


"Tidak boleh keluar dari rumah. Anda sudah diberi kelonggaran tidak berdiam diri di kamar,"


Idaline mendelik. Bagaimana bisa ia hidup di dalam rumah bersama manusia-manusia patung yang sulit diajak bicara, apalagi melakukan hal lainnya?


Tetapi Idaline salah. Sebulan penuh ia melakukan perawatan dari pagi hingga sore hari. Dan di malam harinya wejangan-wejangan akan meluncur keluar dari mulut Bejo juga dayang-dayang yang sudah diam-diam mempelajari cara menjadi istri yang baik.


Mereka bahkan tak segan menggambar lukisan memalukan di kertas sepanjang satu meter.


••• BERSAMBUNG •••


© Al-Fa4 | 04 September 2021

__ADS_1


 


 


__ADS_2