TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]

TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]
066 - BERSAMA MAHARAJA JUGA MAHAPATIH


__ADS_3

"Yang Mulia.." Raut wajah dayang-dayang kamar Idaline dipenuhi kekhawatiran. Mereka mengetahui ketakutan terbesar Idaline itu.


Phobia Idaline terhadap cicak sangatlah besar, tidak satu ekor pun mereka biarkan berkeliaran di Kedaton Sedap Malam, meski hanya menempel di luar gerbang. Sekarang majikan mereka harus bermalam dengan ratusan cicak di dalam ruangan yang sama.


"Mandikan aku. Pakai semua sabun dan bahan terbaik!" Idaline memeluk tubuhnya yang gemetar.


Idaline membuang pakaiannya asal dan dayang membantu menyelimuti tubuh majikannya sambil menunggu air siap.


Tidak hanya mandi, Idaline juga melakukan serangkaian perawatan lainnya. Beruang kali minyak dan lotion menempel di tubuhnya. Tidak ia pedulikan kini banyak mata dan tangan menyentuh tubuhnya. Idaline hanya ingin sentuhan cicak itu hilang dari tubuhnya, meski ia sendiri tidak yakin apakah ada cicak yang menyentuhnya. Idaline hanya merasa terlalu jijik!


"Yang Mulia, ksatria pribadi Anda telah dikirim oleh Yang Mulia Maharaja," ucap dayang saat Idaline sudah berpakaian rapih.


"Suruh mereka masuk."


"Kami, Siji dan Loro, memberi salam kepada Yang Mulia Maharani. Semoga Anda selalu diberikan berkah," kata Siji bersimpuh di belakang perempuan yang sedang menatap kosong cermin.


"Kami dari pasukan rangga ditunjuk langsung oleh Yang Mulia Maharaja untuk menjadi ksatria pribadi Yang Mulia Maharani," tambah Siji.


"Kalian keluarlah," perintah Idaline pada dayang-dayangnya. Gadis-gadis itu menunduk lalu berangsur-angsur keluar.


Siji dan Loro saling melirik setelah tidak ada suara selama beberapa menit. "Haruskah kita keluar?" bisik Loro.


"Mas Agus, mas Agis, kenapa kalian baru muncul?" Wajah Idaline tertekuk membuat masker hitam di wajahnya retak.


Siji mengangkat kepalanya kala mendengar nama yang sudah lama tidak lagi mengudara. "Udel..?" panggilnya memastikan. Suara


"Loh, bukannya kamu sudah pulang?!" sungut Loro bangkit dari duduk bersimpuh.


"Tidak jadi. Kekuatannya kurang. Sampai sekarang belum terkumpul lagi," jelas Idaline menyingkat yang terjadi. Ketika dipikirkan ulang, Idaline merasa seperti ada yang terlewatkan.


"Lalu selama ini kamu di mana?" tanya Loro memegang bahu Idaline memeriksa kelengkapan anggota tubuh adik sepupunya. Ia mendengar maharani sangat lemah dan butuh perlindungan ekstra, ada pula yang mengatakan maharani adalah orang cacat.


Berani sekali mereka menggosipi ibu negara.


"Tidak. Tidak. Bagaimana kamu bisa jadi Maharani?" Loro meralat pertanyaannya.


"Haaa. Begitulah. Aku murid Petapa Agung lalu kalian tahu selanjutnya.." Idaline malas bercerita tentang masa yang belum lama berlalu itu. Ingin sekali ia kembali dan menyusun langkah agar rumah tangganya dengan Djahan dapat bertahan.


Idaline terdiam mendengar pemikirannya sendiri. Apa sekarang ia sudah menerima dunia ini sepenuhnya? Hidup di dunia ini dan berpisah dengan kedua orang tuanya? Dengan kedua adiknya? Dengan seluruh manusia yang berhubungan dengannya? Juga alat-alat elektronik yang biasanya tidak bisa ia tinggalkan lebih dari satu jam?


"Maharaja menginginkan statusmu," sambung Siji menyimpulkan.


"Bagus dong kamu bisa menikmati hidup," komentar Loro menaik turunkan alisnya menggoda adik kecil yang sudah dewasa.


Idaline menatap tajam Loro. "Sangat menikmati hidup sampai-sampai semalam aku tidur bersama cicak-cicak!"


Loro merekatkan mulutnya rapat-rapat. Udelia benci cicak dan entah kenapa tidak pernah ada satu pun cicak di rumah perempuan tersebut. Jadi ketika Udelia berkunjung ke rumah nenek mereka, gadis itu akan selalu was-was setiap sebelum duduk maupun berbaring.


"Kalian pasti lelah. Istirahat saja, aku tidak ingin kemana-mana."

__ADS_1


"Udel, kalau ingin apa pun katakanlah. Kami akan melakukannya." Loro berkata dengan serius. Ia bisa menangkap keberatan dari nada Idaline. Jika Idaline ingin bebas,  mereka akan memberikan jalan.


"Tidak perlu," singkat Idaline.


"Kami mohon undur diri," pamit Siji menyudahi perbincangan berbahaya itu. Walaupun tidak ada orang di dalam, telinga maharaja tetap saja tersebar dan tak kasat mata.


Siji dan Loro keluar dari kamar Idaline dan langsung disambut para dayang yang berjaga di depan kamar utama. Dayang-dayang itu membawa mereka ke tempat tinggal baru. Dayang tersisa kembali masuk dan berbaris menempel di tembok.


"Katakan pada pembawa pesan bahwa aku tidak senang dengan ksatria pribadi yang baru." Idaline berkata tanpa melirik. Sejujurnya ia masih canggung diawasi banyak orang apalagi kini sampai masuk ke dalam kamar. "Hayan pasti ingin memata-mataiku," batinnya.


"Baik, Yang Mulia."


"Ucapkan langsung di depanku," sela Hayan muncul di depan pintu.


Idaline menatap Hayan dari pantulan cermin. Bergegas ia bangkit dengan susah payah akibat pakaian dan perhiasan berbelit yang dipakaikan para dayang. Entah kenapa rasa takut pada Hayan kadang muncul dalam hati Idaline. Sering dalam benak Idaline muncul bayangan Hayan yang terlihat bagai malaikat pencabut nyawa dengan senyuman dinginnya.


"Hamba memberi salam kepada Yang Mulia Maharaja." Idaline merekatkan kedua tangan di dada dan menekukkan kedua lututnya ke depan dengan kaki kanan satu langkah ke belakang.


"Kenapa kamu tidak senang dengan ksatria Siji dan ksatria Loro?" tanya Hayan menuntun Idaline kembali duduk. Semua dayang pergi melihat kode dari gerakan tangan Hayan.


"Anda lebih tahu alasannya," jawab Idaline. Hayan ingin menekannya dengan orang-orang terdekatnya, bahkan akan menjadi lebih parah jika Hayan mengetahui hubungan mereka yang sebenarnya. Idaline tidak ingin melibatkan kedua sepupunya yang sudah memiliki kesempatan untuk memulai kehidupan yang baru.


"Padahal sangat baik ksatria pribadi sudah saling mengenal." Hayan melepas hiasan kepala Idaline.


"Tidak. Yang lain saja," tegas Idaline.


"Ibu Suri kabur. Tidak perlu memberi salam ke siapa pun," ujar Hayan meletakkan hiasan rambut terakhir. "Istirahatlah." Hayan berucap dengan lembut.


Sudut mata Hayan tertarik ke bawah, alisnya bertautan terangkat. Hayan menyesali kebodohannya mencemburui dua orang yang mengetahui adab lebih dari dirinya. Jika berlanjut, semuanya hanya akan kembali ke titik awal.


"Maafkan aku." Hayan mengecup pucuk kepala Idaline. "Selanjutnya tidak akan ada hukuman. Lakukanlah semaumu. Bertemu mahapatih pun tidak akan kularang."


"Apakah ini janji maharaja?"


"Ya. Maharaja ini berjanji padamu." Hayan menempelkan pipinya di pucuk kepala Idaline, ia belai sayang bahu polos Idaline.


"Bodoh," gumam Idaline. Ia menggenggam tangan Hayan dan bersandar pada dadanya. "Percayalah padaku." Idaline menutup matanya tertidur.


"Maaf." Hayan mengangkat tubuh Idaline yang lelah karena aktivitas membersihkan diri memakan waktu berjam-jam sedari hari masih gelap.


••••••••••••••••••••


"Makanlah."


"Tidak. Aku masih sangat mual," tolak Idaline menjauhkan mulutnya.


"Maharaniku tidak sarapan dan tidak makan siang. Sekarang makan malamlah!"


"Tidak. Teh panas saja cukup." Idaline mengusap gelas dengan kedua tangannya, memindahkan kehangatan gelas ke tangannya yang dingin.

__ADS_1


"Kemarin kenapa datang ke Bale' Ndamel?" tanya Hayan dengan suara lembut.


"Aku sudah sembuh dan ingin mulai bekerja, saat menunggu ada cicak jatuh ke kepalaku lalu berlari masuk ke dalam pakaian."


"Besok akan dibersihkan. Tugas maharaniku cukup membantuku di Bale' Ndamel dan hiaslah kedaton-kedaton agar lebih segar. Kedaton para bhre akan dikosongkan setelah mereka menikah."


"Mereka akan menikah?" tanya Idaline. Cinta pertama ketiga perempuan itu kandas di tengah jalan. Memang tahta dan kecantikan belum tentu melanggengkan sebuah hubungan.


Idaline bangga terhadap sikap ketiganya yang tidak menggunakan status yang mereka miliki. Semua cerita cinta ketiga pasangan itu berlalu seperti arus air yang tenang. Saling mencintai dan berpisah karena kesepakatan bersama.


"Ya. Netarja akan menikah tengah tahun ini, pahing kelima bulan Kapitu. Sudewi dan Indudewi akan mengabarkan di hari perayaan."


"Senang mendengarnya."


"Maharaniku ingin pakaian baru?" tawar Hayan. Maharaja yang baru menaklukkan beberapa wilayah itu teringat berbagai motif dan jenis kain yang baru dilihatnya.


Idaline berpikir sejenak. Setelah memutuskan tinggal di Keraton, Hayan membelikan banyak kain baru yang disesuaikan dengan pakaian lama Idaline. Tentu saja Idaline menerimanya dengan senang hati.


Tetapi bahagia itu tidak berlangsung lama, Hayan membuat rumah khusus dan menempatkan seluruh pakaian Idaline di sana, persis seperti sebuah butik. Idaline menjadi pusing ketika memilih pakaian, semuanya terlihat cocok.


Hal berlebihan terkadang memang kurang baik.


"Masih banyak yang belum terpakai," jawab Idaline.


"Ada yang Maharaniku inginkan? Misal kebebasan?"


Idaline menggebrak meja. "Cukup bercandanya!" sentak Idaline. "Apa sih yang kamu mau? Tidak cukupkah menarikku masuk ke dalam keraton?"


"Aku terus menerus melakukan kesalahan," lirih Hayan.


"Katakanlah yang jelas, Hayan. Pertama kamu menarikku masuk seolah hanya ingin statusku tetapi kamu menahanku, lalu kamu datang setiap hari seperti dahulu bak tidak ada yang terjadi di antara kita, kemarin kamu marah-marah tanpa mendengarkan penjelasan, sekarang berkata ingin membebaskanku? Kalau seperti itu harusnya jangan buat aku terikat!"


Idaline menarik napas panjang. "Sebelumnya keluarga Sapta. Apa sekarang kamu ingin menekan keluarga Mada?"


"Maharaniku sangat cerdas. Tapi aku benar-benar mengizinkan jika maharaniku ingin pergi."


"Katakan, Maharaja," desak Idaline. Hayan bukanlah orang yang akan melepas buruannya begitu saja. Jika melepaskan buruan pasti ada yang lebih baik atau buruan itu dilepas untuk memancing sesuatu.


"Aku hanya menginginkan Maharani bahagia," ucap tulus Hayan yang tidak terdengar tulus di telinga Idaline.


"Baiklah. Kalau begitu aku ingin bersama dengan Mahapatih dan tetap bersama dengan Maharaja," tantang Idaline.


"Aku ingin bersama Maharaja juga Mahapatih," tegas Idaline.


Hayan tersenyum. "Aku akan memperbolehkan Mahapatih datang ke Keraton Capuri." Hayan menuangkan tetes terakhir teh di dalam teko. "Setidaknya aku ada dalam benakmu," batin Hayan berseru senang.


••• BERSAMBUNG •••


© Al-Fa4 | 08 Oktober 2021

__ADS_1


 


 


__ADS_2