![TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz--berpindah-ke-zaman-keemasan-.webp)
••••••••••••••••••••
"Yang Mulia, kenapa Anda malah bersantai di sini?"
Setelah beristirahat yang cukup, Bejo sekilas melihat orang di dalam kamar Idaline dan ternyata pemilik kamar sedang selonjoran dan menghabiskan berbagai macam camilan.
Piring-piring kosong berserakan di atas meja dan pakaian yang sama turut membuatnya yakin, Idaline belum beranjak dari sana sejak pagi hari. Padahal jadwal semakin ketat.
"Pangeran sedang ada kelas. Nanti kalo senggang saya akan berkunjung." Idaline menikmati camilan sambil membaca buku yang dipinjamnya dari perpustakaan.
"Kalau saya ingat-ingat, kenapa Anda tidak pergi ke kelas hari ini?" Bejo tidak bisa langsung menuduh Idaline tidak masuk kelas.
Menuding langsung wajah anggota keluarga kerajaan adalah kesalahan fatal meski kelakuan salah mereka terlihat jelas di pelupuk mata.
"Saya keluar dari kelas seni."
"APA?" teriak Bejo tanpa sadar. "Yang Mulia, seni itu jiwanya wanita, wajib dikuasai wanita."
"Seni itu bukan bidangku. Bibi tau sendiri, tulisan tanganku saja jelek apalagi lainnya." Idaline bisa menulis alfabet seperti ketikan sebuah mesin komputer, namun aksara jawa sangatlah sulit. Setiap hurufnya terlalu meliuk-liuk.
"Tapi Yang Mulia, kalau Anda tidak bisa seni, bagaimana dengan kehidupan Anda selanjutnya? Anda akan sulit mencari jodoh." Bejo mengelus kepala Idaline.
Para pria menyukai wanita yang lembut dan indah. Seni bisa menunjukkan keduanya.
"Oh tenang saja bi, saya akan menikah dua bulan lagi."
Karena ingin keluar dari pembicaraan, Idaline lupa bahwa dia akan membatalkan pernikahan itu. Idaline merutuki otaknya yang tidak mencari jalan lain dan malah pergi ke jalan buntu.
"Anda akan menikah? Kenapa tidak memberitahu? Dua bulan itu waktu yang sangat singkat untuk bersiap."
"Saya tidak ingin menyebarkannya karena usia kami terpaut jauh." ucap Idaline dengan suara kecil.
"Memangnya berapa?"
Idaline menggerakkan tangan menyuruh Bejo mendekatkan telinganya. "Dia setidaknya dua puluh tahun." bisiknya di telinga Bejo.
"APA?"
"Hust. Bi, jangan berteriak."
"Ehm." Bejo berdehem menyembunyikan malunya diperhatikan para dayang.
Ia selalu memperingatkan semua orang akan tata krama, tapi begitu mendengar berita mengejutkan, ia malah berteriak.
Sudah begitu ini kali kedua hari ini Bejo berteriak.
Entah kejutan apalagi yang belum Idaline katakan yang akan membuatnya berteriak lagi.
"Yang Mulia, usia itu terlalu jauh. Batas maksimal perbedaan bangsawan untuk menikah adalah sepuluh tahun, kecuali kalian adalah sepasang duda dan janda. Ini untuk menghindari bercampurnya generasi." jelas Bejo.
"Ada hal seperti itu?" Idaline selalu berpikir tidak ada batasan usia menikah di zaman ini. Bahkan menikah dengan hewan tidak akan ditertawakan.
"Menikah dengan hewan? Ih gada otak. Tapi semua itu kan hanya spekulasi orang modern. Belum pernah kuliat sampe sekarang. Yang ada adalah nona cantik dan suami tuanya~"
Terkadang teori hanyalah sebuah spekulasi tanpa dasar dan terkadang penemuan hanyalah sebagian yang terjadi di satu tempat, di satu masa, tidak bisa benar-benar menjelaskan yang sesungguhnya terjadi kecuali datang berita dari Yang Maha Kuasa.
Setiap kekuasaan berganti, banyak yang menyembunyikan kejayaan masa lalu agar tidak terancam. Ada pula yang membesar-besarkan satu kejayaan kecil di masa lalu agar tetap bertahan menggunakan identitas mereka.
Mempermainkan sejarah dan mengaburkannya, banyak orang jadi enggan membuka buku sejarah.
Maka beruntunglah kaum yang masih menyimpan rapih sejarahnya, tidak menyembunyikan hitam dan merah meski tinta emas lebih dominan di dalamnya.
"Iya. Karena biasanya bangsawan rendah akan menjual anak dari selir untuk dinikahkan dengan kepala keluarga bangsawan yang lebih tinggi, di mana kebanyakan mereka sudah memasuki usia senja." terang Bejo.
"Akhirnya ketika kepala keluarga bangsawan mangkat, anak dan selir mudanya saling berebut kekuasaan dan menciptakan ketidakstabilan untuk kerajaan." imbuhnya.
Idaline mangut-mangut, orang yang membuat peraturan melihat jauh ke depan.
"Tapi kalau sudah memiliki izin ratu, bisa kan?"
"Tentu saja, ucapan Yang Mulia Ratu lebih tinggi dari peraturan yang ada. Jangan bilang Anda mau meminta pada Yang Mulia Ratu?" tebak Bejo. Gadis di depannya sangat mudah dibaca.
"Benar! Apa sekarang Ibu Ratu sedang bersama suaminya?"
"Seharusnya beliau ada di Bale' Ageng. Anda tunggu saja di Bale' Ndamel."
"Bantu aku bersiap." Idaline menjulurkan tangannya ke arah dayang. Mereka menuntunnya berdiri dan duduk, Idaline bagai boneka yang tidak boleh bergerak, hanya bisa menerima berbagai riasan di sekujur tubuhnya.
__ADS_1
"Anda benar-benar melakukan apa pun untuk cinta Anda." Bejo terharu melihat Idaline yang sedang dirias.
Sudah kepalang basah, sekalian saja Idaline mencoba. Toh sebenarnya usia mereka tidak terlalu jauh, dirinya bahkan lebih tua.
Mungkin ia bisa memulai simulasi pernikahan sebelum kembali satu bulan setelah hari pernikahan dan melakukan pernikahan sesungguhnya sebagai Udelia.
Wajah Idaline memerah memikirkan malam pertama. "Ehm. Ehem. Ehm." dehamnya menetralkan pikiran.
"Sudah selesai, Yang Mulia."
Idaline menatap dirinya di kaca buram, kepalanya sangat berat memakai berbagai riasan yang diberikan ratu sewaktu ia mendapatkan gelar Paramudita dan perhiasan-perhiasan tambahan saat mulai tinggal di istana.
"Mari, Yang Mulia."
Idaline menuju Istana Ageng, tempat Aula Arjwa untuk pesta berada, juga Bale' Ageng untuk mendengarkan laporan para mentri.
Dan di sana ada Bale' Ndamel, ruang kerja ratu dan para mentri tinggi di kerajaan. Beberapa kali Idaline pergi ke sana kala Djahan memanggilnya, namun ruang kerja ratu berada di bangunan terdalam, ia harus sedikit berjalan lebih jauh.
Idaline berhenti di depan Bale' Ndamel lalu turun dari tandu dibantu dayang-dayangnya.
"Selamat datang, Yang Mulia Raden Ajeng. Yang Mulia Ratu sudah menunggu." ucap dayang Bale' Ndamel yang menjemput mereka.
Keluarga kerajaan, pangeran, tuan putri, dan raden ajeng maupun anak selir yang tinggal tidak memberi salam sebelum usia dewasa.
Biasanya ratu, istri raja, akan menerima salam pagi dari para selir, namun suami ratu yang sekarang tidak memiliki selir dan karena ratu bertugas sama dengan raja-raja sebelumnya yang salah satunya adalah memimpin rapat harian, jadi tidak ada salam pagi.
Idaline berjalan dengan hati-hati, bukan hanya aksesoris kepalanya yang berat, pakaiannya juga diganti dengan kain jarik yang menjuntai yang tak ketinggalan perhiasan di pergelangan tangan, lengan, bahu, leher, dada, perut, dan berbagai ikat pinggang yang hiasannya menggantung sampai ke lutut.
Dan selendang besar yang menutupi bahunya hingga jatuh ke tanah menambah kewalahan dirinya.
Kini dirinya sedang bersimpuh dengan semua kerepotan itu.
"Ananda memberi salam pada Ibu Ratu."
"Bangunlah nak lalu duduklah di kursi."
Dengan sigap dayang yang berdiri di pojokan membantu perhiasan berjalan itu.
Idaline ingin memakai kebaya agar lebih nyaman, namun harus bersabar masih menunggu satu era lagi.
Idaline diberikan kebaya oleh ratu di pesta pangan adalah untuk memberitahu kedudukannya pada khalayak dan untuk mengukuhkan kedudukannya.
Setelah itu Ratu menetapkan kebaya sebagai pakaian menerima penghargaan.
Idaline terkena syok berat ketika sedang bersantai di taman dan tak sengaja melihat salah seorang mentri laki-laki memakai kebaya perempuan untuk menerima penghargaan.
Ia harus mengusulkan pakaian yang benar.
Idaline menggeleng pelan menghilangkan ingatannya yang baru terjadi kemarin sore. Jika diteruskan ia akan tertawa terbahak-bahak.
Matanya menangkap Hayan yang sedang duduk di kursi tamu. Otaknya malah traveling membayangkan anak lelaki itu memakai kebaya perempuan.
"Terima kasih Ibu Ratu." Idaline duduk di kursi sebelah Hayan sambil mengulum senyum.
"Aku dengar kamu memiliki permintaan." ucap ratu setelah dayang menuangkan teh pada gelas-gelas yang kosong dan pergi meninggalkan mereka.
Idaline sedikit membungkukkan badannya ke depan memberi hormat pada ratu. "Orang tua ananda menjodohkan ananda sejak kecil."
"Oh benar, ibu hampir lupa. Jadi kapan kalian akan menikah?"
"Dua bulan lagi."
"Oh masih dua– bulan lagi?!" Ratu meletakkan kuasnya kemudian menatap intens Idaline. "Kenapa aku belum mendengar ini?"
"Ibunda dan ayahanda baru berniat memberitahu Ibu Ratu saat akan ke sini." karang Idaline. Dan memang begitu kenyataannya.
Ratu terdiam. Itu adalah saat di mana Idaline dan kedua orang tuanya menuju ke Keraton kemudian dalam perjalanan diserang oleh bandit.
Tapi para bangsawan masih berspekulasi bahwa bandit itu adalah pembunuh bayaran yang berencana menyerang ratu yang saat itu ingin berlibur ke Janapada.
Di saat ratu dan rombongan akan berangkat, orang tua Idaline mengirim surat rahasia bahwa mereka akan datang membawa barang baru dari kebun mereka, kemudian terjadilah peristiwa itu.
"Apa ada yang belum siap?" tanya ratu menahan emosinya.
Agni adalah sosok yang tulus padanya. Menemaninya selalu dan menjauhkannya dari bahaya bahkan sebelum ia menyadari ada bahaya di sekitarnya.
Padahal ketika itu meski dirinya seorang tuan putri, semua aktivitasnya dibatasi termasuk harta dan waktu yang dimiliki.
__ADS_1
Agni tetap saja berkunjung walau tidak mendapat apa pun. Sahabatnya itu malah lebih sering membawakan barang-barang dari luar yang hanya bisa ia lihat dari kejahuan.
Ia sudah siap menerima risiko jika Agni ternyata memiliki maksud terselubung. Tapi sampai akhir hayatnya, Agni tidak pernah meminta apa pun.
"Belum."
"Apa yang belum?"
"Semuanya." Idaline tersenyum sumringah. Ia bangkit lalu bersimpuh di depan meja kerja ratu.
"Ananda datang bukan untuk masalah itu, Ibu Ratu. Ananda mau mengadakan yang biasa-biasa saja. Ananda datang karena peraturan yang baru ditetapkan akhir-akhir ini bahwa gadis bangsawan dilarang menikah dengan yang berjarak lebih dari sepuluh tahun."
"Memang berapa umurnya?"
"Dua puluh tahun."
"Baiklah. Ibu Ratu akan mengizinkan kalian." ratu membunyikan gong kecil di mejanya menyuruh dayang mengambil dekret kemudian ratu menorehkan tinta emas di sana.
"Tapi Ibu Ratu. Karena belum lama diterapkan, Anda belum boleh memberikan kelonggaran." cetus Hayan yang sedari tadi diam memperhatikan interaksi keduanya.
"Tidak apa-apa kalau untuk keluarga Agni, semuanya pasti paham."
Ratu mengeringkan dekret dan melayangkannya ke depan Idaline dengan kekuatan.
"Terima kasih Ibu Ratu." Idaline mengambil dekret itu dan duduk kembali saat ratu menggerakkan tangan menyuruhnya duduk di kursi.
"Siapa nama calonmu?" tanya Hayan pada gadis di sebelahnya.
"Nandana."
"Katakan pada Kripala Mihir untuk menyiapkan pesta pernikahan Raden Ajeng di Janapada dengan meriah." Perintah ratu memberikan kertas pada dayang.
"Tapi Ibu Ratu, ananda tidak mau terlalu menggemparkan."
"Tenang saja."
Idaline menyesal berbicara dengan jujur pada ratu. Pernikahannya akan diketahui seantero Janapada bahkan mungkin seantero kerajaan.
Seharusnya ia tidak mengatakan waktunya dengan jelas lalu mempersiapkan semuanya diam-diam dan mengundang para tamu di hari-hari terakhir menjelang hari H.
Dengan begitu tidak akan ada waktu yang cukup bagi orang luar untuk mencampuri pernikahan impiannya.
••••••••••••••••••••
"Yang Mulia, hamba sudah memeriksanya."
Hayan menerima kertas yang disodorkan pengawal bayangannya. Ia menautkan alis tak percaya pada informasi di dalamnya.
"Hamba memeriksa dengan teliti." kata pengawal bayangan menyadari ekspresi Hayan.
"Katakan pada penjaga untuk memperbolehkan Raden Ajeng keluar dari Keraton jika Raden Ajeng berniat keluar."
Tanpa sepengetahuan ratu, Hayan memblokir tiap jalan yang coba dilewati Idaline termasuk bila ia beralasan ingin menengok makam kedua orang tuanya.
Tidak ia izinkan satu kali pun Idaline keluar Keraton.
"Baik, Yang Mulia."
"Kamu adalah tawanan di Keraton ini, berani berpikir untuk kabur?"
Setelah menikah, anggota keluarga kerajaan tidak akan lagi tinggal di Keraton kecuali penerus tahta.
Jika tali telah terikat, Hayan tidak bisa leluasa menyentuh Idaline apalagi calonnya dilindungi akademik.
Tidak bagus membuat perseteruan antara akademik dan keraton.
"Sebagai pangeran, aku harus berbahagia dengan pernikahan saudari angkat dan harus memberi hadiah besar kan?" Hayan mengangkat sudut bibirnya saat membakar kertas laporan prajurit bayaran.
•••BERSAMBUNG•••
© Al-Fa4 | 25 Juli 2021
Jangan lupa like dan komen yaa
Terima kasih banyak atas vote dan hadiahnya
Lop u all
__ADS_1