![TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz--berpindah-ke-zaman-keemasan-.webp)
"Kalian para wanita benar-benar menggunakan berbagai cara untuk naik ke ranjang pria tanpa memikirkan akibat yang akan terjadi! Wanita itu benar-benar pendek akal!"
"Hei bung apa yang kau bicarakan?" Idaline duduk memperhatikan pria yang seumuran dengan Sirang. Wajahnya tampak begitu marah namun Idaline tidak merasakan ancaman dari wajah garang yang menekuk kusut itu.
"Ha!" Pria itu menyisir rambut depannya yang terurai. "Apa kamu tidak paham kalau berita tentang mahapatih membawa seorang gadis masuk ke dalam kamar menyebar di kalangan bangsawan, apa yang akan terjadi?"
"Kalau ingin mengomel lebih baik peringati para pekerja agar giat bekerja." Idaline berbalik dan berbaring memunggungi lelaki itu.
Tiba-tiba sebuah tangan kekar menarik lengan Idaline hingga ia terbangun, pandangannya buram karena tidak siap menegakkan kepala secara mendadak, dan tangannya yang seputih susu memerah karena dicengkram terlalu erat.
"Apa yang kamu lakukan?!"
"Kalau memahami ucapanku, harusnya kamu pergi."
"Apa begini caramu menangani pasien?"
"Kamu hanya berpura-pura. Seluruh wanita hanya tau tipu muslihat. Pemilik kediaman ini sedang pergi, lebih baik tamu juga meninggalkan kediaman yang tidak bertuan."
"Otakmu sepertinya bermasalah ya!" Idaline memutar tangannya hingga ibu jarinya sejajar dengan kuku-kuku besar nan panjang itu dan dalam sekali tarikan melepaskan tangannya dari cengkraman lelaki itu.
"Aku tidak tahu kalau pengawal kediaman ini sangat berani pada tamu tuannya." tambah Idaline mengusap pergelangan tangannya.
"Aku tidak tahu cara apa yang membuat mahapatih membawamu ke kediaman ini. Tapi langkah selanjutnya tidak akan aku biarkan." balas si pria.
"Orang ini sepertinya punya masalah kejiwaan." Idaline membuka selimutnya dan turun dari ranjang.
Ia tahu selama Djahan menghilang, lelaki itu membawa beberapa anak malang yang kemudian dibimbing olehnya.
Mungkin orang yang berani masuk ke dalam kamarnya adalah salah satu dari beberapa murid yang diangkat langsung oleh Djahan.
"Aku datang ke sini karena khawatir Indra akan membuat masalah. Kamu tidak perlu datang juga, Loro." ucap Siji pada Loro yang ikut berjongkok di sebelahnya.
Mereka berdua sedang bersembunyi di atas atap dan mengintip dari cela genting yang sengaja dibiarkan terbuka untuk masuknya cahaya.
"Padahal hukuman kita belum selesai. Takutnya Indra ini akan membuat masalah." kata Loro berbisik.
"Siapa yang tidak terganggu jiwanya kalau mengetahui dia telah dilecehkan saat masih kecil?! Apalagi dia tahu ketika sedang dijebak oleh wanita ular yang berusaha merangkak naik menjadi seorang bangsawan!"
"Wah dia menceritakan hal itu." komentar Loro.
"Apa Indra ini sangat mempercayai Raden Ajeng?" tanya Siji.
"Sepertinya Indra berpikir gadis kecil itu adalah calon nyonyanya. Manis sekali~" Loro terkekeh pada pemikirannya sendiri.
Djahan memang tertarik pada Idaline, namun bagaimana mungkin tuannya menyukai anak yang terpaut jauh usianya?
Idaline yang mendengar ucapan Indra merasa paru-parunya penuh dengan udara. Ia membuka mulutnya berusaha bernapas dengan normal.
Samar ada bayangan yang melintas dalam kepalanya.
Setajam apapun ingatan seseorang, jika itu adalah ingatan yang terdeteksi berbahaya bagi diri seseorang, secara paksa otak akan mencoba melupakannya atau membuangnya jauh-jauh.
Idaline merasakan kebencian yang sangat kuat menyeruak dalam hatinya begitu ingatan-ingatan yang terputus saling menyambung.
Ia pegang dadanya berusaha mengambil napas dengan benar.
Indra terkejut melihat reaksi Idaline.
Orang yang berada dalam situasi ini seharusnya marah karena ketidakjelasan ucapannya atau berbicara lembut dan memberikan wejangan sambil mencoba menenangkan.
Namun Idaline menunjukkan respon yang berbeda.
Atau sebenarnya ia tahu sejak memperhatikannya di dalam keraton?
Bahwa dalam mata bulat penuh tekad itu, dalamnya terlihat sama seperti miliknya.
Menyimpan rahasia kelam yang tidak mampu untuk sekedar diingat.
"Nona? Nona? Hei jangan bercanda!" ucap Indra berulang-ulang bingung akan yang terjadi.
Bukankah seharusnya mereka berbagi bersama?
__ADS_1
Kebencian, ketakutan, dan trauma mendalam penuh di dalam relung hati Idaline.
Napasnya terasa makin sedikit yang masuk ke dalam tubuh.
Wajah dua orang yang terlihat jelas meski latarnya adalah langit siang membuatnya bergidik dan makin sulit bernapas.
Indra yang mencoba menenangkan Idaline terpental begitu dua aura kuat muncul dari tubuh Idaline.
Cahaya putih yang berlainan besar sinarnya keluar dan dengan cepat membentuk dua bayangan berbeda lalu kaki keduanya menapak di tanah.
"Wah pak tua, kalau mereka tahu nona Idaline bukan hanya menerima auramu tapi juga jiwamu, apa yang akan mereka lakukan ?"
"Jika tidak ingin membantu, kenapa kamu keluar dari tubuhnya?" ketus Fusena.
"Pemilikku sedang merasakan sakit yang luar biasa, mana bisa aku diam saja?"
Mengabaikan si harimau, Fusena mendekat pada Idaline dan mencoba mengobati jalur pernapasannya. "Tubuhnya tidak ada yang terluka."
"Kejadian apa yang sampai membuatnya seperti ini? Padahal berhadapan denganku saja tidak ada keraguan di matanya." Harimau putih berpikir dengan keras.
Fusena menghela napas, ia tidak pernah mendengar Udelia mengalami hal-hal sulit semasa ia hidup di sana.
"Apa setelahnya?" terka Fusena membenarkan posisi Idaline agar mudah bernapas.
"Mbakyu, ini aku. Sena. Ingatlah aku, ingatlah kedua orang tuamu, ingatlah orang-orang yang sayang padamu."
"Sena..? Orang tua..? Yang sayang padaku? Haha mana ada orang yang sayang padaku,"
Melihat napas Idaline sudah mulai normal namun pandangan matanya kosong, Fusena menaruh telapak tangannya di dahi Idaline.
Ia terkesiap melihat ada dua pribadi dalam jiwa Udelia.
Satunya dirantai dengan setengah rantai masih terikat dan lainnya berusaha mengikatnya kembali.
Fusena merasakan kesedihan yang sangat mendalam pada diri yang sedang dirantai itu.
"Katakan! Apa aku benar-benar sendiri di dunia ini?" tanya Udelia yang sedang dirantai.
"Mana mungkin, apa kamu tidak ingat kejadian itu?"
"DIAM!!!!!"
"Pada akhirnya rantai ini akan terlepas. Kenapa tidak kamu terima saja bahwa tidak ada yang menyayangimu apalagi mencintaimu sejak kejadian itu hingga sekarang?"
"Tidak. Tidak. Tidak. Ucapanmu bohong. Ingatan itu juga pasti bohong."
"Coba ceritakan." Fusena tidak tahu apa yang sudah dialami Udelia hingga kesedihannya tumbuh sebesar rasa cintanya.
Bukan merupakan hal baik jika kesedihan sama besar dengan kebahagiaan.
Nyatanya manusia akan condong ke kesedihan itu dan terpuruk.
Maka diperlukan rasa cinta, rasa bahagia yang lebih besar.
Bola mata putih tanpa iris dan pupil bergerak ke samping mendengar ucapan penyusup. Ia mendelik lalu berucap,
"Bagaimana bisa kalian tidak tahu kejadian itu?! Padahal itu terjadi tepat di depan mata! Terjadi di alam terbuka!"
"Bagaimana bisa ibu-ibu itu malah asik bercengkrama sambil mencuci?!"
"Bagaimana bisa jarak sungai yang hanya lima belas meter tidak bisa membuat dua kakak sepupu melihatku bersama dua temannya?!"
"Bagaimana pula tukang perahu menegur dengan ragu kelakuan bejat mereka?!"
"Tidak ada yang peduli denganku! Saat itu dan terus hingga kini!"
Si hitam mengatur napasnya yang tersengal kemudian melanjutkan,
"Kenapa kakek saat itu tidak ikut?!"
"Kenapa kedua orang tua yang biasa kujadikan tempat curhat tidak bertanya akan diamnya aku selama tiga hari tiga malam?!"
__ADS_1
"Ah kenapa mereka meninggalkanku ketika aku sakit dan hanya meninggalkan makanan yang tidak bisa orang sakit makan?!"
"Teman-temanku hanya peduli pada kecerdasanku dan tidak pernah mengajakku keluar!"
"Guru-guru menuntut ini dan itu padahal mereka tidak tahu aku tidak punya teman saat jam istirahat!"
"Aku tidak mengerti kenapa kamu menyalahkan mereka. Aku hanya ingin sendirian." timpal Udelia yang memiliki cahaya kuning.
"Kamu itu sangat bodoh. Kenapa kamu selalu sendirian dan kenapa harus kamu yang memulai jika ingin bersama?"
"Padahal kamu sendirian di pojok karena takut pada mereka. Kamu tidak percaya pada mereka."
"Bahkan kamu mulai tidak percaya pada diri sendiri ketika lama sendirian."
"Aku yang memilih sendirian. Kamu jangan terus menyalahkan yang lain. Ini salahku yang tidak pandai bergaul." ucap santai Udelia yang terbebas memunculkan gembok di tangannya.
"UDELIA! Kamu tidak bisa bergaul karena tidak percaya pada siapapun, karena saat kamu digunakan oleh dua teman sepupumu, orang-orang di sekitar ramai, tapi tidak ada yang peduli. Kamu takut pada semuanya."
"Bahkan tukang perahu itu tidak melakukan apa pun begitu pula penumpangnya yang melihat kejadian itu dengan sangat jelas!"
"Tukang perahu itu merasa biasa-biasa saja setelah melihatmu satu pekan kemudian kembali berenang di sungai!"
"Tidak! Tidak mungkin! Aku tidak mungkin ternoda. Kamu jangan terus mengatakan kebohongan!" tolak Udelia yang memiliki cahaya kuning yang perlahan bercampur warnanya dengan cahaya oranye.
"Kalau aku mengatakan kebohongan, kenapa saat telat satu bulan di awal kamu mulai datang bulan, kamu meminum banyak obat sakit kepala? Untung saja saat itu aku. tidak. mati." tekan Udelia yang memiliki aura hitam di sekitarnya.
"AKU TIDAK PERNAH MELAKUKAN HAL HINA!"
"Iya. Tidak pernah. Tapi mereka berdua memaksamu."
Rantai pada tubuh hitam terlepas dan ia akhirnya bebas setelah puluhan tahun terikat di sudut yang tidak bisa dijangkau oleh ingatan.
Fusena mencoba melindungi Udelia yang bercahaya, tapi ternyata Udelia yang hitam suram itu meloncat masuk ke dalam danau.
"Mbak! Sadarlah!" ucap Fusena melihat tubuh yang memancarkan kebahagiaan berubah cahayanya menjadi oranye redup hingga menghitam diselimuti gelapnya kesedihan.
Fusena membuka matanya. Ia diam memperhatikan Idaline yang terus menangis dalam tidurnya.
"Ada apa pak tua?" tanya harimau putih. Fusena tetap diam memperhatikan wajah Idaline tidak menggubris pertanyaan harimau putih.
Idaline membuka matanya dengan lemas. Hari telah gelap saat ia melihat jendela yang tidak ditutup.
Di sisi kepalanya ada Fusena masih berdiri diam memperhatikannya dan ada harimau putih yang juga menatapnya.
Idaline merasa sangat marah dan juga ingin menangis, ia teringat semuanya.
"Ceritakan, mbak. Jangan terus dipendam."
"Hei pak tua, kau tidak lihat air muka Idaline?" tegur harimau.
"Kalau dipendam akan terus menimbulkan sakit mental yang lain. Tidak perlu takut, hanya kita berdua di sini."
"Wah kamu tidak menganggapku ya."
"Apa maksudmu? Aku berkata hanya ada kita berdua yang mendengarkan."
"Oh." Harimau itu tidak menyangka dirinya dianggap ada. Biasanya si pak tua tidak peduli segala hal kecuali melakukan yang berpengaruh untuk banyak khalayak.
"Tapi aku merasa banyak hawa manusia dengan keraguan di luar." Harimau khawatir jika ini adalah pembicaraan rahasia, manusia-manusia itu akan mendengarnya.
Di depan pintu, para dayang dan Indra juga beberapa tabib berkumpul tidak dapat memaksa masuk.
"Biarkan saja. Mereka tidak akan mendengar."
"Kamu ini berkembang apanya, masih saja tidak mengerti." rutuk Idaline sambil menutup matanya dengan siku mencoba mengalihkan pikirannya yang terus teringat kenangan yang seharusnya sudah ia lupakan.
"Jangan memaksanya terus." kata harimau putih menasehati.
Sedetik kemudian Idaline, Fusena, harimau putih, dan orang-orang di luar rumah terkejut melihat pelindung yang dibuat Fusena tiba-tiba retak. Terdengar pula suara pintu diterobos paksa.
"Jangan."
__ADS_1