![TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz--berpindah-ke-zaman-keemasan-.webp)
Seorang pemimpin besar menyembunyikan seorang putra tentu saja untuk keselamatan putranya sebagai pewaris tahta.
Kematian putra pertama Prabu Lingga Buana ketika bayi memang meninggalkan ribuan pertanyaan dalam benak orang-orang yang berada di dalam maupun di luar Kerajaan Galuh.
Termasuk Gitarja yang saat itu datang berkunjung.
Bayi mungil itu mati dengan tubuh penuh lebam. Tidak mungkin ada seseorang yang berani menyentuh putra penguasa Kerajaan Galuh yang kala itu menjadi Kerajaan terbesar di Jawa Dwipa.
Kecuali dia yang memiliki dendam kesumat sampai-sampai cara membunuhnya sungguh keji. Seorang bayi yang belum membuka mata menerima sedemikian banyak luka dan siksaan.
Menyembunyikan seorang anak untuk keselamatannya merupakan hal mulia.
Tetapi bila terus dilakukan sampai kemudian menikahkan anak perempuannya yang ditunjuk sebagai Putri Mahkota dengan penguasa lain..
"Ini berarti Sang Prabu ingin menjadikan putranya sebagai penerus!" batin Sapta Prabu satu suara.
Bila tidak menginginkan putra itu sebagai penerus, Prabu Lingga Buana tidak perlu menyembunyikan rapat-rapat sebab Citra Resmi dan Citra Resi saja tumbuh dengan baik.
"Karena itulah mereka menyembunyikan putra bungsu Prabu Lingga Buana. Penyatuan yang kalian harapkan tidak akan terjadi karena Prabu Lingga Buana menurunkan tahtanya pada sang putra," kata Hayan memberikan kertas laporan.
Di sana tertera berita pengangkatan Raja baru Kerajaan Galuh dalam waktu sepekan setelah pernikahan Hayan dan Resmi.
Saat itu terjadi Bhumi Maja masih melangsungkan pesta sedangkan Kerajaan Galuh sudah memiliki Raja yang baru.
"Suku Sunda tidak akan tunduk pada suku lain oleh karenanya tidak peduli meski Maja sudah agung, mereka tetap mempertahankan daerah kekuasan mereka dengan segenap jiwa dan raga. Pernikahan ini sangat menguntungkan wilayah mereka, sedang kita hanya mendapat seorang putri," ucap Boco menyimpulkan.
Putri Mahkota menjanjikan daerah kekuasaan Kerajaan Galuh sebagai bukti kepatuhan seorang istri terhadap suami.
Tapi bila putra Prabu Lingga Buana langsung menjadi Raja, kekuasaan Putri Mahkota tidak akan berarti lagi.
Hayan mengangguk membenarkan ucapan kakek dari Candra Ekadanta itu.
"Bagaimana bisa mereka yang memiliki harga diri yang begitu tinggi, Putri Mahkotanya berjalan ke arah kita?" pancing Hayan.
"Memata-matai. Sementara sang putri di Bhumi Maja, adiknya memperluas kekuasaan di Barat," jawab Arsa Wistara.
"Yang Mulia, semua ini baru dugaan. Tuhan tidak akan mengampuni jika kita melakukannya pada orang yang tidak bersalah," timpal Baga Sapta.
Anggota baru Sapta Prabu itu tidak percaya dengan segala ucapan dan kertas-kertas yang berada di atas meja.
Baginya semua pembicaraan ini hanyalah upaya untuk mencari pembenaran.
"Saya memiliki mata dan bukti." Hayan menepuk tangannya sekali lalu datang beberapa orang membawa barang-barang bawaan Kerajaan Galuh.
Yang paling mencolok adalah kotak besar yang dipanggul oleh dua orang dan dijaga di sisi kanan dan kirinya.
"Bulu, kertas, burung, dan kotak. Ini semuanya adalah bawaan mereka. Memang burung merpatinya jenis yang dapat terbang dengan sangat cepat. Namun saya tidak mengerti?" ujar Madhu yang memperhatikan dan mengingat dengan jelas seluruh barang bawaan orang-orang kerajaan Galuh hingga barang bawaan para dayang dan pelayan.
"Tidak akan terlihat ada masalah apabila dilihat dengan mata telanjang maupun dilihat dengan sihir dan kanuragan." Hayan menatap satu persatu orang yang berusaha melihat kejanggalan dengan kekuatan mereka. "Bukalah kertas yang tergulung,"
__ADS_1
Madhu membuka kertas yang terikat dengan simpulan biasa. Tidak ada yang mencurigakan dari kertas itu bahkan ikatannya sangat mudah dilepas.
Madhu menghilangkan keraguannya lalu menaruh kertas itu di dekat Hayan. Ia berdiri memperhatikan dengan saksama.
Halo adikku tersayang,
Ayunda sudah sampai di Bhumi Maja dengan selamat. Perasaan ayunda sangat berdebar-debar. Sayang sekali kamu tidak hadir di sini. Saat sudah waktunya datanglah kunjungi ayunda, ya! Harus!
Hayan mengambil kotak berwarna putih yang lebih kecil di dalam kotak besar yang tadi dipanggul anak buahnya lalu Hayan mengeluarkan sebuah botol merah dari kotak kecil tersebut.
Hayan membuka botol kecil itu dan meneteskan isinya yang berupa darah ke atas kertas kemudian tinta di kertas perlahan meleleh. Beberapa saat setelahnya tinta itu membentuk sebuah kalimat baru.
Panjalu penuh orang,
Ayunda melewati Cironabaya di Bhumi Maja istirahat Bubat. Pas jalannya sangat sepi-senyap. Sudah kutandai dengan hideung leutak di sini. Saat sudah waktunya bawalah kavaleri ayunda, ya! Rusiah!
"Mereka bisa melakukan ini!?" Boco memandang takjub. Dengan sihir besarnya dia tidak bisa mendeteksi siasat aneh ini!
"Tulisannya berubah??" ucap Madhu tak percaya.
"Kalian sudah melakukan keteledoran. Kelak di luar mohon kerja samanya!" ucap Hayan melemparkan kesalahan ini pada Sapta Prabu.
Sapta Prabu pun merasa bersalah. Bila Kerajaan Galuh sukses memasuki dinding keraton, maka entah bagaimana nasib orang-orang di dalamnya.
Dari kertas itu tertulis jelas rencana penyergapan Kerajaan Galuh!
"Kami akan melakukannya, Yang Mulia," kata Boco mewakili rekan-rekannya.
"Kami permisi, Yang Mulia. Semoga kejayaan dan keagungan selalu dilimpahkan pada Anda," pamit keenam orang bersamaan lalu berangsur-angsur pergi membawa satu benda untuk diteliti.
Wilayah Sunda Galuh memiliki banyak rahasia!
"Anakku, kamu tidak mengambil langkah," tegur Gitarja.
Putranya ini sudah mengetahui sampai sejauh ini tapi membiarkannya hingga orang-orang Galuh memasuki wilayah Bhumi Maja!
Jika sudah seperti ini, keamanan Bhumi Maja dipertaruhkan.
Kavaleri atau infanteri Kerajaan Galuh bisa saja sudah menyusup ke daerah Bhumi Maja.
Hayan juga sudah memperhitungkan hal ini.
Kerajaan Galuh yang telah berhasil mengambil sebagian besar daerah Kerajaan Sunda tidak mungkin diam saja melihat tetangganya semakin adidaya.
Diamnya Galuh sangat mencurigakan.
Dan lukisan Bangkara yang tiba-tiba ada di Bhumi Maja tidak mungkin hadir tanpa ada rencana.
Bangkara begitu mengagungkan lukisannya. Dia akan menjaga setiap lembar lukisan miliknya. Tidak mungkin lukisannya tiba-tiba dijual oleh pedagang kecil di pinggir pasar!
__ADS_1
"Ananda ingin menggunakan putri. Mahapatih malah menggunakan perasaannya," kesal Hayan.
Dia mengakui kecantikan dan keahlian Citra Resmi, tapi mana bisa perempuan itu dibandingkan dengan Maharaninya?
Perempuan yang telah membuat Hayan melanggar batas dengan memutar waktu kembali ke masa lalu.
"Tidak, nak. Mahapatih selalu menggunakan otaknya," bantah Gitarja. Putranya ini bisa-bisanya merendahkan gurunya!
"Guru, kali ini Anda sangat gegabah menggunakan hati di atas logika," ucap Siji membawa makanan untuk Djahan.
"Aku hanya ingin Idaline menikmati waktunya."
Djahan menghela napas panjang. Dia masih merasa menyesal sudah mengatakan hal kejam seperti itu. Idaline pasti merasa sangat sakit.
"Mohon maafkanlah Udelia. Widya adalah sahabatnya selama belasan tahun. Maharaja menurunkan surat perintah di kediaman Sapta, tersirat tidak ingin wanita selain nona tertua dari keluarga Sapta."
Sebelumnya Siji dan Loro terkejut melihat lukisan Udelia di kamar tuan sekaligus gurunya itu. Mereka bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi antara adik sepupu dan gurunya.
Mereka tidak mencurigai kedekatan Udelia dan Djahan karena Djahan merupakan seorang Mahapatih dan Idaline adalah seorang Raden Ajeng. Terlibat percakapan atau melakukan pertemuan adalah hal lumrah.
Namun semuanya jadi jelas ketika Widya datang meminta bantuan pada keduanya untuk menyelamatkan Idaline. Widya menjelaskan sagalanya.
Adik kecilnya ini menikah tanpa bilang-bilang!
"Aku sudah mengatakan hal yang menyakitkan," sesal Djahan.
"Udelia tidak akan melupakan hal yang menimpanya. Namun kata maaf seolah sihir baginya untuk menenangkan hati dan pikiran. Tentu harus tulus," kata Loro.
"Itu bukan ucapan menghibur," timpal Siji memandang sengit Loro. Jujur itu harus tahu batasnya!
.
.
Di sebuah kamar temaram, seorang pria melangkah dengan hati-hati menuju ranjang. Di sana sesosok perempuan sedang terbaring dengan lelap.
Dia menundukkan badannya dan mengecup pelan kening perempuan itu.
"Sayang, maafkan aku."
Idaline yang berada di atas ranjang mengernyit dalam tidurnya, ia membuka matanya menatap wajah yang tertutupi sinar rembulan. "Djahan.. aku tidak bermaksud menghilangkan anak kita," lirihnya sedih.
"Anak kita masih di sini."
••• BERSAMBUNG •••
© Al-Fa4 | 07 November 2021
Siapa tuh? Hayan atau Djahan? Suami muda atau suami tua?
__ADS_1
Jangan lupa Like, Komen, dan Vote