TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]

TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]
103 - KERJA KERAS HAYAN


__ADS_3

"Hayan, aku saja." Idaline mengambil pisau dari tangan Hayan.


Pria yang hidupnya dihabiskan untuk belajar dan mengurus negara, mana mungkin bisa memasak!


Idaline melotot pisau di tangannya sudah berpindah lagi ke tangan Hayan.


Hayan tersenyum penuh kemenangan kemudian menuntun Idaline ke meja bundar yang terdapat dua kursi di sana.


"Maharaniku duduk saja."


"Kamu tidak bisa memasak."


"Jangan meremehkanku." Hayan tersenyum kembali memotong sayur.


Idaline mengerjapkan matanya. Hayan ini selalu berkata lembut padanya tapi yang dia dengar dari Netarja, kakaknya itu tidak ada ampunnya di ruang rapat.


Termasuk pada Netarja yang hanya fokus dengan kesenian tapi lupa memperkuat kedudukannya di Pejeng di pulau seberang, pulau Bali.


Orang-orang Hayan menemukan sebuah kelompok yang merencanakan pemberontakan di pedalaman Bali, sedangkan Netarja adiknya malah terus fokus pada tarian dan nyanyian.


Netarja berkata Hayan sampai keluar tanduknya ketika marah-marah.


Idaline ingin melihat hal itu tapi pria yang katanya keluar tanduk itu sedang tersenyum semringah sembari memotong sayur dan daging.


Tidak lama kemudian Hayan meletakkan tujuh piring makanan ke atas meja.


Idaline menghalau sinar yang dikeluarkan Hayan. Suaminya ini terlihat seperti koki internasional.


 "Tampilannya sangat menarik," ucap Idaline menatap takjub semua makanan yang dihidangkan walau dia sedikit bingung kenapa aroma yang keluar hanya samar-samar?


"Guru sendiri yang bilang tampilan makanan bisa menggugah selera meski rasanya tetap utama."


"Eh aku pernah berkata begitu?"


"Iya. Waktu membuatkan bubur dengan berbagai taburan bumbu di atasnya."


"Oh iya bubur ayam. Kamu masih teringat saja."


"Tentu saja. Itu makanan pertama yang Maharaniku buat untukku."


Hayan mengambil alat makan yang biasa dipakai Idaline lalu menyuapkan makanan pertama. Istrinya ini pasti bingung kenapa tidak ada aroma yang keluar.


Tentu saja Hayan membuatnya begitu agar aromanya tidak saling bertabrakan yang nantinya akan menimbulkan mual.


Oleh sebab itu sewaktu Hayan memakan anjing dan babi di Bale' Ndamel, Idaline tidak mencium aromanya.


"Enak banget," puji Idaline setelah menelan suapan pertama. "Kalau seperti ini sih kamu bisa jadi koki!" oceh Idaline tetap menerima suapan demi suapan.


Hayan tertawa kecil lalu mengusap ujung bibir Idaline yang belepotan.


"Kalau begitu sekarang hidangan kedua."


"Aku saja!" Idaline merebut sendok dari tangan Hayan dan memakan sendiri hidangan kedua, rasanya sangat enak! Idaline jadi merindukan dunia modern.


"Dari mana kamu belajar semua ini? Rasanya benar-benar pas tidak seperti umumnya," sambung Idaline dalam hati karena kebanyakan makanan yang dibuat rasanya manis atau sedikit hambar meski tidak mengurangi cita rasa unik yang membuatnya lahap dimakan.


"Aku belajar dari Hasta. Aku menggunakan garam meja yang mudah larut bukan krosok seperti pada umumnya. Di istana kita sudah memakainya sejak beberapa bulan lalu."


Sebelumnya Hayan tidak begitu mempedulikan rasa masakan tapi Idaline tidak jadi Hayan mencoba membuat bumbu-bumbu sama seperti yang dibuat bawahannya yaitu Hasta.


"Pantas rasanya agak beda. Tapi makananmu enak sekali, rasanya khas. Maharaja bisa mempelajari semua hal," puji Idaline.

__ADS_1


"Jadi, Maharaniku takjub padaku?"


"Tentu saja. Orang-orang biasanya hanya ahli dalam satu hal."


Hayan tersenyum pada Idaline yang makan dengan cepat.


"Maharaja makanlah," kata Idaline melihat Hayan terus menatap gerakan tangannya sambil cengengesan. Tidak ada piring kosong di sisi lelaki itu.


"Aku senang kalau Maharaniku lahap." Hayan meminum di gelas bekas bibir Idaline.


"Biar kubuat untukmu," ucap Idaline berpikir Hayan membuat semua makanan itu khusus untuknya.


"Aku ingin disuapi Maharaniku," pinta Hayan mengusap sudut bibir Idaline yang terkena kecap. Maharaninya ini makan sangat lahap sampai mulutnya mengembang.


Hayan membuka mulutnya saat tangan Idaline mengarah ke mulutnya.


Idaline menyuapi Hayan dan dirinya sendiri hingga seluruh piring kosong.


Setelah makan, Idaline mengambil tas perawatannya. Dia tidak tahan melihat wajah berminyak Hayan jadi Idaline mengambil beberapa lotion dan membuat krim wajah.


"Garis wajahmu bagus sekali tapi sangat kasar~" ujar Idaline mengoleskan krim pada wajah Hayan lalu menutup kedua mata Hayan dengan timun.


"Mm.." Hayan tidak tahu harus merespon apa karena wajahnya seperti akan pecah jika berbicara sedikit.


"Jangan buka mata dulu!" tegur Idaline mendengar bisikan Hayan. "Karena akan lama, aku siapkan bahan-bahan untuk makan siang~"


"Jangan!" Hayan meraih lengan Idaline. "Bahan makanan sudah habis," kata Hayan dalam hati. Dia membuat porsi makan lebih banyak dari porsi biasanya sebab dalam cuaca dingin Hayan tahu Idaline makan lebih banyak.


Jika Idaline tahu bahan makanan sudah habis, bisa-bisa perempuan ini turun gunung dan mengambil bahan-bahan makanan di akademik.


Para dayang dan abdi ndalem sudah diperingati untuk naik dalam waktu-waktu yang sudah ditentukan saja.


Dan mereka bukanlah orang-orang santai yang bisa cepat tanggap melihat tanda di langit kecuali sebelumnya sudah diperingati.


"Uh!!" keluh Idaline, matanya menggenang.


"Maaf," ucap Hayan melonggarkan tangannya lalu mengeluarkan cahaya di tangannya. Tangan Idaline yang memar karena sudah kembali normal.


"Wajahmu jadi retak," ujar Idaline sembari melepas tangannya. "Berbaringlah lagi."


"Asal Maharaniku duduk di sini menemaniku."


Idaline mengangguk lalu membetulkan masker Hayan.


Setelah beberapa saat berlalu ia termenung merasa bosan.


"Hei orang yang punya hewan kontrak terbanyak, bisa tidak kamu keluarkan semuanya secara bersamaan?"


"..eng?"


"Gunakan saja matamu kan mentimunnya sudah jatuh." Idaline menunjuk mentimun di lantai. Pria ini sama sekali tidak membiarkannya pergi bahkan sekedar untuk mengambil mentimun.


Hayan berkedip menjawab pertanyaan sebelumnya.


"Kalau begitu panggil mereka!"


Hayan menatap Idaline dengan tatapan bertanya perihal keseriusan Idaline meminta Hayan memanggil hewan-hewan kontaknya sedangkan wajah Hayan sangat tidak etis ditunjukkan pada orang lain.


Hayan menutup matanya karena binar mata Idaline tidak dapat ditolak. Namun binar mata Idaline yang memohon tembus sampai ke otaknya.


Wajah Idaline terngiang-ngiang dalam benak Hayan, akhirnya Hayan merobek telapak tangan kanannya menggunakan jempol dan menjatuhkan darah ke tanah hingga menggenang.

__ADS_1


Lalu muncul cahaya yang besar di rumah kecil itu.


"Benar-benar sepuluh jenis!" takjub Idaline pada hewan-hewan yang bermunculan.


Idaline tidak tahu bagaimana tapi Hayan memiliki sepuluh jenis hewan kontrak padahal sepupu Idaline yaitu Fusena yang notebene Petapa Agung sang manusia terkuat di kepulauan, hanya memiliki satu hewan kontrak, burung garuda.


Hewan kontrak Hayan yang pertama dan paling utama bernama Berani yaitu kuda sembrani, hewan yang sering digunakan Hayan yang memang unggul dalam penampilan dan banyak hal lain dari semua hewan.


Orang-orang di Maja mengatakan kuda sembrani adalah hewan terkuat setelah garuda. Ini karena spesiesnya yang sama langkanya dan harga diri yang tinggi.


Yang kedua adalah hewan yang biasa dipakai Hayan dalam pertempuran, namanya Modo yaitu jenis hewan komodo, hewan yang cepat berlari dan berenang.


Gigitan binatang yang lebih besar dari bentuk normalnya ini sangat berbahaya bagi manusia karena mengandung bisa.


Sekali saja seseorang terkena bisa Modo walau di ujung kuku, lima detik selanjutnya si manusia akan mati.


Namun yang paling menarik dari Modo adalah dapat memberikan sebagian umurnya pada sang pemilik.


Jika suatu saat Hayan berada di gerbang kematian, Modo dapat memberikan sebagian umur panjangnya melalui telur kehidupannya.


Kuau, kuau bergaris ganda, tampilannya yang indah sering membuat orang tak sadar bahaya di balik bulu-bulunya.


Jika bulu-bulu Kuau mekar akan membuat siapa pun yang melihatnya masuk ke dalam perangkap seribu mata tak berujung.


Cendra, burung jenis cendrawasih yang memiliki empat sayap, membuat Cendra dapat terbang secepat angin.


Dan dua utas antena di ekor Cendra memiliki berbagai kegunaan terutama dalam pengobatan dan petunjuk arah di perairan yang luas.


Hayan mendapatkannya di tengah laut yang luas saat dihanyutkan orang-orang yang berseberangan dengannya.


"Loh, kenapa kamu tidak bunuh mereka?" sela Idaline.


Pemerintahan yang terlihat damai, di dalamnya belum tentu benar-benar damai. Idaline tidak terkejut banyak orang mencoba menjatuhkan Hayan karena Netarja dan yang lainnya tidak terlalu mampu mengurus negeri yang luas.


Dalam sebuah kepemerintahan, tujuan yang paling penting adalah mensejahterakan rakyat, membuat rakyat selalu merasa aman di mana pun mereka berada, dan menikmati hasil alam tempat mereka lahir dan besar.


Asal pertikaian antar pegawai kepemerintahan tidak berdampak pada rakyat, Hayan tidak perlu membukanya ke depan umum yang akan menimbulkan kegaduhan.


"Kematian terlalu mudah. Penyiksaan mental lebih menyakitkan daripada kematian," ujar Hayan menyeringai.


Dan tetua dari keluarga Sapta adalah salah satu orang yang berusaha memusnahkan Hayan. Hayan mengepalkan tangannya jika mengingat keluarga itu.


Idaline menatap wajah Hayan yang menegang, ia usapkan kain basah membersihkan wajah Hayan dan memeluknya memberikan kehangatan dan kekuatan.


Idaline merasa bersalah karena sering bertengkar dengan Hayan dan mempertanyakan banyak hal juga meminta hal-hal yang tidak masuk akal.


Padahal Hayan sedang berperang dingin dengan orang-orang.


Idaline juga meyakini keamanan dan kenyamanan yang selama ini dirasakannya adalah karena kerja keras Hayan.


"Maaf."


••• BERSAMBUNG •••


© Al-Fa4 | 28 November 2021


JANGAN LUPA


LIKE & KOMEN & FAV


VOTE JUGA HADIAH boleh hehe

__ADS_1


__ADS_2