![TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz--berpindah-ke-zaman-keemasan-.webp)
Kereta kuda yang tampak sederhana berjalan secara mulus membawa istri mahapatih hingga berhenti di depan Kedaton Sedap Malam. Senyuman kecil terbit di bibir wanita itu mendapati suasana tempat tinggalnya tidak berubah sedikit pun.
Ksatria yang senantiasa menjaga gapura menyambut Idaline dengan gembira dan melaporkan barang-barang Idaline masih aman di tempatnya.
Idaline pamit pada keduanya untuk masuk ke dalam rumah. Saat berjalan di halaman, hidungnya mengendus aroma melati yang sangat kuat.
Idaline seketika merinding. Bisa dikatakan di dunia modern ia adalah seorang indigo, maka dari itu Udelia tidaklah mampu mengendarai kendaraan pribadi karena sering kali makhluk halus menampakkan diri di sekitarnya seperti berbaur dengan manusia atau berjalan-jalan di sembarang tempat termasuk di tengah jalan raya.
Namun ia sedikit heran hampir tidak pernah melihat makhluk seperti itu di dunianya yang baru.
"Apa ada kunti di sini?" gumam Idaline takut-takut. Suara tawa makhluk itu sangat menyakiti gendang telinga dan menggema di kepala sampai waktu yang lama tergantung kerasnya suara yang terdengar.
Idaline memejamkan mata saat sebuah bayangan terbang mengarah padanya. Sedetik kemudian ia sadar bahwa manusia lebih menakutkan daripada setan dan wewangian atau kejadian-kejadian khusus tidak selamanya merujuk pada sang makhluk tak kasat mata.
"Wangi melati sangat segar kenapa malah disangkut pautin hal-hal mistis sih?" batin Idaline. Tak sadar dirinya sendiri juga percaya hal tersebut.
"Oh iya, di sini kan buat perawatan. Tapi kenapa sampai menyeruak di seluruh halaman?" kata Idaline terjatuh berbaring di atas rumput karena kakinya tidak mampu menahan berat tubuhnya yang miring akibat ketakutan.
"Aku menikah kan sudah beberapa hari lalu. Masa masih ada aja aromanya? Hii." Idaline bergidik ngeri membayangkan mata putih itu tiba-tiba muncul di depan wajahnya.
"Kakak!"
Silau matahari menusuk mata Idaline, samar ia melihat siluet orang menjulurkan tangan padanya. "Siapa kau?" Idaline menaruh tangan di alis menghalau sinar matahari, ia menajamkan mata mencoba melihat manusia di hadapannya.
"Sudah mau enam tahun, kak!"
"Candra?" Idaline akhirnya mengenali wajah yang tidak berubah banyak, hanya pipi tembam adik manis itu berubah menjadi tirus. Dan tubuh anak lelaki itu semakin tinggi, tidak ada lagi perut bulat karena sering ia paksa untuk makan bersama.
"Apa yang kau lakukan dengan bawahan saja?" Idaline mengamati Candra dari atas ke bawah.
"Kyaaa!" Idaline menutup matanya. Candra hanya membalut bagian bawah tubuhnya dengan sejengkal kain. Ia bahkan dapat melihat hal yang seharusnya tak boleh dilihat.
"Uh kakak yang tidak mau berdiri." Candra menjauh dan mengambil pakaiannya lalu memakainya secepat kilat. "Para dayang menyiapkan air kolam untuk kakak mandi. Sudah kuperiksa, silakan dipakai," kata Candra ringan tanpa beban.
"Aku sudah mandi," ucap Idaline menepuk-nepuk pakaiannya yang terkena tanah. "Aku sudah tidak ada waktu." Bergegas Idaline memasuki rumah utama.
"Apa yang kakak pakai itu?" tanya Candra melihat Idaline membuka jubah.
"Kamu enyahlah!" Idaline membanting pintu kamar dengan kasar.
"Padahal aku bertanya baik-baik," gumam sedih Candra.
Idaline mengganti pakaiannya dengan pakaian resmi. Kain-kain santainya telah ia berikan kepada warga desa karena ingin berdiam diri di kediaman Djahan dan menjadi istri yang baik, tapi ternyata akan ada hari ketika ia membutuhkan pakaian untuk keluar.
Dayang kamar yang mendengar kedatangan majikannya, dengan telaten membantu memakaikan baju dan hiasan ke tubuh Idaline.
"Ini pakaian resmi Raden Ajeng. Terlalu resmi," komentar Idaline pada berbagai ornamen mewah di seluruh tubuhnya.
"Mohon maaf, Yang Mulia. Kami akan mengganti yang benar." Dayang-dayang tahu Idaline tidak terlalu suka dirias. Wajah Idaline sudah memancarkan kecantikan meski hanya memakai kain putih, untuk itu para dayang tidak terlalu memaksa Idaline berias kecuali di hari-hari besar.
"Tidak ada waktu lagi!"
Baru beberapa langkah, tubuh Idaline terasa berat karena perhiasan membelitnya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Idaline memutuskan kembali duduk di meja rias.
"Lakukan dengan cepat," perintah Idaline, dayang-dayang pun mendekat.
__ADS_1
Tak berselang lama Idaline tersenyum puas. Tubuhnya menjadi lebih ringan meski masih ada beberapa ornamen menempel di tubuhnya. Idaline mengangkat tangannya menyudahi kegiatan rias-merias dan bangkit berjalan keluar.
"Yang Mulia, hamba mohon cobalah dahulu camilan baru buatan hamba berdasarkan resep yang ditinggalkan pemilik kedai terbesar di Kerajaan Maja."
Idaline menatap dayang dapur yang bersimpuh di kakinya tepat saat ia membuka pintu. Tangan dayang itu menahan kaki kanannya.
"Lepaskan!"
"Tidak, Yang Mulia. Jika hari ini tidak mendapatkan jawaban, keluarga hamba akan dihukum mati karena hamba tidak memenuhi tugas."
"Kalau tidak dapat memenuhi tugas, harus dihukum dengan sesuai." Idaline menghentakkan kakinya melepas pegangan tangan sang dayang. Ia harus sampai tepat waktu di Bale' Ageng.
"Yang Mulia Raden Ajeng, hamba memohon sangat amat memohon. Hamba mempunyai dua adik yang baru berumur dua tahun."
Idaline memijat pelipisnya. Waktu sudah berjalan dan pembacaan pergantian menteri akan usai, ia harus hadir di sana agar masalah pemilihan maharani dapat diselesaikan tanpa melibatkan dirinya dan sahabatnya.
Tetapi ketakutan dayang kediamannya seperti bukan sekedar gurauan belaka.
"Cepat!"
"Terima kasih, Yang Mulia."
"Haha. Ternyata repot sekali jadi Raden Ajeng." Candra menutup mulutnya menggunakan tangan melihat tatapan tajam Idaline.
"Kamu juga bantu aku." Idaline mengangkat jari telunjuknya mengarah pada wajah Candra..
"Kakak kan tahu aku tidak suka manis." Candra merenggut.
Bisa dipastikan makanan yang akan disediakan dayang adalah makanan manis, tidak ada penggila manis yang lebih gila di keraton selain Idaline. Dan kakaknya itu sudah melupakan dirinya, Candra adalah pembenci hidangan manis.
"Bukannya kakak yang harus bertanggung jawab?" balas Candra berekspresi malu-malu.
Sekelebat bayangan yang harus diburamkan melintas di kepala Idaline, Idaline berjalan pergi menahan rasa malu. Benar kata Candra, dirinya harus bertanggung jawab karena melihat hal yang tidak boleh dilihat.
Bukan cuma perempuan yang berhak mendapat tanggung jawab!
Idaline menggelengkan kepalanya. Ia dan Candra duduk di kursi Bale' Bengong yang melingkar dengan meja bulat besar di tengahnya. Meja itu dipenuhi makanan dan para dayang masih berbaris memanjang memegang jenis-jenis kue yang lain.
"Mereka ingin membuatku mencicipi atau menghabiskan persediaan cokelat?" keluh Idaline namun masih melahap kue-kue di piringnya.
"Entahlah, kak." Candra mengendikan bahunya. Ia tidak tahan lagi setelah empat suapan.
"Bagaimana kabarmu selama ini?"
"Semuanya buruk karena kakak pergi tanpa kabar. Tapi mendengar alasannya aku jadi mengerti. Selanjutnya janji ya jangan pergi lagi?" Candra menjulurkan jari kelingking pada Idaline.
Idaline menyendokkan kue sambil menatap jari itu. "Tidak bisa dijanjikan," ucapnya menutup mata menikmati lelehan cokelat di mulutnya.
"Sudah sepuluh jenis kumakan. Gigiku akan berlubang," ratap Idaline. Semua piring di atas meja telah kosong karena dayang hanya memberikan potongan-potongan kecil layaknya restoran bintang lima.
"Katakan pada pesuruhmu sepuluh jenis ini enak dan nikmat. Yang lainnya buatlah lagi nanti atau perutku akan sakit." Idaline menempelkan punggungnya di kayu pembatas sambil mengelus-elus perutnya yang begah.
"Baik, Yang Mulia."
"Kak, aku merindukanmu," ujar Candra meletakkan kepalanya di paha Idaline.
__ADS_1
Idaline tidak sempat menegur Candra karena matanya tiba-tiba memberat. Idaline berkali-kali mengerjapkan matanya berusaha untuk tetap sadar. Ia menatap para dayang yang sebagian berekspresi bingung dan sebagian berekspresi takut.
Candra yang melihat Idaline kehilangan kesadaran segera menangkap tubuhnya yang akan terjatuh itu.
"Apa yang kalian lakukan?!" geram Candra menyadari tubuhnya sendiri juga sedikit tak nyaman, tapi ia tidak terlalu memikirkannya karena menyimpulkan hanya akibat kelelahan. Ternyata dugaannya salah, ada yang begitu berani menyentuh Raden Ajeng.
"Mohon ampuni kami!" Para dayang bersujud dengan tubuh gemetar.
"Adikku yang terkenal menyendiri dan dingin juga tidak suka berbicara ternyata berbeda sekali." Bayu muncul dari belakang kerumunan para dayang.
"Kak Bayu.. apa tuanmu yang menyuruh?"
"Kalau kamu ingat siapa tuanku harusnya tidak perlu mempertanyakannya. Kemarikan Raden Ajeng, aku akan membawanya ke tempat tidur." Bayu menjulurkan tangannya berusaha meraih Idaline, namun Candra menampik tangan Bayu dengan kasar.
"Kamu serius?" tanya Bayu tak percaya melihat energi melimpah ruah keluar dari tubuh Candra.
"Aku tidak peduli orang lain!"
Idaline mengernyit merasakan sakit dalam kepalanya. Candra menyerap kembali kekuatannya tidak ingin menyakiti perempuan dalam gendongannya. Candra membawa Idaline ke tempat pembaringan dan menyalurkan energinya dengan hati-hati. Kemudian Idaline membuka matanya dengan paksa membuat kepalanya berat dan memutar.
"Minum dulu, kak." Candra memberikan segelas air. Idaline meminumnya dengan sekali tenggak
"Siapa pelakunya?!" Rahang Idaline mengeras. Ia membuka selimut lalu bergegas pergi tanpa alas kakinya.
"Kak, pakai theklekmu dulu!" tegur Candra berjongkok mengambil theklek Idaline yang tergeletak di rak sepatu. Sambil menenteng thelek, Candra mengekor di belakang perempuan itu.
"Sudah berapa lama?"
"Hampir tiga jam," jawab Candra berjongkok di depan Idaline, meraih kaki putih mulus Idaline, membersihkan tanah yang menempel di telapak kaki itu, dan memakaikan alas kaki berwarna merah.
Candra memegang tangan Idaline dan membantunya berjalan lalu ia melingkarkan kedua tangannya di pinggang Idaline, Candra membantu Idaline yang masih sedikit oleng menaiki kereta kuda.
"Kamu kenapa ikut naik?" tanya Idaline pada Candra yang berpijak di tangga kereta.
"Kakak masih lemah."
"Kamu urus Kedaton saja." Idaline menutup pintu kemudian mengetok dinding kereta. "Ke Bale' Ndamel Maharaja."
Kereta berhenti tepat di depan pintu. Kusir menaruh tangga di pintu kereta agar memudahkan Idaline untuk turun. Dua pengawal pintu diam tidak berekspresi ketika Idaline melewati mereka.
"Guru, kenapa terburu-buru sekali?" Hayan yang sedang menghadap arah lain berbalik menyambut Idaline dengan senyuman.
"Maharaja, kita harus berbicara!"
Huna Catra yang berada di sana membungkuk pada Hayan dan Idaline lalu berjalan keluar meninggalkan mereka.
"Lepaskanlah Widya Sipta, aku akan memberikan berkat pada tanah baru di Bhumi Maja." Mata Idaline menangkap siluet tubuh yang dikenalnya di balik pintu yang lain.
••• BERSAMBUNG •••
© Al-Fa4 | 14 September 2021
__ADS_1