![TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz--berpindah-ke-zaman-keemasan-.webp)
Di Bale' Ndamel Idaline hanya ditugaskan merapihkan berkas-berkas penting dan sesekali memberikan minuman pada Hayan yang sibuk berdiskusi dengan Huna dan para menteri yang keluar masuk memberikan laporan karena Djahan dikirim ke luar untuk memantau titik-titik ramai pesta rakyat yang jauh lebih besar daripada pesta rakyat di tahun-tahun sebelumnya.
"Tidak perlu mengirimnya jauh-jauh," tegur Idaline ketika mereka tinggal berdua. Ia baru tahu saat para menteri mempertanyakan keberadaan Djahan.
"Maharaniku.." panggil lembut Hayan. "Menurutmu, bagaimana dengan Galuh?" tanya Hayan mengalihkan pembicaraan.
"Kerajaan Galuh.." beo Idaline masih merapihkan berkas-berkas di lemari. "Karena satu-satunya kerajaan besar yang masih bertahan, kita belum bisa kalau menyerang."
Kerajaan Sunda Galuh awalnya adalah satu wilayah kemudian anak selir yang merupakan adik raja dari ibu berbeda melakukan pemberontakan. Raja Sunda Galuh dinilai lemah oleh banyak pihak dan para tetua yang menjadi tempat mediasi keduanya akhir memecah kerajaan menjadi dua yaitu menjadi Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh.
Kedua wilayah dibagi sama rata kemudian dalam beberapa tahun terakhir Kerajaan Galuh menyerang Kerajaan Sunda dan Kerajaan Sunda menjadi lebih kecil. Para tetua yang melihat keturunan resmi Kerajaan Sunda Galuh semakin lemah dan semakin redup wibawanya hanya bisa membiarkan keduanya saling berperang dengan adil.
"Kenapa menyerang? Kita adalah sahabat sejak Raja Jayanagara dan mereka mendukung Ratu Tribhuwana saat naik tahta." Hayan meminta pendapat Idaline.
"Menyatukan Kepulauan berarti meminta kerajaan lain untuk menyerah. Jika tidak terima, hasilnya adalah perang. Sebagai kerajaan yang lebih besar, kita harus menyerang terlebih dahulu," jawab Idaline. "Hal yang paling mudah adalah menikah," tambahnya.
"Sepertinya kamu tidak sadar akan ucapanmu sendiri." Hayan berkata dengan marah.
"Maharaja, saya sangat sadar. Ini sebuah keuntungan. Kita tidak merugi dan mereka mendapat untung yang banyak, pasti tidak akan menolak," ucap Idaline menutup lemari dan menyegelnya.
"Maharaniku.."
"Maharaja belum punya ratu, orang yang akan disebutkan sebagai istri sah Maharaja." Idaline menempelkan telapak tangannya ke telapak tangan Hayan lalu ia menutup mata.
"Maharaniku ingin hidup dengan tenang tapi memasukkan orang lain ke dalam?"
Idaline tersenyum masih menutup matanya sedang mentransfer energi kunci yang dapat membuka lemari yang berisi berkas penting itu.
"Aku tidak mengerti." Hayan menahan gemeletuk giginya. Idaline hanya ingin lepas darinya!
"Segitu tidak sukanya kamu berhubungan denganku?" batin Hayan menjerit.
Idaline membuka matanya. "Lihat dulu potretnya," ujar Idaline menatap dalam mata Hayan.
"Sepertinya sangat pengap berada di keraton. Bagaimana Maharaniku? Apakah ingin keluar?"
"Dengan senang hati." Idaline tersenyum lebar, sudah lebih dari dua bulan ia tidak menghirup udara luar.
Hayan mengeluarkan baju samaran, mereka berganti di dalam Bale' Ndamel lalu pergi menggunakan pintu rahasia. Huna berdiri dengan tegap di depan pintu yang tertutup, ia bertugas menjaga Bale' Ndamel yang kosong.
Idaline menghirup dalam-dalam aroma sayur-sayuran yang segar. Tarian dan kesenian-kesenian lain terus terlihat di sepanjang jalan. Tak lupa banyaknya pedagang makanan dan barang antik menambah meriah suasana pesta rakyat setelah mereka memanen banyak hasil bumi.
"Jajan di pinggir jalan memang enak!" Idaline berseru senang. Ia membeli tiap porsi makanan yang layak konsumsi. Bukan daging asu maupun daging celeng.
"Padahal Anda orang kaya," gumam pedagang melihat uang pas di tangannya.
"Berdagang dengan jujur membawa berkah!" nasihat Idaline berlalu pergi dan menghampiri setiap lapak makanan.
Hayan yang terus melarang ini dan itu ditinggal jauh di belakang, ia terhimpit oleh orang-orang yang berlalu-lalang. Istrinya benar-benar tahu cara meloloskan diri. Jika tidak ia ikat kuat-kuat, wanita itu pasti lari tanpa jejak. Seperti sekarang!
"Apa kamu tidak akan dijerat menjual potret para putri seperti ini?"
Hayan yang mendengar ucapan itu menghentikan langkahnya dan menatap ke arah sumber suara. Tampak sebuah kerumunan sedang mengelilingi seorang pedagang yang hanya menjual satu jenis benda.
Sangat kontras dengan penjual beraneka ragam di seberangnya yang sepi peminat. Biasanya penjual barang antik adalah pedagang yang selalu kebanjiran pembeli. Tetapi sepertinya para pemuda itu lebih senang mengumpulkan potret wanita cantik.
__ADS_1
"Semuanya hanya ada satu. Semua dilukis oleh Bangkara si tangan ajaib. Saya jual di sini karena melihat para tuan muda yang gagah berani sedang berjalan-jalan menikmati pesta," ucap pedagang.
"Dimulai dari sekeping emas!" buka si pedagang.
"Kalau ingin menjual pada bangsawan, tidak perlu di jalan seperti ini, mengganggu saja," gumam pria, rakyat jelata yang iri dan sirik.
"Menipu bangsawan sangat keras hukumannya loh," kata salah satu tuan muda melipat tangannya di dada.
"Saya tunjukkan satu. Putri tercantik abad ini, putri tercantik di pulau ini." Pedagang berkata dengan berlebihan sembari membuka satu gulungan di mejanya. "Putri Citra Resmi!"
"Loh, maksudmu tuan putri kerajaan kita bukan yang tercantik?" tanya orang yang sama.
"Beliau adalah dewi. Beliau dan para Raden Ajeng adalah dewi," puji pedagang menghapus bulir keringat di keningnya. Mana mungkin ia menjual potret wanita-wanita tertinggi Bhumi Maja!
"Bung, apa kau gila? Pedagang tidak akan mungkin berani menjual potret putri. Semuanya adalah bangsawan daerah atau putri-putri kerajaan tetangga. Selama tidak dilaporkan dan tidak ada bukti, kerajaan lain tidak bisa semena-mena dengan rakyat kita."
"Kalau mereka membuka mulut, kita yang berdiri di sini akan terkena imbasnya. Haha." Mereka tertawa dengan kencang. Suaranya sangat memuakkan bagi mereka yang memiliki pendidikan adab.
"Memangnya ini asli?" tanya Hayan sudah di barisan terdepan.
Pedagang menjentikkan jarinya di depan Hayan. "Pertanyaan yang bagus!" pujinya. Ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi memamerkan lukisan terbaik versinya.
"Tuan-tuan muda nan cerdas ini pasti sudah tahu. Akan saya jelaskan pada yang lainnya." Mata sang pedagang menyapu seluruh peminat di lapaknya. Ia berteriak kegirangan dalam hati mendapati semuanya adalah para tuan muda.
"Jikalau tuan Bangkara menggunakan kertas khusus, yang sekali lihat.. kita semua bisa tahu perbedaannya! Berbeda dengan para seniman hebat lainnya. Tuan Bangkara dijuluki si tangan ajaib bukanlah omong kosong belaka, beliau bisa melukis dengan sangat mirip, rasanya seperti kita melihat secara langsung. Mengenai cara saya mendapatkannya.." Pedagang itu membungkuk dan menaruh tangannya ke sisi kanan mulutnya.
Orang-orang memasang telinganya mendengarkan dengan saksama.
"Ra-ha-sia." Pedagang berkata dengan menekan setiap penggalan kata lalu kembali menegakkan tubuhnya. "Ayo yang mau beli. Silakan dimulai dari sekeping emas." Pedagang menggulung lukisan Resmi.
"Mohon maaf tuan, yang paling bagus yang paling terakhir. Kita mulai dari bagian lain." Pedagang memasukkan lukisan Resmi ke kantong di belakangnya.
Sementara itu di tangan kanan dan kiri Idaline penuh dengan makanan, matanya menyapu ke segala penjuru mencari-cari keberadaan Hayan dan ia dapati pria itu sedang serius menatap sebuah gulungan di belakang pedagang lukisan.
"Aku bukakan untuk kalian. Jumiati Yasa!" Seseorang yang sudah membeli lukisan membukanya di depan umum.
"Wow bro, lumayan. Kudengar ayahnya juga sedang naik daun. Beban keluarga sepertimu mungkin akan berguna. Haha."
"Tapi kudengar rumor-rumor yang tidak mengenakkan."
Idaline kembali menatap Hayan yang masih fokus pada gulungan di belakang pedagang. Idaline menoleh ke tempat-tempat rindang mencari tempat duduk. Ia memutuskan duduk di dekat pohon beringin dan mendengarkan lantunan seronen.
"Apa ini? Kenapa para ksatria di sini? Kalian ingin membeli potret juga?"
"Tangkap semua orang yang menghina putri-putri Bhumi Maja," perintah Hayan.
"Berani sekali kalian!" protes para tuan muda yang dibekukan.
"Di mana Maharani?"
"Beliau di sana." Ksatria menunjuk menggunakan kedua jempolnya.
"Sudah selesai?" tanya Idaline pada Hayan yang duduk di sebelahnya.
"Sejak kapan Maharaniku jadi sembrono?" Hayan menyerahkan gulungan pada Idaline.
__ADS_1
Wanita itu menaikkan alisnya namun tetap membuka gulungan. Selama beberapa saat ia terdiam karena seperti sedang bercermin di sebuah cermin jernih. "Wajah ini cantik sekali," komentarnya.
"Bangkara yang melukisnya." Hayan meraih salah satu makanan yang tergeletak di depan Idaline.
"Oh dia. Pernah diundang Ibu Ratu. Putri Janapada? Orang-orang akan berpikir aku anak haram kepala desa." Idaline membaca tulisan di ujung kiri bawah kertas.
"Akan kuhukum," ujar Hayan menikmati camilan.
Idaline menggulungnya lalu membakar lukisan itu menjadi abu. Ia menggerakkan kepala mendengarkan alunan nada yang terus berubah.
"Maharaniku, kamu akan selalu jadi satu-satunya di dalam hatiku." Hayan menatap lekat-lekat wajah Idaline.
Para seniman yang duduk di dekat mereka menjadi kaku mendengar pembicaraan mereka di tengah-tengah lagu. Orang lain mungkin tidak menyadari, namun mereka dapat memisahkan nada lagu dan ucapan seseorang di dalam telinga mereka. Alunan lagu mereka rendahkan, mereka mengintip Hayan dan Idaline saling suap dengan elegan.
Idaline mengalihkan pandangannya. Ia melotot sempurna melihat bekas tusukan dan daun-daun yang berguna sebagai piring telah kosong. "Padahal aku hanya beli satu porsi," keluh Idaline baru menyadari makanannya tinggal tersisa satu suapan.
"Aku belikan sekalian orangnya." Hayan memberikan suapan terakhir pada Idaline.
Idaline terkekeh. Ia mengalihkan pandangannya ke arah seniman yang mulai kering mulutnya. "Kita harus kembali," ajaknya merasa kasihan. Bisa hilang suara mereka jika terus mengalunkan nada.
"Sesuai keinginan Anda, Maharaniku." Hayan membantu Idaline berdiri lalu beranjak pergi.
Ksatria muncul mengambil bekas makan dan tempat duduk mereka dan para seniman diberi satu kantong emas.
"Kukira akan mati kalau menghentikan alunan seronen satu detik saja," bisik seniman membereskan lapak mereka.
"Kenapa Maharaja tidak ingin bertemu?" todong seseorang di depan Bale' Ndamel.
"Mohon dimengerti, tuan Mahapatih," ucap Huna terus berdiri sepanjang hari di depan pintu.
Semua orang bisa ia usir dengan mudah, tetapi mahapatih bukanlah lawannya. Berulang-ulang Huna berdo'a dalam hatinya berharap kedua majikannya telah pulang dan tidak membuatnya berhadapan dengan mahapatih lagi.
Djahan menghembuskan napas kasar. Ratu tidak pernah menyembunyikan apa pun di hadapannya tetapi putra ratu, maharaja sekarang, menyimpan banyak rahasia yang sulit dibacanya. Di sudut hatinya Djahan merasa bangga karena kelak tidak perlu merasa khawatir bila Hayan ditinggal seorang diri.
Lelaki itu sangat kokoh berdiri di atas kakinya sendiri.
"Baiklah. Katakan aku sudah memeriksa semuanya dan ingin memberikan laporan."
"Masuk saja, Mahapatih!" Hayan berseru dengan sedikit tersengal. Ia dan Idaline baru saja sampai dan mendapati tamu yang tidak bisa ditolaknya.
Terlepas dari perseteruan tentang Idaline, Djahan selalu profesional dalam melakukan tugasnya. Jika pria itu tahu dirinya keluar tanpa ditemani iring-iringan pengawal, Djahan akan marah besar. Apalagi dirinya membawa Idaline.
Djahan cepat-cepat mengalihkan pandangannya melihat Idaline sedang menggelung rambutnya. Wanita itu memakai selendang untuk menutupi bahu dan punggungnya. Rahang Djahan mengeras melihat peluh keringat di dahi Idaline.
Ia sepertinya bisa menyimpulkan kegiatan yang bisa dilakukan sepasang pria dan wanita hingga tidak dapat diganggu.
"Ada apa, mahapatih?" tegur Hayan berdiri menutupi tubuh istrinya.
Idaline bergerak kaku dan berlalu keluar. Rasanya ia seperti telah melakukan dosa besar. Padahal mereka hanya mengukur jalan!
"Saya ingin melaporkan tugas yang Anda berikan," kata Djahan melepaskan pandangannya dari Idaline yang telah menghilang dibawa tandu.
••• BERSAMBUNG •••
© Al-Fa4 | 13 Oktober 2021
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan vote