![TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz--berpindah-ke-zaman-keemasan-.webp)
Cerita ini hanyalah fiktif belaka
Selamat membaca !
..
Idaline berpikir para bangsawan muda sangat manja karena ia memperhatikan para muda-mudi itu selalu memakai pakaian indah selama ia berkelana, padahal situasi masih genting. Sekarang Idaline berusaha menyingkirkan mereka dengan topik-topik yang berat agar tidak terus mengganggunya.
Mata Idaline menyisir anak-anak muda yang sedang mengangkat gelas dan berdiskusi, semuanya mengamati Idaline dengan serius dan berpendapat sesuai tema yang dibicarakan. Ini mengejutkan Idaline.
Djahan yang memiliki visi yang sama dengan ratu untuk menyatukan seluruh kerajaan tetangga, pergi berperang menaklukkan mereka. Di dalam kerajaan, ratu memperluas akademik untuk mendidik pejabat-pejabat tangguh yang akan memimpin wilayah-wilayah baru dan para putri yang akan mendampingi mereka.
Hasilnya anak-anak selir yang semula hanya satu dua orang yang dapat bersekolah di akademik keraton, setelah diresmikan dapat menampung empat hingga lima kali lipat.
"Kalian semangat sekali," komentar Idaline ketika suasana mulai ngalor-ngidul. Mereka merasa perluasan wilayah belumlah cukup. Nyatanya kerajaan sudah tiga kali lipat lebih luas dari kekuasaan raja sebelumnya.
Suasana menjadi hening dan muda-mudi itu mulai memperhatikan Idaline kembali.
"Medan perang tidak semudah yang kalian bayangkan," ucap Idaline membuat wajah-wajah mereka tersirat rasa takut. "Tapi siapa pun yang membela tanah airnya, pasti akan diberkati," Idaline berdiri dan sontak semua orang ikut berdiri. "Upacara penutupan akan segera dimulai," tutup Idaline berjalan menaiki tandu.
"Apa kita sudah tidak ada kesempatan?" bisik gadis berselendang hijau pada teman di sebelahnya. Ia, tidak, hampir seluruh bangsawan telah menarik kesimpulan bahwa langkah selanjutnya telah ditentukan oleh orang-orang di atas. Sedangkan kesempatan itu seperti tidak terlihat oleh mudi-mudi karena kepatuhan dari sang incaran.
"Kita masih berkabung. Jangan sampai menyinggung keluarga kerajaan," jawab temannya menaiki tandu.
Memenuhi permintaan ratu, Idaline meminta pada Ekata untuk datang menutup upacara do'a. Idaline mengangguk saat matanya bertemu dengan mata Ekata. Idaline duduk di tempatnya dengan canggung karena aura permusuhan sangat terasa antara Indudewi dan Sudewi yang duduk di kanan dan kirinya.
Indudewi tidak dapat menahan perasaannya ketika pohon besar di samping makam ibunya runtuh, makam yang terbuka membuatnya tahu tidak ada jasad yang terbaring di sana.
Ratu menjelaskan bahwa adiknya yaitu Rajadewi atau ibu Indudewi, ketika ditemukan saat penculikan jasadnya tidak lagi berbentuk akhirnya jasad itu dibakar lalu abunya disimpan di kamar ratu untuk mengingat kelalaiannya.
Indudewi yang memiliki banyak perbedaan pendapat dengan Sudewi, semakin menjauh dan memutuskan bermusuhan dengannya karena alasan penculikan itu adalah nyawa ibu Sudewi yang sudah berkhianat pada organisasi bayaran pembunuh, tempat ibu dari Sudewi dibesarkan.
"Mbak, atas nama ibuku, aku minta maaf. Dan juga maaf sudah mengabaikan sepupumu ketika terjatuh," ucap Sudewi setelah mendengar nama ibu Indudewi disebutkan oleh pemimpin upacara do'a.
Wajah Indudewi mengeras, rautnya yang kesal berubah menjadi dingin lalu menatap Ekata yang sedang memimpin do'a.
Idaline mengeluarkan botol aroma di tangannya, ia teteskan sedikit lalu menggosok-gosokkan tangannya. Indudewi dan Sudewi turut menghirup aroma tersebut dan menjadikan hati mereka tenang.
"Pakailah. Dan selamat sudah dewasa," Idaline meletakkan satu botol di masing-masing meja mereka.
"Terima kasih," ucap Indudewi dan Sudewi bersamaan. Mereka bertatapan sebentar lalu membuang muka.
"Kita dipanggil ibu ratu," Netarja berdiri di depan meja para Raden Ajeng untuk menjemput mereka bertiga.
"Saya akan menunggu," ucap Ekata pada Idaline. Idaline mengangguk mengerti.
Para menteri tertinggi berdiri berbaris tak mengeluarkan suara. Idaline, Indudewi, dan Sudewi menunduk sebentar lalu berdiri di bawah singgasana.
"Baktiku sudah selesai. Yuwaraja telah membuktikan dirinya di Waluka, menjadikan kota yang sepi menjadi ramai dan Kabalan yang hancur menjadi kota yang maju. Sekarang saatnya Yuwaraja menaiki tahta." kata ratu melirik Hayan yang berdiri di undakan tangga singgasana lalu kembali pada para tamu.
"Sambil menunggu peringatan empat puluh hari, Yuwaraja akan mendalami istana bersama kalian. Tuan Puteri Paramarta dan para Raden Ajeng akan menjadi bhre. Wilayahnya, kuserahkan menjadi tugas pertamamu sebagai Maharaja. Juga peresmian Nagara-Nagara," ratu menaikkan tangannya menyuruh Baga meyerahkan dokumen pada Hayan.
"Baik, Yang Mulia Ratu," ucap Hayan menerima dokumen tersebut.
"Tuan Mada bantulah Yuwaraja. Sapta dan Pandya bantulah Tuan Puteri Paramarta. Buntala dan Mihir bantulah Raden Ajeng Falguni. Wistara dan Catra bantulah Raden Ajeng Ganeeta. Penobatan akan dilaksanakan sehari setelah peringatan empat puluh hari kematian ibu suri,"
"Siap laksanakan, Yang Mulia," seru serempak orang-orang yang ditunjuk ratu. Mereka kembali duduk di tempatnya setelah ratu mempersilahkan.
"Raden Ajeng Paramudita, apakah kamu, tidak. Apakah Anda tidak keberatan membantu Yuwaraja lagi?"
"Sayang sekali-" Idaline harus pergi ke Pragota. Aneh memang. Ia yang menghentikan berkat dan menyebabkan bencana, ia juga yang harus menghentikannya.
"Bukankah cukup satu orang melakukan upacara? Anda bisa menunggu tuan muda Ekadanta sambil membantu Yuwaraja," potong ratu mengerti maksud tujuan Idaline yang akan pergi ke Pragota.
"Upacara langit dan bumi berlangsung selama lima belas hari," putus Idaline. Tanah yang dicabut berkatnya akan menimbulkan kerugian pada tanah yang diberkati jika berada di bawah naungan yang sama.
__ADS_1
Selain Fusena yang bisa memberikan dan mengambil, Idaline dan Ekata harus mengambil peran berlawanan yang berkaitan dengan berkat. Jika Idaline mencabut, Ekata yang dapat menenangkannya, begitu pula sebaliknya.
"Terima kasih," Ratu merasa cukup lima belas hari bagi Idaline membantu Hayan mempersiapkan diri menjadi lebih tinggi dari seorang Raja, yaitu seorang Maharaja yang membawahkan Nagara-Nagara yang akan dipimpin para Rayja ataupun Bhre yang ditunjuk.
"Sudah tugas saya, Ibu Ratu," Idaline menekuk kakinya sedikit dan menempelkan tangan di depan dada tanpa menunduk. Idaline kembali duduk setelah ratu menggerakkan tangannya menunjuk kursi Idaline.
"Baiklah selanjutnya adalah wasiat-wasiat ibu suri yang akan direalisasikan hari ini..."
••••••••••••••••••••
"Lebih baik aku pergi," Idaline menopang dagunya menatap Hayan dan Djahan yang serius menulis. Sudah tiga hari berjalan dan ia tidak melakukan apapun selain duduk manis memakan camilan.
"Padahal di sini kamu membantu menjelaskan secara singkat dan tepat pada Yuwaraja," kata Djahan.
"Benar. Kejadian-kejadian tahun 127 bisa kamu jadikan selembar," Hayan menunjukkan kertas tulisan Idaline.
"Itu karena tidak ada kerjaan," ucap Idaline dalam hati mengelap tangannya.
Tulisan di kertas Hayan tercoret dan mata Djahan terbelalak saat Idaline menopang tangannya di tengah meja diantara mereka. Idaline meloloskan satu gulungan dari tempatnya yang berada di atas kedua pria itu lalu Idaline kembali ke mejanya.
"Harum," pikir mereka berdua.
"Padahal guru mandi dan berpakaian sendiri," Hayan tersenyum simpul. "Guru memang serba bisa,"
"Waktu akan terbuang kalau kalian terus melamun," tegur Idaline menyeringai. Ia sengaja tidak memutar karena ingin menggoda mereka. "Kalau segitu doang tidak tahan gimana bisa ngadepin para ular? Ckck," decak Idaline dalam hati.
Djahan dan Hayan tersadar lalu melanjutkan pekerjaan mereka.
"Yang Mulia Yuwaraja, Yang Mulia Mahapatih, Yang Mulia Raden Ajeng Parmudita, makan siang sudah siap," ucap pelayan memberitahu di luar ruangan mereka.
Idaline meregangkan tubuhnya. Jam istirahat selalu menjadi waktu spesial yang ia tunggu-tunggu.
"Yang Mulia Yuwaraja, ksatria dari Keraton Capuri meminta izin menghadap," ujar pelayan lain.
"Biarkan dia masuk,"
"Bangunlah," titah Hayan.
"Terima kasih, Yang Mulia," Ksatria itu menegakkan badannya dengan kepala tertunduk. "Yang Mulia Ratu memerintahkan Yang Mulia Yuwaraja Kabalan untuk makan siang di Keraton Capuri,"
"Kalian sudah bekerja keras. Bagaimana kalau malam nanti kita keluar keraton? Pertokoan sudah buka," ajak Hayan pada Idaline dan Djahan.
Sebenarnya malas bagi Hayan mengajak pak tua yang selalu muda itu apalagi setelah kutukan diangkat dan Djahan menjadi pemuda tampan tidak kunjung menua-menua. Tetapi Djahan selalu tidak peduli urusan sekitar dan Hayan bisa mengajak Idaline tanpa mempedulikannya.
"Tidak. Masih banyak yang harus dipelajari. Kalau butuh sesuatu panggil saja mereka," tolak Idaline sambil menaruh gulungan-gulungan dan buku laporan tahun 128.
"Bukannya guru suka memilih langsung di toko?" heran Hayan.
"Kamu ini kenapa malah memikirkan aku? Sana pergilah, ibu ratu sudah menunggu," usir Idaline.
Idaline tidak bisa berkata ia tidak dapat menahan muntahnya melihat hewan-hewan liar dijajakan. Padahal ia menyukai tarian jalanan pada malam Legi setiap tengah bulan di Trowu. Biasanya Hasta membuatkan sup penenang perut yang pas di lidah.
"Oh, sudah berapa bulan mereka terbangun?" Idaline tersenyum simpul.
Dahi Idaline mengerut memikirkan cabang-cabang restoran Hasta mulai memakai hewan-hewan liar karena tidak mampu mengembangkan resep yang dibuat Hasta.
Ingin rasanya ia mengambil alih tetapi sadar dirinya tidak bisa memasak banyak jenis makanan, termasuk ayam tepung. Ayam gorengnya akan bantat tidak krispi seperti yang di toko-toko.
"Pokoknya sebelum empat puluh hari kita pergi keluar," tegas Hayan tidak ingin dibantah.
"Lihat nanti," Idaline melambaikan tangannya pada Hayan yang sudah jalan menaiki kereta.
"Sepertinya ratu bukan hanya memanggilnya untuk makan," ujar Djahan.
"Iya,"
__ADS_1
"Bagaimana kalau sisa waktu hari ini kita bahas tentang kita?" Djahan mengulurkan tangannya. Idaline tertawa kecil dan menerima uluran tangan Djahan.
"Setelah kematian anggota kerajaan, bukannya dilarang mengadakan perayaan hingga empat bulan?"
"Sekarang berubah menjadi empat puluh hari, ratu bilang tidak boleh bersedih berlebihan," Djahan mengelap tangan Idaline yang sempat memakan camilan lagi ketika menulis. "Bagimana kalau setelah pernikahan maharaja?"
"Dia akan menikah?" Idaline belum mendengar pernyataan ini.
"Tentu saja, tapi pemilihan biasanya butuh waktu dua bulan,"
Djahan ingin mengadakan acara pernikahan secepatnya, tapi ratu pasti menginginkan pernikahan diadakan di istana.
Dan Djahan tidak bisa menjadi tidak tahu malu dengan melangkahi pemilik rumah. Toh dua bulan akan Djahan maksimalkan memberikan pernikahan impian Idaline.
"Aku tidak keberatan,"
"Ini," Djahan menyodorkan bolu dengan cokelat yang lumer di atasnya pada Idaline.
Idaline tersenyum lebar dan memakannya dengan lahap. "Djahan, kamu benar akan menikahiku?"
"Tentu saja. Aku Djahan Mada siap menikahi Idaline bahkan jika harus detik ini,"
"Tapi namaku Udelia," koreksi Idaline.
"Ah," ucap Djahan menyadari ia belum membahas hal ini dengan jauh.
"Kamu melihatku sebagai Idaline yang memiliki banyak kelebihan. Bagaimana kalau ternyata semua yang dimiliki aku, Udelia, hanyalah sebuah kekurangan?" Idaline menatap intens manik Djahan menuntut penjelasan.
"Aku mencintaimu bagaimanapun wujud dan sifatmu. Aku ingin tahu lebih dalam," Djahan menyelipkan rambut ke telinga Idaline, matanya penuh keingintahuan.
"Udelia adalah orang yang sangat pemalu, ingatannya pendek, wajahnya buruk, tubuhnya penuh bekas luka–"
"Kenapa penuh luka?" potong Djahan, raut wajahnya khawatir.
"Bukan seperti yang kamu pikirkan. Itu hanyalah luka bekas gigitan nyamuk. Kulitku sangat sensitif dan darahku manis. Nah lalu, aku sangat emosional, sangat cepat emosiku berubah,"
"Aku sudah menemui banyak orang. Nyatanya hanya kamu orang yang selalu aku pikirkan, rasanya sesak kalau tidak mengetahui keadaanmu. Setelah tau tempatmu sangat jauh, aku sangat khawatir apakah kamu akan tiba-tiba pergi? Tapi jika itu yang kamu mau, setidaknya kabari aku dulu, ya?"
"Bukannya kamu sangat membenci suku lain? Aku ini dari dunia yang jauh loh," tanya Idaline masih menatap lekat-lekat iris cokelat Djahan.
"Aku sudah bertemu banyak orang, kamu adalah orang pertama yang membuatku keluar dari batas. Jadi bisa Ude ceritakan tentang dirimu?"
"Duniaku memiliki kepulauan yang mirip dengan di sini. Aku berasal dari Sunda,"
Djahan menghentikan tangannya yang sedang mengelus rambut Idaline, tubuhnya membeku mendengar nama suku yang meluncur keluar dari mulut Idaline.
Idaline tersenyum pahit. "Tidak perlu memaksakan diri. Pikirkanlah sekali lagi,"
"Sudah kukatakan, kalau itu kamu, aku tidak bisa apa-apa selain berharap kamu terus berada di sisiku," Djahan mengecup kening Idaline.
Kecupan sayang itu membuat perasaan Idaline menjadi tenang. "Aku tidak bisa terus di sini,"
"Tetaplah bersamaku ketika kamu di sini," Pupil mata Djahan membesar berisi harapan penuh. Ia tidak bisa memaksakan takdir tetapi bila ada di sini, Djahan akan memperjuangkan Idaline agar berdiri di sisinya.
"Pfft," Idaline menutup mulutnya. "Aku tidak bisa menolakmu," Idaline memegang kedua pipi Djahan lalu mendekatkan wajahnya. Djahan memegang belakang kepala Idaline dan melu*mat bibir mungil yang terus mengganggunya sepanjang hari.
••• BERSAMBUNG •••
© Al-Fa4 | 31 Agustus 2021
Gaes like dan komen ya biar author semangat
Kalo senggang bolehlah scroll scroll ulang dari atas biar nambah view hehe
Jaga kesehatan selalu semuanya
__ADS_1
Love, Al-fa4