![TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz--berpindah-ke-zaman-keemasan-.webp)
"Kalau kita hentikan. Akan merusak tubuh kita," ucap Ruru si burung Garuda pada majikannya Fusena yang hendak menghentikan tapaannya.
"Kamu tahu sendiri perasaanku,"
"Tentu saja. Kita berbagi perasaan." Ruru menghela napas panjang.
Tidak ada yang bisa menghentikan petapaan Petapa Agung selain segala hal yang menyangkut perempuan kesayangannya.
Jika kali ini menghentikan tapaan, akan ada organ yang rusak di tubuh keduanya.
"Maka tidak perlu membantah lagi!" seru Fusena mengusap darah yang mengalir di ujung bibirnya.
Dia naik ke atas Ruru lalu terbang keluar gua yang berada di atas jurang yang curam.
.
.
"Tuan, ada apa?" tanya Huna melihat Djahan mengambil kuda dengan tergesa. Masih banyak pekerjaan seorang Maharaja dan pekerjaan seorang Mahapatih yang belum diselesaikan.
Tidak ada jadwal di luar keraton, maka artinya sang Mahapatih hendak pergi keluar sebab ada masalah lain.
"Aku akan ke Sela Wukir. Jika ada yang ingin bertemu, besok saja."
"Baik, Tuan." Huna menunduk hingga Djahan hilang dari pandangannya.
"Maharaja, apa yang Anda pikirkan?!" gumam Djahan memacu kudanya dengan kekuatan penuh.
"Kalau Anda mencari Yang Mulia. Beliau pergi dengan kuda sembraninya," ujar Pamget, kepala akademik, mencegat Djahan yang berusaha menerobos pertahanan penjaga gapura Sela Wukir.
Ibu Suri dan suaminya sedang bertapa di sana. Apabila Djahan memaksa masuk, keduanya akan terganggu dan masalah besar di sini akan diketahui keduanya dan besar kemungkinan akan terjadi ketegangan antara ibu dan anak.
"Saya bersumpah demi ras dan asal saya!" Tampak bulu-bulu muncul di tubuh Pamget dan ia berubah menjadi orang utan. Pamget mengepalkan jari jemarinya hingga darah menetes ke atas tanah.
Kemudian Pamget kembali berubah wujud menjadi manusia. Dia membungkukkan tubuhnya dan merapatkan kedua telapak tangannya di atas kepala.
"Saya mohon Anda kembali untuk menjaga bhumi ini. Jangan sampai ada kekosongan!"
.
.
"Tuan Ekadanta, ada apa?" tanya seorang prajurit yang memakai sejengkal kain di pinggangnya yang merupakan seragam perang bagi seorang prajurit.
"Penyerangannya kita undur selama dua belas hari. Sekarang fokus benahi daerah yang sudah kita taklukkan," titah Candra pada bawahannya.
Candra berkeinginan besar untuk pulang melihat keadaan selama dua belas hari waktu istirahat, tapi itu sangat tidak mungkin.
Dia pandai menyerang, namun untuk pulang pergi dari pulau seberang ke pusat ibu kota Bhumi Maja, waktu satu bulan saja tidak akan cukup.
"Nanti saja," ucap Candra dalam hati sambil menatap langit.
Dia berharap semuanya baik-baik saja.
.
.
"Kamu kira bisa bersembunyi dari kakanda selamanya?"
Bulu-bulu hitam hitam yang beterbangan di pintu masuk gua membuat Nawang memundurkan langkahnya, hanya satu dari jenisnya yang memiliki sayap berbulu.
Dia adalah kakak tertuanya, Cemeng si bidadara hitam.
"Kak Cemeng?!" seru Nawang tidak percaya.
"Kembalilah atau yang terlibat tidak akan selamat!" ancam Cemeng.
Sebuah kabut hitam menyelimuti mereka, kabut hitam itu merupakan sihir penghalang milik Cemeng, dengan kekuatannya sendiri Nawang tidak akan bisa keluar.
Nawang menggertakkan giginya marah pada kakaknya yang tidak mengerti isi hatinya.
__ADS_1
Padahal semua kakanda dan semua ayundanya selalu berkata Nawang adalah kesayangan mereka.
Tapi tidak ada satu pun dari kakak-kakaknya yang merestui pernikahannya!
Nawang menatap Idaline yang tergeletak di tanah. Dia tidak mencuri, dia hanya melakukan barter.
"Aku kembali pun kalian tidak akan melepaskan suami dan anakku!" teriak Nawang menerobos penghalang yang dibuar Cemeng.
"Percuma saja berlari-" Cemeng terkejut lapisan hitam buatannya terkoyak tanpa perlawanan.
Dia menatap datar adiknya yang terbang ke langit dan menghilang secepat angin.
"Saat dia mengobati, dia mengambil lapisan pelindung Petapa Agung dalam tubuh Idaline," ucap Utih berwujud manusia.
Lapisan pelindung yang diberikan Fusena ke tubuh Idaline retak saat terkena petir hitam Cemeng.
Lapisan pelindung itu tidak lagi berguna sebagai pelindung tapi si bidadari merah, Nawang, meleburkan pelindung menjadi kekuatan untuk menerobos dinding penghalang milik Cemeng.
Utih membiarkannya karena memang sudah tidak berguna bagi Idaline. Bak kaca pecah yang tidak lagi utuh, Nawang hanya mengambil pecahan yang paling besar untuk mengoyak lapisan sihir milik Cemeng.
"Sudah kuberi tahu hal penting. Jadi tinggalkan kami."
"Kamu tidak meminta tolong."
Cemeng menatap Utih dan Idaline bergantian. Dia menilai dua makhluk di depannya yang sifatnya sangat mirip.
Dikatakan majikan dan hewan peliharaan memiliki sifat yang sama, Cemeng membenarkan hal itu.
Sebab perempuan ini tidak meminta apa pun padahal bertemu banyak bidadara dan bidadari.
Dan hewan peliharaan perempuan ini juga tidak meminta tolong padahal di hadapannya ada seorang bidadara dengan kedudukan tinggi.
Hewan yang memiliki kekuatan level tinggi pasti mengetahui dunia bidadara dan bidadari sebab kebanyakan dari mereka akan meminta berkat dari bidadara ataupun bidadari agar dapat berwujud manusia.
"Bidadari hitam menguasai semua bela diri bukan penyembuhan."
"Harimau putih memiliki mata yang tajam." Cemeng si bidadara hitam pun menghilang dari hadapan Utih.
Utih mengusap kepala Idaline. "Tetaplah sadar," ucapnya. Utih menyegel gua dan keluar mencari obat.
"Minumlah." Utih mengangkat sedikit kepala Idaline dan menuangkan obat dari mangkuk kecil di depan mulut Idaline.
Dengan telaten dia mengusap bekas obat yang mengalir keluar dan mempersiapkan makanan yang dapat ditelan Idaline.
Jika Idaline sudah memiliki sedikit energi, Utih dapat membawanya dengan tenang ke tabib terbaik yang dia kenal.
"Utih," panggil Idaline di dalam kepalanya.
"Kamu sudah bisa berbicara," balas Utih di dalam hati.
"Bayiku.. mau. lahir," ujar Idaline terbata-bata.
"Apa?!" Utih mondar mandir sambil mengigit jarinya yang dia tahu kelahiran manusia sangat berbeda dengan harimau, banyak tata cara yang harus dilakukan.
Dia tidak bisa membantu Idaline dalam proses melahirkan.
"Oh iya!"
Tercetus ide dalam benak Utih.
.
.
Djahan duduk di balik mejanya dengan gelisah. Kemarahan pada Hayan hilang begitu tahu kondisi yang sebenarnya.
Dia yakin sang Maharaja tidak akan membawa Idaline pergi jauh maupun meninggalkannya. seorang diri, ditambah kuda sembrani selalu dikeluarkan hanya di saat genting.
Laki-llaki yang sedang melamun itu terkejut menatap langit-langit yang terbuka, tampak seseorang dengan pakaian bulu turun menggendong seseorang.
Utih mendarat dengan kakinya tepat di depan meja Djahan.
__ADS_1
"Cepatlah! Dia mau melahirkan!" seru Utih tak sabar. Pria ini bukannya membantu malah memasang jaring penjebak di sekitar bangunan.
"Kamu siapa?" tanya Djahan yang belum pernah melihat wujud manusia Utih.
"Apa otak Mahapatih menjadi tumpul?"
Pupil mata Utih yang lurus bak sesosok hewan menyadarkan Djahan lalu dia lihat perempuan yang berada di gendongan.
Napas Djahan tercekat melihat keadaan Idaline di gendongan Utih.
Ia menjulurkan tangannya meminta Idaline tapi ditolak Utih, kemudian Djahan menunjukkan jalan dan memanggil Ra Konco dan Ra Eli, dukun beranak perempuan.
Pelan-pelan Utih meletakkan Idaline ke atas ranjang lalu tubuhnya menjadi samar. "Kamu sudah aman," ucapnya kemudian menghilang, kekuatan Utih habis karena membuka portal teleportasi yang bukan kuasanya.
"Tuan, Yang Mulia maharani benar-benar akan melahirkan? Kandungan Yang Mulia belum cukup," bingung Ra Konco setelah memeriksa denyut Idaline.
"Kondisi Yang Mulia Maharani sangat parah. Gugurkan atau pertahankan, tuan?" timpal Ra Eli.
"Selamatkan bayinya."
Idaline tersenyum pada Djahan lalu kembali mengernyit. Konco memastikan kesadaran Idaline, Eli dan bawahannya membantu Idaline mengeluarkan bayi.
"Tapi kalau bayinya dipertahankan, Yang Mulia Maharani mungkin.."
"Lakukan saja, nak!" sela Ra Konco pada keponakannya. "Kalian siapkan peralatan melahirkan!" seru Ra Konco pada dayang-dayang.
Hanya dalam tiga kali ketukan semua peralatan itu tersedia di kamar dan seluruh ruangan tertutup rapat.
Ra Eli maju di depan kaki Idaline membantu Idaline bersalin dan Ra Konco memegang denyut nadi di tangan Idaline memberikan kekuatannya agar Idaline terus sadar sepanjang proses melahirkan.
Mereka tersenyum lega kala terdengar suara tangisan bayi.
"Owek.. Owek.."
"Selamat, Yang Mulia Maharani. Pewaris tahta Bhumi Maja telah lahir dengan selamat," ucap Ra Eli menggendong bayi merah yang lebih kecil dari ukuran normal.
Ra Eli menutupi kekhawatirannya dengan senyuman. Bayi ini baru genap tujuh bulan, dia takut saat pemeriksaan menyeluruh, ada organ yang rusak.
Sedangkan rahim Maharani telah rusak dan tidak akan lagi bisa memiliki anak.
"Yang Mulia, mohon jangan pingsan." Ra Konco menepuk pelan pipi Idaline. Dia lupa yang dihadapinya saat ini adalah seorang Maharani.
Jiwa tabibnya secara spontan mencoba melakukan semua yang bisa dia lakukan tapi jika pasiennya pingsan, semua pengobatan akan sia-sia.
Pandangan Idaline memburam, mulutnya terbuka berusaha meminta sang bayi. Tapi tidak ada suara yang keluar "Bayiku!" Idaline terus berusaha berteriak namun tidak ada satu pun suara yang lolos dari tenggorokkannya.
Pandangan Idaline semakin memburam karena di pelupuk matanya dipenuhi air. Dia sangat ingin menyentuh makhluk merah itu.
Pandangan Djahan juga memburam, cairan hangat turun menelusuri pipinya.
Andai saja waktu itu bayi mereka selamat, pasti di waktu ini bayi mereka sudah lahir ke dunia.
Djahan menarik kedua sudut bibirnya. Tidak peduli ini bayi Idaline dengan siapa, bayi ini adalah anak Djahan juga!
Dia memandang hangat Idaline yang telah melahirkan seorang bayi yang sangat lucu.
"Selamat sayangku." Djahan berkata sambil mencium kening Idaline. Dia pikir Idaline terlalu terharu makanya menitikan air mata.
"Kalian keluarlah!" titah seseorang yang baru saja masuk menembus segala pertahanan yang dibuat para ksatria-ksatria tinggi dari kelompok rangga.
Fusena muncul bersama Ekata di belakangnya.
"Sida, bantu Ra Eli siapkan ruangan khusus!" perintah Djahan pada dayang tua yang tetap dipekerjakan Ibu Suri meski sudah menikah.
"Semuanya keluar!" tambah Djahan menatap Idaline yang terus memandang pintu yang telah dilewati Sida dan rombongannya.
Djahan dan orang-orang bersamanya baru saja melangkahkan kakinya satu langkah di depan kamar Idaline dan mereka terkesiap melihat lapisan pelindung yang sangat tebal.
••• BERSAMBUNG •••
© Al-Fa4 | 03 Desember 2021
__ADS_1