![TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz--berpindah-ke-zaman-keemasan-.webp)
"Kamu baru saja kehilangan lelaki sudah dapat yang baru." Hayan berkacak pinggang di tengah halaman Kedaton Sedap Malam.
Kini Idaline paham maksud senyum canggung yang terlukis di wajah para ksatria dan para dayang yang menyambutnya.
"Memang calon raja besar. Masih kecil saja sudah bisa mengendalikan banyak hal." Idaline memuji dalam hatinya tentang koneksi Hayan yang sangat luas.
Hayan seolah diciptakan untuk menjadi raja bukan menjadi yang lain.
Kecerdasan dan kelicikannya dalam memutuskan segala hal belum pernah anak lelaki itu pelajari dari buku, menilik baru sepekan ini Hayan mahir membaca di bawah bimbingan Idaline.
Semua tindakan yang dilakukan Hayan, ia pelajari hanya dari beberapa nasihat singkat juga melalui insting dalam dirinya.
Idaline menjadi merinding membayangkan Hayan mulai membaca buku dan menemukan hal-hal yang lebih besar.
"Djahan hanya menghiburku." kata Idaline melihat Hayan menunggu responnya.
"Huh. Sampai memanggil namanya." Sekilas ekspresi Hayan mengerut kemudian ia tersadar dan sontak merubah ekspresi kesalnya menjadi datar kembali.
Idaline yang hendak mengajak Hayan duduk di dalam ruangan membeku ketika dua tangan Hayan memegang bahunya. Jantungnya memacu keras dan kakinya terasa lemas.
Bukankah ia tidak takut pada anak-anak?
"Aku tidak peduli kehidupan pribadimu." bisik Hayan di telinga Idaline lalu menjauhkan wajahnya dan melepaskan tangannya. "Tapi aku jadi kehilangan dua kali pertemuan denganmu."
Idaline menyentuh dadanya kemudian memindai Hayan dari atas ke bawah dan meyakinkan dirinya bahwa Hayan hanyalah seorang anak kecil. Setidaknya untuk sekarang.
"Padahal saya pikir sudah tidak ada yang dapat saya ajarkan. Anda sudah mahir menerima pelajaran dari para guru." ujar Idaline menatap mata Hayan.
Jika orang lain sulit menatap mata lawan bicara ketika berbincang, maka dirinya harus menatap mata lawan bicara untuk mendapatkan keberanian dan kenyamanan dalam berbincang.
"Tetap saja ada beberapa yang lebih mudah kamu jelaskan." ucap Hayan membalas tatapan Idaline.
Ia menarik sudut bibirnya melihat keberanian Idaline.
Netarja saja tidak akan mengangkat kepalanya jika belum diperintah.
"Dan kenapa bicaramu jadi formal?" tegur Hayan tidak suka melihat jarak di antara dirinya dan Idaline.
"Baiklah. Kita jangan menunda waktu lagi." Idaline menjauhkan tubuhnya dari tubuh Hayan hendak berjalan terlebih dahulu.
Namun ucapan Hayan selanjutnya menghentikan Idaline dan membuat Idaline memutar tubuhnya menghadap Hayan.
"Aku ada kelas lain." ucap Hayan beranjak pergi menaiki kudanya.
"Apa sih?" gerutu Idaline.
"Jika kamu mengerutkan dahi seperti itu nanti akan membekas."
"Djahan?!" seru Idaline melihat orang yang berbicara padanya.
Belum hilang Hayan dari pandangan Idaline, Djahan masuk dari sisi lain membawa beberapa dayang.
Padahal belum sampai sepuluh menit Idaline dan Djahan berpisah.
Namun melihat Djahan hati Idaline menjadi tenang.
"Kalau kekesalan Hayan berbuah buruk. Djahan akan membantu kan?" harap Idaline dalam hati.
"Seperti perintah Anda, saya membawakan beberapa camilan yang lezat."
"Padahal aku hanya asal bicara." Idaline mengangkat tangannya menyuruh dayang kediamannya mengambil barang-barang yang dipegang dayang Bale' Ndamel.
"Tapi karena kamu sudah menyiapkannya, mari makan bersama."
"Aku ada pekerjaan jadi harus kembali."
"Sebanyak itu aku habiskan sendiri?" tunjuk Idaline menggunakan jempolnya pada tiga nampan camilan yang menggunung ditutupi kain untuk menghindari debu.
"Ehm." Djahan berdeham menutup mulutnya yang tersenyum karena ekspresi tercengang Idaline. "Bisa disimpan untuk nanti." ucap Djahan ketika Idaline akan protes kembali.
"Aku juga membawa dua pengawal untukmu. Para bangsawan dari kerajaan sahabat telah berdatangan, keamanan harus diperketat."
"Setiap keluarga kerajaan mendapatkan beberapa pengawal yang selalu di samping mereka bahkan ketika sedang tertidur." urai Djahan menjelaskan maksud kedatangannya ke Kedaton Sedap Malam.
Idaline memegang kepalanya yang berdenyut. "Aku tidak bisa menolak." pasrahnya. Padahal ia belum bisa mengontrol diri dengan benar ketika berdekatan dengan pria.
Tadi saja bersama Hayan membuat jantungnya sesak. Idaline berharap para pengawal ini tidak memaksakan diri sampai mengawasinya ke tempat-tempat pribadi.
__ADS_1
"Benar. Semuanya demi keamanan."
"Baiklah. Terima kasih. Kamu tidak perlu mengirim camilan lagi, banyak pekerjaan lain yang lebih penting."
"Menyiapkan camilan tidak sampai membuat pekerjaan lain terbengkalai." sanggah Djahan menyukai pekerjaan tambahannya.
Dengan mengantar camilan, Djahan bisa melihat keadaan Idaline.
Gadis itu selalu membuatnya khawatir karena telah menyinggung Hayan.
Kini ditambah kedekatannya dengan Petapa Agung.
Djahan merasa tidak bisa meninggalkan Idaline sendirian walau satu detik.
"Tetap saja–"
"Kalau begitu aku kembali, ada tamu penting lain yang datang." potong Djahan tidak menerima penolakan.
"Hati-hati."
Djahan menganggukkan kepalanya dan keluar menunggang kuda hitamnya. Rombongan dayang mengekor di belakang kuda Djahan.
Idaline tersenyum tipis tidak melihat satu pria pun yang dibawa Djahan. Namun senyumnya memudar kala dua pengawal bersimpuh di depannya.
"Mohon bantuannya tuan Siji dan tuan Loro." kata Idaline sebelum masuk ke dalam rumahnya.
••••••••••••••••••••
"Selamat datang Raden Ajeng." sambut Tuti saat Idaline turun dari kereta kuda berkunjung ke kediaman besar Ekadanta.
"Maaf saya terlambat datang."
Sudah lebih dari sebulan Candra pergi dari kediaman Ekadanta dan sudah tiga pekan Idaline berada di Kerajaan Maja namun belum sempat berkunjung karena Hayan melarangnya keluar.
"Kami mengerti Raden Ajeng banyak pekerjaan. Lagipula Anda sudah mengirim surat yang berisi penjelasan situasi dengan sangat jelas." kata Tuti menenangkan Idaline. "Mari masuk, Yang Mulia." ajaknya berjalan di samping Idaline.
Tuti menuntun Idaline duduk di kursi panjang bersebelahan dengan dirinya.
Di depan mereka terdapat meja sepanjang kursi berisi berbagai macam camilan yang bahan dasarnya terbuat dari bunga melati.
Idaline jadi mengingat salah satu aktris yang senang mengonsumsi bunga melati secara langsung.
"Tidak. Tidak apa-apa. Kami justru senang akhirnya dia mau bersosialisasi. Dia anak yang cerdas pasti mampu menangani masalahnya sendiri." Tuti meletakkan tangannya di atas tangan Idaline yang menumpuk di atas paha.
"Terima kasih atas pengertian nyonya." Idaline tersenyum membalas senyuman hangat Tuti.
"Ibu. Panggil saja saya ibu." Tuti mengusap pipi Idaline.
Gadis tanpa tata krama yang ditemuinya sudah hilang berganti dengan gadis yang begitu anggun dan lembut, menyenangkan hati siapa pun yang memandangnya.
"Baiklah, ibu." Hampir saja Idaline menangis karena tatapan hangat Tuti mengingatkannya akan ibunya yang telah lama ditinggalnya.
Walaupun baru sehari dalam dunia modern, namun Idaline dan keluarganya telah berpisah lebih dari enam bulan sejak dirinya fokus bekerja dan terhitung satu bulan ia telah berada ke sini.
Selanjutnya ia berjanji akan sering mengunjungi keluarganya di sela-sela kesibukan karena kini ia sadar harta paling berharga adalah keluarga.
Mencari uang tidaklah salah, namun waktu yang tersisa bagi manusia tidaklah diketahui oleh siapa pun kecuali Tuhan Yang Maha Esa.
"Saya bawakan hadiah untuk ibu dan para saudari. Mohon diterima hadiah kecil ini." Idaline bergerak ke kotak dengan canggung.
Perhatian dari orang lain masih belum terbiasa bagi dirinya. Sering ia merasa tak enak bila tidak membalas dengan benar.
Nanti ia akan bawakan hadiah yang jauh lebih bagus.
"Benar banget banyak saudari seumuran kamu di sini." Karena banyaknya pekerjaan, Tuti lupa ada putri-putrinya yang seumuran dengan Idaline yang bisa Idaline ajak bermain bersama.
"Li, panggil para nona ke ruang tamu." perintah Tuti pada dayangnya.
Tuti beralih pada Idaline yang sedang membentangkan salah satu hadiah dari tumpukan hadiah di dalam kotak. Warna putih mendominasi dengan ukiran hitam di setiap motif kain yang memiliki lengan itu.
"Hadiah Idaline indah sekali." Tuti menerima baju yang diangkat Idaline.
"Ah maaf." Tuti menutup mulutnya menyadari salah memanggil gadis kecil di sampingnya. Ia gerakkan matanya perlahan mengintip ekspresi Idaline.
"Panggil saja senyaman ibu." Idaline memberikan senyum hangatnya.
"Ini adalah pakaian terbaru yang dikeluarkan butik bunga?" tanya Tuti melihat detail butik langganannya.
__ADS_1
Jahitan butik bunga sangat rapih seperti bukan dibuat oleh tangan manusia.
Menjahit adalah salah satu keahlian yang wajib dimiliki wanita sehingga pakaian-pakaian pribadi tidak disentuh orang lain.
Namun untuk menjahit banyak pakaian dengan rapih dalam waktu bersamaan adalah suatu kemustahilan dikerjakan oleh tangan manusia.
Dan Tuti tidak merasakan kekuatan yang membantu proses menjahit.
Jadi jahitan butik bunga sangat khas dan mudah dikenali juga sangat susah untuk ditiru.
"Benar, nyo..bu. Pakaian ini bernama kebaya, sangat mudah dipakai hanya dengan mengancingkan bagian belakangnya. Tidak perlu lagi mengencangkan pakaian dengan melilitkan kain atau dengan berbagai macam sabuk." terang Idaline selagi Tuti memegang benda bundar yang berbaris rapih.
"Mengancingkan?"
"Menyatukan benang bulat ini ke permata bulat di seberangnya. Ini adalah kancing." Idaline menunjukkan cara mengancing dengan benar.
"Idaline tahu banyak hal ya."
"Ibu ingin mencobanya?" alih Idaline.
Ia tidak suka pujian dan tidak ingin mendengarnya, apalagi karena pujian-pujian yang dikeluarkan para bangsawan tingkat tinggi pasti menyebar dengan cepat dan akan merepotkannya.
Para dayang dan pelayan membawa kotak ke ruang istirahat yang berada di ruang tamu. Idaline dan Tuti masuk setelah pelayan keluar dari ruangan.
"Kami datang memenuhi panggilan ibu." ucap para saudari Candra bersimpuh memberi hormat.
"Senyamannya saja, putri-putriku." sahut Tuti dari dalam ruangan.
"Kebetulan saudari-saudari datang." Idaline meninggalkan Tuti di ruangan bersama para dayang yang merias wajah Tuti dan menambah beberapa perhiasan pemberian Idaline sebagai pelengkap busana.
Idaline tahu tampilan sederhana dipandang sebelah mata oleh para bangsawan.
"Pakaiannya nyaman dan terlihat indah jadi sedikit perhiasan saja sudah membuat mencolok." komentar Tuti keluar dari ruangan.
"Wah ibu sangat cantik sekali." puji seorang gadis yang sedang duduk di kursi.
"Benar sekali. Ternyata selain emas, kita dapat menggunakan bebatuan." tambah perempuan di sebelahnya.
"Hoho, Raden Ajeng memang pintar sekali." puji Tuti memperhatikan cincin dan gelang di tangannya.
Ia sempat merasa aneh tidak melihat kilauan emas dari perhiasan yang diberikan Idaline.
Alih-alih menggunakan emas yang sudah lazim, teman putranya itu memberikan perhiasan dari batu-batu berwarna yang masih jarang terlihat di pasaran.
"Saya hanya memilih pakaian terbaru."
"Itu justru lebih luar biasa loh. Raden Ajeng memilih pakaian yang belum dipakai oleh orang-orang, Raden Ajeng dengan berani memperkenalkan hal baru." sanjung perempuan yang berdiri di belakang kursi perempuan yang memiliki tinggi badan lebih tinggi dari perempuan tersebut.
Idaline kemudian paham mereka yang duduk adalah tiga anak perempuan tertua dari Candraaji. Dan di belakang mereka berdiri adik-adik mereka.
"Karena ibu dan saudari-saudari cantik, semua hal cocok." balas Idaline.
"Wah Anda manggil beliau ibu?"
"Sepertinya ibu sudah memilih jodoh untuk lelaki kesayangan kita~"
"Yah kalo itu Raden Ajeng, adik kita beruntung sekali." ucap yang lain kemudian perempuan-perempuan itu tertawa.
"Ahaha." Idaline ikut tertawa.
Manusia memang aneh.
Sekali merasa senang atau suka pada seseorang langsung mengartikannya sebagai cinta.
Padahal belum tentu itu adalah cinta.
Ada banyak perasaan lain yang dilupakan manusia.
Seperti sekedar rasa kagum.
"Lihatlah Raden Ajeng setuju."
"Bagaimana kalau saudari-saudari mencoba juga?" Idaline mencoba mengubah arah pembicaraan mereka, sikapnya yang selalu geli saat dipasangkan dengan orang lain tidak berubah, seakan-akan ada sesuatu yang melarang dirinya menyukai seseorang.
"Mentalku sakit lagi?" pikirnya.
"Terima kasih." ucap setiap wanita menerima kebaya dari Idaline.
__ADS_1
••••••••••••••••••••