![TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz--berpindah-ke-zaman-keemasan-.webp)
"Kudengar kamu berada di istana ibu suri. Siapa menyangka malah berdua-duaan dengan Mahapatih?" celetuk Hayan yang berdiri di depan pintu.
"Yang Mulia, saya tidak mendengar kedatangan Anda." kata Djahan melepaskan tangannya. Tidak biasanya ia hanyut dalam percakapan hingga tidak merasakan energi sekitar.
"Aku datang karena Idaline ada di sini." Hayan mencengkram tangan Idaline. "Guru, kemarin kita tidak bertemu karena panggilan nenek. Sekarang aku ada beberapa hal yang ingin ditanyakan."
"Baiklah. Kalau begitu aku permisi." ucap Idaline sambil diseret keluar oleh Hayan.
"Apa dia akan baik-baik saja?" khawatir Djahan.
"Bisakah tenang sedikit? Tanganku sakit sekali!" Tangan Idaline memerah karena cengkraman Hayan sangat kuat tetapi Hayan tidak menggubrisnya.
"Berjalanlah dengan pelan, Hayan. Kakiku tidak bisa menyamai langkahmu." tambah Idaline. Ia merasa lega kali ini Hayan mendengarkannya. Mereka berjalan sejajar melewati berbagai halaman dan taman.
"Kami memberi salam kepada Yang Mulia Pangeran dan Yang Mulia Raden Ajeng Paramudita." Aktivitas dayang yang sedang membersihkan jembatan terhenti, dengan cepat mereka berbaris di pinggir jembatan dan menyambut Hayan.
"Ini.. Kedaton Kambang?"
"Iya. Apa kamu merasa tersanjung? Kamu wanita pertama yang masuk kemari."
Hakikatnya Keraton Capuri, tempat tingal para ratu dan raja, Kedaton Kambang, tempat tinggal Hayan dan Kedaton Siwakan, tempat tinggal Netarja tidak bisa dimasuki selain oleh mereka dan yang mendapat izin dari mereka.
Netarja sering mengadakan pesta bersama Indudewi dan Sudewi, sedangkan Hayan hanya memiliki kenalan yang ditemuinya di acara-acara resmi, ia merasa sudah sering menemui mereka jadi tidak perlu lagi berjumpa di luar itu.
"Kamu tidak memiliki teman?" Idaline menatap kasihan Hayan. Pantas saja pangeran itu merasa tamak akan dirinya, Idaline berpikir itu karena Hayan kesepian.
"Mereka berisik, terus bertanya tanpa sopan santun. Beberapa yang bermartabat membuat perasaan tidak enak saja."
"Kalau mencari yang sempurna, sampai mati pun tidak akan ketemu. Kalau mencari yang sama dengan kita, mungkin hanya ada beberapa yang muncul. Tidak perlu terlalu sering menghubungi, tapi berhubungan baiklah dengan mereka setiap berjumpa. Kamu tidak akan bisa mengurus kerajaan ini sendirian."
Hayan menuntun Idaline duduk dengan hati-hati, ia meletakkan tangan Idaline ke atas meja dengan sangat pelan.
"Kan ada kamu." Hayan tersenyum. "Panggil tabib kemari." perintahnya sambil mengelus tangan merah Idaline.
"Aku tidak apa-apa. Merahnya akan hilang."
Tak lama tabib datang memeriksa Idaline.
"Yang Mulia hanya kelelahan. Mohon diperhatikan asupan makanannya agar kembali bertenaga."
"Siapkan makanan sesuai intruksi tabib."
"Baik, Yang Mulia."
Kemudian Hayan menggerakkan tangannya menyuruh mereka pergi.
"Kami permisi, Yang Mulia." pamit para dayang dan tabib.
"Beberapa bulan lalu Nenek baru dibebaskan dari hukuman. Dulu beliau mencampur racun ke dalam makanan para putri dengan dalih membuat mereka kebal terhadap racun. Itu adalah racun yang sangat langka."
"Beruntung keluarga Yasa menemukan penawarnya diantara para pedagang. Kemudian mereka menerima gelar kebangsawanan dan kepala keluarganya menjadi Mentri Pangan yang mengawasi setiap bahan makanan untuk istana dan memastikan keberhasilan panen tiap daerah." ungkap Hayan.
"Pantas Mahapatih sangat khawatir."
"Aku juga khawatir." pungkas Hayan.
Idaline terkejut mendengar ucapan Hayan. Dia tersenyum lebar melihat wajah memerah Hayan. "Terima kasih sudah mengkhawatirkanku."
"Kalau aku dalam bahaya, apa kamu akan menyelamatkanku?"
"Jangan bergantung pada orang lain. Berusahalah, yang bisa kau andalkan hanyalah dirimu sendiri."
"Idaline, yakinlah aku akan selalu menyelamatkanmu dari setiap bahaya yang datang." ucap Hayan sungguh-sungguh.
"Idaline merasa senang mendengarnya." balas Idaline.
"Aku sudah mengerjakan tugas dari guru. Silakan diperiksa." Hayan mengambil kertas dari tumpukan kertas yang berada di meja kecil dan menyodorkannya pada Idaline.
Idaline menerima kertas jawaban Hayan. "Padahal kamu ikut berpartisipasi pada perang kali ini."
"Kamu lebih penting daripada semua hal di dunia ini."
"Uh..ya..anu.., kamu..em. ada beberapa keliru di bagian ini." Wajah Idaline memerah panas. Belum pernah ia menerima gombalan secara langsung selain dari teks-teks dalam benda pipih. Itu pun dilemparkan oleh sesama teman.
"Ini.." Intonasi dan ekspresi Idaline berubah serius. Ia menjawab pertanyaan Hayan dan mengajarinya hal lain yang belum sempat ia beritahukan.
••••••••••••••••••••
"Aku bilang ingin memakai baju yang nyaman saja."
"Tidak bisa, Yang Mulia. Anda akan pergi keluar jadi harus berpakaian dengan baik. Selama ini Anda sudah berpakaian. terlalu. nyaman." tekan dayang diakhir kalimat.
"Bukannya kalian sudah tau aku tidak memakai yang seperti itu?" Idaline mendengus menjauhkan pakaian dari hadapannya.
"Kepala dayang dan pengasuh Bejo memerintahkan bersama."
Idaline yang berada di pojok kamar tidak ada lagi tempat untuk kabur. Para dayang menangkapnya lalu mendandaninya dengan semangat.
"Aku merasa jadi pemanggil hantu." Keluh Idaline berjalan menuju Djahan yang sudah menunggunya.
Wajahnya seputih tepung dan bibirnya semerah darah ditambah bubuk hitam di bawah mata. Belum lagi gajahan, pengapit, penitis, dan godheg menjadikannya seperti seorang pengantin.
"Kamu cantik sekali." puji Djahan. Idaline memakai kemben putih yang senada dengan bunga sedap malam di motif kain jariknya, di punggung Idaline menggantung kain senada. Rambutnya pun disanggul dengan hiasan bunga sedap malam.
"Terima kasih." Mata Idaline bergerak ke atas dan ke bawah memperhatikan tubuh Djahan. "Sepertinya kamu juga ya?"
"Iya. Heboh sekali mereka."
Para pelayannya sangat berani tidak mendengarkan perintah Djahan untuk menyiapkan dirinya seperti biasa. Mereka bersikeras untuk memakaikan Djahan kain putih dan selendang putih.
Djahan tersenyum simpul melihat pakaian mereka serasi. "Siap meluncur?"
"Siap."
Djahan tersentak saat Idaline melingkarkan tangannya di lengan Djahan. "Ida..?"
"Theklekku sangat berat." keluh Idaline. Ia menyadari tindakannya tidak sopan namun bagaimana lagi? Idaline tidak akan bisa berjalan dengan kedua kakinya sendiri.
"Bisa berbahaya kalau kamu sembarangan menyentuh pria." pesan Djahan. Wajahnya merah padam. Belum pernah ada wanita sedekat Idaline selama hidupnya.
"Kita akan kemana?"
Suara Idaline sama seperti biasa, namun detak jantung Djahan jadi tidak beraturan melihat gerakan bibir Idaline. Djahan membuang wajahnya saat pikirannya melayang jauh.
"Djahan?" panggil Idaline.
"Ya?" jawab Djahan masih memalingkan wajah.
"Kita sudah sampai di kereta."
__ADS_1
"Oh iya benar kereta kudanya." Djahan melesat masuk ke dalam kereta.
Kusir kuda dengan sigap menangkap tubuh Idaline yang terhuyung. Perasaan Djahan menjadi tidak senang melihat kusir itu memegang punggung Idaline.
"Terima kasih." ucap Idaline pada sang kusir.
"Sudah menjadi tugas saya."
"Aku sudah terburu-buru." Djahan turun dari kereta dan membantu Idaline naik ke kereta.
"Ini karena thekleknya sangat berat jadi susah untuk naik." Idaline terkesiap, Djahan tiba-tiba menunduk dan mendekat padanya. "Apa yang kamu lakukan?"
"Aku akan memijatnya." Djahan melepaskan theklek Idaline lalu menaikkan kaki gadis itu ke pahanya.
"Ti-tidak usah." wajah Idaline memerah malu.
"Kakimu sangat kaki."
Idaline menaikkan alisnya bingung.
"Ehm maksudku kakiku sangat kaku." Djahan mulai memijat kaki Idaline. "Kakimu sangat kaku," koreksinya. Detak jantung dan ucapan pria itu sangat kacau sekali, Djahan terdiam tidak lagi berkata-kata.
"Ka-kamu sangat pintar memijat." ucap Idaline ikut tercanggung. Mereka terus di posisi yang sama hingga kusir memberitahukan sudah sampai di tempat tujuan.
Djahan berinisiatif menggenggam tangan Idaline dan membantunya duduk di kedai. Ia memanggil pelayan dan memesan tanpa bertanya pada Idaline.
"Karena ibukota jauh dari laut. Aku memesan ikan laut yang jarang kamu makan." ujar Djahan ketika para pelayan mengantarkan makanan.
Idaline makan dengan lahap sampai Djahan memesan dua porsi lain untuk mereka.
"Mau jalan-jalan dulu?" ajak Djahan seusai makan.
"Engga. Aku ngantuk banget." tolak Idaline dengan mata memerah. Ia sesekali menutup mulutnya dan melirik Djahan yang masih semangat.
"Aku tidak menyangka sudah selarut ini." ucap Djahan tersadar hari sudah gelap, mungkin karena pembuatan makanan lama dan mereka tidak berpindah, ia jadi merasa baru berlalu beberapa saat.
Djahan pun membawa Idaline pulang ke Kedaton Sedap Malam.
••••••••••••••••••••
"Yang Mulia, tubuh Anda!" pekik dayang terkejut melihat ruam-ruam merah pada tubuh Idaline. Tanpa permisi ia tarik selimut yang menutupi tubuh Idaline. Keringat yang keluar dari tubuh Idaline menambah parah gatal yang ia rasakan.
"Uh panas sekali." Idaline menggaruk tangan dan kakinya dengan keras.
"Yang Mulia mohon bersabar. Kami akan oleskan salep sembari menunggu tabib."
"Jangan membuat keributan."
"Tapi tubuh Anda..!"
"Panggil tabib dari luar dengan tenang dan suruh pangeran kembali jika dia datang."
"Baik, Yang Mulia."
"Permisi.." Izin dayang mengusap salep pada tubuh Idaline.
Idaline bernapas lega merasakan tubuhnya mulai membaik. "Panas dan gatalnya sudah lebih baik. Kalian bekerjalah seperti biasa, jangan sampai menimbulkan kecurigaan." titahnya.
"Baik, Yang Mulia."
"Aku ingin mengganti pakaian," perintah Idaline pada dayang kamarnya.
"Siapkan air hangat." kata Idaline usai berganti pakaian.
"Apa yang sebenarnya kamu makan dengan mahapatih?" tanya Siji. Dia dan Loro muncul ketika para dayang sudah keluar dari kamar.
"(Seafood.)" jawab Idaline santai.
"Kami beristirahat seperti katamu. Tapi malah terjadi hal yang gawat." Loro tertawa melihat titik-titik merah di tubuh Idaline.
"Mas Agis sangat tidak berperasaan!" Idaline menatap tajam Loro.
"Aku sudah bilang ribuan kali kalau kamu sangat alergi pada udang. Kenapa tidak percaya sih?" omel Loro.
"Ya..mau bagaimana lagi, udang enak sekali." Idaline tidak bisa mengelak, sepupunya yang satu itu menebaknya dengan benar.
"Saat tabib datang, minumlah obatnya sekali teguk. Nanti mas beri jagung bakar setiap malam seusai Udel minum obat dengan teratur." Siji mengusap kepala Idaline yang berbaring kaku menahan tidak menggores anggota tubuhnya sendiri.
"Janji tidak boleh ditarik lagi!"
"Tabib sudah datang, Yang Mulia." Tiga dayang kamarnya masuk membantu Idaline bersiap ke ruang tunggu.
"Yang Mulia mengalami alergi yang sangat parah. Apa sebelum ini Yang Mulia memakan atau menyentuh benda yang menjadi sumber alergi?"
"Aku memakan tiga piring udang."
"Apa yang terjadi?! Kenapa guru melarang aku masuk?!"
Idaline meraih selendang yang tersampir di kursi. Dalam satu gerakan, selendang itu terpasang sempurna di bahunya.
"Yang Mulia, mohon ampuni kami tidak bisa menghalangi Yang Mulia Pangeran." Pengawal Kedaton Sedap Malam bersimpuh saat Hayan berdiri di depan Idaline.
"Tidak apa-apa. Kalian kembali saja."
"Tubuhmu?" Hayan memegang tangan Idaline, ia membuka paksa selendang yang Idaline lilitkan serapat mungkin. "Panggil tabib istana!" perintah Hayan memakaikan kembali selendang Idaline menutupi kulit putih kemerahannya.
"Yang Mulia, semalam saya makan udang bersama Tuan Mahapatih." ujar Idaline menggunakan bahasa formal.
"Kamu berdirilah! Periksa Idaline dengan benar." perintah Hayan mengerti maksud Idaline untuk tidak membuat keributan agar mahapatih tidak mengetahuinya.
"Hamba sudah selesai memeriksa Yang Mulia Raden Ajeng. Hamba tinggal menuliskan resep untuk membuat obat."
"Tulislah yang benar." Hayan menuntun Idaline masuk ke dalam kamar dan membaringkannya. Ia juga menarik kursi ke dekat ranjang Idaline dan memperhatikan tiap jengkal tubuh Idaline.
"Padahal guru bilang jangan memaksakan diri jika itu berbahaya. Jelas-jelas alergi bisa mengundang kematian."
"Mana kutahu tubuh ini punya alergi yang sama." gumam Idaline.
"Tidak usah bergumam lagi. Tidurlah nanti aku bangunkan saat tabib sudah selesai."
"Aku mandi dulu biar lebih baik."
"Air akan memperburuk alergi."
"Tidak. Justru air hangat akan menghilangkan rasa gatalnya."
Hayan menatap mata Idaline yang bulat tanpa keraguan. Ia pun mengizinkannya. "Kamu memang lebih tahu. Pergilah!" ucapnya memperbolehkan Idaline mandi.
Idaline bergegas turun dari ranjang dan memberi jempol pada Hayan. "Sip."
__ADS_1
Ruam merah pada tubuh Idaline memudar setelah berendam air hangat selama beberapa menit. Dengan hati-hati dayang memakaikan Idaline baju yang lembut agar tidak menggores luka dan ruam di tubuh Idaline.
Mata Idaline melebar melihat cairan cokelat memenuhi mangkuk yang dibawa Loro. Aromanya sangat menusuk hidung. Rasanya saja sudah terbayang di mulut Idaline.
"Minumlah obat. ini." ucap Loro menekankan kata obat sambil tersenyum lebar.
"Mas kamu ingin membunuhku?" Idaline menyipitkan matanya curiga dengan senyuman Loro.
"Apa sih yang kamu bilang? Ini adalah obat." ucap Loro masih menekan kata obat.
Idaline menatap satu persatu dayang yang ikut bersama Loro.
"Ini obat loh, obat. Ayo diminum Raden Ajeng. (Atau jagung bakarnya buat aku?) Kalau tidak minum obat." Loro terus menekan kata obat tidak ketinggalan senyum menjengkelkannya. "(Padahal mas Agus sudah menemukan keju. Jagungnya sedang dibakar.)"
"(Bohong banget. Belum satu jam sudah tersedia semuanya. Emang di sini ada smartphone yang bisa buat pesan makanan?)"
"Ra-raden ajeng itu memang o–" ragu dayang ingin memberitahu.
"(Wah kamu meremehkan informasi kediaman mahapatih.)" potong Loro.
"(Itu kan informasi milik Djahan bukan kalian.)"
"(Selama ini saudara yang lain bekerja di luar tak pulang-pulang. Orang baru merapat bekerja di dalam rumah tak keluar-keluar, begitu juga para wanita. Bisa dibilang semua informasi itu kami yang dapatkan.)"
"(Mas sangat berbangga diri.)"
"(Kalau kalian bicara lagi obatnya akan dingin dan jadi lebih pahit.)" lerai Siji membawa jagung bakar keju dan jagung bakar cokelat.
"(Informasi kalian benar-benar bagus. Padahal aku belum mempublikasikan cokelat),"
Siji tersenyum. Ia meletakkan jagung bakar di depan Idaline. Kemudian mengambil mangkuk di nampan yang dibawa Loro. "(Minum sekali tenggak supaya tidak pahit),"
"Ugh. Ini seharusnya untuk setengah bulan kan?" tunjuk Idaline pada mangkuk yang penuh. Wajahnya mengkerut membayangkan cairan pahit itu harus habis dalam sekali tenggak.
Siji yang terus tersenyum hingga matanya membentuk garis membuat Idaline berkeringat dingin. Ia mengambil mangkuk itu lalu meminumnya dengan cepat.
"Yang Mulia, kami akan periksa dulu makanannya." ucap dayang kamar Idaline merujuk pada jagung yang dibawa Siji.
"Tidak perlu. Kalian keluar saja." Idaline mengambil jagung bakar keju sembari melemparkan tatapan menuduh ke wajah Loro yang tersenyum melihatnya kepahitan. "Duduklah mas." ucap Idaline pada Siji.
Pria berkulit sawo mateng itu pun duduk dan meletakkan piring yang berisi jagung bakar dengan berbagai rasa ke atas meja.
"Aku tidak disuruh duduk?" Loro menunjuk dirinya sendiri dengan tampang memelas.
"Tentu duduk dong,"
"Itu untuk Udel." tegur Siji menepuk tangan Loro yang mengambil jagung bakar yang lain.
"Ngga mungkin habis sendirian." balas Loro.
Melihat interaksi keduanya, para dayang menunduk hormat lalu satu persatu keluar dari ruangan.
"Anu..Yang Mulia." ragu dayang yang berjalan paling belakang. Siji, Loro, dan Idaline menoleh bersama pada sang dayang.
"Bicaralah." ucap Idaline.
Dayang tersebut adalah kepala dayang Kedaton Sedap Malam. Ia makin menunduk merasakan ketiga orang itu menatapnya. "Yang Mulia Pangeran masih di sini."
"Eh? Sudah selama ini dia tidak kembali?"
"Beliau menunggu di Bale' Bengong."
"Lapor, Yang Mulia. Pelayan kediaman Pandya izin berjumpa dengan Anda." Dayang yang lain muncul dari pintu yang belum ditutup.
"Kita harus menemui Pangeran dulu."
"Yang Mulia, tuan Gamya Padya memanggil Anda ke kediaman Padya." ucap seorang pelayan yang berdiri di samping dayang.
Idaline menghentikan langkahnya dan menatap tajam pria paruh baya, pria itu berani membalas tatapannya. "Lancang sekali!" geram Idaline mendekat pada pria itu.
"Beliau bilang mohon pikirkan posisi Anda dan ikutlah dengan tenang."
Idaline memejamkan matanya lalu menghela napas panjang. "Panggil kepala pelayan dan suruh ia berurusan dengannya."
"Baik, Yang Mulia."
Idaline tersentak saat bahunya ditahan dari belakang. Ia melayangkan kakinya membuat pria yang menyentuhnya terlempar jauh.
"Ya-yang Mulia mohon tahan amarah Anda." ucap penjaga pintu rumahnya.
Siji muncul membekuk pelayan kediaman Padya dan Loro berdiri tegak di depan Idaline melindungi adik sepupu sekaligus majikannya itu.
"Kalian adalah pengawalku tapi diam saja?! Apa karena dia orang rakryan tumenggung?" rahang Idaline mengeras, jari telunjuknya menunjuk orang yang dibekuk Siji, orang itu meringis sambil merasakan sakit di perut dan tangannya..
"Rakyat jelata berani sekali menyentuh seorang bangsawan!"
"Beliau adalah tuan Bena Padya, sepupu Rakryan Tumenggung sekaligus tangan kanannya." ujar pengawal memberitahu.
"Diam! Siapa yang memperbolehkanmu bicara?!" Idaline menatap nyalang sang pengawal.
"Gadis kecil, apa kamu takut setelah mendengar kenyataannya?" ejek Bena dilengkapi dengan senyum mengejeknya.
"Kamu tidak takut telah mengabaikan Ibu Ratu?" balas Idaline.
"A-apa maksudmu?"
"Bena Padya telah berani menerobos rumah utama Kedaton Sedap Malam dan menyentuh Raden Ajeng, putri angkat Yang Mulia Ratu. Bena Pandya juga telah mengatakan seorang Raden Ajeng Paramudita sebagai rakyat jelata."
"Siap, Yang Mulia." Siji membawa Bena keluar.
"Kamu tidak bisa sembarangan pada seorang bangsawan!" teriak Bena ditarik keluar dengan paksa oleh Siji.
"Dan dua pengawal ini tidak melakukan tugasnya dengan benar."
"Akan saya bawa." ucap Loro dan Idaline mengangguk menyetujuinya. "Dayang, temani Raden Ajeng." pesan Loro sebelum keluar rumah utama.
"Baik, tuan."
Idaline menatap tangannya yang gemetar.
"Yang Mulia..?" panggil dayang karena Idaline terus melamun.
Idaline mengepalkan tangannya dan memejamkan mata mencoba menyalurkan energi pada tangannya yang tidak terasa. "Ganti bajuku!"
••• BERSAMBUNG •••
© Al-Fa4 | 16 Agustus 2021
__ADS_1