![TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz--berpindah-ke-zaman-keemasan-.webp)
Sedetik kemudian Idaline, Fusena, harimau putih, dan orang-orang di luar rumah terkejut melihat pelindung yang dibuat Fusena tiba-tiba retak. Terdengar pula suara pintu diterobos paksa.
"Jangan." Indra menghalangi para dayang yang mencoba mengejar dua bayangan yang masuk ke kamar Idaline.
"Apa maksud Anda? Tidak lihat ada penyusup yang masuk?!" kata salah satu dayang mempertanyakan penglihatan Indra yang biasanya paling tajam di antara mereka.
"Itu Siji dan Loro." jawab Indra.
"Apa??"
"Wah apa-apaan dua manusia ini." Harimau putih memperhatikan pakaian Siji dan Loro yang berdarah-darah memaksa masuk pelindung yang dibuat Fusena.
"Kalian adalah anak yang dipungut Djahan." ucap Fusena memperhatikan pakaian keduanya yang penuh warna merah.
Fusena hanya memasang penghalang suara yang bisa dua orang itu mudah patahkan jika menggabungkan aura mereka meski harus berdarah-darah.
Mata kedua orang itu memerah dan kesadaran yang kurang seperti baru saja terbangun.
Fusena menghirup dalam-dalam udara sekitar dan tidak menemukan aroma alkohol.
Mata Fusena kemudian beralih pada pelindung di luar yang sudah kembali seperti semula.
Sedangkan harimau putih menghalau Siji dan Loro yang mencoba mendekat ke ranjang Idaline, harimau itu tersentak saat dua lelaki itu bersimpuh.
Fusena diam memperhatikan dari tempatnya.
"Maafkan kami. Ternyata kami tidak berguna."
Idaline mengintip dari sela tangannya tidak mengerti keadaan. Ia malu untuk membuka wajahnya yang bengkak karena terus menangis.
Sebagai Idaline maupun sebagai Udelia.
"Maafkan kami. Tolong maafkan kami. Maaf. Maaf." sesal Siji.
"Orang itu datang tanpa pemberitahuan. Kalian tidak perlu merasa bersalah." ucap Idaline tidak bisa berpura-pura tertidur saat mendengar orang memohon-mohon di sampingnya.
"Salahku karena sudah tau tapi malah membawa mereka berpikir mereka tidak akan berani." ucap Loro.
"Mereka?" gumam Idaline.
"Kami adalah Agus dan Agis." ucap Siji.
"Apa maksud kalian?" ucap Idaline. Dia dan Fusena bersamaan menatap Siji dan Loro.
"Saat ingin menolongmu, kami malah jatuh tidak sadarkan diri. Setelah kami sadarkan diri, kami tahu Udelia ada di dalam sini." ucap Siji masih bersimpuh bersama Loro.
"Kalian.. mas Agus dan mas Agis?"
"Maafkan kami yang membawa petaka ke hidupmu, Udel. Kami harusnya tahu melihat gerak-gerik aneh dari dua sialan itu, tapi berkilah berpikir mereka tidak akan berani."
Loro menatap mendalam lantai di bawahnya, jauh melayang pikirannya berkelana ke masa lalu.
Air matanya mengalir begitu teringat kesulitan yang Udelia hadapi.
"I-itu bukan salah kalian." Idaline mengatur napasnya kembali teringat masa kelamnya.
"Hentikan pembicaraan ini atau dia akan terus tersiksa." ucap harimau putih pada Fusena.
"Pak tua, apa hatimu jadi mati karena terlalu lama bertapa?" marah harimau pada Fusena yang terus diam lalu ia mendekat ke Idaline.
"Tenanglah. Tarik napas perlahan saja jangan terburu-buru."
"Ini pakailah." Fusena mengeluarkan botol minyak kayu putih di tangannya. Ia tuangkan ke tangan lalu mengusapnya ke leher Idaline.
Kemudian Fusena mengeluarkan bejana kecil berisi air panas beruap dan meneteskan sepuluh tetes minyak kayu putih ke dalamnya.
Fusena mendekatkan bejana itu ke depan hidung Idaline.
"Udel, kamu boleh tidak memaafkanku, tapi biarkan aku menerima hukuman." ucap Loro masih bergetar.
Napas Idaline kembali normal. Ia mendorong pelan bejana di tangan Fusena menjauhi wajahnya.
"Terima kasih, Fusena." ucap Idaline menyandarkan dirinya ke bantal yang sudah ditumpuk rapih.
Memajamkan mata sebentar. Ketika membuka mata Idaline menatap Loro yang bersimpuh. "Mas Agis jangan begitu. Kamu pergi dari dunia karena salahku, bagaimana bisa kamu meminta hukuman?"
"Hati kamu benar-benar lembut. Padahal itu kecelakaan yang tidak ada hubungannya denganmu. Rasa sakitku semakin dalam mengetahui kamu terus memikirkan kematianku hanya karena pertengkaran kecil yang sudah biasa terjadi setiap kita bertemu."
__ADS_1
"Kalau aku tidak mencari masalah dengan hal remeh. Mana mungkin mas kabur mengendarai motor dengan mata yang lelah." Idaline berusaha duduk tegak.
"Itu benar-benar bukan salahmu. Kejadiannya juga baru saja saat kami ditemukan. Mas berkendara karena sudah merasa segar saat menenggak kopi dengan teman. Malah dia yang lelah lalu mas memutuskan untuk berkendara." Loro mendongak menatap Idaline. "Maafkan mas yang sudah menyusahkanmu saat hidup bahkan sesudah mati."
"Jangan berbicara tentang kematian. Mas sudah hidup dengan bahagia di sini." meski Idaline berucap positif, hatinya malah tidak menerima kenyataan dua sepupunya hidup dengan baik.
"Oh hati yang busuk." lirih Idaline kembali menyandarkan punggungnya. "Semuanya pergilah. Aku ingin tidur."
"Kalau hatimu menjadi keras. Maka pikirkan hal-hal indah untuk melunakannya." pesan harimau putih sebelum menghilang.
"Kalian kembali saja mas." ucap Fusena.
"Mas?" gumam Loro memberanikan diri menatap Petapa Agung.
Secepat kilat ia menghilang tidak ingin menambah benci di hati adik sepupunya dengan terus berkeliaran di sekitarnya saat gadis itu menyuruhnya pergi.
"Aku akan menjaga Udelia." kata Fusena pada Siji yang bersimpuh di lantai. Fusena membiarkan Siji dan ia duduk di pojok ruangan.
Waktu berjalan dan Siji masih diam bersimpuh.
"Mas Agus, mau sampai kapan bersimpuh seperti itu?" kesal Idaline tak bisa tidur mendengar suara detak jantung Siji mengisi ruangan sepi.
"Ingatan yang datang tiba-tiba ini membuatku jadi bingung. Hidup manakah yang sebenarnya kujalani? Manakah yang asli? Manakah yang mimpi?"
"Mas sendiri sudah tau jawabannya."
Siji meluruh merasakan dirinya tidak kuat lagi bersimpuh bak tekanan berat menimpa punggungnya.
Ia mengusap kasar wajahnya menerima ingatan itu bahwa itu adalah kehidupan yang pernah dijalaninya.
"Aku tahu kelakuan mereka. Aku tahu gerak-gerik aneh mereka dari kejauhan."
"Aku pun melihat kamu dengan cemas yang mengurung diri, tapi tiga hari kemudian kamu kembali bercerita dengan riang."
"Seharusnya aku sadar, tidak, aku sudah sadar tapi tidak mau mengakuinya, menjauh melupakan masalah itu dan hidup normal dengan nyaman."
Idaline menahan isak tangisnya mendengar ucapan-ucapan Siji hingga tanpa sadar ia memasuki alam mimpi.
Sedangkan Siji terus bersimpuh sepanjang malam.
Mata Idaline membengkak saat ia terbangun. Idaline menghela napas melihat Siji masih bersimpuh. Ia turun dari ranjang kemudian mendekat ke Siji.
"Saya sudah memaafkan mas Agus." ulang Idaline.
"Benar kamu memaafkan kami?" Siji mendongak menatap Idaline.
"Semuanya sudah berlalu." Idaline mengusap air muncul di sela mata Siji.
Siji menangkap tangan Idaline lalu bersandar padanya. "Lalu sekarang kami tidak akan membuat kesalahan." janjinya.
Idaline menatap lurus Siji yang memejamkan mata di tangannya. "Aku tidak seperti mas yang lahir kembali. Aku akan kembali ke dunia yang sebenarnya. Kita tidak memiliki hubungan jadi tidak perlu terbebani." Idaline melepaskan tangannya dan berjalan meninggalkan Siji.
"Fusena, apa bahannya sudah siap?"
Fusena yang sedang bertapa membuka matanya. Sklera matanya berwarna hitam perlahan berubah menjadi putih dan iris mata yang berubah dari putih menjadi hitam menatap Idaline. "Tinggal dua bahan tersisa."
Idaline mengangguk, akhirnya waktu ia kembali pulang semakin dekat. "Aku akan kembali ke keraton. Persiapkan saja barang-barangku." Idaline membasuh wajahnya dengan air yang tersedia di baskom.
"Baik, Yang Mulia." ucap dayang yang menunggu di depan pintu kamar Idaline.
"Di mana Djahan?"
"Mahapatih sudah menunggu–"
"Aku takut mengganggu tidurmu." Djahan muncul membuka pintu dan kain pembatas.
"Aku kembali sekarang."
"Mari."
Idaline berjalan di samping Djahan. Meski ia memiliki trauma berat terhadap lelaki, anak-anak tidak berbahaya bagi dirinya atau alam bawah sadarnya.
Ia menerima uluran tangan Djahan dan duduk dengan nyaman di dalam kereta kuda bersama Djahan.
"Maafkan aku merepotkanmu." buka Idaline mengingat keributan semalam.
Ia sadar ada banyak kerusakan yang ditimbulkan dua sepupunya ketika memaksa masuk.
__ADS_1
Lalu dalam semalam semuanya kembali ke bentuk semula.
"Jangan berkata seperti itu di antara teman."
"Tentang Siji dan Loro, bagaimana kehidupan mereka?"
"Aku menemukan mereka dikelilingi harimau yang kelaparan. Gerobak yang membawa budak hancur berantakan dan para penjaganya mati diterkam." singkat Djahan menceritakan kejadian belasan tahun lalu.
"Mereka pasti memiliki trauma." Idaline menyesal sudah memiliki perasaan tak suka melihat kehidupan Siji dan Loro yang baik di bawah naungan Djahan.
Ternyata keduanya pernah menghadapi kehidupan yang begitu sulit.
Perbudakan adalah salah satu hal paling tidak manusiawi yang diadakan oleh manusia.
Katanya telah dimusnahkan, namun benarkah telah benar-benar musnah?
"Tidak usah khawatir. Sekarang mereka sudah kuat. Kawanan harimau sudah bukan tandingan mereka."
"Terima kasih sudah menjaga dan melatih mereka." Idaline berharap hanya ada kemudahan bagi keduanya di dunia yang memandang kekuatan sebagai puncak tertinggi.
Ia bersyukur kedua kakak sepupunya bertemu Djahan, salah satu dari sedikitnya bangsawan yang tidak menggunakan segel budak.
"Kamu seperti keluarga mereka saja."
"Kamu benar-benar baik mengasuh banyak anak terlantar." alih Idaline.
"Siapapun tidak akan tega meninggalkan mereka dengan keadaan seperti itu."
"Kamu sangat rendah hati."
"Tuan, Yang Mulia, kita sudah sampai." ucap kusir menghentikan kereta kuda.
"Sekali lagi aku ucapkan terima kasih untuk semuanya." kata Idaline setelah dibantu Djahan turun dari kereta.
Perasaannya tenang melihat Djahan sangat pengertian. Lelaki itu tidak sedikit pun menyinggung kejadian semalam. Padahal kejadian sebesar itu pasti mengundang banyak tanya.
Tentang harimau putih yang langka. Siji dan Loro yang begitu gusar. Dan Petapa Agung yang telah lama ditunggunya.
"Mas. Kalian benar-benar menemukan orang baik."
"Sama-sama."
"Aku masuk dahulu." pamit Idaline masuk ke dalam kediamannya setelah menerima anggukan Djahan. Para dayang menyambutnya dengan canggung.
"Siji, Loro." panggil Djahan.
"Siap tuan." Siji dan Loro muncul di hadapan Djahan.
"Kalian terus menjagaku selama beberapa bulan ini tanpa istirahat. Berliburlah dahulu, Telu dan Papat sudah kembali."
"Daripada liburan. Kami ingin menjadi pengawal." timpal Siji diangguki Loro.
"Lakukan sesuka kalian."
"Terima kasih tuan." ucap kompak Siji dan Loro lalu menghilang.
"Indra, sampai kapan kamu ingin menyamar sebagai kusir?" tegur Djahan membuat Indra menuruni kereta kuda.
"Ini pekerjaan bukan samaran." Indra membuka sedikit capingnya lalu kembali memasangnya melihat Idaline masih berjalan di halaman Kedaton Sedap Malam.
"Tapi kamu sampai merubah suara." beber Djahan mengikuti arah pandang Indra.
"Saya hanya tidak ingin menakuti Yang Mulia."
Djahan menatap manik Indra yang tidak biasanya peduli pada perasaan orang lain. Mata cokelat itu bergerak ke kanan dan kiri tak nyaman ditatap menelisik oleh Djahan.
Djahan mengalihkan padangannya ketika pengurus kandang kuda datang menuntun kuda hitam mendekat ke arah mereka.
"Kembali saja bawa keretanya. Aku akan menggunakan kuda." perintah Djahan menerima kuda itu.
"Baik, guru." Indra membungkukkan tubuhnya sampai Djahan menjauh dari pandangannya.
Ia kembali mengendarai kereta dan pulang ke kediaman mahapatih.
•••BERSAMBUNG•••
© Al-Fa4 | 06 Agustus 2021
__ADS_1