TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]

TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]
055 - PEREMPUAN PILIHANNYA


__ADS_3

Aroma makanan menyeruak ke dalam indra Idaline dan membangunkan gadis itu, cahaya matahari masuk dari jendela-jendela yang dibuka lebar pertanda hari telah berganti.


"Selamat pagi, istriku," sapa Djahan yang berbaring di sebelah Idaline.


"Selamat pagi, kangmas." Idaline mengecup sekilas rahang Djahan yang memenuhi penglihatannya kemudian Idaline duduk mengucek matanya. "Tanganmu pasti kram." Idaline memijat tangan Djahan yang jadi bantalan kepalanya.


"Tidak, kok." Djahan memegang kepala Idaline dan mengecup keningnya. "Mau makan sekarang?" Tadi Djahan telah terbangun terlebih dahulu menyiapkan makanan dan kembali berbaring takut istrinya mencari-cari dirinya.


"Woah kamu yang buat semua ini?" tanya Idaline dijawab anggukan Djahan. Pria itu menyuapkan makanan ke mulut Idaline. "Enak bangeet," ujar Idaline setelah menelannya.


"Makanan buatan istriku jauh lebih enak dari tangan penuh cinta ini." Djahan mengecup tangan Idaline.


Idaline balas dengan mencium pipi Djahan. "Mulutmu manis sekali," bisiknya. "Kangmas juga makan. Semua ini ga bisa kuhabiskan sendiri," ucap Idaline menaruh nasi dan lauk pauk ke piring kosong.


Djahan menerima suapan Idaline. Mereka menghabiskan semua lauk-pauk bersama-sama dengan saling suap-menyuap.


Setelahnya Idaline menitikan air mata, ia terharu Djahan sudah menyiapkan air hangat dengan bunga sebagai wewangian untuk diriya ada juga lotion-lotion kesukaannya padahal tidak ada orang lain di kediaman mereka.


"Padahal ini tugas perempuan," gumam Idaline.


"Istriku tidak perlu melakukan hal berat," timpal Djahan memasuki kolam yang airnya sudah berganti, kemarin ia menyiapkan air belerang hari ini ia menyiapkan air kembang untuk menghilangkan penat.


Djahan memandikan istrinya dengan normal takut wanita kecil itu akan tidak sadarkan diri lagi.


Usai mandi Idaline menyiapkan pakaian untuk mereka. Ia memakaikan Djahan kemeja kasual berwarna merah dan celana cokelat senada dengan kaos merah dan rok cokelat yang dipakainya.


Idaline dan Djahan kembali menyusuri jalanan yang sepi hingga sampai di utara kediaman. Suasana yang sangat disukai Idaline meski berada di keramaian tanpa orang yang memedulikan keberadaannya pun ia sukai.


Bersama Djahan Idaline merasa nyaman pergi ke mana pun. Dulu maupun sekarang "dan juga semoga seterusnya," batin Idaline.


Pikiran Idaline terbang ke enam tahun lalu.


Selama lima puluh empat bulan Idaline dan Djahan sering berjumpa tak sengaja setiap bulannya di desa atau kota yang mereka tuju. Baru di enam bulan selanjutnya arah tujuan mereka berlawanan dan tidak lagi berjumpa, hanya sekedar bertukar pesan.


Selama satu tahun terakhir pun mereka terpisahkan, Idaline fokus membantu Hayan dan Djahan fokus melakukan tugasnya. Tetapi perhatian Djahan tidak pernah berubah pada Idaline dan Idaline selalu senang menerimanya.


Biasanya Idaline hanya akan menerima perhatian yang tidak memaksa dan tidak menuntut serta tidak berlebihan. Idaline juga merasa tidak enakan pada Djahan tetapi apabila Djahan memberikan perhatian tanpa diminta Idaline, Idaline merasa senang dan tidak risih walaupun Djahan mengatur ini dan itu. Idaline menerima semuanya.


"Silakan tuan putriku." Djahan mengajak Idaline mendengarkan lantunan bonang di bale' bengong.


Di sebelah bale' bengong terdapat kolam yang berisi ikan arwana berbagai warna. Sangat memanjakan mata, apalagi udara sejuk berhembus dari taman kecil di sisi lainnya. Kucing yang dibiarkan berlarian menambah gembira hati Idaline.


Idaline duduk menekuk lututnya sambil mengetuk-ngetukkan jari di atas meja kecil yang terletak di sisi kanan bonang. Ia menggerakkan jarinya mengikuti alunan nada.


"Sini." Djahan menarik Idaline duduk di atas pangkuannya.


"Sebentar lagi maharaja akan menikah, maharani mungkin akan menyulitkanmu. Lagu ini baru saja aku ciptakan," kata Djahan memegang bindhi di kedua tangannya.


Djahan tahu Idaline tidak menguasai seni. Dalam pandangan Djahan, Idaline hanyalah enggan bukannya tidak bisa. Ia akan mengajari Idaline beberapa hal agar tidak dipersulit perempuan-perempuan yang banyak tipu muslihat.

__ADS_1


Yang lain mungkin bisa dijauhkan tetapi sangat tidak sopan bila itu maharani, ratu, dan para selir maharaja. Djahan masih perlu beberapa waktu sebelum meninggalkan posisinya.


Sementara Idaline terpaku mendengar ucapan Djahan. Pikirannya melayang membayangkan konsekuensi terburuk tetapi Idaline meyakinkan hatinya kalau anak yang sudah dewasa itu akan mendengarkannya sama seperti sebelum-sebelumnya.


"Kapan dia menikah?" tanya Idaline.


"Pergantian menteri akan dilakukan empat hari lagi. Saat itu akan diumumkan," jelas Djahan menunjukkan satu persatu ceret yang menjadi anak nadanya.


Penjelasan Djahan menambah buruk perasaan Idaline. Pada awalnya Hayan berkata pada Djahan dan Idaline juga para bhre saat mereka makan bersama, ketika itu Hayan ditanya perihal maharani oleh Netarja, Hayan menjawab bahwa dirinya ingin fokus memperluas wilayah kekuasaan, tidak perlu memikirkan maharani.


Pemilihan maharani dilakukan selama dua bulan dan yang terpilih akan dibina selama kurang lebih satu tahun. Bila Hayan tidak melakukan pemilihan pun, masih butuh waktu satu tahun sebelum maharaja menikah dengan maharani. Tetapi lelaki tertinggi di bhumi itu mengatakan akan menikahi maharani dalam waktu yang sangat kilat.


Seolah menyampaikan, perempuan pilihannya telah siap mengemban tugasnya.


Bahkan meski itu adalah Widya Sipta, prosedur masih harus dilakukan. Setidaknya butuh waktu sepuluh bulan untuk belajar dan beberapa bulan tambahan untuk meyakinkan Sapta Prabu, tujuh orang yang memiliki wewenang di atas maharaja dalam beberapa hal di luar keagungan seorang maharaja.


Seorang maharani tidak bisa dipilih sesuka hati bahkan oleh maharaja. Sapta Prabu akan memilih sampai mereka bertujuh setuju tanpa satu pun yang keberatan.


TING.


Suara pukulan bonang mengalihkan perhatian Idaline. Ia memperhatikan urutannya lalu mencoba satu persatu.


"Rambutmu wangi sekali." Djahan mengecup rambut Idaline, turun menghisap lehernya dan melingkarkan tangan di perut Idaline.


"Diem dong. Sedikit lagi bisa nih." Idaline menyikut pelan dada Djahan.


"Ugh..sekali kurang."


Idaline tidak merasa senang melakukan keberhasilan sekali. Ia harus memastikannya secara berulang kali untuk membuktikan itu adalah kenyataan atau hanya sebuah keberuntungan.


"Iya kurang," gumam Djahan menggigit telinga Idaline.


"Hei..katanya mengajari bonang," tegur Idaline namun membiarkan tangan suaminya terus menelusup ke dalam roknya.


"Ah istriku. Maaf keterlaluan." Djahan menarik tangannya tapi Idaline menahannya.


Wajah Idaline semerah kepiting menyadari gumpalan di tempat duduknya. Ia meletakkan bindhi lalu menangkup wajah suaminya dan menciumnya lembut. Karena istrinya mengundang, Djahan merendahkan kepalanya dan membawa Idaline ke hamparan kembang bedugar, bedug-bedug megar, atau bunga krokot mawar.


Djahan kembali menelusupkan tangannya dan melepaskan kancing di dalam kaos yang menutupi buah milik Idaline. Idaline pun membantu Djahan melepas kancing kemenjanya. Idaline menggelinjang geli saat Djahan menghis*p pucuk kerasnya dari luar kaos.


Waktu berlalu dan Idaline merasa kesal Djahan tak kunjung menyatukan diri mereka.


"Aku takut kamu pingsan lagi," bisik Djahan parau menyadari raut kesal istrinya.


Idaline menggigit tulang selangka Djahan membuat lelaki itu mengerang. Tulang selangka adalah titik lemah Djahan.


"Ayolah kangmas," bujuk Idaline terus menjilati tulang selangka Djahan. Djahan tidak bisa lagi menahan keinginannya dan ia harus melanggar janjinya pada dirinya sendiri yang tidak mau melihat Idaline kelelahan.


••••••••••••••••••••

__ADS_1


Idaline menatap kanvas di depannya. Salah satu hadiah yang ia berikan pada Djahan ketika ulang tahun adalah satu set alat lukis karena lelaki itu sangat menyukai seni, berbanding terbalik dengan dirinya.


"Bagaimana? Apakah mirip?"


"Sangat mirip. Si Oren dan si Item juga. Laptopnya pun.. Djahan, apa kamu orang modern?" Idaline menyipitkan matanya curiga pada Djahan.


"Haha mana mungkin. Ini karena sayangku jelasin dengan jelas." Djahan melepas sarung tangannya. "Cantik sekali," pujinya.


"Jangan bohong!"pekik Idaline menatap lukisan Udelia bersama dua kucing peliharaannya.


"Ada yang bilang semua orang punya penilaian berbeda, jangan bersandar pada standar yang dibuat khalayak."


Idaline tersenyum. "Kadang orang tidak mampu melakukan apa yang diucapkannya." Idaline memegang bagian lukisan yang telah kering. "Tetap memalukan melihat wajahku sendiri. Lebih baik simpan saja di gudang."


"Hadiahku, aku yang tentukan."


Idaline menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, lukisan bergambar Udelia beserta kucing-kucing kesayangannya digantung di dinding kamar Djahan. Lelaki itu bersikeras dan pura-pura tidak mendengar penolakannya yang berteriak malu.


"Yang datang akan pergi. Jika senang menerima kedatangan maka bersiaplah akan sebuah kepergian." Idaline menatap Djahan yang berdiri di sebelahnya. "Aku punya sahabat, putri tertua dan merupakan putri sah keluarga Sapta. Dia akan menikah dan tinggal jauh, mohon perhatikan mereka."


"Janapada juga akan kujaga," sambung Djahan memeluk Idaline dan mengecup puncuk kepalanya.


"Aku melupakan hal itu," ucap Idaline dalam hati.


Selama bertahun-tahun ia tinggalkan Janapada, tidak ada yang berubah di sana. Semua harta kekayaan milik tuan mereka disimpan dengan baik dan hasil panen dibagikan dengan merata sesuai permintaan Idaline namun mereka tidak akan lupa menyediakan sayur dan buah segar ketika Idaline berkunjung.


"Oh berbicara tentang Janapada, aku ingin membuat kue cokelat." Hidup Idaline tidak bisa dilepaskan dari yang namanya cokelat. Beruntung Fusena menguasai portal dan mengajarinya, meski terpaksa. Idaline jadi tidak kesusahan menyetok ulang cokelat dan tinggal mengambilnya langsung di Janapada.


"Kebetulan beberapa dayang yang berlibur ke sana sudah pulang. Sekarang berada di penginapan," ujar Djahan menerima surat dari burung dara saat ia mengambil peralatan lukis.


"Masih dua hari." Idaline menghitung dengan jarinya. "Mereka pasti gatal tangannya ingin bekerja!" ucap Idaline gemas, ia tidak percaya ada orang yang gila bekerja.


"Telu bilang mereka bekerja dengan sukarela di kebunmu." Djahan menjentikkan jarinya memanggil sang burung dara. "Saat pulang dibawakan banyak cokelat, ada milikmu juga. Cokelat cokelat, cokelat hitam, dan cokelat putih," terangnya menunjukkan kertas yang dikirimkan dayang.


"Nanti aku harus ajari mereka cara bermalas-malasan dengan benar!" sungut Idaline. Para dayang itu tidak memiliki kemampuan untuk menjadi malas!


••• BERSAMBUNG •••


© Al-Fa4 | 08 September 2021


Terima kasih guys dukungannyaaa


Selalu tebar Like, Komen, Vote, Hadiah ya


Hehe


Sehat selalu sekabehe


ꦏꦸꦭꦺꦴꦠꦿꦺꦱ꧀ꦤꦺꦴꦏꦫꦺꦴꦏꦺꦴꦮꦺ꧈ꦄꦭ꧀ꦥ꦳꧇꧔

__ADS_1


__ADS_2