TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]

TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]
053 - TITAH


__ADS_3

Saat bulan semakin meninggi, orang-orang membubarkan diri dan meninggalkan Djahan seorang diri. Idaline berdiri di depan cermin memperhatikan kebayanya yang sudah berganti gaun pendek yang hanya diikat sebuah tali serupa dengan gaunnya.


Idaline memegang bahunya dan memerah menyentuh tali bahu tipis yang tercetak pada kain gaunnya.


"Aku merasa jadi orang mesum," gumam Idaline. Ia melepas tali dan gaunnya ingin mengganti pakaian dalamnya.


"Uhm. Ida, aku masuk ya?" izin Djahan di luar pintu.


"Eh? Sebentar!" sahut Idaline buru-buru meraih kain di kasur, tiba-tiba kepalanya terasa berat tidak sempat meraih kain tersebut.


PUFF. Sebuah kabut putih tipis muncul di tempat Idaline lenyap.


"EH??" Wajah Idaline terhempas jatuh ke atas kasur. "Berani sekali memanggilku setelah tidak datang di acara siraman dan–" Idaline menghentikan ucapannya menyadari hanya memakai selembar kain dan sahabatnya sedang menangis di pinggiran kasur.


"Udel.. Udel tolong aku." Widya mencengkeram tangan Idaline.


"Kamu keluarlah dulu," perintah Idaline. Bayangan hitam di langit-langit atap menghilang.


"Kya! Apa yang kamu kenakan?!" syok Widya menyadari kain merah yang tidak akan bisa menutupi seluruh tubuh seseorang. Bahkan tiga bagian yang lebih tebal kainnya tidak menutup sempurna bagian yang dibalutnya.


Beruntung Widya adalah relawan sama seperti Idaline, ia jadi tidak pingsan melihat tubuh orang lain. Kendatipun demikian, Widya tidak menyangka sahabatnya memakai pakaian tidak senonoh.


"Kamu memang mesum tetapi kenapa sekarang tidak senonoh!?" batin Widya.


Idaline menggosok cincinnya lalu memakai piyama yang nyaman digunakan. "Haah kamu ini kenapa–" Punggung Idaline menyentuh kasur tidak siap menerima pelukan mendadak dari Widya. Ia menepuk punggung gadis yang menangis kencang itu yang tangisannya hampir-hampir memecahkan gendang telinganya.


"Terima kasih." Widya menerima teh panas dari Idaline. Sahabatnya yang gila teh itu telah menularinya hingga Widya menyetok berbagai jenis teh di dalam kamarnya. "Oh ya, kenapa kamu memakai lingerie?" Widya menelisik tubuh Idaline yang telah tertutup piyama tebal berwarna erang, biru kehitam-hitaman


Mata Idaline melebar. "Jangan bahas itu dulu," elaknya. "Kamu kenapa?"


"Udel..kamu akan pulang?" tanya balik Widya.


"Hanya karena itu? Kamu takut ditinggal sendirian? Jadi mau pulang?" cecar Idaline. Ia tahu kebahagiaan Widya berada di dunia baru tetapi mereka bukanlah jiwa-jiwa yang seharusnya berada di sana. Idaline akan terus mencoba membujuk Widya sampai akhir.


"Aku kan sudah bilang ibu dan adik-adikku ada di sini. Aku tidak mau berpisah lagi terutama ibu yang sudah lama hilang dari hidupku."


Idaline tidak tau harus berbicara apa, dunia mereka ada di tempat lain. "Namun apa dunia ini bukan dunia kita juga?" pikirnya. Idaline memeluk Widya yang berlinang air mata.


"Udel, kamu akan pulang kan? Akan pulang?" tanya Widya menegaskan.


"Iya.. iya." Idaline menjadi ragu. Ia sudah memiliki suami, bisakah ia egois kembali pulang ke dunia yang jauh yang mungkin saja sulit untuk berjumpa?


"Kalau begitu tolonglah aku," pinta Widya menggenggam tangan Idaline.

__ADS_1


"Ada apa memangnya?" tanya Idaline pada Widya yang menghentikan ucapannya. Gadis itu melamun kebingungan dan melepaskan tangannya.


"Kamu janji akan menolongku?"


"Aku lakukan semua yang kubisa,"


"Bimo menjadi demang setelah menyelamatkan natha Kuti dan keluarganya. Aku dikirim ke sana sebagai asisten. Ayah pun mulai memperhatikannya." Widya menatap jendela tempatnya dan sang kekasih saling membelakangi dan berbagi cerita.


"Surat perintah Yang Mulia Maharaja turun ingin menjadikan aku maharani. Aku, aku tidak mau. Istana tempat rumit yang bahkan bernapas saja sulit. Kumohon, Udel. Gantikanlah aku." Widya memegang tangan Idaline lagi.


"Tenang saja, aku akan berbicara padanya. Kamu fokus saja mempersiapkan pernikahanmu." Idaline merasa arah pembicaraan ini sudah tidak wajar. Ia melepaskan tangannya dan menenggak teh dengan kasar.


"Tidak bisa. Aku sudah mengangkat perihal kamu tapi tidak berpengaruh. Kalau itu kamu yang berprestasi, murid Petapa Agung, sangat cerdas, dan cantik.." Widya mengelus pipi Idaline yang tertutupi rambut panjangnya. "..beliau pasti akan melepaskanku kan?" Widya memaksakan bibirnya tersenyum.


"Aku–"


"KUMOHON!" potong Widya bersimpuh di kaki Idaline. "Kumohon jangan ditolak. Kamu bilang sepupumu akan membawamu pulang dalam waktu dekat kan?" Widya mendongak, matanya basah. "Tahanlah sebentar saja, ya?"


"Kamu tau istana tempat yang berbahaya tapi memasukkan temanmu ke sana?" Idaline menatap sendu Widya, bibir bawahnya bergetar.


"Kamu bicara apa sih? Kamu kan sudah tinggal di sana dalam masa yang lama." Widya mengusap matanya yang buram. "Aku adalah gadis tertinggi setelah para putri. Pernikahan antar sepupu dilarang di sini dan yang tersisa adalah kamu, sahabatku." Widya meringkuk memeluk kakinya sendiri dan menenggelamkan wajahnya di atas lututnya.


Idaline diam tidak menjawab, ia dongakkan kepala menahan air mata yang tetap keluar.


"Ah aku bicara apa sih," gumam Widya masih menyembunyikan wajahnya. "Aku sudah kehilangan akal. Memintamu belum tentu kami selamat. Dan ibuku.." Widya menggeser kepalanya dan meletakkan pipinya di atas lutut


"Jangan. Jangan. Aku hanya terlalu takut melihat Yang Mulia Maharaja secara langsung. Auranya sangat membuat tertekan." Widya melambaikan tangannya ke kiri dan ke kanan.


"Fusena sudah menemukan jalan untuk pulang."


Widya mengusap air matanya yang keluar tak bisa dibendung. "Jadi kamu akan pergi?"


Idaline berjongkok sejajar dengan Widya. "Tempatku bukan di sini, tapi untukmu mungkin saja kesempatan kedua." Idaline memeluk Widya yang bergetar menahan tangis.


Idaline mengingat hari-hari yang ia habiskan bermain ponsel sepulang sekolah. Ia tidak peduli sekitarnya bahkan ketika ibu dari satu-satunya sahabat yang terus berada di sisinya, meninggal. Waktu tersulit sahabatnya yang sedang merantau jauh dari ibunya dan hanya tinggal bersama neneknya, ia tak ada di sana.


"Saat itu kamu pasti kebingungan kan? Telponmu tak kuangkat karena malas keluar. Bahkan aku baru tahu setahun kemudian." Penyesalan terlukis jelas di wajah Idaline. Ia selalu menyesal padahal Widya tidak pernah absen ketika dirinya membutuhkan bantuan sampai mereka terpisah dunia dan kembali berjumpa.


"Udel, tidak perlu memaksakan diri." Widya melepaskan diri dari pelukan Idaline.


"Hust. Diamlah." Idaline meletakkan kepalanya di bahu Widya, menggigit bibir menahan tangis. "Aku pulang." Idaline memanggil Utih lalu menaikinya.


"Kamu benar-benar akan menggantikanku?" tanya Widya memastikan.

__ADS_1


"Tenang saja."


"Erm. Bagaimana kalau kita makan malam dulu?" tawar Widya.


Idaline pergi tidak menjawab tawaran Widya. Tangan Widya mengambang di udara, perasaannya lebih hancur daripada saat menerima berita ia akan masuk ke keraton. Widya berharap dirinya tidak akan sekali pun mengecewakan Idaline, tetapi ia malah memberikan beban yang sangat berat.


"Apa aku membuat kesalahan besar?" Widya menarik tangannya. "Bimo kenapa kamu datang?"


Bimo berdiri menjulang di depan Widya yang masih berjongkok. "Aku sudah di sini sejak surat titah datang. Ayahmu sangat khawatir." Bimo menuntun Widya untuk duduk di kursi.


Widya mengambil air di gelas, ia minum dalam sekali tenggak. "Air mataku sudah kering, aku sudah tidak bisa menangis lagi." Widya mengambil tangan Bimo menyuruhnya mengusap matanya. "Apa aku melakukan kesalahan?"


"Pagi tadi pelayan Raden Ajeng datang. Dia menyampaikan pesan bahwa Raden Ajeng sudah menunggumu sejak acara siraman."


"Apa ada upacara khusus hari ini? Semua orang keluar dan aku di sini, dipenjara di kamarku sendiri," sungut Widya. " Ternyata karena maharaja menginginkanku." Widya duduk dengan tegak.


Widya teringat saat pagi-pagi sekali rombongan keraton datang dan memberikan titah. Tidak ada yang tahu titah itu selain orang yang berada di kamarnya. Padahal hal sebesar itu tetapi tidak menunggu tuan rumah. Biasanya sang Maharaja mengetahui seluruh aktivitas bawahannya dan memberikan titah besar ketika keluarga yang diberi perintah sedang berkumpul.


Terlebih titah untuk menjadi Maharani. Pendamping Maharaja untuk membantu tugas-tugasnya. Namun nyatanya tidak demikian. Widya tidak mengambil pusing. Widya akan memberikan sekantong emas pada dayangnya yang telah menyelamatkan pernikahannya.


"Semua sudah usai. Kita bisa fokus menikah setelah memberitahukan ayah di acara keluarga." Senyuman terlukis di wajah Widya yang masih sembab.


"Sayang, siraman itu untuk acara pernikahan."


Tampak teror terlukis di wajah Widya.


••• BERSAMBUNG •••


© Al-Fa4 | 06 September 2021


HAYOOO JADI NGGAK MALAM PERTAMANYAA?


Menurut kelean jadi gak? hihihihihi


Terima kasih sebanyak-banyaknya yang udah dukung nih novel sampe ke eps ini


yuhhh komen dan like supaya author tau siapa aja yang bacaaa


Sehat selalu semuanya


Love, Al-Fa4


Today In History :

__ADS_1


06 September 1566 M


Syahidnya Sultan Suleiman Al-Qanuni


__ADS_2