![TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz--berpindah-ke-zaman-keemasan-.webp)
Bale' Ageng yang besar dan lenggang terletak di bagian terdepan dari pintu masuk utama Keraton.
Di dalam Bale' Ageng terdapat dua aula besar yaitu Aula Ageng dan Aula Arjwa.
Aula Arjwa digunakan untuk tempat melangsungkan pesta. Di sana tersimpan rapih seluruh alat musik dari setiap daerah.
Tahun ini tempatnya menjadi lebih luas setelah didesain ulang oleh Idaline sebab keragaman alat musik terus bertambah seiring banyaknya daerah yang ditaklukkan.
Sedangkan Aula Ageng terdiri dari sebuah ruangan luas tanpa sekat yang biasanya dipenuhi para menteri dari berbagai bidang dan daerah.
Mereka memberikan laporan langsung pada pemimpin tertinggi Bhumi Maja sesuai jadwal yang telah ditentukan.
Hari itu semua pintu dan jendela Aula Ageng terbuka lebar. Udara sejuk dari luar masuk ke dalamnya. Tetapi jumlah orang yang berada di dalamnya sangat sedikit.
Tidak ada pesta di sana.
Orang-orang itu duduk di lantai yang dingin namun suhu dingin yang menerpa mereka tidak dapat menghilangkan aura panas mencekam dari seseorang yang menjadi pusat perhatian.
"Saya yakin Anda semua tahu alasan berkumpul hari ini, Sapta Prabu," buka Hayan menatap satu persatu wajah tua yang pernah berdedikasi untuk Maja hingga berubah menjadi Bhumi yang berkuasa di atas banyak kerajaan yang dulunya besar.
Dari ketujuh orang itu empat di antaranya sedang berada di luar ibu kota, jadi Hayan baru membuka rapat penting ini setelah tujuh hari peristiwa Lapangan Bubat terjadi.
Tentang Idaline, Hayan sengaja mengabaikannya. Biarkan saja perempuan itu sadar dengan sendirinya!
Jika perempuan terlalu dimanjakan, dia akan ngelunjak!
Dan Hayan masih marah atas perkataan Idaline. Seolah perempuan itu bisa dengan ringan membunuh buah hatinya sendiri.
"Yang Mulia Maharaja, Tuan Mahapatih mendatangi kami mengusulkan penghentian perjodohan Anda, tidak ada hal lain," ucap Catra Yuswanto.
"Saya sependapat dengan Tuan Mahapatih yang tidak ingin pihak lain tiba-tiba naik ke atas. Namun cara Tuan Mahapatih sangat tidak ksatria," ujar Boco Ekadanta.
Dia memiliki banyak kesamaan dalam ilmu dan pendapat dengan Mahapatih. Namun cara Mahapatih menghadapi Kerajaan Galuh tidak sesuai dengan prinsipnya.
Harusnya prinsip Mahapatih juga seperti itu.
Cara tidak ksatria ini bukan gaya Mahapatih.
__ADS_1
Seseorang yang belajar pada pendiri Kerajaan Maja akan menjunjung tinggi nilai-nilai ksatria.
Mereka akan selalu mengedepankan kebenaran di atas segalanya.
"Saya mendapatkan berita bahwa Kerajaan Jalu sedang bersiap menyerang Kerajaan Galuh," kata Madhu Buntala yang selamat dalam peristiwa Perang di Lapangan Bubat.
Madhu berharap berita ini dapat menyelesaikan masalah yang terjadi. Dia tidak mau semua orang saling bersitegang sampai mengangkat senjata untuk membela diri.
Meski Madhu sendiri sedang bersitegang dengan Djahan. Dia tidak ingin ada kehancuran saat Bhumi Maja baru saja berdiri.
Waktu itu Madhu hampir saja mati, anak buah Djahan seperti setan yang sedang menghancurkan sekitarnya.
Madhu dan ksatria-ksatria pribadinya saat itu berdiam diri saja tidak ikut menyerang ataupun membantu Galuh tapi semuanya turut diserang dan terluka, entah luka ringan maupun luka berat.
Setelah perang berakhir tidak ada kata maaf yang terucap dari Djahan. Pria itu bahkan membiarkan mereka tergeletak di Lapangan Bubat, di samping mayat-mayat yang bersimbah darah.
Ketika malam harinya turun rintik hujan, Madhu dan ksatria-ksatrianya tetap tidak dipedulikan.
"Syukurlah kalau begitu. Kita bisa mencari celah saat mereka ribut," sahut Jaya Pandya.
Keributan antara Kerajaan Jalu dan Kerajaan Galuh tidak membuat Bhumi Maja bisa berlepas diri dari kemarahan orang-orang Galuh.
Gitarja tidak ingin mereka berleha-leha sementara musuh bisa menyergap kapan saja.
Keluarga inti istana Kerajaan Galuh semuanya telah mati, mereka yang berada di kerajaan tidak mungkin tinggal diam melihat saudara saudari mereka mati mengenaskan di hari yang seharusnya menjadi hari bahagia bagi mereka.
"Ibu suri benar. Itulah alasan kita tidak bisa mengirimkan mata-mata dengan tepat. Semuanya kembali tanpa hasil." Boco Ekadanta mengingat Candraaji, putranya, yang langsung dilempar keluar tidak lama setelah menyusup. Sangat beruntung putranya masih bisa diselamatkan.
Padahal Ekadanta adalah keluarga sihir terkuat di Jawa Dwipa.
Alasan Kerajaan Galuh belum ditaklukkan oleh Bhumi Maja sedangkan negeri seberangnya sudah adalah karena Kerajaan Galuh memiliki warisan yang kuat dari sejarah panjang sejak Kerajaan Sunda Galuh berdiri.
Walau terjadi perpecahan, para tetua yang dipercaya menyimpan rapih warisan-warisan dari para pendahulu sehingga kedua kubu itu tetap bisa mempelajari warisan nenek moyang mereka.
"Saya mengumpulkan Anda sekalian bukan untuk mendiskusikan hal ini," tutur Hayan membuat ketujuh orang itu serempak menatapnya heran.
Rasa-rasanya tidak ada kejadian lain yang terjadi!
__ADS_1
"Saya sangat tidak suka dikendalikan dan dipermainkan dari balik layar. Dari semua Sapta Prabu tidak akan ada lagi yang tinggal di istana. Gelar kalian tetap sama tapi datanglah hanya ketika ada panggilan dariku. Semua. Sapta. Prabu." Hayan menekan kalimat terakhir.
Hayan menyadari rencana ketujuh orang di hadapannya. Mereka sudah menyiapkan rentetan gelar dan pesta untuk sang Ratu agar memiliki kuasa lebih dari seorang Maharani.
Ketujuh orang ini ingin menjadikan Citra Resmi sebagai pion untuk mengawasi Maharaja dari dekat dan untuk menekan Maharani.
Ini adalah dampak dari Hayan yang terlalu mendengarkan Idaline hingga membatalkan perluasan wilayah ke Tanjung Nagara yang dijadwalkan berangkat satu bulan lalu.
Citra Resmi tidak hanya dikenal sebagai perempuan cantik, dia juga licik dan penuh siasat. Maka dari itu tidak pernah terdengar satu pun kabar bagus tentang adiknya, Citra Resi. Padahal keduanya sama-sama mendapatkan perhatian dari Bangkara karena keahlian mereka.
"Perempuan itu mengerikan. Masalah keluarga kadang lebih pelik daripada berhadapan dengan musuh di medan perang," batin Hayan membayangkan Resmi menjadi Ratunya dan membuat serentetan masalah yang dapat merenggangkan hubungannya dengan Maharani.
Meski tujuan Hayan mempersunting Citra Resmi adalah sama-sama untuk memanfaatkannya. Hayan tidak akan membiarkan mereka yang mencoba mengendalikan dirinya.
"Kami siap melaksanakannya, Yang Mulia Maharaja," ucap keenam pria bersamaan.
"Bagaimana dengan Galuh?" tanya Gitarja Wijaya, satu-satunya perempuan dalam anggota Sapta Prabu dan merupakan mantan Ratu Kerajaan Maja.
Perempuan yang sekarang berstatus Ibu Suri itu menyayangkan langkah sembrono Hayan yang dapat memicu kerenggangan antara keraton dan para bangsawan tingkat atas.
"Menghukum di situasi genting seperti ini.. dapat melahirkan musuh baru!" batin mantan ratu itu menilai.
"Tribhuwana tidak perlu khawatir. Sejak pagi tadi terjadi pemberontakan antara putra Prabu Lingga Buana dengan kemenakan Prabu Lingga Buana."
"Putranya? Bukankah sudah mangkat sejak bayi?" Gitarja berpikir keras.
Selama berkuasa Gitarja belum pernah mendengar hal ini, tentang putra Lingga Buana yang lain. Padahal Kerajaan Maja dan Kerajaan Galuh memiliki hubungan baik dari pertemanan baik antara Lingga Buana, Gitarja, dan Dhara, suami Gitarja.
Awalnya tujuan Hayan memanggil Sapta Prabu adalah untuk meminta seluruh pasukan pribadi yang mereka punya agar memperkuat pertahanan ibu kota kemudian datang informasi dari Idaline yang sangat berguna.
Dia dan seluruh pemimpin-pemimpin besar seantero kepulauan-kepulauan besar tidak akan tahu Lingga Buana memiliki putra lain bila Idaline tidak menjabarkannya.
Orang yang cerdas pasti tahu alasan Lingga Buana menyembunyikan putranya.
••• BERSAMBUNG •••
© Al-Fa4 | 06 November 2021
__ADS_1