TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]

TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]
096 - KESEMPATAN SEKALIGUS HUKUMAN


__ADS_3

Idaline menatap punggung kecil yang bergetar hebat. Anak kecil ini pasti telah menerima banyak siksaan yang kelak akan menjadi trauma.


Dia memejamkan matanya menghilangkan rasa kasihan yang muncul di dalam dada.


Benar kata Loro, yang bersalah harus dihukum.


Sebab kelalaian ini dapat mengakibatkan perang besar dan kerusakan yang parah bila saja tidak ketahuan.


"Slamet, aku akan memberimu satu kesempatan."


Slamet bangun dan bersandar di tembok di dekatnya. Dia menggerakkan bibirnya menjawab Idaline tanpa suara.


Slamet pun menyeret kakinya dan bersujud di depan Idaline.


"Tentukanlah, kekasihmu atau keluargamu?"


"Tentu saja keluarga hamba, Yang Mulia," jawab mantap Slamet.


Dia lebih mencintai tanah airnya daripada keluarganya dan dia lebih mencintai keluarganya daripada musuh yang menyamar dan menggodanya.


Jadi bahkan bila Maharani tidak memberikan pilihan, Slamet telah menentukan jalannya.


"Ini. Buktikan." Idaline melempar keris ke depan kepala Slamet yang bersujud di kakinya.


Kemudian Idaline menjentikkan tangannya dan seorang perempuan diseret masuk oleh beberapa prajurit ke dalam ruangan.


Idaline mengibaskan tangannya menyuruh para prajurit keluar.


Slamet meraih keris di depannya lalu terseok-seok berjalan menuju kekasihnya.


Dia tidak dapat membendung air yang menggenang di matanya melihat sang kekasih bersimbah darah lebih parah dari luka-luka yang diterimanya.


Raganya mungkin berusia tujuh tahun tapi Slamet sama seperti Widya yang mengingat kehidupan di dunia modern.


Hidup yang sulit setelah sang ayah menikah lagi membuatnya sering melihat wajah asli orang-orang yang bermuka dua.


Kebanyakan dari mereka sulit untuk berubah.


Dan dia tidak punya banyak waktu untuk merubah sifat seseorang.


"Aku mencintaimu.. sangat tulus, kulakukan apa pun untukmu tapi ternyata kamu hanya mempermainkanku." Slamet mengatur suaranya yang semakin hilang.


Lalu Slamet menatap kekasihnya yang diam tidak bersuara dan tidak berkedip.


" Selamat tinggal, cintaku!"


Slamet mengambil kesempatan sekaligus hukuman yang diberikan sahabat kakaknya.


Idaline memejamkan matanya kala Slamet menekan keris di dada sang kekasih.


Darah sang kekasih memuncrat ke tubuh Slamet, membasahi jarik yang dipakainya.


Mata Slamet kosong, dia baru saja membunuh cinta pertamanya dengan tangannya sendiri.


"Kamu tidurlah," ucap Idaline memegang kepala Slamet.


Slamet terjatuh ke lantai dengan wajah saling berhadapan dengan sang kekasih. Air matanya terjatuh bercampur dengan darah segar yang masih mengalir.


Kekasihnya tersenyum kecil, dia senang seseorang yang berhasil masuk ke dalam hatinya sama seperti dirinya.


Yaitu sama-sama mencintai negerinya.


"Bawa dia ke dalam sel," titah Idaline pada prajurit di depan ruang wlaka.


Prajurit-prajurit itu menekuk kakinya berjongkok, meletakkan tangan kirinya di tanah dan menekuk tangan kanannya di depan dada. "Baik, Yang Mulia." jawab mereka serempak.

__ADS_1


"Maharani," panggil Boco yang baru datang bersama Arsa, dia sedikit khawatir melihat darah di kain putih yang dikenakan Idaline.


Apa Maharani mereka telah berkhianat?


"Pikirannya terpengaruh. Sekarang sudah kembali. Tuan-tuan tidak perlu khawatir," ujar Idaline tanpa ditanya. "Saya permisi." Idaline berjalan meninggalkan Boco dan Arsa tanpa mendengar jawaban mereka.


Dia menghela napas panjang. Niatnya datang dengan cepat agar tidak diketahui orang malah diketahui orang-orang merepotkan.


Sepertinya dia harus menyiapkan naskah untuk menjawab pertanyaan dari anggota-anggota Sapta Prabu.


"Saya tidak paham ucapan Yang Mulia," ucap Arsa mengikuti pengawal sel bersama Boco.


Mereka sedang berjalan menuju tempat penahanan keluarga besar Sapta.


"Bisa Anda jelaskan, tuan Baga Sapta?" tanyanya berdiri di depan sel Baga.


Sedangkan Idaline pergi ke Bale' Ndamel. Dia akan menyelesaikannya saat ini juga.


Dia tidak ingin pihak Keraton terlibat yang akan membuat masalah semakin besar apalagi jika publik mengetahuinya.


"Maksud Maharani mereka terpengaruh dan sekarang sudah dibersihkan?" tanya Hayan tidak mengalihkan pandangannya dari berkas di tangannya.


"Tidak ada kutukan untuk para pengkhianat dalam tubuh mereka. Maharaja bisa mengulang lagi sumpah itu agar makin kental," kata Idaline merasa mereka tidak bersalah.


Bagaimanapun mereka dijebak!


Jika mereka benar-benar bekerja sama, mereka akan terkena kutukan pengkhianat dan serendah-rendahnya kutukan akan membuat mereka kepanasan selama satu bulan penuh.


Sedangkan keluarga Sapta tidak ada satu pun yang sakit.


Hayan meletakkan berkasnya dan menatap serius perempuan yang duduk di depannya. "Maharani, kali ini tidak bisa begitu saja.."


"Aku mempertaruhkan nyawaku."


"Apa?"


Mata Hayan mengkilat. Dia mematahkan pena yang digenggamnya.


Perempuan ini sungguh tidak menyayangi nyawanya.


Pertama Djahan kemudian Widya.


Apa dirinya dan anak mereka tidak ada dalam prioritas Idaline?


Hayan sangat marah tapi tidak dapat meluapkan kemarahan pada Idaline maupun orang-orang yang disayangi perempuan itu.


"Kali ini.." Hayan menggertakkan giginya. "Cukup kali ini kamu begini. Berjanjilah jangan temui siapa pun sebelum kamu mendapat izin. Termasuk Petapa Agung," tawar Hayan.


"Aku, Idaline, bersumpah tidak akan bertemu siapa pun kecuali telah mendapat izin dari suamiku, Nirankara Hayan Wijaya, Maharaja Bhumi Maja. Jika melanggar aku akan ma–"


"Cukup janjinya," potong Hayan, perempuan ini benar-benar tidak sayang nyawanya. "Sekarang kembalilah, Maharani. Menurutlah atau keluarga Sapta akan hilang saat itu juga!"


Idaline menuruti Hayan dan bersegera pulang ke tempat tinggal mereka.


Hayan melempar asal pena yang patah itu dan merobek kertas titah yang di atasnya tertulis tanggal eksekusi Baga Sapta dan putra-putranya.


Ia mengambil kuas dan menulis titah lain.


"Keluarga Sapta terkena ajian kelompok Soca. Hampir saja terjadi hal gawat kalau tidak segera ditemukan. Oleh karena sebab itu, Baga Sapta dan keluarga akan dipindahkan ke Madura untuk menjalani tapaan panjang. Terimalah kebaikan ini," ucap Huna di depan Baga Sapta dan putra-putranya yang bersujud menerima titah dari Maharaja.


"Hamba sangat berterima kasih pada Yang Mulia Maharaja. Semoga Yang Mulia Maharaja selalu diberkahi kebijaksanaan dan keagungan," jawab Baga menerima kertas berlapis emas itu.


"Tuan Sapta. Anda tahu kebesaran ini didapat dari mana. Kelak perhatikanlah keluargamu dengan saksama," pesan Huna meninggalkan mereka.


"Akan saya ingat."

__ADS_1


Perjalanan dari penjara terdalam menuju gerbang kulon yang bukan gerbang utama mengharuskan mereka melewati tembok-tembok tinggi kedaton.


Baga menangkup kedua tangannya dan menunduk ketike melewati Kedaton Sedap Malam. Dia dan putra-putranya bersumpah kelak akan membalas kebaikan ini.


Nyawa mereka adalah milik Idaline.


"Anakku pasti bosan dielus ibunda terus, ya?" gumam Idaline mengelus perutnya.


"Yang Mulia, Keraton Capuri sudah selesai direnovasi, sekarang dapat ditempati," kata dayang kamar Idaline.


"Panggil dua orang dari masing-masing kedaton secara acak untuk pindahan. Pilih yang belum pernah melayani orang-orang besar," titah Idaline.


Idaline sengaja memilih orang-orang yang belum pernah bersinggungan dengan orang besar karena dengan begini sedikit kemungkinan tipu muslihat dilakukan di Keraton Capuri yang baru.


Dan kebanyakan orang-orang rendah diperlakukan tidak adil oleh atasan mereka.


Ketika mereka telah naik ke atas, mereka akan berusaha dengan keras untuk tetap berada di posisi itu dan akan memperingati mantan atasan mereka yang bekerja sama dengan bangsawan-bangsawan tinggi.


Dengan menekan orang-orang yang bekerja sama dengan bangsawan di luar keraton, mereka pasti berpikir telah memproklamirkan kesetiaan pada Idaline.


Maharani penguasa Bhumi Maja.


"Baik, Yang Mulia."


Dayang itu mundur teratur dan keluar memilih sendiri orang-orang yang dimaksudkan Idaline.


Tak lama setelah itu Siji dan Loro yang bersembunyi di atap-atap kamar turun menghadap Idaline.


"Udel, kita ga bisa mantau lagi kalau kamu pindah. Tetaplah di sini," ucap Loro khawatir.


Adiknya ini telah melakukan banyak dosa besar. Jika suatu saat Maharaja sudah tidak memiliki ketertarikan pada Idaline, adik sepupunya mungkin bukan menerima kematian.


Tapi sesuatu yang lebih mengerikan dari sebuah kematian.


"Mas Agus dan mas Agis kembali saja ke Djahan."


"Tidak, Udel. Kamu sudah berada di genggamannya, Sapta saja bisa ia hancurkan tanpa perlu pertimbangan orang lain. Apalagi kamu sendirian?" Loro menatap khawatir Idaline.


"Akan kami lakukan.." ucap patuh Siji.


"Mas?!" Loro menatap kesal kakak kandungnya. Apa kakaknya ini tidak memahami situasi adik mereka?!


"Tapi beri tahukan pada kami jika kamu terkena masalah. Langsung saat itu juga. Apa pun. Masalah sekecil apa pun," pesan Siji.


"Mas? Bagaimana kamu ini? Adik kita telah melakukan beberapa dosa besar. Dia menipu Yang Mulia Maharaja dengan pergi ke Sanggahan, menyembunyikan ketua Soca, memalsukan keadaan keluarga Sapta, lalu sekarang mengusir ksatria pribadi yang dipilih Maharaja secara langsung??"


"Tenang saja. Aku tidak akan melupakan kalian," ucap Idaline tidak menghiraukan Loro.


"Kalau mas mau pergi, pergi saja sendiri aaAAA," Loro berteriak saat Siji menariknya loncat ke atas. Kakaknya ini tidak melepasnya sampai ke Kediaman Mada.


Idaline menyelipkan jepit rambut terakhir dan memakai selendangnya menutupi bahu dan punggungnya.


Kemudian dia duduk di meja kecil menuang teh dan menyesapnya sekali.


Sambil menghirup aroma melati, mata Idaline menghunus ke depan.


"Nah sekarang apa yang Anda inginkan, kepala Soca?"


••• BERSAMBUNG •••


© Al-Fa4 | 19 November 2021


Ssst.


Keluarga Sapta dan Sapta Prabu berbeda ya.

__ADS_1


Keluarga Sapta itu keluarganya Widya.


Sapta Prabu terdiri dari para tetua yang akan memutuskan masalah yang tidak bisa diselesaikan Maharaja di samping itu memiliki tugas dari Maharaja.


__ADS_2