TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]

TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]
015 - MAHAPATIH MENCARI ANDA (1)


__ADS_3

"I..ini harimau putih?" tanya Edi, salah satu pemuda desa Gelut. Candra menggendong harimau takut lukanya terbuka bila jalan sendiri.


"Benar," jawab Candra.


"Apakah kamu sudah berkontrak dengannya?"


"Harimau putih lebih baik daripada yang biasa?" alih Candra. Dia tidak mau ada yang memanfaatkan kesempatan. Keadaan pun bisa kacau jika banyak orang tahu apalagi dari desa-desa lain.


"Tentu saja. Warna putih menandakan energi jiwa yang lebih kuat. Pertama kali lahir hasil perkawinan dua harimau terkuat. Ukurannya pun jauh berbeda sampai orang yang pertama melihat mengira ada spesies baru. Bahkan keturunan mereka dari pernikahan sesama putih, yang tidak berlatih sama dengan kekuatan menengah harimau biasa yang berlatih." terang Edi mengingat penjelasan gurunya.


"Kami memberi salam kepada tuan muda Ekadanta. Semoga Anda selalu diberi kebijaksanaan." Ponimin dan kedua saudaranya muncul dan bersimpuh menyadari orang yang berada di jalan mereka adalah anggota keluarga Ekadanta dari Kerajaan Maja.


"Tidak perlu sungkan." ucap Candra membuat mereka bangun.


Edi yang berada di dekat mereka tersenyum kikuk. Dia tahu wanita di rumah kepala desa adalah tamu kehormatan tapi dia dan kawan-kawannya menganggap Candra hanyalah pengawal biasa yang dipekerjakan orang besar. Namun melihat tiga murid dari Pendopo Srengenge sampai bersimpuh, Edi tidak bisa lagi berpikiran Candra sama dengan mereka.


"Kami betul-betul beruntung. Bukan hanya melihat kedamaian tiga desa yang sudah berperang selama puluhan tahun, kami juga dapat bertemu orang besar seperti Anda." kata Ponimin memberanikan diri mengangkat kepala.


"Tapi sepertinya kamu tidak percaya."


"Mana saya berani." Ponimin tersenyum diikuti Poniman dan Ponijan.


"Aku tidak percaya tubuh kurus tanpa ototmu," Candra memandang tubuh Ponimin dari kepala ke kaki. "Dan kamu jadi salah satu yang terbaik?!"


"Haha. Tuan muda bisa saja."


"Buktikanlah siang nanti, mungkin aku akan bergabung dengan pendopo kalian."


Ponimin tidak menyembunyikan senyum lebarnya. Ia membungkukkan badan merekatkan kedua tangan di dada dan berkata dengan semangat, "Kami akan menunjukkan yang terbaik!"


"Lalu kalian jangan ganggu Raden Ajeng." tambah Candra melihat arah jalan mereka.


"Kami hanya ingin bernegosiasi, mungkin Raden Ajeng tertarik dengan perguruan kami." ujar Poniman.


"Kubilang jangan ganggu dia!" tatapan dingin Candra membuat orang-orang itu bergidik.


Buru-buru Ponimin menenangkan Candra dengan berkata, "Kami akan berbicara pada beliau di pertemuan siang ini,"


Candra menatap sebentar lalu meninggalkan ketiga orang itu. Dia bukannya melarang orang bertemu Idaline, namun 'kakak'-nya harus istirahat setelah menempuh perjalanan jauh. Candra tidak mau melihat Idaline sakit lagi. Jika Idaline sakit, rasanya dia juga ikut sakit.


"Beliau punya hewan sebagus itu kenapa tidak melakukan kontrak dengannya?" tanya Poniman memandang punggung Candra yang menjauh.

__ADS_1


"Jadi, hewan itu bukan milik Petapa Agung?" tanya balik Ponimin. Poniman sebelumnya menjelaskan pada mereka bahwa dia merasakan aura Petapa Agung saat bertemu Idaline dan berpikir hewan putih itulah sumbernya. Kalau harimau putih mendapatkan berkat dari Petapa Agung, adalah hak mereka membawanya pulang.


Awalnya Pendopo Srengenge adalah yang terunggul bahkan di antara perguruan dalam kerajaan-kerajaan karena dukungan Petapa Agung yang mewariskan buku dan beberapa senjata pada mereka. Namun puluhan tahun terakhir Pendopo Srengenge tidak mengeluarkan siswa yang unggul jadi mulai ditinggalkan.


Orang-orang yang dapat berlatih dari buku pun semakin menipis. Untuk menjaga keasliannya, tidak ada yang berani menyalin tulisan tangan Petapa Agung. Hingga ketika banjir melanda, tulisan-tulisan itu menjadi pudar dan sulit diartikan. Di sisi lain kerajaan-kerajaan menggunakan sistem ajar langsung secara turun-menurun tanpa tertinggal satu jurus pun dari pendahulu dan jurus yang baru ditemukan. Hal ini membuat pendopo dalam kerajaan-kerajaan semakin besar dan berkembang.


Sementara Pendopo Srengenge tertinggal karena hanya tersisa segelintir orang yang mengerti sedikit ilmu Petapa Agung dan senjata-senjata pemberian Petapa Agung tersebar dibawa para alumni.


"Benar. Dia belum berlatih dan tidak ada aura luar. Bisa dipastikan belum ada yang kontrak dengannya." Poniman mengangguk meyakinkan kakak seperguruannya.


Ponimin menghela napas panjang. Mimpinya membangun kembali pendopo dengan cepat terlihat semakin menjauh. Sedetik kemudian air muka Ponimin berubah, secercah harapan dalam pikirannya muncul. Kekuatan itu, kekuatan Petapa Agung, bisa saja berada di tangan orang yang akan mereka temui, Raden Ajeng.


"Sisanya adalah Raden Ajeng." celetuk Poniman satu pikiran dengan Ponimin.


"Lebih baik kita kembali dulu." ajak Ponijan mengingat aura mencekam yang baru saja terjadi.


"Ya. Kita bisa memeriksa Raden Ajeng siang nanti." Ponimin melihat langit luas yang semakin panas. Mereka hanya perlu bersabar sebentar untuk menemukan sumber kekuatan Petapa Agung yang tertinggal di desa ini. "Lalu pendopo kita akan berjaya lagi," gumamnya penuh harapan.


••••••••••••••••••••


"Yang mulia, orang-orang telah berkumpul di lapangan pertandingan."


Idaline membuka pintu membuat Dien yang hendak mengetuk pintu terkejut, putri kepala desa itu mengira tamunya masih terlelap.


"Iya. Mari berangkat."


Dien melirik para pelayan memerintahkan dengan mata untuk menyingkir. Sebenarnya ia mempersiapkan segala perawatan yang dibutuhkan seorang bangsawan. Namun karena tidak dibutuhkan lagi, Dien tidak mau sekumpulan budak menyakiti mata Idaline.


"Kami akan membawakan camilan untuk Anda." kata Dien berusaha melayani tamunya dengan baik.


"Apapun asal tidak kecut."


"Baik, Yang Mulia." Dien berpisah dengan Idaline di gapura, ia pergi ke dapur memastikan sendiri semua disiapkan dengan benar.


Sedangkan Idaline berangkat ditemani dua pelayan yang datang bersama Dien. Ia tersenyum pada semua yang hadir di sana. Dirinya merasa aneh, merasa bahwa menghadapi banyak orang adalah hal biasa baginya.


Padahal berdiri di depan kelas yang berisi teman-teman yang sudah dikenalnya saja membuat keringat dingin membasahi tubuhnya. Bagaimana bisa dia tenang berhadapan dengan ribuan orang yang hadir? Entahlah. Mungkin kekuatan lain yang Idaline dapatkan sama seperti ingatannya yang terukir jelas dan telinganya yang mendengar jernih dari kejauhan.


"Selamat datang, Yang Mulia." serentak orang-orang bersimpuh menyambut kedatangan Idaline.


"Bangunlah, tidak perlu sungkan." Meski pelayanan sangat dinikmati Idaline, namun penghormatan berlebihan masih tidak biasa untuknya. Idaline beberapa kali menyuruh orang di sekitarnya menganggap dirinya adalah teman mereka. Bukannya terharu mereka malah bersujud dan memohon ampun. "Apa aku sangat menakutkan?" pikirnya menerka.

__ADS_1


Idaline menghentikan lamunannya. Ia melihat tiga orang yang tidak berubah wujud dan pakaiannya bangun dari posisi bersimpuh. Tangan Idaline mengudara ke arah mereka dan berkata, "Jadi, tiga pesilat ini akan menunjukkan kemampuannya?"


"Iya, Yang Mulia. Saya yakin Anda akan melihat hal baru." jawab Ponimin memukul pelan dadanya dua kali dengan kepalan tangannya sendiri.


"Oh? Menarik." Idaline menarik sudut bibirnya menunggu hal mengejutkan datang.


Ponimin menatap Poniman dan Ponijan, mereka mengangguk serempak lalu Poniman naik ke atas panggung.


"Beberapa dari kalian pasti menyadari tangan kami yang terlihat tidak menggunakan senjata. Karena sebenarnya seluruh tubuh kami adalah senjata." buka Poniman membuat orang-orang fokus padanya.


"Bukannya seluruh petarung juga menggunakan tubuhnya sebagai senjata?" serang penonton yang tidak mempercayai mereka.


"Kamu menggunakan golok maka tangan kananmu terlihat lebih besar daripada tangan kirimu, terutama pada bagian telapak. Saudara di sebelahmu jari-jarinya panjang karena menggunakan panah. Sedangkan saudara paling belakang, selain menggunakan thulup, saudara lebih sering menggunakan kaki untuk berlari dan untuk bertarung."


"Wah dia tahu hanya dengan sekali lihat."


"Lalu aku ingin menantang sepuluh pemenang pertandingan di sini untuk secara bersamaan menyerangku. Akan aku perlihatkan bahwa kami lemah itu salah." Sambutan hangat para kepala desa tidak serta merta membuat Poniman besar kepala. Ia mendengarkan bisik-bisik di jalanan dan menemukan banyak yang tidak percaya pada perguruannya.


Tadinya ia ingin mengabaikan semua itu sebab mereka akan tetap mendapatkan peringkat pertama sebagai murid, tetapi karena ada dua orang yang harus diyakini, ia sekalian mendayung untuk melampaui dua pulau.


"Apa adikmu tidak terlalu sombong?" kepala desa Gelut sedikit sangsi pada setiap yang sombong karena kesombongan akan menggerus kemampuan yang sebenarnya.


"Kita lihat hasilnya." Ponimin tersenyum percaya diri.


"Karena kami telah setuju, semua peringkat sepuluh besar naik ke atas panggung!" perintah kepala desa Gulat. Para pemuda pemenang pertandingan berbondong-bondong naik ke atas panggung. Beberapa penonton terang-terangan menyumpahi Poniman mati mengenaskan.


"Hanya delapan orang?" Poniman menghitung orang-orang yang berdiri di depannya.


"Peringkat pertama dan keenam sedang berada dalam misi." jelas peringkat ketujuh.


"Sayang sekali tidak bisa melihat kemampuan peringkat pertama."


"Hei, apa kami delapan orang ini tidak terlihat di matamu?" kesal peringkat keempat.


"Begitulah."


"Apa?!!"


"Kuberi satu kesempatan. Seranglah bersama menggunakan senjata dan kekuatan terbaik kalian." Poniman melebarkan kakinya membentuk kuda-kuda.


"Kamu yang meminta!" ucap Buto berlari paling depan. Ia sudah tak sabar mematahkan leher sombong murid pendopo yang hampir roboh.

__ADS_1


Poniman melangkahkan satu kakinya ke depan lalu berputar-putar di dalam kerumunan orang yang menyerang dari segala sisi menggunakan berbagai senjata dan sihir juga kanuragan. Ia menggerakkan tangannya dengan pelan dan cepat bagai mengikuti irama.


__ADS_2