TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]

TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]
065 - KENAPA TIDAK BUNUH AKU SAJA?


__ADS_3

Saat Hayan memasuki rumah utama Keraton Capuri, ia dikejutkan dengan siulet orang duduk di ruang tamunya. Tidak ada yang berani mencarinya semalam ini apalagi di rumah saat sedang beristirahat. Hayan memegang keris di pinggangnya bersiap menerima serangan mendadak.


"Ayo kita bicara," ucap Idaline meminum perasan jeruk nipis, wajahnya menekuk keasaman.


Hayan menaikkan alisnya mendapati istrinya ada di sana. "Tumben?" Hayan menarik tangannya dari pinggangnya dan berjalan mendekat. "Maharaniku sudah sembuh?" tanya Hayan duduk di depan Idaline memperhatikan dengan saksama.


"Apakah ini maharaniku asli atau orang menyamar?" batin Hayan meneliti perempuan itu dan mendapatinya mengerut keasaman. Ini memang maharaninya.


"Iya," jawab Idaline mengambil sapu tangan yang tergeletak di meja. "Kudengar hal yang menarik." Idaline mengelap bibirnya dan mengecap-ngecap bibirnya untuk menghilangkan keasaman dari mulutnya. Tanpa ia sadari dirinya mengundang predator untuk memangsanya. Predator itu menelan salivanya sebelum mulai bicara.


"Itu hal yang harus dilakukan," kata Hayan mengerti arah pembicaraan istrinya. Selama dua bulan ini tidak ada hal khusus yang terjadi kecuali datangnya daftar gadis-gadis muda unggul di Bhumi Maja.


"Maharaja, aku tidak bisa berbagi milikku. Pilihlah." Idaline berkata dengan tegas.


'Milikku' sebuah pengakuan yang membawa Hayan melambung ke langit. Sepanjang hidupnya yang berulang, baru kali ini Hayan merasa gembira. Hayan sangat senang mendengar kata itu tetapi Hayan menahan senyuman untuk terbit di bibirnya, ia ingin mendengar pengakuan itu sekali lagi.


"Apa sekarang maharaniku sedang mencari celah?" tukas Hayan.


"Tidak. Aku benar-benar tidak bisa berbagi hal yang tidak bisa dibagi." Sisa-sisa keasaman hilang di wajah Idaline, wanita itu berkata dengan tegas. "Aku tidak bercanda. Toh tidak ada masalah selama aku tidak muncul," imbuhnya.


"Aku akan membatalkannya jika maharaniku tidak suka." Hayan tersenyum kecil.


"Eh?" langsung setuju? pikir Idaline tidak percaya. Bukan seperti ini rencananya! Idaline tidak berencana seperti ini! Ekspresi tegas hilang di wajah Idaline, mata Idaline bergerak ke kanan dan ke kiri juga sesekali membasahi bibirnya karena gelagapan.


"Yah, uhm.. jadi..en.." Idaline menarik napas saat mendapatkan kalimat yang pas. "Hayan, kamu kan bisa mendapatkan wanita lain dan aku kembali. Bagaimanapun.. selama ini tidak ada yang curiga di dalam Bhumi. Aku hanya perlu muncul saat diperlukan!" ujarnya memberikan senyuman canggung.


Hayan mengepalkan tangannya. Wanita berstatus istri dan maharaninya itu baru saja menerbangkan dirinya ke langit kini malah menghempaskan wajahnya ke tanah. "Maharaniku bilang tidak ingin berbagi suami. Aku akan melakukannya!"


"Tidak, Maharaja. Anda boleh saja mengambil wanita lain dan aku kembali. (Win to win)." Senyuman di wajah Idaline semakin aneh. Ia memberikan jari telunjuk dan jari tengah dan menggerakkannya ke arah berlawanan.


Jika mendengar kalimat sebelumnya Hayan masih mempertahankan senyumnya, mendengar penegasan Idaline senyuman hilang dari wajahnya. Hayan bangkit tidak mau melanjutkan pembicaraan. "Maharaniku, aku ingin beristirahat!" usirnya secara halus.


Idaline merasa telah melakukan kesalahan. Ia menangkap tangan Hayan dan memberikan wajah memohon terbaiknya. Idaline tidak ingin ada orang yang dirugikan. Hayan sangat menyeramkan bila berada di belakang layar. Masih terbayang dalam benak Idaline teriakan orang-orang dalam api yang sangat panas.


"Malam sangat dingin. Aku ingin menginap," ucap Idaline meminta izin.


Hayan terkekeh dalam hati. Pesta tahun baru berlalu sepekan lalu. Bulan Kasa, bulan yang termasuk dalam musim kemarau dan Idaline berkata sangat dingin? Hayan jadi berpikir Idaline sedang menggodanya. "Baiklah," izinnya.


Tidak menunggu waktu Idaline menaiki ranjang, ia tidak perlu membersihkan wajah ataupun merapihkan rambut karena Hayan mengizinkannya berpakaian bebas kecuali untuk acara-acara resmi.


Idaline meringkuk mencari kehangatan, ia meraih tubuh yang berbaring di sisinya dan membenamkan wajahnya di sana. "Hangatnya," gumam Idaline.


Hayan menaikkan alisnya, dekapan Idaline sangat erat. Ia memegang kening Idaline dan bernapas lega tidak mendapati panas berlebih. Jari-jemarinya turun menyusuri garis wajah Idaline, saat sampai di gumpalan daging Hayan menjadi cemas.


"Maharaniku, tubuhmu panas!" cemas Hayan memegang pipi Idaline.


"Biasa kalau berendam terlalu lama," gumam Idaline dengan mata terpejam.


"Tapi tubuhmu–"


"Hust. Aku sangat mengantuk!" Idaline sebenarnya merasa pusing karena tidak makan dengan benar.


Pagi hari harus terburu-buru menghadap Ibu Suri karena ketiduran setelah ditinggal Hayan untuk rapat pagi. Siang harinya ia merasa kenyang dengan camilan bersama Ibu Suri namun ternyata tak lama perutnya meraung-raung minta diisi. Saat hendak makan Bejo malah menurunkan moodnya dan belum makan sampai ia mengantuk.


Saura teratur napas Idaline menandakan tidurnya sudah lelap. Hayan menutupi tubuh Idaline dengan beberapa selimut, namun tak berselang lama selimut itu berhamburan karena gerakan Idaline.


••••••••••••••••••••


Idaline membuka mata dengan malas. Ia berniat memulai aktivitas dengan semangat namun matahari sudah tinggi. Para dayang di kamar sedang mengangkat sarapan yang sudah dingin.


"Karena mirip pocong orang-orang jadi melarang membuat guling," keluh Idaline. Ia sebenarnya tidak bisa tidur tanpa bantal guling apalagi saat demam seperti semalam.


Di Janapada dan di Kedaton Sedap Malam Idaline bisa memerintahkan dayang-dayangnya untuk tutup mulut tetapi tempatnya sekarang adalah Keraton Capuri. Kepala dayang sangat sengit padanya.


"Yang Mulia, kami sudah menyiapkan air hangat."

__ADS_1


Idaline menduduki tubuhnya, rambut hitam legamnya berantakan. Sedetik kemudian ia merebahkan tubuhnya kembali ke kasur, enggan beranjak dari atas kasur. "Aku ingin bermalas-malasan lagi. Ambilkan camilan dan novel."


"Baik, Yang Mulia."


Bantal ditumpuk di punggung Idaline, tangan kanan Idaline memegang buah dan tangan kirinya memegang buku. Idaline menaikkan kaki kanannya ke atas kaki kiri mencari posisi nyaman untuk bersantai. Dalam satu kepakan burung Idaline menjatuhkan kakinya ke atas lantai.


"Males banget males-malesan," keluh Idaline menutup buku lalu ia letakkan ke sisi kanannya. "Kembali ke rumah!" titahnya pada para dayang.


Dayang menata rapih rambut Idaline dan memberikan selendang di punggung Idaline menutupi bahu hingga setengah tangan Idaline. Setelah itu mereka berbaris rapih di belakang Idaline.


Sesaat kemudian Idaline berubah pikiran. Ia terlalu bosan melihat bangunan yang sudah dua bulan ditempatinya itu. Ia mengangkat tangannya menghentikan barisan rapih para dayang yang berjalan di belakangnya. "Kita ke Bale' Ndamel saja," putusnya


"Ya?" sahut dayang bingung karena Idaline belum membersihkan diri dan hari sudah siang.


"Tentu bebersih dulu," ucap Idaline mendengar suara bingung dayang.


Di sisi lain Hayan beranjak keluar dari Bale' Ageng setelah menyelesaikan rapat panen raya yang tertunda pada malam sebelumnya. Semua natha, wadhana, dan bhre melaporkan dengan detail setiap jumlah, pendapatan, dan pengeluaran.


Pesta di daerah sudah dimulai dan turut serta dilaporkan, itulah sebabnya mereka semua tidak melaporkan pada malam sebelumnya karena harus menulis laporan dadakan.


Di luar bangunan Samha Mihir, putri tertua keluarga Mihir, berusaha merapihkan ekspresi kesalnya. Kemarin ia sudah berusaha keras membujuk Hayan agar menambah beban tugas para penguasa daerah supaya dirinya bisa melancarkan serangan untuk merangkak naik menjadi wanita maharaja, namun ternyata Hayan memilih pulang lebih cepat dan tidak memedulikan masakan buatan tangannya.


"Yang Mulia, hamba sudah siapkan teh dingin yang cocok untuk musim panas seperti ini. Semoga Maharaja menyukainya," sambut Samha menundukkan tubuhnya hormat sembari menjulurkan gelas melihat Hayan lewat di depannya diiringi para abdi dalem dan pejabat-pejabat yang mengantri keluar.


Hayan menatap gelas yang disodorkan padanya kemudian ia menoleh ke arah taman. "Karena Maharani sudah sembuh, kamu tidak perlu datang. Kembalilah ke keluargamu. Sebagai penghargaan Nona Mihir akan tetap mendapatkan bayaran sampai hidupnya ditanggung yang lain," perintahnya.


Samha menegakkan tubuhnya merasa tidak percaya pendengarannya, ia mencuri pandang melihat ekspresi Hayan yang terlihat serius. "Ha-hamba berterima kasih atas kebaikan Yang Mulia Maharaja."


"Aku belum menyuruhmu mengangkat kepala!"


"Maafkan hamba!" Samha menundukkan setengah tubuhnya ke bawah lebih dalam. "Yang Mulia Maharani baru saja sembuh, hamba bisa membantunya." Samha tidak bisa pergi begitu saja. Jika sudah melangkah keluar dari Keraton, akan sulit kembali memasukinya. Jika hanya sebagai tamu, apalah gunanya.


"Tidak perlu. Dia bisa sendiri," tolak Hayan. "Dan sebagai anak tertua, pelajarilah tata krama dengan benar."


"Yang Mulia.. bagaimana dengan para kandidat...?" Samha menghentikan ucapannya mendengar saura theklek Hayan semakin menjauh.


"Lebih banyak yang mendengar lebih bagus," kata Hayan acuh tak acuh.


"Sebenarnya karena Anda mengizinkan nona Mihir mencari para gadis yang belum dipinang. Sudah banyak keluarga yang berharap."


"Bukankah dia hanya merekomendasikan rekan-rekannya?" Hayan mengingat-ingat potret para gadis yang ditunjukkan Samha saat melapor tugas sebagai pengganti Maharani.


"Akan terlalu mencolok jika tidak digabung dengan orang lain," jawab Huna. Hayan mangut-mangut mendengarnya.


Tidak bagus menunjukkan niat sesungguhnya saat bertaruh dengan pengorbanan yang besar, yaitu ketika Hayan bisa saja merasa tidak senang dengan gadis pilihannya atau keluarga besar lainnya merasa Samha telah mengibarkan bendera perang pada mereka.


Jadi pilihan terbaik adalah mencampurkan miliknya di antara milik orang lain dengan tetap mengunggulkan miliknya sendiri dan memastikan miliknya keluar sebagai pemenang.


"Sayangnya nona Mihir datang bersama pelukis istana ke kediaman semua bangsawan tinggi dan menengah," ujar Huna. "Dan Anda hari ini berjanji akan bertemu mereka, gadis-gadis pilihan nona Mihir."


"Iya. Akan kuberi tahu sekalian." Hayan melangkah menuju pendopo seni yang sudah dihias setiap pilarnya dengan berbagai jenis bunga.


Semula Hayan berniat memilih beberapa selir agar Idaline melihat dirinya, tapi perempuan itu malah bersemangat dan menjadikannya alasan untuk berpisah. Jika hidup berdua cukup menyadarkan keberadaannya, Hayan tidak lagi perlu memanas-manasi Idaline.


Di kejauhan tampak dua orang melepas kepergian Hayan dan Huna juga pejabat-pejabat yang berangsur pergi karena kedua orang itu tidak berniat beranjak dari tempatnya. Orang yang lebih pendek menatap ragu-ragu mentornya.


"Tuan, apakah hari ini.." ucap ragu Engon, calon mahapatih selanjutnya.


"Aryadhikara, hari ini bersenang-senanglah!" kata Djahan mengerti arah pembicaraan Engon.


Aryadhikara adalah sebutan untuk pembantu menteri dari rakyat jelata. Engon adalah anak haram Janu Pandya yang tidak diakui hingga statusnya adalah rakyat jelata. Engon memiliki kecerdasan yang tinggi dan terpilih masuk ke dalam akademik kerajaan yang persaingannya sangat ketat untuk rakyat jelata.


Saat lulus Engon mendapatkan peringkat dua dalam kecerdasan, namun amat lemah dalam sihir dan kanuragan karena terus mengurung diri membaca kertas-kertas pengetahuan.


Djahan awalnya optimis mengajarkan Engon perihal penyerangan dan pertahanan namun kini berubah menjadi ragu karena tidak melihat perkembangan kekuatan dalam diri Engon setelah beberapa bulan dalam naungannya. Meski kecerdasan Engon dapat menutupi kekuatannya yang lemah, tetapi hampir dikatakan Engon tidak punya kekuatan sama sekali.

__ADS_1


"Apa akan baik mahapatih tidak punya kekuatan?" pikir Djahan. Ia sadar dulu dirinya juga seperti itu, namun ia sudah memahami seluk beluk keraton dan keluarga-keluarga besar serta memiliki pasukan kuat yang setia, barulah ia menyimpulkan dirinya pantas menerima permohonan ratu untuk menjadi mahapatih.


"Terima kasih, tuan." Bergegas Engon pergi sebelum Djahan berubah pikiran.


"Pengumuman belum dibuat," gumam Djahan kembali ke ruangannya. Ia baru mengangkat Engon sebagai pembantu dan bukan penerus, jadi masih ada kesempatan baginya untuk mengganti Engon dengan orang lain yang lebih pantas.


Djahan mengumpulkan berkas dan menyortirnya lalu ia pergi menuju Bale' Ndamel. Para penjaga membiarkannya masuk. Djahan terdiam begitu melihat sosok wanita yang dirindukannya berada di sana.


"Mahapatih ruanganmu bukan di sini," tegur Idaline menyadarkan keterkejutan Djahan.


"Kenapa kaku begitu?" canda Djahan menahan gejolak dalam dirinya. Ia menaruh berkas di atas meja Hayan dengan cepat.


"Djahan, sebenarnya.." Idaline menggerakkan kepalanya, matanya menunjuk ke belakang tubuhnya. "Tolong.." Idaline menurunkan matanya memelas. "(Plis,)" Idaline memegang tangan Djahan yang berusaha menjauh.


"Maharani..." panggil Djahan parau. Djahan mengira Idaline sedang mengundangnya.


"Tolonglah, ada cicak di punggungku.. dia nempel.." Wajah Idaline semakin pucat merasakan cicak itu masuk ke dalam pakaiannya.


Pernyataan Idaline menarik kewarasan Djahan. Djahan mengedarkan pandangannya mencari ekor Idaline yang kini selalu membuntutinya. "Ke mana dayangmu?"


"Mereka kembali saat aku sampai di sini."


"Semua dayang Bale' Ndamel pasti mengikuti Maharaja," timpal Djahan.


"Djahan.." tangan Idaline gemetar hebat. Cicak adalah binatang yang paling membuatnya phobia.


Djahan menutup pintu dan jendela lalu membantu Idaline mencari hewan tersebut.


"Kenapa pintu dan jendelanya ditutup?" tanya Hayan pada pengawal. Ia heran ada yang berani menutup pintu dan jendela Bale' Ndamel saat hari masih siang.


"Lapor, Yang Mulia. Mahapatih memasuki ruangan beberapa saat lalu kemudian menutup semuanya. Beliau berkata ada hal yang harus dilakukan."


"Buka pintunya," perintah Hayan.


Idaline menatap ngeri cicak yang menggeliat di tangan Djahan, lelaki itu membuka jendela lalu membuangnya. Di saat bersamaan, pintu utama terbuka. Hayan dan dua pengawalnya berdiri di sana.


"Maharaja!" tegur Djahan. Kedua pengawal sontak menundukkan pandangannya.


"Apa yang kalian lakukan?!" murka Hayan.


Idaline merapihkan pakaiannya dengan cepat. "Mahapatih hanya membantuku."


"Berani-beraninya kalian di sini... Apa kalian tidak melihatku?!" geram Hayan.


"Tidak, Hayan. Djahan hanya membantuku mengambil cicak yang jatuh."


"Begitu. Mari kita lihat apa kamu benar-benar takut pada cicak," tantang Hayan menggenggam tangannya sendiri hingga berdarah.


"Maharaja–"


"Tidak apa-apa." Idaline mengangguk pada Djahan yang khawatir. "Bagaimana caranya?"


"Masukkan Maharani ke dalam gudang yang penuh dengan cicak!"


Idaline mencengkram lengannya yang gemetar mendengar cara Hayan menghukumnya. Pengawal menggiring Idaline ke gudang di Keraton Capuri. Keraton Capuri adalah kawasan yang sulit ditembus sihir dan kanuragan, Idaline jadi frustasi karena tidak dapat menggunakan benda dalam cincinnya atau kekuatannya.


Pintu gudang ditutup rapat, tubuh Idaline yang semula bersih berubah menjadi sangat lengket karena keringat dingin dan udara yang pengap. Cahaya yang masuk dari atap menyamarkan Idaline untuk melihat cicak yang berkeliaran. Hal itu menambah frustasi Idaline karena tidak dapat menghindari keberadaan cicak dengan benar.


"Kenapa tidak bunuh aku saja?" rintih Idaline meringkuk di pojok ruangan, air mata ketakutannya sudah kering tidak dapat keluar. Selama hidupnya ia selalu mencari jalan lain jika melihat cicak terbaring mati dan menjauh ketika seekor cicak di sekitarnya masih hidup.


••• BERSAMBUNG •••


© Al-Fa4 | 05 Oktober 2021


 

__ADS_1


 


__ADS_2