![TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz--berpindah-ke-zaman-keemasan-.webp)
Idaline duduk di atas pasir yang dingin, cahaya rembulan bersinar dengan tenang. Wajahnya berseri-seri teringat masa pelatihan Tim SAR.
Saat itu semua orang duduk di bawah rembulan yang sama, menikmati alunan sahut-sahutan penduduk hutan.
Begitu tenang dan damai.
"Ingat mas Fidel? Dia menunggumu dengan setia," ucap Widya tentang seorang pria yang selalu menemani Udelia saat Widya masih di dunia sana.
Widya memperhatikan ekspresi wanita yang duduk di sampingnya.
Widya menaiki kereta di perbatasan ibu kota, tidak akan ada yang tahu tujuan mereka kecuali mereka sendiri.
Idaline sudah memastikannya.
Idaline mengingatnya. Fidel adalah orang paling mampu di pelatihan saat itu. "Apa sih? Haha. Ga pantes banget sumpah."
"Dia juga suka kamu loh. Aku tau kamu menyelidiki tentangnya," goda Widya.
Gadis ini bermain ponsel di depannya, dia pikir Widya tidak dapat melihatnya? Sepulang dari pelatihan, sepanjang hari Udelia mencari seluruh akun sosial media Fidel!
"Aku yang buruk rupa tidak pantas untuknya," gumam Idaline.
"Kamu sadar." Widya tidak habis dengan makhluk peka ini. Udelia dan Fidel saling menyukai tapi tidak bersama hanya karena rasa insecure Udelia yang terlalu tinggi.
Boleh-boleh saja wanita ini merasa tidak cantik tapi tidak semua pria memandang perempuan dari kecantikannya!
Bukankah banyak pria tampan mendapatkan wanita yang dalam persoalan wajah biasa-biasa saja?
Begitu pula wanita cantik banyak yang berpasangan dengan pria berwajah pas-pasan.
"Tentu saja." Kepekaan Idaline sangat tinggi oleh karena itu dia mendapat banyak masalah.
Lebih baik Idaline menjadi sedikit tidak peka, bisa jadi dia tidak akan diperhatikan Hayan karena dia tidak akan banyak membantu pria yang gengsi meminta tolong itu.
Dia tidak ingat bahwa dahulu sebelum berpindah di aliran waktu yang sekarang, Idaline atau Udelia pernah begitu mendamba pada Hayan.
Satu-satunya pria yang melindunginya dengan tulus sekaligus pria yang membunuhnya dengan dingin.
"Si tompel juga menyukaimu balik, sampai-sampai menitipkan berkas penting padamu," kata Widya mengingatkan. Sahabatnya ini hanya tidak percaya diri.
Idaline menaikkan alisnya sedikit bingung dengan julukan ini. "Si tompel?" tanyanya.
"Ituloh temen sekolah yang ada tompel di jempol kaki kanannya," kata Widya menggerakkan jempolnya yang ternodai pasir.
Mendengar ini terbayang wajah tampan di benak Idaline. "Dia tampan. Tidak pantas sekali."
"Dari yang kamu sukai sampai yang cinta bertepuk sebelah tangan padamu." Widya menaruh kayu bakar ke perapian. "Rasanya seperti ada pelindung yang membuatmu tidak bisa dekat dengan makhluk bernama pria."
"Haha. Aku cinta bertepuk merasa sangat sakit tapi dicintai balik rasanya geli," ujar Idaline jujur.
Padahal sebelum merasakan kegelian seperti itu pasti dirinya membayangkan bersama-sama dengan orang yang dia perhatikan bahkan mungkin sampai membayangkan hari tua.
Tapi setelah rasa sukanya berbalas..
"Semua perasaanku hilang ketika mereka mendekatiku. Benar-benar aneh," imbuh Idaline.
Jika membicarakan ini Idaline jadi teringat Djahan.
Dia tidak merasa geli ketika dicintai balik oleh Djahan, bahkan begitu berani mengambil inisiatif memulai duluan.
__ADS_1
Begitu juga dengan Hayan. Dia tidak merasa geli meski tidak pernah memulai terlebih dahulu.
"Emang. Aneh sekali."
Mereka tersenyum sambil menutup matanya. Terbayang api unggun besar malam masa orientasi dan malam perpisahan sekolah.
"Udel, kapan kamu bisa meluangkan waktu lagi? Kami akan menikah saat kamu bisa."
"Lakukan saja kapan pun."
"Kalau begitu setelah pulang dari sini."
Idaline menatap mata Widya yang penuh kesungguhan. Perempuan ini pasti tidak sabar untuk menikahi kekasih hatinya sama seperti saat Idaline menikahi Djahan.
Idaline dan Djahan sama-sama tidak sabar maka dari itu mereka menikah lebih awal dari rencana. Rencananya mereka akan menikah setelah Maharani dilantik.
Siapa sangka dirinya lah yang menjadi Maharani?
"Baiklah," ucap Idaline tersenyum.
"Ingat gak waktu sen Adam mengajarkan kita semedi, malah ketiduran?" Widya memandang bintang yang jauh.
"Kang Said doang itu mah. Haha. Sen Lia marah-marah pas aku lari lambat kali."
Idaline kembali mengenang.
Sepertinya masa-masa itu tidak akan terulang lagi. Seharusnya dia lebih menikmati suasana saat itu.
Idaline memutuskan. Dia harus menikmati masa ini agar tidak ada sesal di kemudian hari.
Tampaknya waktunya tinggal di sini akan lebih lama.
Idaline sangat menyayangi anak dalam kandungannya.
"Aku kan ingin liat wajah berkeringatnya."
"Anjir mesum kali wkwk."
"JATI?"
Terdengar suara teriakan menggema di sepanjang jalur pantai.
Idaline dan Widya menatap arah suara teriakan. Dari sana muncul dua orang pria memegang obor yang tidak dinyalakan.
"Para wanita? Malam-malam seperti ini, kenapa di sini?"
"Ombak sangat besar," jawab Idaline.
"Begitu. Ke mana rombongan kalian? Kami akan tuntun ke desa."
"Baik sekali." Idaline tersenyum. "Oh, sepertinya ada kapal yang terdampar," ucapnya menunjuk perahu yang oleng.
"Temanku akan mengantar," ucap salah satu hendak pergi kemudian dia berhenti dan berbalik. "Kalian bukan orang sini?" tanyanya. Perempuan-perempuan ini terlalu bening untuk seseorang yang tinggal di pantai.
"Kami orang Cimanuk." Idaline balas menatap mata pria yang memakai ikat kepala. "Banyak pohon jati, semuanya sangat bagus jika kalian berkenan."
"Temanku akan menjaga kalian," balas pria itu tersenyum lalu berlari pergi. Ternyata wanita-wanita ini dari kawasan mereka.
Dan warga sipil tidak ada hubungannya dengan yang mereka lakukan.
__ADS_1
Widya menyelinap ke belakang dan memukul tengkuk pria yang hendak pergi hingga terjatuh.
Bersamaan dengannya terdengar bunyi derak di bagian kapal yang telah mencapai pantai dan asap tebal muncul di sekitarnya.
Orang-orang yang menurunkan waspada karena letih berlayar, tidak siap menerima serangan dadakan.
Dengan mudah rombongan yang sedikit meringkus rombongan yang tiga kali lipat lebih banyak.
"Padahal membunuh lebih mudah. Saat sadar, mereka akan menyulitkan," omel Loro mengikat tangan orang-orang menjadi satu.
"Tidak. Aku tidak ingin membunuh," kekeh Idaline, nyawa sangat berharga baginya. Kecuali mereka memang pantas mendapatkannya.
"Pasukan Balamati memang sangat terlatih," puji Idaline melihat tangan satu orang terlepas dan sedetik kemudian telapak tangannya terpampang di depan wajah Idaline.
"Kenapa ceroboh sekali?" Utih muncul menahan serangan.
"Karena kamu pasti muncul," jawab Idaline tersenyum.
"Harimau putih? Ternyata Anda.."
"Tidak lelah terus waspada dengan sekitar?" sindir Idaline tersenyum simpul. "Dengar, aku tidak akan mengatakan dua kali." Wajah Idaline berubah serius.
"Prabu Lingga Buana telah tewas berserta permaisuri dan para putrinya. Juga seluruh pejabat dan setengah Balamati yang lain," beber Idaline membuat wajah ksatria terbelalak. "Pangeran kecil kalian sedang berjuang sendiri di Galuh."
"Bahkan Balamati sendiri hanya segelintir orang yang tahu. Memang ya, murid Petapa Agung, Yang Mulia Maharani Bhumi Maja," tatapnya takjub.
"Jadi kuberi satu kesempatan," ucap Idaline menyadarkannya. "Kalau kalian kembali dengan damai. Kuberi perbekalan."
"Anda membunuh Prabu kami dan ingin kami menyerah? Jangan bercanda!" Ia menggeledah pinggangnya mencari kujang namun ternyata pinggangnya telah kosong.
Dia mencoba merasakan energi kujangnya dan rupanya kujang miliknya telah berpindah tangan.
Idaline menyeringai. Dia memutar-mutar kujang di tangannya. "Kuberi waktu sampai matahari terbit. Kamu yang putuskan."
"Hamba ingin kembali," jawabnya cepat.
"Keputusan yang bijak."
Loro dan Siji memasukkan para ksatria Balamati masuk kembali ke perahu dan mereka mengangkat dua karung makanan.
Idaline melempar kujang ke arah satu-satunya pria yang tidak terikat setelah kapal mulai berlayar.
"Duo dan Dio melihat serangan di Sanggahan. Mereka sedang ke sana," ucap Widya memegang kertas yang ditulis Dio.
"Udel, kami saja yang ke sana. Kamu dan Widya tetaplah di sini," usul Siji.
"Baik, kak."
"Bagaimana kalau mereka mendarat di tengah jalan?" tanya Widya melihat sinar kapal yang semakin menjauh.
"Aku sudah memberi satu kesempatan."
"Yang Mulia?"
Idaline, Widya, Siji, dan Loro sontak secara serempak memutar kepala mereka ke sumber suara.
••• BERSAMBUNG •••
© Al-Fa4 | 11 November 2021
__ADS_1