![TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz--berpindah-ke-zaman-keemasan-.webp)
Temen-temen, mohon dukungan like dan komen, juga vote dan hadiahnya agar author semakin semangat ya..!
Dan amat sangat mohon babnya jangan ditimbun /hiks/ untuk memberikan penghargaan kepada Author dan Author makin semangat..
Terima kasih Semuanya
Happy Readings!!
...
"Kami sudah melumpuhkan mereka–" ucapan Idaline terhenti saat hawa panas menyebar dengan cepat di belakang tubuhnya.
"Hayan, apa yang kamu lakukan?!" marah Idaline membalik tubuhnya melihat kepulan asap membumbung tinggi.
Ayam cemani panggilan Hayan mengeluarkan api hitam dari mulutnya dan membakar tubuh-tubuh yang tergeletak tak sadarkan diri.
"Guru terlalu lembut," Hayan menatap dingin jeritan orang-orang di dalam api.
Tidak seperti Bayu yang membunuh seluruh lawannya, Idaline hanya membuat lawan-lawannya pingsan.
"Aku merasakan aura mereka sangat pekat. Mereka baru selesai dari petapaan yang panjang. Setidaknya lima belas tahun," jelas Hayan.
"Tapi tetap saja.." Idaline memejamkan matanya tak kuasa melihat penyiksaan yang terjadi.
Sepanjang perjalanan bersama Fusena, Idaline tidak pernah mendapati adik sepupunya itu sampai berbuat kejam meski memiliki kekuatan yang amat besar.
Memang berbeda generasi berbeda juga pemikirannya! Walaupun Fusena berkata berasal dari masa yang sama, Fusena telah hidup sampai usia dua belas tahun di dunia modern.
"Kita kembali," putus Hayan.
"Aku akan mencari jejak komplotan mereka. Saat ini petapa yang tersisa pasti merasakan hilangnya aura mereka," ujar Idaline berusaha terbiasa. Kedepannya hal seperti ini adalah hal yang wajar terjadi di dunia yang mengandalkan kekuatan apalagi jika dengan licik ia diseret masuk ke dalam istana.
"Mereka adalah sisa dari keluarga Kerajaan Sadeng dan pengikutnya yang setia. Mereka tidak akan kemana-mana, perbatasan Kabalan dijaga ketat karena masa pemulihan belum berakhir," Hayan menolak keinginan Idaline untuk pergi.
"Setelah seperti ini, kita tidak boleh menundanya. Dua puluh orang sudah mati, takutnya mereka akan mencari anak-anak untuk dipaksa menyerap kekuatan yang telah terkumpul dan menjadi senjata," jelas Idaline tidak bisa menunda waktu lagi.
"Anak-anak menjadi senjata?" heran Hayan. Sebelum dewasa, energi anak-anak belum mencapai pucaknya sehingga belum dapat berlatih, apa yang bagus dari sekelompok manusia tanpa kekuatan?
"Aura mereka tidak suci." jawab Idaline. "Terlalu pekat seperti ingin membuat senjata. Bukan senjata besi, tapi senjata jiwa yang membutuhkan tempat. Anak-anak dan pemuda yang belum berlatih adalah tempat yang paling bagus,"
"Kita akan rapat dalam dua jam. Panggil semua thani, demang, dan para petinggi Kabalan. Sampaikan pada mereka untuk memperketat penjagaan," perintah Hayan pada para prajuritnya.
"Baik, Yang Mulia,"
"Saya akan mengendarai kereta Anda," ujar Bayu. Hayan mengangguk memberi persetujuan. "Setelah ini saya ingin berlatih bersama Anda," pinta Bayu pada Idaline.
"Setelah ini selesai," jawab Idaline sambil menaiki kereta.
"Hiyat," Bayu memacu kuda dengan cepat.
Belum tepat dua jam semua yang dipanggil sudah berkumpul di aula. Idaline menjelaskan dengan rinci kemungkinan-kemungkinan bergeraknya mereka karena orang yang membawa senjata jiwa tidak bisa sembarangan bergerak dan terus berdiam diri selama waktu yang tidak sedikit.
"Yang paling memungkinkan adalah mereka tidak keluar dari persembunyian mereka," tambah Idaline setelah menjelaskan orang-orang yang kemungkinan akan menjadi wadah untuk senjata tersebut.
"Bukankah Yang Mulia terlalu terburu-buru menilai?" tukas Ra Banyak, thani Wanua Keting.
"Anda meremehkan murid Petapa Agung?" balas Aswa, demang Cepeng yang baru.
"Kalian bisa memeriksa sisa aura pekat pada tubuh para mayat," Idaline menunjukkan mayat yang berada di depan aula. "Aura tubuh akan hilang begitu nyawa melayang," Idaline berjalan ke arah mayat dan orang-orang pun mengikutinya.
Di samping Idaline, Hayan memperhatikan dengan cermat gerakan guru kecilnya.
"Namun karena senjata jiwa belum mendapatkan tempatnya, saat sekarat, aura tubuh mereka akan diambil paksa oleh senjata itu hingga habis. Jaraknya kemungkinan jauh jadi perpindahan auranya membutuhkan waktu dan kita masih bisa merasakannya meski sudah dua jam berlalu," Idaline membuka kain penutup mayat.
"Kami menggunakan kain khusus agar jalur aura tidak mengganggu petapa kita yang sedang bertapa," imbuh Idaline.
"Bagaimana tuan thani Keting?" tanya Aswa meremehkan.
"Aku bisa mengandalkan kalian perihal keamanan. Kita hanya membutuhkan penyihir dan petapa tingkat tinggi untuk membentuk kelompok agar dapat memasuki markas mereka," Idaline melirik Hayan meminta persetujuan.
"Apakah markasnya sudah ditemukan?" tanya Tego, thani Wanua Dayu.
"Iya. Jalur serapan aura tubuh mayat sangat jelas bagi para petapa. Tuliskan nama orang-orang berkompeten sekarang juga. Dini hari mereka langsung berangkat," Hayan memerintahkan para pelayan memberikan kertas dan kuas. "Guru tetaplah di sini untuk memantau,"
"Mereka tidak tahu cara menghilangkannya. Aku akan ikut,"
••••••••••••••••••••
Hayan mondar-mandir di dalam ruangannya. Ia tidak bisa memaksa Idaline untuk tetap di kediaman karena tegasnya tekad Idaline. Hari telah terang namun belum ada berita yang datang. Terakhir pesan datang memberitahukan bahwa mereka sudah mencapai markas.
Hayan duduk mencoba menenangkan diri. Menemukan markas musuh hanya dalam satu jam, petapa dan penyihir yang direkomendasikan pasti sebaik petapa dan penyihir keraton.
"Kekuatannya terlalu besar. Kita segel saja," ucap Idaline, angin sekitarnya sangat kencang. Ia dan timnya memfokuskan kekuatan pada kaki agar tidak terbang dan memfokuskan kekuatan pada tangan untuk melawan senjata jiwa yang mengamuk.
__ADS_1
Idaline mundur lalu duduk bersila mengambil aura dan energi dalam tapaannya.
"Bodoh sekali," ucap seorang pria yang terhisap oleh lubang merah di belakang tubuhnya yang muncul di dinding goa. Orang itu tertawa keras melihat kerja keras tamu-tamu yang tak diundangnya.
"(Orang-orang kuno memang terbelakang.)" tambahnya sebelum lubang menghilang.
"Tawa yang sangat bodoh," kesal penyihir yang datang bersama Idaline.
Idaline membuka matanya, ia menatap aliran aura di kakinya lalu menghentaknya pada titik-titik yang ia tentukan. Sambil fokus pada simbol di tanah, ia ulurkan tangannya menahan senjata jiwa yang sedang coba dikendalikan oleh rekan-rekannya.
"Kalian satu persatu masuklah ke tanda di belakang kalian lalu salurkan energi di dalamnya. Lepaskan saja tangan kalian,"
"Aku tanamkan wadah pada tubuh mbak. Isilah dengan aura sekitar untuk mempertahankan diri," Penjelasan Fusena terngiang dalam tubuh Idaline, ia akan memanfaatkannya sebisa mungkin.
"Yang Mulia. Sebagian dari kami adalah penyihir,"
"JANGAN MEMBANTAHKU!" bentak Idaline. "LAKUKAN SESUAI UCAPANKU!" teriaknya agar didengar semua orang, senjata jiwa semakin menggila setelah kepergian pemimpin pemberontak yang mereka temukan. Napas Idaline semakin tersengal saat rekan-rekannya melepaskan senjata jiwa dan menyalurkan kekuatan mereka.
"Apa? Segel? Ya boleh aja sih..sini mbak,"
"Loh kok segelnya tidak kuat menahan si Ruru? Ajari aku segel yang lebih kuat!"
"Itu segel tingkat tinggi, mbak. Bisa digunakan oleh petapa maupun penyihir. Butuh kekuatan yang besar untuk menyegel benda besar apalagi yang bernyawa. Serahkan saja padaku,"
"Apa untungnya belajar kalau endingnya kamu yang menyelesaikan?"
"Caranya sama saja asalkan kekuatannya lebih besar dari milik mbak,"
Lutut Idaline terasa sangat lemas hingga sepertinya akan terjatuh jika bergerak sedikit. Tangannya gemetar menahan senjata jiwa seorang diri.
Idaline memejamkan mata merasakan kekuatan yang bercampur berkumpul di dalam dirinya. Wajahnya mengernyit karena gejolak yang terus berdatangan. Ia gigit bibir bawahnya menahan gerakan tubuh, menenangkan diri sambil mencampurkan kekuatan sihir dan kekuatan tapaan yang terkumpul di dalam paru-parunya.
"Sama ya? Kakak seperguruan! Coba bantu aku!"
"Nona, mohon panggil saya Ekata saja,"
"Kakak seperguruan tolong masukkan kekuatan sihir dalam tanda itu,"
"Kekuatan sihir? Bukan petapa?"
"Iya. Meski kakak lahir dengan aura tubuh yang melimpah. Kakak tetaplah garis keturunan murni dari penyihir besar Kerajaan Maja, Keluarga Ekadanta. Tidak ada yang bisa menandingi sihir kalian di pulau ini,"
"Aku tidak menjelaskannya," ucap Fusena melihat tatapan Ekata yang menghakimi gurunya. Itu adalah rahasia besar yang tidak diketahui banyak orang.
Idaline membuka matanya. Darah segar keluar dari hidung dan mulutnya sama seperti saat latihan bersama Ekata.
"Beda. Sekarang kekuatannya lebih besar. Meski menyakitkan–aku bisa menahannya," gumam Idaline.
"Ruru nanti ambil batu ya!" ucap Idaline lalu meniupkan udara dan membayangkan Ruru, satu-satunya burung garuda yang pernah terlihat di kepulauan selama ratusan tahun belakangan.
Idaline melepaskan tanda di tanah dan menarik tangannya yang menahan senjata jiwa, ia satukan kedua tangannya dan menautkan jari-jarinya dengan menekan jari-jarinya hingga sejajar lalu didekatkan ke depan dadanya.
Idaline berdiam diri sebentar kemudian berlari pada senjata yang juga mengarah padanya. Idaline menundukkan punggungnya masuk ke bawah gumpalan hitam sebesar manusia dewasa itu, ia tinju bagian tengah senjata jiwa dengan kedua tangan lalu melepaskan penyatuan tangannya dan memutar kedua telapaknya ke arah yang berlawanan.
Idaline menutup satu matanya yang penuh darah. "HA!" teriaknya memasukkan senjata jiwa pada batu yang menjadi wadah untuk menyegel. Bersamaan muncul cahaya hijau membuat semua orang terpental.
"Ini sudah yang keberapa ya? Rasanya tetap seperti pertama kali," Idaline tersenyum menatap langit-langit goa.
Seekor burung garuda yang mengecilkan tubuhnya muncul mengambil batu segel yang berisi senjata jiwa. Dia menatap sekilas Idaline lalu pergi keluar goa. "Kwaakk. Kwaaakk,"
"Semoga anak manis itu tidak mengganggu Fusena," tangan Idaline yang mengudara lunglai jatuh ke tanah.
"Yang Mulia? Yang Mulia?" khawatir orang-orang melihat wajah pucat Idaline.
"Kalian jangan panik. Kita coba dahulu pengobatan mulai dari para petapa dan sepertinya Raden Ajeng bisa menerima sihir,"
Semua orang bergantian menyembuhkan Idaline. Rekannya menepuk bahu orang yang terakhir mencoba dan menggelengkan kepalanya. Dengan lemas mereka kembali ke kediaman.
Hukuman tidak mereka takuti karena itulah yang seharusnya diterima karena tidak kompeten.
Namun mereka sangat malu membiarkan gadis muda berjuang sendiri padahal ada mereka yang telah berpengalaman. Mereka terlalu egois menyerahkan beban pada gadis itu seorang diri berpikir Idaline seorang diri sudah cukup.
Padahal manusia tetap ada batasnya dan seorang murid belum tentu segemilang gurunya.
"Kami memohon ampun karena kami tidak kompeten Yang Mulia,"
"Kalian jangan bercanda!" Hayan menghampiri tandu yang membawa tubuh Idaline, wajahnya pucat pasi merasakan kulit dingin Idaline, darah pada indera Idaline masih menetes. Tangan Hayan lemas tidak merasakan nadi dari leher dan tangan Idaline.
"Bagaimana ini bisa terjadi?" Hayan menarik selendang wakil ketua. Ia mengeluarkan keris dari tangannya lalu menempelkan ujung yang tajam pada leher sang penyihir.
"Yang Mulia, mohon tenangkan diri Anda," ucap Karuna ketika Hayan menekan kerisnya hingga kulit sang wakil terbuka dan meneteskan darah.
"Idaline akan marah kalau melihat kalian menyusul dengan cepat," Hayan melepaskan tangannya dan memasukkan keris ke dalam sarungnya. "Pergilah ke penjara bawah tanah kalau kalian masih waras!!"
__ADS_1
Para petapa dan penyihir berjalan tanpa suara menghilang dari pandangan Hayan. Hayan tidak lagi menakutkan bagi mereka karena ketakutan terbesar mereka sekarang adalah sebuah penyesalan.
••••••••••••••••••••
"Aku hanya membimbing semua ke jalannya,"
"Yang Mulia Ratu," panggil Djahan membuyarkan lamunan ratu.
"Anda sudah kembali," Ratu berbalik menghadap Djahan.
"Saya sudah memeriksanya. Pusaka peninggalan Kerajaan Sadeng sudah terkendali dan tidak ada jejak penggunaan oleh keluarga kerajaan. Orang luar tidak bisa menggunakannya. Jadi disimpulkan itu kekuatan yang meledak-ledak setelah lama tidak digunakan," Djahan melihat lubang di tanah yang tak jauh dari mereka.
"Apa Anda ingat ucapan terakhir Sudomo?" tanya ratu melihat arah pandang Djahan.
"Penasihat Wenang, raja yang melakukan pemberontakan?"
Ratu mengangguk. Ia mengawasi para ksatria yang sedang menggali tanah. "Anda masih ingat rupanya. Saat itu saya baru tiga tahun naik tahta dan kerajaan kecil sepertinya sangat berani, berpikir saya perempuan yang lemah. Terima kasih Anda mau kembali dan meredam gejolak,"
Djahan tersenyum canggung, padahal saat itu ia tidak berniat mencampuri urusan kerajaan. Ia dan murid-muridnya tak sengaja bertemu pasukan yang langsung dipimpin ratu. Tidak mungkin baginya membiarkan pemimpin kerajaan besar turun tangan sendiri menghadapi kerajaan yang luasnya tak sebanding dengan Trowu, ibu kota kerajaan Maja.
"Sudah menjadi tugas saya sebagai rakyat melindungi ratunya dan seorang murid melindungi putri gurunya,"
"Anda juga guru saya. Tanpa pengajaran Anda, saya yang hanya tau tata krama dan mematuhi semua ucapan kakanda, mana bisa mengetahui hal-hal mendalam untuk memimpin kerajaan ini,"
"Saya hanya membimbing, Anda sudah diberkahi kecerdasan dan kebijaksanaan," Anda juga menghormati kakak Anda yang terlahir dari seorang budak. Djahan tersenyum melihat putri kecil patuh sudah menjadi wanita hebat, bisa menentukan jalannya sendiri.
"Sudomo berkata ia membimbing semua orang ke jalannya. Saat jantungnya ditusuk, dia tertawa ringan seolah tahu semua hal," Ratu mengernyit mengingat tawa yang tidak mengenakkan. "Kemarin saat Anda dan rombongan Sadeng pergi, saya teringat dokumen lama,"
Kepala dayang ratu memberikan berkas pada Djahan.
"Gambarnya sama," Djahan membandingkan gambar di tangan kanan dan kirinya.
Ratu mengangguk. "Pola pergerakannya juga,"
"Tapi saat itu Yang Mulia Nararya sendiri yang mengambil nyawa Wirarya, penasihat Katwang. Dan untuk Sudomo, Kemba yang mengambil nyawanya,"
"Saya tidak meragukan kematian mereka. Anda tahu kan budak yang saya kumpulkan?"
Djahan mengangguk. "Budak dengan sihir hitam?"
"Karena perang, saya hentikan semua penelitian tentang mereka dan juga pasokan makan mereka. Sebagian besarnya tidak dapat bertahan selama sepekan. Bersamaan dengan laporan Sadeng, saya menerima kabar tubuh-tubuh yang kurus itu membuka matanya setelah tak bernapas, beberapa di antaranya kembali memiliki tubuh yang kuat layaknya mendapatkan asupan dalam mimpi,"
"Yang Mulia, kami sudah mencapai peti,"
"Angkat,"
Peti yang penuh pasir diangkat dari lubang, semua sisinya dibersihkan hingga mengkilap lalu dihadapkan pada ratu.
"Petinya polos," Djahan mengernyit, matanya menyapu setiap bagian peti. Seharusnya peti pemberontak memiliki beberapa segel agar kebusukan mereka tidak menyebar yaitu agar tidak ada pemberontak lainnya.
"Buka," Ratu mengepalkan tangannya yang gemetar. Harapannya pupus melihat peti kosong tidak ada isinya. "Sangat halus," Ratu mengelus sisi peti, semua jejak segel hilang tanpa meninggalkan jejak. "Sebenarnya apa tujuannya?" lirih ratu.
Kekuatan dan kekayaan Sudomo lebih besar daripada Sadeng. Dan kecerdasannya cukup untuk menggandeng kerajaan yang lebih besar. Hanya orang gila yang mengangkat senjatanya kala kehidupan dunia sedang damai-damai saja.
"Panggil semua petinggi!" perintah ratu pada pelayan. "Wengker.. apa ada hubungannya denganmu?!"
••• BERSAMBUNG •••
© Al-Fa4 | 23 Agustus 2021
Today In History :
23 Agustus 632 M
Wafatnya manusia pertama yang mengikuti ajaran Nabi Muhammad Sholallahu 'Alaihi Wasallam (di luar keluarga),
wafatnya sahabat sejati Nabi Muhammad Sholallahu 'Alaihi Wasallam,
wafatnya khalifah pertama Islam,
Abu Bakar Ash Shiddiq
atau
Abdullah bin Utsman Abi Quhafah
14 Muharram 567 H [1171 M]
Shalahuddin Al-Ayyubi menumpas syi'ah dari Bumi Mesir.
23 Agustus 1514 M
Membela makam Rasulullah di Chaldiran.
__ADS_1