![TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz--berpindah-ke-zaman-keemasan-.webp)
"Hei kamu mendengar ceritaku tidak?" kesal Widya mengembalikan kesadaran Idaline yang sedang menerawang ingatan tiga tahun lalu.
"Pantas kamu berada di desa lagi," cetus Idaline tetap mendengarkan cerita Widya meski pikirannya terbagi. Idaline sangat berterima kasih pada Djahan yang mengajarinya cara menggunakan teliga, mulut, otak, dan tangan secara bersamaan. Biasanya Idaline hanya bisa fokus pada satu hal.
"Adik-adik imutku sudah masuk akademik. Ibu sibuk membuat perhiasan dan ibu tiri ikut membantunya. Tak ada yang dapat kukerjakan," keluh Widya menyandarkan diri di kursi.
"Tidak mungkin ayahmu yang ketat membolehkanmu pergi sejauh ini," selidik Idaline.
Sejak Idaline menyatakan Widya sebagai muridnya dan menemukan bahwa Asha, selirnya, melakukan hal-hal yang menyulitkan Widya juga banyak memfitnah di depannya, Baga tidak tanggung-tanggung menghukum Asha dengan tangannya sendiri.
Setelah itu Baga pun memberikan pendidikan yang tertinggal tetapi Widya sudah mahir dalam banyak hal bahkan hingga masalah administrasi. Baga memberikan wewenang pada Widya untuk membantunya dalam pekerjaan.
"Aku mengikuti syaratnya untuk ke pesta dan bersikap baik," jelas Widya tentang alasan Baga mengizinkannya pergi ke luar rumah. Biasanya ayahnya itu memberikan pengawalan yang sangat ketat dan tidak boleh pergi ke daerah lain.
Akhirnya Baga memberikan penawaran Widya boleh bepergian ke mana pun asalkan mengikuti pesta perayaan ulang tahun kerajaan di keraton dan mengikutinya dari awal hingga akhir acara. Padahal Baga tahu Widya sangat anti terhadap pesta.
"Bodoh," Idaline menjitak kepala Widya.
"Aduh," keluh Widya mengusap kepalanya.
"Kalau kamu bersikap baik sesuai dengan sikap si Widya Sipta terdahulu, rumor buruk tentangmu akan hilang,"
"Bagus dong?" Widya menaikkan alisnya merasa aneh Idaline justru tak senang rumor buruk dirinya hilang.
"Setelah ini akan berdatangan lamaran untukmu," Idaline memandang jauh ke halaman, di sana rombongan berpakaian seragam datang dipimpin wanita tua dengan selandang yang memiliki ukiran bunga asoka tanpa warna.
"Nona besar, saya kepala dayang izin menyerahkan kotak yang dikirimkan tuan besar dari rumah peket," ucap kepala dayang di luar ruangan.
"Silakan masuk," sahut Widya dari dalam ruangan.
Kepala dayang menaruh kotak yang tidak dikunci lalu berjalan mundur dan keluar dari ruang tamu.
"Mulutmu sangat terkutuk!" kesal Widya memperoleh setumpuk surat berupa lamaran tanpa ada jenis surat lainnya.
"Haha. Kamu yang bodoh tidak bisa memikirkan itu," Idaline tersenyum, semua lamaran itu berasal dari kalangan atas. Baga Sapta telah memilahnya.
Tanpa mau repot membacanya, Widya membakar kotak itu dengan bola api kecil yang sudah susah payah ia pelajari.
"Dia sangat berani menyatakan perasaannya padamu. Tapi selanjutnya apa dia serius? Bagaimanapun dia hanyalah seorang pengawal," Idaline kembali pada topik curhatan Widya yang sedang dekat dengan seseorang.
"Udel, apa otakmu terbentur? Lupa bahwa tidak ada kasta dalam dunia yang membesarkan kita?" Widya menatap sinis Idaline.
Idaline memejamkan matanya sebentar lalu membukanya kembali. "Kalau dia ksatria mungkin ayahmu masih menerima. Dia hanyalah pengawal, apalagi pengawal pribadimu. Reputasi keluarga pasti didahulukannya,"
"Aku tidak memikirkan sampai sana," Widya termenung. Walaupun ia memutuskan hidup di dunia yang sekarang, nyatanya Widya masih memandang dunia ini sama dengan dunia modern. Padahal semuanya berbeda, dari adat istiadat sampai hukum yang ada.
"Yah bukannya tidak ada kesempatan. Coba bujuk dia untuk jadi ksatria," saran Idaline. Ia turut senang Widya telah menemukan pujaan hatinya. Selama di dunia modern, Widya berjuang untuk dirinya sendiri karena ayahnya memiliki dua istri dan ada empat adiknya yang harus diperhatikan.
Awalnya ayahnya itu orang berada kemudian jatuh setelah menikah siri diam-diam, mungkin do'a seorang istri yang sakit hati telah diselingkuhi satu tahun lamanya. Tetapi kedua istri ayahnya itu sepakat untuk berbagi bersama dan mendampingi suami mereka yang sedang benar-benar terjatuh sampai tidak ada tempat tinggal.
Widya yang sudah mengerti akhirnya menerima sang istri kedua tetapi ia masih tidak nyaman untuk tinggal bersama dan memutuskan tinggal bersama kakek-neneknya di pulau lain. Sampai ayahnya mampu membelikan rumah untuk masing-masing istrinya dan berkecukupan, Widya tetap bekerja sendiri karena dia memiliki empat adik yang masih kecil.
"Sekarang ini zaman perang. Mungkin setelah berakhir,"
"Justru saat perang begini bisa menghasilkan prestasi yang gemilang,"
"Udelia!!" bentak Widya. "Hati kamu yang kaku itu semakin dingin saja," lirih Widya. Air mata jatuh di sudut mata Widya.
Idaline menatap langit-langit. "Justru kapasitasnya sekarang akan dianggap penghinaan jika ia melamarmu. Menghina bangsawan bayarannya nyawa,"
Idaline mengusap punggung Widya dan memberikan bahunya untuk bersandar, ia tahu Widya telah menahan banyak hal. Menghadapi wanita-wanita licik pastilah menguras energi dan perasaan.
Setelah tenang mereka berkeliling desa mencari kuliner dan kerajinan unik, ia jadi tak memiliki kesempatan bicara takut malah menyinggung perasaan kacau Widya.
••••••••••••••••••••
"Wadaw, lamaran lain datang untukmu," goda Idaline melihat kepala dayang membawa nampan surat, kepala dayang berjalan ke arah Idaline dan Widya yang sedang menikmati angin pagi di taman.
"Masih subuh loh," Widya menyesap kopi panasnya. "Itu..segel keraton?" Widya menatap Idaline yang juga menatapnya.
"Kami memberi salam kepada nona besar, kami memberi salam kepada Yang Mulia Raden Ajeng. Semoga kalian selalu diberkahi keindahan dan kebijaksanaan," ucap kepala dayang bersimpuh mewakili dayang-dayang yang juga bersimpuh di belakangnya.
"Bangunlah,"
__ADS_1
"Surat ini untuk Raden Ajeng," ujar kepala dayang bersimpuh memberikan nampan. "Kemarin tuan besar datang ingin menjemput nona besar. Setelah diberitahukan keberadaan Anda bahwa Anda sedang pergi bersama Yang Mulia Raden Ajeng, beliau kembali dan dini hari datang surat untuk Yang Mulia Raden Ajeng dari keraton, kami bergegas," jelas kepala dayang pada Idaline dan Widya yang menatap curiga.
"Wid, kita ke keraton sekarang," kata Idaline setelah membaca singkat tulisan di kertas.
"Hah? Kenapa?" bingung Widya, kemarin Idaline berjanji akan menemaninya selama sepekan penuh.
"Ibu suri mangkat,"
Mengganti pakaian dengan warna yang lebih pudar, Widya memakai selendang biru pudar dan Idaline memakai pakaian abu-abu lengkap dengan selendang abu-abu.
Kereta-kereta yang selalu berada di tempat terdalam kandang kuda setiap keluarga, berbaris rapih di halaman istana. Idaline dan Widya turun dari burung bidadari karena tidak ada kereta semacam itu di rumah desa.
"Lancang sekali pamer disaat seperti ini..eh hamba memberi salam kepada Yang Mulia Raden Ajeng," Pengawal yang menjaga kereta-kereta kuda bersimpuh.
"Kami memberi salam kepada Yang Mulia Raden Ajeng," kata setiap orang yang melihat Idaline.
Idaline tidak menghiraukan mereka dan bergegas pergi ke aula ageng. Idaline mengantar Widya ke keluarganya lalu menghampiri Hayan yang terlihat kaku di depan mayat.
"Beliau sudah tenang," bisik Idaline berdiri di samping Hayan dan mengusap bahunya.
"Iya.." Hayan tercengang saat bahunya menjadi tumpuan kaki Idaline. Gadis itu terbang menangkap seseorang yang terjatuh dari lantai atas, tempat para putri.
Dalam satu kedipan mata Idaline menghilang dari pandangan orang-orang yang hadir. Hayan mengikuti Idaline menuju kamar tunggu di paviliun yang berada di sebelah aula ageng.
"Netarja?" Hayan mengepalkan tangannya menjumpai adik kesayangannya tidak sadarkan diri di atas kasur. "Apa kamu lihat pelakunya?"
"Belum bisa dipastikan," jawab Idaline yang duduk di sebelah ranjang.
"Katakan saja kecurigaanmu," geram Hayan menahan marah.
"Hanya ada Sudewi yang berdiri di atas," Idaline menatap Hayan berharap Yuwaraja itu tidak bertindak gegabah.
"Indudewi sedang pulang belajar pada paman Kudamerta sebagai tangan kanannya," imbuh Hayan menyimpulkan dugaannya.
"Jangan terburu-buru,"
"Guru tahu kan ini adalah tanaman berbahaya yang bisa merenggut nyawa?!" marah Hayan meninggikan suaranya. "Maaf," sadarnya.
"Lebih baik kamu menenangkan para tamu. Netarja akan baik-baik saja," usul Idaline. Ia yakin Hayan tidak akan berbuat nekat di hadapan para tamu juga di hadapan jasad ibu suri.
Setelah pintu tertutup Idaline fokus mengeluarkan racun dari tubuh Netarja. Ia buka mulut gadis itu dan menggerakkan tangannya mengambang di atas perut sampai cairan kental berwarna kuning kecokelatan keluar dari mulut Netarja.
"Katakan, kenapa kamu melakukannya? Netarja!" seru Idaline mengetahui Netarja tidak pingsan.
"Ini pertemuan pertama kita dan ayunda ingin mengomeliku?" Netarja menatap dingin Idaline. "Harusnya ayunda diam saja," tambahnya.
"Meski kejam, tapi karena ibu suri, kamu, Indudewi, dan Sudewi jadi kebal terhadap beberapa jenis racun yang mematikan. Dan kamu ingin menghancurkan pengistirahatan terakhirnya?" tuduh Idaline. Netarja memilin tangannya di bawah selimut.
"Kamu memangnya mengerti apa?"
"Kamu menjatuhkan diri tepat saat Mana Catra si yuwamentri i sirikan lewat," balas Idaline membuat Netarja tidak bisa berkutik.
"Kecerdasanmu menakutiku," Netarja menangkup wajahnya, ia sempat bertanya-tanya alasan Petapa Agung menerima Idaline.
Meski tahu Idaline adalah orang yang mudah belajar dengan cepat, ia tidak menyangka kepekaan dan kecerdasaannya sangat besar sampai-sampai membuatnya merinding.
Dan kepercayaan diri Idaline seakan tahu segala hal mirip dengan kakandanya. "Apa kamu menulari kakanda saat mengajarnya?"
"Aku akan mengajarimu,"
"Eh?" Netarja melepaskan tangan dari wajahnya dan melemparkan pandangan pada Idaline.
"Cara mendekati pria dengan jalan yang aman,"
"Tidak usah. Tidak usah," tolak Netarja tidak ingin menjadi aneh karena Idaline tersenyum aneh.
"Pikirkanlah baik-baik," Idaline memberikan jus strawberry pada Netarja. "Aku lupa, racun itu terekstrak dalam tubuhmu menjadi kotoran. Aku sudah membuangnya lewat mulutmu," Idaline menarik sudut bibirnya lalu menghilang di balik pintu.
Suara tawanya masih terdengar di telinga Netarja. Tersadar akan ucapan Idaline, Netarja meminum jus dengan sekali tenggak.
Gerutan otot tampak di kepala Idaline ketika sampai di aula, murid manisnya sedang menempelkan ujung keris ke leher Sudewi.
"Menenangkan?! Menenangkan para tamu?!" Idaline mengusap wajahnya, pandangannya serius lalu ia meloncat ke lantai atas.
__ADS_1
"Ananda benar-benar tidak melakukan apapun," sanggah Sudewi dari bibir pucatnya.
"Hayan, bukankah selalu kuingatkan balas sesuai yang dilakukan? Jangan lebih dan jangan kurang," Idaline mengarahkan tangannya ke wajah Sudewi. Sudewi merasa ini akan lebih mengerikan dari yang kakandanya lakukan.
"Kyaaa!" teriak Sudewi dan orang-orang yang menonton drama itu. Tubuh Sudewi terbang ke langit-langit aula lalu terhempas dengan cepat ke lantai. Mata Sudewi yang terpejam mengintip, hidung mancungnya hampir menyentuh lantai. Tiba-tiba tubuh Sudewi kembali ditarik ke atas.
"Sudah kan? Ayo turun," Idaline menarik Hayan turun ke bawah. Hayan merasa emosinya sudah reda, Hayan tidak lagi menghiraukan Sudewi yang ikut turun di belakangnya.
"Yang Mulia Ratu, Yang Mulia Bhre Tumapel, Yang Mulia Tuan Puteri Paramarta, dan Yang Mulia Raden Ajeng Falguni memasuki ruangan," teriak pengawal yang berjaga di pintu aula.
"Kami memberi salam kepada Ibu ratu," ucap Idaline, Sudewi, dan Hayan di depan tangga.
"Kami menghadap Yang Mulia Ratu, semoga Anda selalu diberkahi kebijaksanaan," kata orang-orang yang hadir.
"Bangunlah. Kita mulai upacaranya,"
Hayan berjalan ke depan berkumpul dengan ratu dan Indudewi mundur berkumpul dengan Idaline dan Sudewi.
"Terima kasih mbakyu," ucap Sudewi.
"Padahal saat kecil semuanya akur," Idaline menatap Sudewi lalu memejamkan matanya dan berdo'a.
Setelah upacara, wasiat-wasiat ibu suri diumumkan lalu diadakan makan bersama. Setiap bangsawan tingkat menengah dan bangsawan tingkat bawah mencoba memperluas koneksinya karena biasanya sore hari sudah harus kembali. Sedangkan putra-putri bangsawan tingkat tinggi akan menginap untuk melakukan upacara do'a dan hari duka selama tujuh hari di keraton.
"Istana-istana selir sudah lama tidak terpakai. Semuanya menginaplah selama tujuh hari untuk mendo'akan ibu suri," titah ratu menatap makanannya yang masih utuh.
"Ratuku.." Dhara memandang sendu dan menggenggam tangan ratu.
"Nikmati waktu istirahat kalian,"
Dhara memegang pinggang ratu dan menuntunnya keluar.
"Yang Mulia Raden Ajeng, bagaimana Anda dapat menghentikan Yuwaraja?"
Idaline menatap datar menyembunyikan perasaan risihnya. Idaline terus diikuti para pemuda dan pemudi karena Hayan pergi bersama Sudewi dan Netarja menyidang mereka sedangkan Indudewi diperintahkan mengurus bunga untuk upacara esok hari.
"Kudengar murid-murid yang lulus dua tahun terakhir sangat bagus dalam petapaan. Bagaimana dengan kalian?" tanya Idaline mengalihkan pembicaraan.
"Kami selalu siap untuk turun ke medan perang, Yang Mulia," sahut pemuda berselendang hijau.
"Tapi bagaimana ya? Petapaan saja tidak cukup," Idaline memainkan keris di tangannya.
Semua orang terkesiap. Sang pemuda sontak memeriksa pinggang sebelah kanannya. "A-anda sangat kuat bagaimana bisa hamba menyadari," ucapnya menyadari keris miliknya di tangan Idaline.
Idaline memberikan keris itu kembali pada pemiliknya. "Katakan, siapa namamu?"
"Hamba Wipoet putra tertua Wiyasa Keling," jawab Wipoet berdiri dan menundukkan badannya sambil meletakkan tangannya di dada. Idaline mengangguk dan menyuruhnya duduk tanpa kata.
"Nah Wipoet dan yang lainnya," Idaline menatap satu persatu orang yang berkumpul di depannya. "Jangan meremehkan lawan," bukanya. "Bisa saja yang lebih lemah mengalahkan yang lebih kuat. Atau menemukan jalan lain seperti Wengker,"
"Dahulu mereka tidak dapat berkembang karena terbelenggu akibat tinggal dikelilingi tempat terkutuk. Tidak bisa meski mencoba di tempat lain," timpal yang lain.
"Yang Mulia.." ragu wanita berselendang cokelat.
"Sebutkan nama dan pertanyaan," Idaline mengulum senyumnya. Ia merasa sedang seperti dosen yang memberikan seminar.
"Hamba Tari putri keempat thani Wanua Badam Aswattha," Wanita itu berdiri melakukan hal yang sama dengan Wipoet lalu meneruskan ucapannya, "Pertanyaan hamba adalah apakah sekarang mereka sudah terbebas dari belenggu itu?" tanyanya merujuk pada kondisi para prajurit Wengker.
"Belum. Kalau mereka sudah terbebas, kita sudah musnah sejak lama."
Tari mengangguk lalu kembali duduk. Idaline pun meneruskan acara tanya jawab yang sudah ditunggu muda-mudi itu.
••• BERSAMBUNG •••
© Al-Fa4 | 31 Agustus 2021
Tambah teman author yuk
FB : Lee Lunaa Al-Fa4
IG : @alsetripfa4
Makasih atas like, komen, vote, dan hadiah juga shareannya
__ADS_1
Sehat selalu semuanyaa
Love, Al-Fa4