TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]

TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]
026 - HAMPARAN RUMPUT


__ADS_3

Rute yang belum selesai akan langsung membuat pemain keluar di pertengahan jalan karena alur selanjutnya belum dibuat, oleh karena itu Idaline paham bahwa Cethi bersungguh-sungguh untuk kembali pulang.


"Apa kakak tidak merindukan keluarga kakak? Bukannya sudah lama?" Cethi mendongak dan memandang sayu Idaline.


Salah satu senior yang tidak ragu mengajarinya hal-hal yang belum ia ketahui itu telah tidak sadarkan diri selama dua hari sebelum ia mendapati dirinya berada di dunia yang aneh ini.


Rasanya mengerikan berada di tempat asing tanpa mengenal orang lain meski ia berada di bawah bimbingan orang besar yang dihormati banyak kalangan.


Namun..


Kini orang yang terlihat tidak akan disentuh itu telah meninggalkan dunia ini. Apalagi orang kecil sepertinya.


Idaline tersenyum sambil memejamkan matanya membayangkan seluruh keluarganya yang selalu memberikan kehangatan. "Aku berbeda denganmu."  ujar Idaline membuka matanya.


"Kalau kamu mencurigai prosesor sebagai alasan kamu dikirim ke sini, mungkin aku bisa membawamu kembali." imbuhnya penuh keyakinan.


"Benarkah kak?" Mata Cethi berbinar menyiratkan harapan besar dan kepercayaan besar pada Idaline.


"Guru, aku menunggumu lama sekali." Hayan berjalan masuk ruangannya tanpa mengeluarkan suara.


Tanpa sadar ia mengepalkan tangannya melihat tangan Idaline berada di atas kepala seorang pelayan yang notabene adalah seorang pria. Ia melepaskan kepalannya ketika pelayan itu mendongak melihat kedatangannya.


"Kenapa dia di sini dan memakai pakaian pelayan?!" Hayan menatap Cethi dengan curiga.


"Aku yang memanggilnya." Idaline bangkit dari kursi. Ia memegang tangan Hayan lalu menuntunnya keluar. "(Pikirkanlah dengan baik-baik!)" pesan Idaline pada Cethi yang masih mematung di tempatnya.


Cethi takut sekali mendengar suara dingin Hayan, tatapan pangeran itu selama acara berlangsung saja sudah membuat keringat dingin membasahi punggungnya apalagi suaranya yang dingin dan menggema.


Cethi takjub seniornya bisa bertahan dan berani berada di samping manusia seperti itu.


"Apa itu bahasa baru, guru? Bahasa di Wukir Mahendra tidak jauh berbeda dengan bahasa kita."


"Sudah kubilang aku bukan gurumu!" Idaline selalu merinding saat orang menyanjungnya, guru adalah kata yang sangat sakral.


"Sehari sebagai guruku, selamanya adalah guruku."


"Kamu semakin aneh saja setelah masuk kelas pengetahuan."


Cethi melamun sambil terus berjalan membawa nampan. Ucapan Idaline terus menghantui, ia tidak tahu kenapa seniornya itu mengatakan hal tidak penting. Kenapa Cethi harus memikirkan baik-baik? Sudah sangat jelas ia ingin pulang.


"Cethi! Kupikir kamu hilang kemana! Jangan berjalan-jalan sembarangan seperti itu."


"Ah." Cethi jadi memikirkan berbagai hal setelah melihat wajah khawatir Parikesit dan tiga orang yang datang bersama lelaki itu.


"Nona Cethi? Kalau ada masalah katakan saja."


Cethi menggelengkan kepalanya. Tidak muncul pop-up kali ini, berarti ia bisa bergerak dengan bebas. "Ada yang harus saya lakukan. Kalian lebih baik bersiap untuk pesta siang nanti."


Cethi berlari menuju Idaline, ia melihat Idaline berjalan pulang ke kediamannya tidak menggunakan tandu. "(Kak Lia!)" panggilnya ketika sudah di dekat Idaline.


Idaline menghentikan langkahnya dan berkata, "Aku akan memeriksa jawabanmu nanti malam."


Hayan yang juga menghentikan langkahnya menatap Idaline menuntut penjelasan.


"Bukankah kamu harus bersiap?" tambah Idaline tidak nyaman ditatap.


"Benar. Untung kamu mengingatkan, kalau tidak aku bisa lupa."


Idaline mengangguk pada Hayan dan menunggu Hayan pergi lalu ia mendekati Cethi yang berdiri beberapa meter takut mendekat ke arahnya. "Kita duduk di bangku dulu." ajaknya.


Cethi mengikuti langkah Idaline.


"(Apa kamu sudah menyiapkan hati?)" tanya Idaline ketika mereka telah duduk, semua dayang dan pelayan yang bersama mereka ia singkirkan jauh-jauh.


"(Tentu saja! Aku sudah menunggu untuk pulang, cukup beberapa pekan ini aku sendirian. Tapi untuk target apakah akan baik-baik saja?)"


Cethi bukannya ingin membanggakan diri, tapi melalui pop-up, dia jadi dekat dengan keempat target yang merupakan orang-orang besar dan melakukan banyak hal bersama.


Ekogrop di salah satu timnya yaitu tim yang dipimpin Udelia sedang membuat proyek Role Playing Game bertema masa lampau dengan genre percintaan.


Mengambil lima karakter berbeda sebagai targetnya. Dari seorang anak penjaga gunung yang kesepian sampai seorang putra mahkota yang dikelilingi banyak orang.


"(Mereka tidak akan ingat padamu.)"


"(Jadi dunia ini benar-benar dunia dalam game ya? Sia-sia aku khawatir.)" Cethi tertawa kecil.


"(Tidak. Ini dimensi lain. Kalau menurut ucapanmu, kamu bisa datang karena prosesor. Prosesor terbuat dari pasir.)"


"(Begitu! Jadi pasirnya memiliki kekuatan seperti sihir dan kanuragan di sini.)"


"(Oh, kamu tahu?)"


"(Tentu saja, aku ini murid Ki Ageng..ah benar! Kalau ini dunia nyata..perangnya..)"


"(Selama kamu kembali. Itu tidak akan terjadi)," semoga, do'a Idaline dalam hati.


"(Mereka benar-benar akan melupakanku?)"


"(Kamu tidak rela?)"


"(Kenapa aku harus begitu? Bagaimanapun mereka hanya karakter fiktif. Aku lega karena mereka tidak akan menderita lagi)." Cethi memegang tangan Idaline dan menatapnya dengan serius.


"Kalau kamu memencet tombol settings kamu akan langsung pergi ke air terjun dekat istana. Di sini air terjun alami berada di Sela Wukir."


Idaline memejamkan matanya melihat cahaya dari tempat Cethi, gadis itu tidak memberinya aba-aba langsung mencoba intruksinya. Ia memijit matanya saat cahaya kedua muncul.


"Aneh sekali aku berdiri di atas air!" ucap Cethi takjub.


Sekuat-kuatnya orang tidak akan mungkin bisa berdiri di atas air. Begitu yang Cethi pikirkan menilik gurunya yang merupakan guru agung di daerahnya tidak sampai bisa melakukan hal itu.


"Karena background pengaturannya aku ambil air terjun. Sebelumnya hanya warna hitam."


"Ngeri banget kalo bener-bener masuk ke kegelapan!"


"Aku berangkat sekarang. Kamu jangan lupa pencet tombol developer selanjutnya serahkan padaku."


"Oke, kak!"


Idaline meninggalkan Cethi, gadis itu terkejut saat ada yang menepuk bahunya.


"Tuan Catra?"


"Sudah kukatakan panggil Mana saja."


"Kenapa Anda kemari? Seharusnya Anda bersiap."


Mana memandang sendu Cethi, ia selipkan rambut Cethi ke telinga. "Perasaanku sangat tidak tenang. Seakan kamu akan pergi jauh dari sini."


Cethi memejamkan matanya menenangkan diri dan membuka matanya dengan tekad yang kuat. "Bekerja keraslah untuk kerajaan!" pesannya lalu Cethi memencet tombol settings pada pop-up yang muncul.

__ADS_1


Mana menutup wajahnya dengan siku melihat cahaya dan angin besar muncul dari arah Cethi. "Apa-apaan itu??"


••••••••••••••••••••


"Yang Mulia mohon maaf. Saat perayaan seperti ini pintu masuk ke area Sela Wukir ditutup."


Untuk menghindari penyusup, Sela Wukir yang memiliki banyak harta, benda sihir, dan goa-goa yang pekat akan kanuragan, selalu ditutup saat perayaan karena semua orang berlibur.


"Anda tidak memikirkan hal itu kan?" ucap dayangnya memperingati.


Ada jalan lain untuk masuk ke Sela Wukir, melewati hutan berisikan binatang buas dan hewan mistis belum lagi ada jebakan-jebakan yang dibuat para penyihir dan petapa agar jalur itu tidak dilewati.


"Kalian tunggu saja di sini."


"Tidak, Yang Mulia."


"Dengarkanlah perintah ini."


"Baik, Yang Mulia."


"Siji, Loro. Kalian–"


"Tuan Siji dan tuan Loro harus ikut Anda, Yang Mulia." sela dayangnya mengetahui arah pembicaraan Idaline. Ia akan menerima hukuman karena menyela, yang penting majikannya tidak terkena bahaya.


Karena satu goresan saja tercetak di tubuh Idaline, hukuman besar mengintai mereka.


"Baiklah." Idaline bisa menghindari para hewan itu, tapi manusia tidak. Bukan tak mungkin ada orang lain yang menyusup. "Tampakkan diri kalian."


"Kami di sini, Yang Mulia Raden Ajeng."


"Panggil saja Udel. Kita akan menyamar, mas Agis, mas Agus."


"Ya, Udel." ucap Loro berbinar.


Idaline sudah sok bijak pada Indra, nyatanya dia belum melakukan yang diucapkannya. Selama ini Idaline masih tidak memperlakukan Siji dan Loro sebagaimana dahulu.


Bahkan tak segan memaki mereka ketika sendiri padahal tahu Siji dan Loro selalu di sisinya.


Tapi sekarang belum terlambat kan?


Sebentar mulut Idaline terbuka ragu. Ia memejamkan mata menghilangkan keraguan dan berkata, "(Seperti biasa aja.)"


"Ayo berangkat, nok." Tanpa bimbang Siji mengulurkan tangannya.


"Iya mas." Idaline menerima uluran tangan Siji, ia juga menggandeng tangan Loro.


Idaline menatap keduanya bergantian sambil tersenyum. "Maaf aku sudah berkata kasar."


"Ngga, ucapanmu memang benar adanya. Kalau memutuskan ikatan dapat menenangkan hati, apapun akan kami lakukan." Siji menatap sedih sambil mengingat kejadian yang menimpa Udelia.


"Awalnya Udel merasa senang karena melihat mas menderita. Tapi Udel juga sakit melihat mas sakit."


"Terima kasih Udel, kesempatan kedua yang Tuhan berikan ini tidak akan mas sia-siakan." Siji mengusap kepala Idaline dengan tangan lain yang bebas.


"Katakanlah kalau ada yang Udel inginkan." ucap Loro canggung. Ia dan Udelia sebenarnya satu spesies, sama-sama gengsi mengeluarkan isi hati. Lebih baik tindakan yang membuktikan.


Namun memang kadang lisan harus berucap untuk mengeratkan tali yang renggang.


"Iya."


Idaline menatap genggaman tangan Siji dan Loro pada tangannya, kedua orang itu tidak melepaskannya bahkan di tanah yang terjal. Mereka berjalan seperti di tanah lapang.


"Oh iya." ucap Idaline dan Siji bersamaan.


"Kenapa rasanya kalian meremehkanku??" lirih Loro dibalas tawa tanpa suara oleh keduanya.


"Mas tunggu di sini, aku ingin melakukan sesuatu di sana."


"Berhati-hatilah." Siji melepas genggaman tangannya.


"Mas Agis?" ucap Idaline tangannya masih digenggam Loro.


"Ini terimalah." Loro memberikan kantong kecil sebesar genggaman tangan pada Idaline.


"Terima kasih, mas."


"Mas juga ingin memberi sesuatu." Siji menahan tangan Idaline yang akan beranjak pergi. Siji membuka ikatan di pinggangnya, ia mengeluarkan kalung hitam dengan bantal warna senada sebagai bandulnya.


"Jadi inget film jadul." gumam Idaline.


"Robeklah bandulnya kalau kamu dalam keadaan terdesak."


"Terima kasih mas Agus. Aku pergi dulu." Idaline melejit dengan cepat, ia sudah kehabisan waktu melewati jalan lain yang memutar dan sulit ditapaki. "Amel sudah menunggu."


"Padahal kalung itu petunjuk untuk menemukan keluarga kita." ucap Loro datar. Sudah puluhan tahun berlalu, sudah hilang dalam hati mereka keinginan menemukan keluarga yang susah payah mereka cari.


"Siapa yang peduli dengan keluarga yang sudah membuang kita? Lebih baik fokus pada yang jelas saja." kata Siji sehati dengan Loro.


"Mas Siji benar. Kita sudah menemukan keluarga kita."


Idaline menatap hamparan rumput luas di depannya. Ia menghela napas lega dapat mengingat segala hal bahkan yang terkecil. Tentu saja detail desain yang selalu terpampang di wajahnya semakin jelas.


Siji dan Loro mengawasi Idaline dari jauh, gadis itu sesekali berjalan memutar lalu melompat membuat mereka mengernyit.


"Sedang apa dia?" tanya Loro.


Siji mengendikkan bahunya. "Entahlah. Kita tanya saja saat dia ke sini." jawabnya.


"Mas, apa kita pantas jadi keluarganya?"


"Setelah membiarkan kemalangan itu, tentu saja tidak."


"Mas juga berpikir begitu ya?"


"Tapi kita harus melakukan sesuatu untuk memperbaiki kesalahan."


"Benar sekali." Loro mengangguk setuju.


Hari yang sejuk berubah terik. Siji dan Loro berinisiatif mendekati Idaline, cahaya yang tiba-tiba muncul dari arah air terjun membuat mereka berbalik. Siji mengeluarkan kerisnya dan Loro berlari mencari tahu.


"(Amel! Katakan kalau aku akan kembali!)" Idaline tersenyum lalu jatuh karena teriknya matahari.


"Loro sedang memeriksa." Siji menopang Idaline yang hampir menyentuh tanah.


"Tidak perlu, mas. Dia sudah kembali ke tempatnya."


"Aku terus terkejut." Siji terkagum pada adik sepupunya. Gadis itu memiliki banyak hal hanya dalam waktu yang singkat. Sekarang entah bagaimana Idaline bisa menemukan jalan pulang.


"Lebih baik hentikan mas Agis sebelum masuk lebih dalam."

__ADS_1


"Kalau dia bisa kembali. Mungkin saja ada jalan di sana." ucap Siji saat Loro menghilang di balik air terjun.


Idaline tidak memikirkan sampai ke sana, ia berjalan bersama Siji mencari petunjuk jalan yang mungkin bisa dilewati Idaline kembali ke rumah.


"Loro, apa yang sedang kamu lakukan?" ucap Siji pada Loro yang sedang berenang di kolam.


"Ini aku sedang mencari petunjuk! Mas kan bilang cari di setiap jengkal!" teriak Loro.


Mereka sudah mengelilingi daerah sekitar sebanyak dua kali, Siji lalu mengganti cara dengan memperhatikan setiap jengkal tanah dan tumbuhan yang ada di sana. Tidak ada goa di belakang air terjun seperti air terjun di istana sedap malam.


"Tidak ada apa-apa, mas. Kita santai saja dulu. Hari memang terik." Idaline menadahkan tangannya di sumber air lalu minum dengan nikmat. "Ah segarnya."


"Udel, ayo mandi. Kita sudah lama tidak berenang bareng." ajak Loro dari dalam air.


"Mas Agis gila ya? Aku ini sudah dewasa."


"Apanya yang dewasa, tubuhmu masih kecil begitu."


"Jiwaku sudah dewasa. Mana mungkin mandi bersama."


"Padahal kamu berenang sama orang tidak dikenal di kolam renang."


Idaline tidak bisa membantahnya. Ia membuka pakaian lalu masuk ke dalam kolam. "Hari yang terik."


"Benar sekali." ucap suara di belakang kepala Idaline.


Gadis itu terkejut mendapati Siji berada di belakangnya.


"Aku gosok punggungmu biar rileks. Tadi kamu sempat jatuh karena capek."


Belum Idaline memutuskan, Siji sudah menggosok punggungnya. Gerakan yang nyaman itu tidak dapat ditolak Idaline.


"Kemari, kemari. Mas Agis juga sudah belajar memijat kaki."


"Tidak usah. Kenapa malah aku yang dipijitin. Mas-mas kan sudah begadang demi menjagaku."


"Baru begadang sepekan. Eh tujuh hari. Tidak masalah. Lagian kami gantian tidur kok." jawab Loro memijat tangan Idaline.


Sepekan di sana hanyalah lima hari yaitu Kliwon, Legi, Pahing, Pon, dan Wage.


"Saat di medan perang kami bahkan tidak bisa memejamkan mata dengan tenang. Ini tidak ada apa-apanya." ujar Siji.


"Mas kenapa malah cerita itu?" tegur Loro.


"Aih," Siji menutup mulutnya.


"Kalian pernah ke medan perang?"


"Meski mahapatih sedang berkelana, dia selalu mengawasi keamanan negeri dari jauh."


Kemudian Siji dan Loro menceritakan perjalanan hidupnya hingga langit berubah malam.


"Kita pulang sekarang. Setidaknya pesta malam kamu harus datang, Udel." ucap Siji memperingati.


"Oh iya mas, sampai lupa."


"Yang Mulia Raden Ajeng, Yang Mulia Pangeran mencari Anda." ujar pengawal berselendang merah yang berpapasan dengan mereka.


"Oh benar jawabannya!" Idaline teringat kertas-kertas yang mungkin saja menumpuk di kamarnya.


"Kami akan mengawal di belakang."


"Kenapa aku merasa hutan ini sangat sepi?" bisik pengawal lain yang memakai selendang cokelat.


"Benar. Kemana semua binatang buas dan mistis itu?" balas rekannya.


"Kalian diamlah." tegur pengawal berselendang merah yang merupakan pemimpin regu mereka. "Tapi memang benar-benar aneh. Apa karena beliau?" Ia menatap Idaline yang sesekali berbincang dengan dua pengawal pribadinya.


"Maaf ya sudah membuat kalian kerepotan." Idaline tersenyum pada tiga pengawal tersebut. Ia masuk ke kereta kuda yang sudah disiapkan. "Ah canggung sekali. Mereka tidak menyembunyikan ekspresi mereka."


"Kami akan menegurnya." ucap Loro.


"Santai saja, mas. Yang berbeda ada untuk keseimbangan. Kemudian mereka akan belajar kok. Yang disadari sendiri jauh lebih berkesan dalam hati."


Pengawal, prajurit, dan ksatria haruslah tegas. Tidak boleh sembarangan membuka mulut dan berekspresi. Awalnya Idaline merasa canggung pada mereka namun kini malah merasa aneh bila ada pengawal yang tidak sesuai standarnya.


Ia memang selalu mengikuti aturan dengan buta. Satu saja tak sesuai, ingin rasanya ia menegurnya.


"Ya sudah."


"Yang Mulia, kita sudah sampai."


"Apa? Secepat ini?" Idaline menatap Siji dan Loro, mereka mengangkat bahunya bingung.


"Aku turun duluan." Loro menatap Siji kemudian mengangguk bersama.


"Nok, turunlah. Aku jaga di belakang." bisik Siji setelah beberapa saat Loro keluar.


Idaline menuruti mereka lalu menuruni kereta dan meraih tangan Loro.


"Ini kediamanku?" ucap Idaline bertanya-tanya.


"Benar. Sudah kuperiksa." sekali lagi Loro dan Siji mengangguk bersama. "Kudanya hewan mistis." terang Loro.


"Mereka ahli ya." puji Idaline, ia jadi bertekad untuk punya satu agar mudah bepergian, masih tersisa sepuluh pekan sebelum malam tahun baru.


"Kamu ke mana saja tidak hadir pesta siang tadi?" Hayan berkacak pinggang di depan gerbang Kedaton Sedap Malam.


"Ah oh haha ada sesuatu." canggung Idaline, dia tidak bisa berbohong pada orang lain. "Bintang utama kenapa belum datang ke pesta?"


"Tidak ada pesta malam. Lebih baik istirahat, kemarin sudah seharian berpesta. Besok pun masih ada pesta."


"Baiklah. Selamat beristirahat."


"Tidak. Guru sudah berjanji akan periksa jawabanku sekarang."


Hayan menarik pelan tangan Idaline dan membimbingnya ke ruang tamu. Di sana sama seperti kemarin, kertas-kertas berserakan di atas meja.


Idaline menahan matanya yang sudah mengantuk. Ia dan kedua sepupunya bukan hanya berenang, mereka bahkan menuruni air terjun, menangkap ikan dan membakarnya, lalu kembali terjun ke air. Mereka bermain dan melepas kerinduan.


Idaline menopang dagunya tidak lagi dapat menahan kantuknya. Hayan mengulurkan tangan kanannya pada kepala Idaline yang akan terjatuh, gadis itu membuka matanya sedikit lalu menutupnya kembali.


"Dasar." Hayan tertawa kecil. Tangan kirinya memegang kertas lalu ia kembali membaca berkasnya.


•••BERSAMBUNG•••


© Al-Fa4 | 14 Agustus 2021


 

__ADS_1


 


__ADS_2