TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]

TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]
091 - KEBAHAGIAANKU ADALAH MEMILIKIMU


__ADS_3

"Aku tidak menyangka, Yang Mulia Maharani adalah kamu, Ida." Indra menatap datar Idaline, tampak kesakitan di matanya.


Saat ini Indra sedang menemui Idaline untuk memberikan cokelat putih titipan Idaline yang ternyata hanya dijadikan sebagai sebuah pengecoh agar dirinya tidak bertemu gurunya.


"Aku.. juga tidak membayangkannya." Idaline menyesal sudah berkata asal dan memberikan harapan palsu pada pemuda tampan yang digilai banyak gadis ini.


Meski Indra menemui banyak orang, Indra pasti terikat dengan sebuah janji yang terucap dari mulutnya.


Indra bukan ksatria yang pengecut. Dia akan menepati janjinya.


Meski berusaha melupakan, jauh di dalam lubuk hatinya Indra menahan diri untuk tidak dekat dengan wanita lain walaupun dalam kasat mata dirinya sedang mencari wanita lain.


Selama lebih dari lima tahun Indra berusaha mengisi hatinya dengan wanita lain, akan tetapi dia terus teringat dengan Idaline dan tidak ingin menduakannya.


Inilah belitan tak terlihat dari sebuah ucapan asal yang diucapkan Idaline.


Idaline menyadari hal ini dan merasa bersalah.


"Kamu tidak akan menungguku meski tidak dipersunting Yang Mulia Maharaja." Indra menatap kosong Idaline. "Kamu menikahi guruku," ucapnya pedih.


Calon istrinya sendiri menjadi istri dari gurunya.


Kemudian berubah status menjadi majikannya sendiri.


Cobaan macam apa ini?


"Aku.. aku.. maafkan aku." Idaline kelu untuk merangkai kata. Semua ini memang salahnya. Dia tidak akan membela diri.


"Datanglah padaku jika kamu merasa sulit." Indra mengepalkan tangannya. Dia marah pada dirinya sendiri yang masih mengharapkan wanita yang terlarang untuknya.


Andai waktu bisa diputar, Indra akan mempersunting Idaline saat itu juga!


Dia akan membawa Idaline jauh dari daerah yang namanya Maja!


"Kamu juga. Kita tetap berteman kan?" pinta Idaline


"Hal tersulit sekarang adalah melihat wajahmu, Ida." Indra menggigit bibirnya sebab perkataan ini sangat menyakiti relung hatinya.


Dia sangat ingin melihat wajah Idaline. Dia ingin terus melihat wajah Idaline.


Akan tetapi dia takut melanggar batas dan tidak bisa menahan diri untuk membawa kabur Idaline.


"Indra, aku benar-benar minta maaf." Bulir air tampak di mata Idaline.


Dia sangat menyesali ucapannya yang tidak dipikirkan dahulu.


Dia menyesal sudah bermain-main dengan sebuah janji.


"Aku berharap kelak kamu datang padaku. Janji adalah ucapan suci, Idaline." Indra menarik napasnya. "Hamba permisi, Yang Mulia Maharani."


"Berbahagialah."


"Kebahagiaanku adalah memilikimu," kata Indra berbalik pergi.


"Obsesi hanya mengantarkan ke gerbang kehancuran," gumam Idaline memandang sedih punggung Indra.


Indra berjalan dengan marah. Dia melangkahkan kakinya lebar-lebar tidak peduli panggilan anak buahnya hingga anak buahnya berhenti menghalangi jalan di depannya.


"Tuan, kalau Anda masuk ke hutan kulon dengan menyegel kekuatan seperti ini.."


Anak buah Indra khawatir, pemimpin mereka ini akan memasuki kawasan terlarang dengan menyegel kekuatannya sendiri.


Jika menyegel kekuatan, kekuatan Indra akan turun drastis sedangkan di dalam sana banyak monster-monster besar dan jebakan-jebakan tak terlihat yang tidak akan pernah ditebak kecuali oleh sang pemasang jebakan.


Sangat sedikit prajurit dan ksatria yang tahu posisi jebakan-jebakan itu!


"Kalian kembalilah ke posisi kalian. Aku ingin berlatih," titah Indra yang akhirnya membuat anak buahnya menyingkir ke samping.


"Benar tidak apa-apa? Beliau melamun akhir-akhir ini bahkan hampir terkena pedang prajurit baru," bisik seseorang yang merupakan anak buah Indra.


"Iya, saat latihan di Lapangan Adigung," sahut yang lain.


"Kita kembali saja ke posisi. Beliau tahu yang terbaik," kata seseorang yang tadi menghalangi jalan Indra.

__ADS_1


Indra menatap ular besar yang sedang tertidur. Perlahan ia berjalan ke arah lain menghindari tubuh lembek itu.


Hutan kulon nampaknya semakin berbahaya setelah ditinggal bertahun-tahun olehnya.


Dahulu saja sudah jarang ada prajurit yang berani memasuki hutan kulon. Apalagi sekarang Maharaja adalah orang yang ketat.


Mata Indra terbelalak, ekor piton itu melilit tubuhnya dengan cepat. Ia keluarkan kerisnya dan membelah tubuh ular menjadi beberapa bagian.


"Urk. Ternyata kamu punya uap racun di mulut," gumam Indra pada makhluk yang sekarat di depannya.


Pandangan Indra memberat sebab sempat sedikit menghirup asap berwarna hijau yang terus keluar dari tubuh piton.


Indra memegang gelang segelnya, ia hirup udara bersih dalam-dalam yang muncul dari gelang itu dan terus menyusuri hutan.


Sementara itu Idaline sedang duduk di samping Hayan, mereka berdua telah menikmati makan siang sepiring berdua.


Idaline menyerahkan kertas yang tadi ditulisnya. Biasanya jika menginginkan sesuatu di waktu kerja, Idaline akan menuliskannya dan memberikan pada dayang.


Dia tidak berpikir pada siang ini Hayan mengajaknya makan bersama.


"Anakku ingin durian?" Hayan mengelus perut Idaline dan sesekali mengecupnya.


"Err iya."


Kenapa Idaline jadi merasa bersalah pada Indra??


"Mau yang dari daerah mana?"


"Durian tidak boleh untuk ibu hamil," jelas Idaline.


"Kalau Maharani berkata begitu.." Hayan menopang dagunya. "Bagaimana dengan kelengkeng? Buah baru itu sangat nikmat."


"Beneran ada?" Mata Idaline berbinar, itu adalah buah yang seharusnya belum hadir di tanah ini. Masih ada beberapa ratus tahun untuk muncul dan dapat dinikmati!


"Iya," jawab Hayan. "Bawakan untuk Maharani," perintahnya pada para dayang. "Kalau tidak ada hal lain aku pergi."


Hayan pun kembali bekerja di Bale' Ndamel dan tak lama para dayang datang membawa sekeranjang kelengkeng.


Suasana tenang dan damai ini mampu mengobati kegundahan hatinya.


"Kakak~ aku sangat merindukanmu!!" seru Candra berjalan membawa dua sketsa besar di tangannya. "Sudah kuselesaikan selama satu bulan ini." Candra mengedip-ngedipkan matanya minta dipuji sang majikan.


"Kamu bekerja sangat keras," puji Idaline membuka dua sketsa itu yang isinya sangat mendetail.


"Bagaimana kabar kakak?"


"Baik," jawab Idaline tidak memindahkan bola matanya dari sketsa buatan Candra. "Dua-duanya kuambil," putusnya. Dia tidak bisa memilih salah satunya!


"Aku ingin tulisan lagi," celetuk Candra tersenyum. Ini adalah tujuannya bekerja keras.


Bagi Candra sebuah secarik kertas bertuliskan namanya sudah cukup mengganti setiap keringat dan tenaga yang keluar untuk membuat dua sketsa besar itu.


Baru Idaline ingin bertanya bayaran ternyata Candra sudah mendahului.


"Baiklah," ucap Idaline.


Dia akan mengirimkan bayaran Candra langsung ke tempatnya agar pria itu tidak bisa menolak.


Kali ini Idaline menulis nama Candra dengan sungguh-sungguh, awalnya dia merasa puas namun sejurus kemudian Idaline merasa tulisan sangat jelek.


Dia tidak mengerti kenapa anak lucu ini menginginkan tulisan tangannya.


"Yang satu lagi aku ingin kakak menulisnya pakai benda milik kakak." Candra melirik benda panjang berwarna hitam dan emas.


"Pena?" tanya Idaline menunjukkan pena yang tergantung di pinggangnya.


"Iya kak."


"Kalau ini, akan kutunjukkan tulisan robot. Paling nyaman bentuk seperti itu," urai Idaline menulis di atas kertas. "Bagus sih. Tapi kamu tidak bisa membacanya." Idaline memperhatikan huruf latin yang persis seperti ketikkan sebuah komputer.


Dalam beberapa coretan Idaline bisa menulis serapih ini walau pada akhirnya tulisannya akan berubah menjadi tulisan ceker ayam.


"Kakak akan mengajariku?" harap Candra mengedipkan matanya perlahan.

__ADS_1


"Tidak bisa," jawab Idaline. "Tapi terimalah. Itu adalah tulisan namamu."


"Kuharap kakak mau mengajariku."


"Oh iya Candra, apa kamu melihat Indra?" Idaline mengalihkan percakapan mereka. Jika diteruskan bisa saja dia mengucapkan janji dan harus mengajari Candra huruf-huruf dan istilah-istilah modern.


"Aku tidak punya urusan dengan orang itu. Tapi aku liat bawahannya masuk dari pintu kulon." Candra merasa kesal kakaknya ini tidak bersedia mengajarinya tapi dia tidak bisa menolak memberikan jawaban atas pertanyaan Idaline.


"Begitu. Kamu sudah boleh pulang."


"Aku masih kangen kakak.." rengek Candra. Satu gelas teh saja belum dia habiskan, bagaimana bisa Idaline mengusirnya??


"Sketsa ini masih harus kuperiksa dan kuselesaikan."


"Uh, baiklah kak." Akhirnya Candra pergi dari Kedaton Sedap Malam.


Candra hanya mendesain bagian bangunannya lalu akan dilanjutkan oleh Idaline pada bagian yang lain.


Sedap Malam luarnya terlihat sama dengan sketsa yang dikerjakan bersama namun di saat bersamaan terasa berbeda.


Idaline sengaja membuat orang berpikir bangunan itu adalah bangunan yang mereka tahu akan tetapi nyatanya sangat jauh berbeda apalagi bagian-bagian tersembunyi dalam tiap-tiap bangunan.


Rumah adalah tempat teraman. Begitulah seharusnya Keraton bagi keluarga kerajaan.


"Nung, kirim surat ini ke Maharaja. Katakan aku mau bertemu langsung."


"Baik, Yang Mulia."


Idaline menopang dagunya menatap kepergian Nung. "Kalian pergilah. Aku ingin sendiri." Dia mengusir orang-orang yang melayaninya.


Candra bersimpuh di depan Hayan. Saat pergi dari Kedaton Sedap Malam dia berpapasan dengan Huna. Tangan kanan Hayan itu membawa Candra ke hadapannya.


"Tuan muda Ekadanta, Bhayangkara yang berada di Tanjung Nagara tertangkap oleh suku yang memiliki kekuatan sihir yang dahsyat. Pergilah bersama para penyihir dan dukun istana," perintah Hayan.


"Hamba menerima perintah Yang Mulia."


"Ada yang ingin disampaikan?" tanya Hayan melihat Candra tidak langsung pergi.


"Yang Mulia, mohon jagalah kakak. Anda harus ingat, banyak rumah menunggunya."


"Berani sekali," gumam Huna.


"Hamba mohon undur diri."


"Ya," singkat Hayan mempersilakan. Keputusannya menyingkirkan Candra ke tempat jauh ternyata sangat tepat.


Hayan sudah lama merasa Candra tidak hanya memandang Idaline sebagai seorang kakak.


"Yang Mulia, Nung meminta izin bertemu, dia membawa surat dari Yang Mulia Maharani."


"Masuklah." Kemudian Hayan menerima secarik kertas dari Nung. "Pergilah, bawakan roti Kesultanan Delhi untuk Maharani."


"Mohon maaf, Yang Mulia Maharaja. Yang Mulia Maharani meminta bertemu langsung."


"Belikan rotinya dan cari orang berpengaruh dari sana."


"Baik, Yang Mulia."


Hayan menilai sepertinya Idaline tidak hanya ingin membeli roti. Dia menghela napas melihat ibu suri masuk dengan wajah tidak senang.


Gitarja mendengar Bhayangkara yang tiada tanding itu telah hancur di Tanjung Nagara.


Hayan harus menjelaskan dengan benar agar ibunya tidak marah pada Idaline karena menang kalah adalah hal biasa.


Ibunya seharusnya tahu hal ini, akan tetapi nampaknya Gitarja dikelilingi para pembenci Idaline.


••• BERSAMBUNG •••


© Al-Fa4 | 14 November 2021


 


 

__ADS_1


__ADS_2