![TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz--berpindah-ke-zaman-keemasan-.webp)
Nadir menerima prajurit-prajurit pemberian Idaline karena sudah mendapat izin menggunakan mereka untuk apa pun. Artinya mereka akan mematuhi semua perintah darinya.
Idaline kemudian memberikan beberapa oleh-oleh untuk pemimpin Nadir. Nadir tidak heran mendapatkan banyak kain putih karena dia berpakaian serba putih jadi Nadir memaklumi penilaian Idaline.
Sayangnya penilaian Idaline bukan seperti itu.
"Sayang sekali Thuluq akan mangkat sebentar lagi." Idaline memperhatikan punggung Nadir yang menjauh.
Dia meyayangkan Nadir akan kembali ke negerinya.
Kalau tidak dia ingin menjadikan Nadir sebagai pegawai tetap karena matanya tidak sembarangan memandang sekitarnya dan tidak rakus pada hal keduniawian.
Pegawai seperti inilah yang akan memajukan sebuah kepemerintahan.
Tidak rakus, sopan terhadap wanita, dan pandai membaca situasi.
Terbukti kala Nadir tidak langsung menerima prajurit-prajurit Idaline karena berpikir Idaline hendak memata-matai keadaan negerinya.
Tapi begitu Idaline mengatakan boleh memakai sesuka hati, Nadir bisa menangkap ketulusan dari ucapan Idaline.
"Yang Mulia, cokelat Anda meleleh di gudang," bisik dayang yang telah mengantar Nadir.
"Di gudang?" tanya Idaline memastikan.
"Benar, Yang Mulia. Di gudang cokelat Anda meleleh sedari pagi."
"Kenapa tidak katakan dari tadi?!" Idaline berkata dengan marah.
Seharusnya dayang ini memberi tahu keadaan ini terlebih dahulu daripada menerima dan melayani tamu-tamu yang datang!
Baik Nadir, Indra, Djahan, bahkan sekalipun Hayan!
Idaline menatap gudang di depannya yang sepi tanpa penjagaan.
Gudang yang dipenuhi kayu bakar itu tidak ada satu pun orang terlihat dalam radius puluhan meter karena dianggap sebagai tempat paling tidak penting.
Tempat seperti inilah yang justru rentan ditempati para penjahat dan pengkhianat.
Idaline memasuki gudang setelah dayang-dayangnya memeriksa kemudian dia membuka karung besar yang tersandar di pojok ruangan.
Sesosok tubuh muncul ketika karung itu dilempar jauh.
"Widya.." Idaline berjongkok di depan Widya yang tidak sadarkan diri. "Hei bangun," ucapnya menepuk pelan pipi Widya.
Setelah beberapa kali tepukan, mata Widya perlahan terbuka. Idaline lantas menepuk tangannya dua kali dan muncul dua dayang yang tadi menunggunya di depan gudang.
"Cepat siapkan kamar dan makanan!"
Dua dayang itu mengangguk lalu menyiapkan semuanya secepat mungkin.
"Udel.." Widya memegang kepalanya yang terasa sakit. Harusnya dia sedang berbulan madu namun malah datang masalah yang menyakiti kepala, masalah yang tidak akan bisa dihindari atau semuanya akan hancur.
"Udel! Udel! Tolong bantu aku. Adikku. Slamet adikku tidak terlibat," rancau Widya.
Masalah kali ini benar-benar genting!
"Tenanglah. Ayo ke rumahku dulu.." ajak Idaline mengusap bahu Widya.
__ADS_1
"Ngga ngga, aku ngga mau keluar!!" Widya gemetaran mengingat adiknya saat ini berada di penjara.
Anak kecil berumur tujuh tahun bagaimana bisa tahan di penjara?
Pasti tempatnya gelap, menakutkan, dan banyak hewan-hewan menjijikan!
Membayangkannya saja Widya sudah kuat, anak sekecil itu bagaimana akan bertahan?
"Oke oke. Duduklah yang nyaman dulu." Idaline menarik kaki Widya hingga lurus.
Perempuan ini telah lama berada di dalam karung dalam keadaan kaki dan tangannya menekuk. Jika terus dibiarkan nanti berubah menjadi penyakit, bukan lagi pegal-pegal.
"Slamet, adikku, dituduh bekerja sama dengan mata-mata Galuh. Ayahanda dan ibunda ditangkap begitu pulang dari Kadiri dan juga seluruh putra ayahanda ikut ditangkap. Aku tiba-tiba ada di sini saat ingin mengunjungimu," terang Widya.
"Tidak mungkin Hayan gegabah memenjarakan pengikutnya yang setia apalagi beliau termasuk Sapta Prabu."
Idaline tidak pernah mengharapkan hal ini.
Hayan telah mendapatkannya dengan pertaruhan Keluarga Sapta, lalu kenapa muncul masalah yang sangat besar seperti ini?!
Apa Hayan ingin mempermainkannya karena dekat dengan Djahan!??
"Rasanya dia benar-benar ingin menghancurkan keluarga kami." Widya berkata dengan geram.
Selama bertahun-tahun keluarganya meletakkan kesetiaan di bawah kaki Hayan.
Tetapi memang benar seluruh penguasa tidak akan menghendaki adanya kekuasaan besar di tangan bawahannya!
Semakin banyak yang setia pada seseorang, semakin dia akan dicurigai oleh penguasa tertinggi.
"Buktinya sekuat itu?"
Tujuh bulan terakhir akan berubah menjadi sia-sia belaka.
Dari mulai dia meninggalkan Djahan, kehilangan calon anaknya, mengalami kesakitan selama dua bulan, dan menghadapi serangkaian penyusup yang mencoba menyerang.
Memikirkan ini, Idaline merasa marah.
Andai Hayan di depannya dia akan memukul kepalanya sampai sadar diri!
"Ibu Selir berkata begitu. Semuanya sangat pasrah," jawab Widya menangis sesenggukan.
"Tapi aku benar-benar yakin tidak ada hal seperti itu. Kami bukan pemberontak, Udel." Widya menggoncang kuat lengan Idaline.
Seluruh nyawa keluarganya sedang dipertaruhkan!
"Kamu pergilah ke rumah tamu. Aku lihat situasi dulu."
"Udelia, aku mohon selamatkan semuanya." Widya memohon dengan amat sangat. Dia bersujud di depan Idaline dan mencium kakinya.
Apabila Slamet terbukti bersalah, semua keluarga Sapta akan digantung.
Dan apabila ada satu bukti saja keterlibatan Slamet dengan mata-mata Galuh, meski bukan sebagai teman mereka, Slamet tetap tidak akan selamat.
"Aku lihat dulu," ulang Idaline menjauhkan kakinya lalu membantu Widya berdiri. "Bawa nona Sipta ke rumah tamu," perintahnya pada Nung yang baru saja muncul.
Seharusnya dayang ini hadir dari tadi. Tapi tampaknya Nung memperhatikan keadaan Kedaton dan langsung melaporkannya pada Hayan.
__ADS_1
Idaline merasa menjadi seorang tawanan.
Setelah memaksa Widya untuk makan, Idaline mengambil kudanya dan menunggang dengan cepat.
Nung yang berada di halaman tidak dapat menahan Idaline. Apalagi sekarang dayang-dayang Idaline menahan gerak Nung.
Dia tidak menyangka dayang-dayang rendahan memiliki ilmu kanuragan.
"Maharani, Yang Mulia Maharaja dan Tuan Mahapatih sedang berdiskusi." Siji menghalangi kuda Idaline yang hendak melewati gapura Bale' Ndamel.
"Hati-hati!" Loro membantu Idaline turun dari kuda. Lalu dia mengikat kuda itu di sisi kiri gapura.
"Bagaimana penyelidikannya?" tanya Idaline. Dia sangat was-was melihat wajah suram Siji.
Dia bisa tahu jawabannya bahkan sebelum Siji melaporkan!
"Semua sudah tertangkap. Sayangnya benar, tuan muda Sapta membuka jalan bagi mata-mata Galuh," ujar Siji.
"Tidak mungkin. Mereka memiliki budi yang luhur dan cinta terhadap tanah ini!" Idaline menggigit tangannya dengan gelisah.
Jika Siji berkata benar, maka benarlah sudah dan bisa saja semua keluarga Sapta tidak akan ada yang selamat.
"Duduk dulu," sela Loro menunjuk bangku di bawah pohon.
Mereka membimbing Idaline yang tampak gelisah.
Idaline mencoba berpikir dengan keras.
Slamet adalah anak baru gede, dia baru menginjak usia tujuh tahun.
Jika berpikir dengan kacamata modern, anak seumuran ini baru bisa membaca atau berhitung.
Tapi ini adalah dunia kuno.
Dunia ketika orang-orang mendapat bimbingan ilmu langsung di bawah guru yang fokus mengajar pada beberapa orang murid.
Ilmu mereka harusnya sudah mencapai bakat perkembangan diri yang artinya seluruh ilmu wajib telah dipelajari.
Tapi Slamet adalah adik Widya.
Perempuan ini selalu membuat adik-adiknya bolos karena merasa ilmu yang diajarkan membebani pikiran anak kecil.
Jadi pikiran licik pasti belum dikuasai Slamet.
Lagian tidak ada untungnya berkhianat pada pemerintah di negeri sendiri ketika pemerintah itu sedang memajukan kawasannya.
Terlebih Maharaja sedang melakukan perluasan di berbagai daerah.
Ksatria-ksatria yang setia pada negara semakin banyak.
Berkhianat pada Bhumi Maja sama saja menyerahkan nyawa seluruh keluarga.
"Mas, Slamet Sapta benar-benar bekerja sama dengan mereka?"
••• BERSAMBUNG •••
© Al-Fa4 | 17 November 2021
__ADS_1