TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]

TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]
110 - SURAT UNTUK IBUNDA


__ADS_3

Tangan kecil seputih salju meraih kuas di atas meja, dia ambil kertas di lemari dan duduk di lantai.


Umurnya yang baru tiga tahun dengan kedudukan yang tinggi membuatnya paham akan banyak hal dari anak-anak lain seusianya.


Dia memejamkan matanya membayangkan senyuman hangat akan muncul di wajah ayu ibunya yang dingin.


"Ibunda.." ucapnya sambil menggoreskan kuas di atas kertas. Ah, dia merasa tulisan itu tidak dapat dibaca, kemudian dia membuka laci ayahandanya yang sangat terlarang.


Dia menemukan sebuah benda lonjong dengan ujung yang runcing. "Dengan ini tulisanku pasti bagus!" batinnya meyakini itu.


Dia pun menulis ulang kata yang sama. Senyumnya merekah, benar saja tulisan di atas kertas itu menjadi sedikit rapih dan tentunya dapat terbaca.


"Ibunda, ananda tahu ananda belum mampu menjadi orang yang luar biasa.." katanya menulis bait pertama.


Dia lalu membayangkan Rakryan Tumenggung penjaga keraton dan ibu kota yang sangat kuat dan baik, senyuman selalu terlukis di wajah Rakryan Tumenggung setiap memandangnya.


Begitu juga penyihir agung yang terus mengelak dari upacara peresmian gelarnya. Kata pria yang selalu memberinya cokelat itu, dia ingin bebas berkeliling agar berjumpa kekasih hatinya.


Dia menyadari kekuatannya belum setara dengan kedua orang yang luar biasa itu tanpa dia sadari umurnya sendiri baru tiga tahun.


Dia melanjutkan tulisannya.


"Ibunda, ananda juga tahu ananda belum mampu menjadi orang  yang cerdas. Tapi bukankah ananda sudah menuruti semua perintah ibu? Ananda ingin melihat senyum ibunda sekali saja."


Anak kecil itu menghapus bulir air yang keluar di matanya. Dia meremas kertas itu dan mengulang dua kalimat pertama dan melanjutkan kalimatnya.


"Ibunda, ananda berjanji akan sekuat ayahanda dan secerdas ayah. Sebelum itu bolehkah ananda melihat senyum ibunda dan menerima pelukan ibunda ketika sudah sekuat ayahanda dan secerdas ayah?"


Anak itu menjatuhkan penanya dan menangkup wajahnya, dia tidak kuat untuk melanjutkan tulisannya.


Dan hari itu berakhir mengerikan, seorang dayang kecil yang diperintahkan menjaga si anak menemukan pena kesayangan Maharaja sedikit retak.


Dayang kecil itu mengangkat rotannya dan memukul punggung tangan si anak hingga tidak dapat menulis selama lima pekan.


Akhirnya si anak berusaha menemui ibundanya tapi terus ditolak dan ayahnya pun sibuk menemui banyak orang, apalagi ayahandanya yang sering berkelana setelah menyelesaikan tugas kenegaraan.


Ayahanda dan ayahnya sangat sibuk sampai tidak memperhatikan punggung tangan yang membiru di tangan kecilnya.


Dan setiap kali dia hendak melapor pada kepala dayang, dayang kecil itu akan mengangkat rotannya ke bagian tubuh yang tidak dapat dilihat dari luar.


Dia mendapat penyiksaan itu sampai datang waktu mempersiapkan hari ulang tahunnya.


Semua orang sontak saja memperhatikan dirinya namun dia tidak berani melaporkan yang terjadi padanya, dia akan menolak saat hendak dimandikan orang lain.


Orang-orang yang melayaninya justru merasa normal melihat seorang bangsawan mandi sendiri.


Mereka berkata, "Anda sangat mirip dengan Yang Mulia Maharani."


Semula dia berharap orang-orang ini dapat memahami kegelisahan yang menimpanya, tapi mendengar pujian orang yang menyamakan dirinya dengan sang ibunda membuatnya lupa semua kejadian buruk yang menimpanya.


Hatinya terasa hangat.


Lalu dia memutuskan mengunjungi ayahnya.


Setiap mendekati ulang tahunnya, ayahnya sang Mahapatih biasa meluangkan waktu untuk menyendiri di kediamannya dan hanya bekerja separuh waktu.


Dia datang ke sana tapi ternyata ayahnya pergi berkelana. Namun dia tidak kecewa, ada dua paman dan dua bibi yang selalu menyambutnya!


"Keponakanku tersayang akhirnya mengunjungi paman!"


"Paman, saya ingin bertemu ayah."


"Ayahmu sedang keluar. Ayo bersama paman dan bibi saja. Bibi sedang membuat sayur sop loh."


"Aku mau melihat taman saja."


Dia berjalan sendirian menyusuri taman-taman yang indah sampai dia melihat sebuah bangunan bersegel yang tampak normal.


Tangan kecilnya terjulur, dia penasaran dengan alasan dia memiliki dua ayah.


Dia yakin mendengar cerita tentang ketiga orang tuanya bahwa ayahanda dan ayahnya sangat menyayangi ibundanya, tapi sekarang keadaan di antara ayah dan ibundanya terasa sangat dingin.


Dia yakin di balik bangunan ini ada jawabannya.

__ADS_1


Tubuhnya yang tanpa kekuatan memaksa masuk ke balik pintu itu. Tubuhnya pun terluka dan berdarah-darah namun tidak menyurutkan semangatnya untuk menyusuri bangunan seluas Kedatonnya.


Tidak ada yang spesial, semuanya adalah barang-barang normal. Sampai dia menemukan sebuah papan besar yang ditutupi kain putih di dalam kamar yang terasa dingin.


Kamar itu sudah lama tidak lagi digunakan.


"Ini lukisan," gumamnya menarik kain tersebut.


Lukisan itu adalah lukisan perempuan bersama dua kucingnya. Lukisan perempuan asing dengan suasana asing tapi terasa hangat di hatinya.


Dia merasa sangat rindu.


Dia terjatuh bersimpuh sambil terisak dan mengulang satu kata tanpa disadarinya, "Ibunda.. Ibunda.. Ibunda.."


Tangisnya mereda namun hatinya menjadi yakin bahwa perempuan dalam lukisan ini adalah ibundanya, perempuan yang mengandungnya, dan perempuan yang menyelamatkannya agar berhasil lahir ke dunia ini.


"Ketemu!" seru seseorang memeluk erat tubuh ringkih itu. Dia adalah anak adik yang sangat dia sayangi. Jika terjadi hal yang tidak menyenangkan, dia akan terus merasa bersalah.


"Paman Loro, beliau ibunda kan?" tanyanya mengurai pelukan dan menunjuk lukisan di dinding.


"Ya. Dia ibundamu, dia istri Mahapatih, dia adikku tersayang."


"Jadi benar.." Dia kembali terisak dengan perasaan lega.


Loro membantunya merapihkan ruangan kembali pada bentuknya semula lalu menyembuhkan luka keponakannya. Dia merasa lega keputusannya untuk memberi tahu sudah tepat.


Sebab senyum tulus akhirnya tersemat di wajah keponakannya.


Selama ini Loro selalu khawatir karena keponakannya terus tersenyum dingin dan tersenyum formal, tidak ada kehangatan dan ketulusan pada ekspresi keponakannya.


"Sepertinya kehidupan di keraton sangat berat," komentar Loro.


"Tidak kok, pamanda!"


Dia tersenyum lebar. Ya! Setelah ini dia tidak akan menjadi lemah!


Siksaan dayang yang tidak seberapa itu tidak sebanding dengan kesulitan di dunia luar.


Dayang kecil yang sudah terbiasa menyiksanya muncul dan melemparnya ke dalam kamar. Kali ini dia tidak terjatuh dan mampu menyeimbangkan kakinya dari dorongan kuat si dayang kecil.


"Jika Anda memberi saya sedikit hadiah Anda, saya mungkin akan sedikit lembut atau saya akan katakan pada Yang Mulia bahwa Anda menyelinap keluar," ancam si dayang kecil memandang jijik makhluk bulat di depannya.


Makhluk bulat itu tersenyum miring dan menatap datar perempuan yang berdiri congak di depannya, dayang kecil itu mendadak merasa ciut.


Apalagi saat tatapan yang biasanya lemah berubah menjadi tatapan elang membuat tubuh dayang kecil itu bergerak sendiri untuk jatuh bersimpuh di depan anak yang biasanya dia siksa.


"Aku akan mengampunimu jika bersikap dengan benar," ucapnya pada dayang kecil dengan nada dingin.


Dia tidak akan melepaskan orang ini.


Dengan mengancam kesalahan besarnya, dia bisa mengendalikan si dayang dengan sesuka hati.


"Ba-baik, Yang Mulia."


Usai memastikan kegunaan si dayang, dia pun mengatur kediamannya sesuai keinginannya sendiri.


Dengan ini kekuasaan tempat tinggalnya mutlak menjadi miliknya.


Dia merasa hatinya sudah kuat, namun ternyata dia tetap menangis ketika menuliskan surat untuk ibunda, perempuan yang telah melahirkannya ke dunia ini.


Ibunda, ananda rindu.


Apakah Anda akan memperlakukan ananda sama seperti Maharani bila ananda tidak mampu melakukan yang ibunda inginkan?


Ibunda, ananda sebenarnya tidak kuat.


Ayah sangat sibuk mengurus banyak tugas, ayahanda juga begitu.


Ananda semestinya tidak boleh rakus, tapi ananda ingin menghabiskan waktu lebih banyak bersama keduanya, juga bersama ibunda.


Apakah ibunda akan datang ke sini lagi?


Ibunda, kenapa ibunda pergi?

__ADS_1


Apakah karena aku yang lemah ini?


Semua teman seumuranku sudah bisa membangun sihir dan kanuragan.


Padahal Rakryan Tumenggung mengajariku bela diri.


Penyihir terkuat mengajariku sihir.


Dan ayah mengajariku bertapa.


Tapi aku tetap saja lemah.


Ibunda, malu kah ibunda?


Ananda telah diajari banyak hal oleh ayah tapi ananda hanya bisa membayangkannya.


Ananda mampu mengingat banyak hal dan mengerti banyak hal namun ananda tidak bisa mempraktekkannya.


Maafkan anakmu yang memalukan ini.


Ananda tahu ananda sangat memalukan sebagai penerus bhumi ini.


Akan tetapi ananda yakin ibunda menyayangi ananda sebagai buah hati ibunda dan ayahanda.


Ibunda mempertaruhkan segalanya untuk melahirkan ananda.


Jadi, ibunda pasti menyayangi ananda kan?


Ibunda, ananda rindu.


Ibunda, ananda ingin dicintai.


Ibunda, ananda tidak tahan dengan perang dingin yang terjadi di Keraton.


Ibunda, ananda juga tidak kuat dengan segala cemooh karena ananda yang tidak ideal.


Ananda telah menunjukkan wajah yang kuat di depan ayahanda dan di depan ayah.


Tapi untuk berada di depan ibunda, boleh kan ananda melepas topeng ini?


Topeng ini sangat berat, ibunda.


Ananda tidak kuat.


Ibunda, kembalilah.


Ananda menyayangi ibunda.


••• TAMAT •••


© Al-Fa4 || TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan] || 05 Desember 2021


HALO


Terima kasih sudah menemani sampai tamat.


Terima kasih untuk yang setiap hari melihat, melike, dan mengomentari.


Terima kasih juga untuk yang membaca sampai tuntas.


Terima kasih sebanyak-banyaknya untuk kalian.


Mohon maaf masih banyak kekurangan author dalam menulis.


Jika kalian berkenan kalian dapat membaca kelanjutannya di season kedua.


Jadi tetap fav novel ini untuk pemberitahuan season selanjutnya, ya.


Sekali lagi terima kasih banyak !!!


ꦕꦶꦤ꧀ꦠ, Al-Fa4


.

__ADS_1


__ADS_2