![TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz--berpindah-ke-zaman-keemasan-.webp)
"Guru, bagaimana kalau Anda istirahat dahulu? Sudah satu bulan Anda tidur hanya satu sampai dua jam." khawatir Telu, salah satu murid yang diangkat Djahan secara resmi.
Anak-anak lainnya tetap Djahan ajarkan ilmu yang ia ketahui namun tak sampai diangkat murid karena syarat ketat yang Djahan tetapkan bagi murid-muridnya tak sanggup mereka penuhi.
Namun kebanyakan dari mereka menganggap Djahan seorang pahlawan dan seorang ayah yang melindungi dan membimbing mereka.
Oleh karena itu mereka tidak bisa menerima syarat yang paling utama, yaitu meninggalkan Djahan ketika berada di jalan yang salah.
Mereka bersumpah atas hidupnya sendiri akan terus berada di samping Djahan tak peduli apa yang harus mereka lalui. Bahkan bila harus nyawa mereka korbankan.
Karena sesungguhnya bagi mereka, nyawa di dalam tubuh mereka adalah nyawa milik Djahan.
"Tuan Mahapatih, dayang dari kediaman Anda datang meminta izin ingin bertemu dengan Anda." ucap pelayan di luar ruangan Djahan.
"Suruh dia masuk." jawab Papat.
"Tuan, janji Idaline sudah datang."
Djahan berdiri dari duduknya. Ia merasa beban di punggungnya berubah menjadi seringan kapas. Akhirnya hari yang ditunggunya telah tiba. "Lain kali bicaralah dengan sopan. Idaline adalah nama dari Raden Ajeng Paramudita." tegur Djahan.
"Mohon maafkan kelancangan dayang ini."
Djahan tidak menghiraukan kesalahan sang dayang karena tidak ingin menunda lagi, ia pun meminta izin memulihkan tubuh kepada ratu lalu pergi ke kediamannya. Di sana Fusena telah menunggu kedatangannya.
"Saya Djahan Mada memberi salam kepada Petapa Agung." salam Djahan sedikit membungkukkan badannya.
Fusena yang sedang memandangi taman berbalik begitu mendengar suara Djahan. Ia telisik tubuh Djahan dari atas ke bawah. "Jangan sungkan. Kita langsung saja membuka segel dalam tubuhmu." ujarnya.
"Anda tahu?"
"Tentu. Kalagemet mempelajari segel pada suku Trewelu saat lari dari pemberontakkan Kuti."
Trewelu sangat anti pada dunia luar, oleh karena itu Fusena tidak percaya saat mendengar berita kekuatan Djahan disegel dengan segel suku Trewelu lalu Fusena pergi bertanya langsung pada kepala suku.
Dan benar, Kalagemet tinggal beberapa waktu di Trewelu ketika Djahan mengobservasi rakyat kerajaan apakah berpihak pada keluarga kerajaan atau berpihak pada para pemberontak. Kalagemet menemukan Suku Trewelu saat tersesat di hutan.
Kalagemet sudah kembali ke tempatnya ketika Djahan membawa berita bahwa rakyat masih mendukung keluarga kerajaan. Jadi Djahan tidak tahu Kalagemet pernah berada di Suku Trewelu sampai Kalagemet menyegel kekuatannya.
"Saat kamu sudah membantu mengembalikan tahta pada Kalagemet, kamu melakukan pemberontakan karena kesal Kalagemet selalu bermain dengan para dayang bahkan istri dan selir pejabat. Mengingat jasamu dan pesan Nararya pada Gitarja, akhirnya kamu hanya disegel."
"Petapa Agung memiliki mata yang tajam." puji Djahan. Kejadian itu bahkan tidak banyak orang yang tahu.
Setelah melakukan pemberontakan, Djahan berada di penjara terdalam dan penyegelan terjadi di sana. Kalagemet mengumumkan pada semua orang sudah melakukan hal seharusnya pada si pemberontak, orang-orang berpikir Kalagemet membunuh Djahan di penjara.
Kalagemet memberikan identitas lain pada Djahan dan membiarkannya berada di Keraton para selir tempat adik-adiknya, Gitarja dan Wiyat, berada. Kalagemet menempatkan Djahan di sana untuk mengawasinya dari dekat dan untuk mengajarkan adik-adiknya jika kelak ia tiba-tiba mati.
Dan lagi, Kalagemet adalah seorang yang mandul. Ia melakukan hubungan pada banyak wanita untuk memastikan itu. Ia berpikir hanya masalah ketidakcocokan antara benihnya dan rahim wanita yang diajaknya berhubungan.
Jika sampai tua Kalagemet tidak juga mempunyai anak, ia akan membiarkan kedua adiknya menikah dan anak mereka akan diasuh oleh Djahan menjadi raja yang besar.
Namun takdir menyetujui rencana awal Kalagemet agar Djahan mengajari adiknya menggantikan dirinya yang tiba-tiba mati. Kalagemet mati diracun tepat setelah berpindah ibu kota baru yang sudah direncanakan sejak pemberontak mengotori tahtanya.
"Matamu juga tajam bisa mendapatkan orang-orang berbakat. Melatih mereka dengan tubuh cacat tanpa sihir dan tapa." Fusena menatap setiap dayang dan pelayan yang lalu lalang.
"Mereka semua anak-anak yang cerdas." ucap Djahan ikut menatap orang-orang.
"Guru, saya sudah menyiapkan ramuannya." kata Ekata menghentikan Fusena dan Djahan yang saling melempar pujian.
Fusena dan Djahan mengangguk. Mereka berjalan menuju halaman belakang yang sudah diberi enam lapis segel di sana juga ada kuali, altar, dan tempat pembaringan.
"Berendamlah di dalam kuali selama sehari semalam. Lalu dalam lima hari teruslah bertapa di altar yang telah disediakan. Selanjutnya dalam tiga hari minumlah air suci saja. Malam ini aku salurkan aura tubuh untuk mengisi tubuhmu yang sudah kosong selama belasan tahun." terang Fusena menyuruh Djahan berbaring. Ia menempelkan tangannya ke dada Djahan dan menyalurkan energi selama semalam suntuk.
Ekata keluar dari sana ketika gurunya memulai pengobatan. Ia berjalan menuju ruangannya ditemani seorang dayang sebagai penunjuk jalan. "Air suci adalah air dari mata air. Tanahnya akan lebih baik jika belum tersentuh manusia selama satu tahun terakhir." jelasnya.
"Terima kasih atas penjelasannya, tuan."
••••••••••••••••••••
__ADS_1
"Aku tidak menyangka Petapa Agung benar-benar datang. Padahal sudah sepuluh tahun dia tidak memberkati kita dan hilang tanpa jejak tidak lagi menjejakkan kaki di Kerajaan Maja." bisik bangsawan yang menghadiri upacara tahun baru.
"Senang melihat Anda datang." sambut ratu mengulurkan tangannya. Ia tarik tangannya yang merjulur karena Fusena hanya menatap tangannya sekilas tidak berminat untuk berjabat tangan dengannya.
"Aku kemari karena permintaan Idaline. Selanjutnya lihat bagaimana keputusanmu." Fusena masih tidak bisa menerima sambutan atau kebaikan ratu selama wanita itu masih tetap keukeuh pada pendiriannya.
Sepuluh tahun yang lalu sampai detik Fusena datang, ratu tetap melakukan kekejian.
"Anda selalu bijaksana. Mari ke altar upacara."
"Idaline tidak kabur. Aku yang memanggilnya dan selanjutnya dia akan berada di bawah bimbinganku." kata Fusena melangkah di samping ratu.
"Mata Anda sangat tajam. Lalu lihatlah anak-anakku yang lain." Ratu tidak mengindahkan perseteruan sengit mereka sepuluh tahun lalu maupun hal memalukan yang baru terjadi.
Bagaimanapun, Petapa Agung adalah Petapa Agung. Menjadi muridnya adalah suatu kebanggaan dan kemuliaan. Banyak ilmu dan berkat yang akan didapat.
"Mereka punya guru-guru hebat, tidak perlu mencari yang lain."
Fusena memimpin upacara hingga hari menjadi panas lalu langit berubah menjadi oranye. Hari itu adalah hari paling serius. Semua khusyu' mengikuti acara demi acara, tidak ada satu pun yang pulang sampai Fusena menutupnya.
Yang ada malah jumlahnya bertambah banyak dari waktu ke waktu, mereka yang baru mendengar Fusena berada di ibu kota bergegas datang dan mengikuti serangkaian acara yang mereka dapati.
Fusena membuka matanya dan menatap lautan manusia yang juga perlahan membuka mata. "Peperangan ini akan panjang karena kedua belah pihak memiliki kekuatan setara. Jangan memanggil yang lain namun tetaplah berhubungan dengan baik." ujar Fusena tidak ingin masalah bertambah runyam.
Jika Kerajaan Maja melibatkan Kerajaan lain, dua Kerajaan besar tidak akan tinggal diam dan mungkin akan membuat perang dengan skala yang lebih besar.
Dua kerajaan besar yang bersaudara itu pasti akan memanfaatkan Kerajaan Wengker untuk menghilangkan Kerajaan Maja. Namun bila Kerajaan Maja berdiri sendiri, mereka akan malu mengeroyok pihak yang sendirian.
"Sejak mengusir pasukan mongol yang kebengisannya tersebar di negeri yang jauh hingga terdengar ke telinga kita, do'a untuk kerajaan Maja terus mengalir dari saudara-saudara sepulau dan di pulau-pulau seberang. Sebagai kerajaan yang menjadi simbol kebijaksanaan, ratu dan raja kerajaan Maja akan melihat jalan yang luas."
Perkataan Fusena membuat banyak pihak mengenang pendiri Kerajan Maja yang berhasil mengelabui orang-orang bengis itu dan memanfaatkan mereka lalu mengusir mereka dengan licik.
Selanjutnya masih ada beberapa perahu yang datang untuk membalaskan dendam namun dihalangi kerajaan yang berada di ujung barat pulau seberang.
Mereka akhirnya bisa bernapas lega setelah mendengar keretakan di tubuh Mongol karena banyaknya cucu dan keturunan para pejabat yang menemukan dan menerima kebenaran.
Kebengisan itu musnah seiring mereka belajar dan mendalami kebenaran.
"Hidup ratu! Hidup ratu! Panjang umur Kerajaan Maja!" teriak semua rakyatnya termasuk para bangsawan dan para menteri.
"Aku ingin berbincang dengan putramu." ucap Fusena menuruni tangga.
"Baik. Antarkan Petapa Agung ke rumah tamu."
Fusena mengikuti dayang yang ditunjuk ratu dan Hayan pun pergi dari kerumunan setelah ratu memberitahukan dirinya untuk bertemu Petapa Agung.
Banyak orang ingin meminta berkat dari Petapa Agung yang sedang dalam perjalanan menuju Keraton tetapi mereka mengurungkan niat mereka karena Petapa Agung tidak akan memberikan berkat kecuali pada yang pantas. Memohon-mohon pun tidak akan dapat jika bukan orang yang dituju oleh Petapa Agung.
"Saya Nirankara Hayan Wijaya memberi salam kepada Petapa Agung." Hayan menundukkan sedikit tubuhnya.
Tidak ada manusia di pulau tempatnya memijakkan kaki kecuali tunduk pada keputusan Petapa Agung.
"Dua orangmu sudah pergi dan tak kan kembali." ujar Fusena singkat. Ia tidak perlu menjelaskan dengan detail tempat tujuan kedua orang mata-mata Hayan pergi.
"Terima kasih sudah memberitahu saya."
Fusena pergi bagai angin, tidak lagi terlihat di keraton setelah Hayan menegakkan tubuhnya.
••••••••••••••••••••
Di atas ranjang kayu yang berada di sebuah gubuk terdapat sepasang mata yang terpejam, mata itu bergerak perlahan lalu terbuka. Silau ruangan membuatnya mengerjap beberapa kali hingga terbiasa.
"Fusena?" gumamnya melihat siulet orang yang dikenalnya sedang menggenggam tangannya.
"Detik terakhir portalnya tertutup. Mbakyu jadi kembali ke sini." Fusena melepaskan tangannya yang tanpa ia sadari menggenggam tangan Idaline. Dalam hati Fusena, ia terus menyalahkan dirinya yang membuat Idaline terbaring lemah. Membentaknya saja ia tak sanggup.
"Begitu.." ucap lemah Idaline.
__ADS_1
"Maafkan aku tidak bisa membukanya dalam waktu dekat, mbak. Perlu sepuluh tahun untuk mengumpulkan energi besar agar portal dimensi dapat terbuka." jelas Fusena.
"Kamu sudah berusaha keras. Jangan bersedih seperti itu. Aku ingin beristirahat, tubuhku lelah sekali." Idaline memunggungi Fusena dan menangis tanpa suara di sana. Harapannya pupus sudah.
"Beristirahatlah yang nyaman. Tiga hari lagi kita akan mulai perjalanan." Fusena mengelus rambut Idaline dengan sayang.
"Tidak!!" Mata Idaline yang baru terpejam kembali terbuka. "Ada mata air yang terhubung dengan dunia modern. Tempatnya di pegunungan yang penuh dengan pohon jati!" Idaline menjelaskan dengan semangat terbayang isi surat dari Cakra.
"Baiklah. Aku akan memeriksanya." cetus Fusena tidak berniat mengajak Idaline.
"Aku ingin melihat langsung dengan begitu aku bisa langsung kembali. Ya? Ya?" pinta Idaline menggenggam tangan Fusena.
"Istirahat yang cukup dahulu, mbak." Fusena menarik tangannya tidak ingin terbujuk rayuan Idaline. Kakak sepupunya itu masih lemah.
"Kakiku sangat kuat untuk berjalan dan berlari," Idaline turun dengan susah payah. Dia berjalan beberapa langkah dan terhuyung lalu Fusena menangkap Idaline yang hampir terjatuh menyentuh tanah.
"Kumohon, Fusena. Sudah lama aku berada di sini, tolong biarkan aku ke mata air," Idaline menangis dengan putus asa, dia tidak bisa menunggu sepuluh tahun. Cukup berbulan-bulan ia tidak bertemu orang-orang tersayangnya.
Fusena menepuk punggung Idaline berusaha menenangkannya. "Naik kereta kuda dengan nyaman," putusnya tidak bisa melihat mata Idaline berurai air mata. Pelan ia usap benda cair yang membasahi pipi Idaline.
"Terima kasih," Idaline memeluk erat Fusena dan melanjutkan tangisnya di sana.
Sore itu juga Idaline, Fusena, dan Ekata berangkat menuju tempat sesuai isi surat Cokro. Tidak butuh waktu lama sampai ke sana karena keduanya hafal setiap jengkal Kerajaan Maja, terlebih Fusena yang hafal setiap jengkal pulau mereka berada dan beberapa pulau di sekelilingnya.
"Aura di dalam surat sama dengan di sini. Tapi masalahnya penjaga yang disebutkan sudah kembali jadi patung." ucap Ekata merujuk pada patung yang sedang mereka bertiga kelilingi.
"Ini kondisi karena menggunakan kekuatan terlalu besar, mata air yang terhubung dengannya mengkristalkan si penjaga dengan campuran air dan tanah agar dapat menyelamatkan jiwanya," jelas Fusena.
Idaline duduk bersandar di patung, ia meluruskan kakinya yang lelah, dan pasrah, tidak ada jalan lain yang ia ketahui. "Apakah Roni dan tante Lili kembali dengan selamat?" lirih Idaline bertanya dibumbui perasaan iri.
"Iya. Jiwanya sudah kembali," jawab Fusena.
"Syukurlah," Idaline tersenyum dan berharap mereka berdua segera bertemu orang-orang yang mereka sayangi. Tidak ada gunanya iri pada kebahagiaan orang lain.
Setelah beberapa awan melewati mereka, Ekata pamit mencari bahan-bahan untuk latihannya. Sementara Fusena menunggu Idaline yang diam tidak bergerak dari tempatnya terus menatap kolam mata air yang dangkal.
"Mbak, ayo berangkat," ajak Fusena.
Idaline menggerakkan matanya ke dalam mata Fusena. Menatapnya beberapa saat lalu Idaline menutup matanya menghilangkan pikiran kosong dari otaknya.
"Ayo," sambut Idaline menerima ajakan Fusena.
Idaline berpikir tidak akan ada perkembangan untuk mencari jalan pulang jika terus berada di tempat yang sama.
Ia memutuskan untuk ikut dengan Fusena melakukan perjalanan panjang yang jauhnya sesuai langkah kaki.
••• BERSAMBUNG •••
© Al-Fa4 | 20 Agustus 2021
Teman-teman, mohon dukungan like, komen, dan share yaa. Jangan lupa vote setiap pekan dan sumbangkan beberapa poin untuk menambah semangat author.
Terima kasih banyak atas like, komen, vote, dan hadiahnyaa. Author sangat semangat melihat support kalian.
Terima kasih banyak pada pembaca setia dan pembaca baru. Silakan tinggalkan kritik dan saran dengan tutur kata yang baik yaa.
Sehat selalu semua.
Love, Al-Fa4
Today In History :
20 Agustus 636 M
Kemenangan di Yarmuk.
250.000 tentara Romawi
__ADS_1
vs
36.000 Mujahid dipimpin Khalid bin Walid.