![TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz--berpindah-ke-zaman-keemasan-.webp)
"Karena kamu sudah mengajariku pelajaran yang sulit kucerna selama ini, katakanlah jika ingin sesuatu."
Hayan tidak menyangka ada sebuah mutiara dalam kubangan kotor. Rakyat jelata yang hanya bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan kotor ternyata di antaranya ada orang yang begitu cemerlang.
Pandangannya pada dunia jadi benar-benar berbeda. Mutiara tak hanya terjaga di tempat yang indah, terkadang ia menyasar ke kubangan nan kotor.
Setelah dalam genggamannya, ia akan menyimpan mutiara itu dengan baik.
"Saya tidak ingin belajar tata krama." pinta Idaline cepat. Dia tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan yang datang di hadapannya termasuk makanan.
Bukan tidak tahu malu dan bukan malas berbasa-basi. Namun jika benar-benar ingin, kenapa harus berpura-pura?
Jangan campur adukkan kelaparan dan kebohongan.
"Ditolak." Hayan menggelengkan kepalanya. "Dan karena sekarang kamu guruku, bicaralah yang nyaman. Cukup pakai kata aku-kamu, saya-Anda terasa jauh."
"Baiklah." Idaline menganggukkan kepalanya. Permintaan kecil Hayan tidak bisa ia besar-besarkan.
Mau memanggil dengan sebutan apa pun kalau lembut dan dapat dimengerti adalah yang terbaik. Lu-gue akan terdengar sopan ketika dikatakan dengan halus.
"Aku akan belajar tata krama, sebagai gantinya aku ingin belajar bela diri bukan seni."
Hayan menaikkan alisnya heran. Bukan hanya dari cerita Sudewi bahwa Idaline adalah Dewi Seni di kepulauan ini, wajah Idaline sangat cocok dan tangan Idaline terlihat mahir bahkan sebelum ia mulai belajar.
"Kamu tidak ingin belajar seni?" tanya Hayan memastikan.
"Seni itu bukan bidangku. Lebih baik menghitung angka berekor." Idaline menunjuk kertas coret-coretan.
Hayan berpikir sejenak. Bakat yang sampai dijuluki dewi haruskah ia hilangkan?
Kalau sudah memasuki dunia bela diri, tangan tidak lagi lembut, akan ada otot di mana-mana. Tidak mungkin kan dewi berotot?
Tapi ia sudah berjanji, mungkin saja kali ini Idaline akan menjadi Dewi Perang.
"Baik, akan kukatakan pada guru seni." setuju Hayan, ia menatap obor-obor yang mulai redup tanda waktu sudah berlalu lama. "Hari semakin larut. Aku kembali dulu."
"Yang Mulia Pangeran, bisakah jangan mengganggu di waktu malam? Orang-orang akan curiga dan berpikiran aneh." kata Idaline membantu Hayan membereskan kertas.
Sebenarnya Idaline tidak peduli pandangan orang lain, ia hanya ingin beristirahat dan bersantai di malam hari.
"Ucapanmu lebih mencurigakan."
Hayan berbalik keluar dari Kedaton Sedap Malam menaiki kudanya pulang ke Kedaton Kambang, tempat tinggal Hayan yang dikelilingi empat puluh persen air dari keseluruhan air yang berada di Keraton.
Idaline mengacungkan jari tengahnya. Gadis itu menatap kepergian Hayan dengan kesal.
Siang hari ia harus berkutat dengan guru-guru yang sulit dan malam hari harus berurusan dengan orang yang lebih sulit.
Sedangkan di hari-hari libur selalu diadakan pertemuan antara keluarga kerajaan dan keluarga bangsawan yang berbeda-beda tiap pertemuannya.
Idaline menghela napas. "Kapankah aku bisa beristirahat?"
"Yang Mulia, hamba sudah menyiapkan air hangat."
"Tidak perlu. Aku sangat mengantuk."
Nanti kalau tubuhnya segar malah jadi begadang.
••••••••••••••••••••
Idaline terbangun dengan tubuh yang lengket. Kemudian semuanya hilang dan ia merasa segar saat tubuhnya memasuki air dingin yang mengalir langsung dari mata air.
__ADS_1
Memakan sarapan yang telah disediakan lalu bersantai hingga siang hari adalah rencananya sebab jadwal pekan itu, selama lima hari berturut-turut semuanya tentang kesenian untuk menyambut pesta ulang tahun Hayan yang kian mendekat.
Pagi-pagi sekali datang utusan Djahan meminta waktu sore Idaline untuk mengajarinya hitung cepat dan masalah matematika lainnya.
Selama berhubungan dengan Djahan, lelaki itu sangat pengertian tentang yang ingin dan tidak ingin Idaline lakukan tanpa perlu berkata, jadi Idaline akan memaafkannya karena mengganggu jadwal santainya.
"Katakan aku bersedia." ucap Idaline pada pembawa pesan.
Ia tidak mengalihkan wajahnya dari halaman buku sejak pelayan itu masuk dan kini sudah melangkah keluar. Isi buku di tangannya sangat ambigu jika tidak membaca sampai akhir. Harus membaca semua kalimat barulah mengerti maksudnya.
"Aku datang."
Idaline terlonjak kaget melihat Hayan masuk ke ruang santainya tanpa permisi. Dalam sekali gerakan ia turunkan kakinya yang ia naikkan di meja, menaruh camilan yang semula berada di perut ke meja, dan meletakkan buku yang dibacanya ke meja.
Harinya yang tenang hilang sudah.
"Ckck." decak Hayan dengan pandangan menghakimi pada kelakuan Idaline.
Serendah-rendahnya budak saja mengerti tata cara duduk dengan benar, ini rakyat jelata yang baru naik menjadi bangsawan malah bersikap terbelakang.
"Mutiara ini masih perlu digosok."
"Apa yang Anda lakukan di pagi hari begini?"
"Karena kamu tidak ingin mengajariku di malam hari, dengan senang hati aku datang pada pagi hari."
"Tapi Anda sudah belajar semalam, bukan, Anda seharusnya belajar bela diri pada pagi hari."
"Bela diri bisa dipelajari kapan pun. Sedangkan pengetahuan umum lebih baik saat pagi hari agar lebih cepat masuk ke otak." Hayan mengetuk kepalanya sendiri. "Dan ucapkan aku-kamu jangan lagi saya-Anda."
"Karena kamu sudah berbaik hati mengeluarkan aku dari kelas seni, aku tidak dapat berucap hal lainnya."
"Yang Mulia, Tuan Mahapatih menunggu di ruang kerjanya." lapor dayang mendapat pesan dari Siji yang menjemput di depan.
"Ah benar."
Karena keantusiasan Hayan, Idaline jadi tidak bisa berhenti mengajarkannya hal-hal yang Idaline tahu. Makan siang pun mereka lewati dengan berbagai diskusi ringan.
"Mohon maaf Yang Mulia, aku memiliki janji dengan Mahapatih sore ini." Buru-buru Idaline bereskan barangnya dan mengumpulkan barang-barang Hayan agar tidak ketinggalan.
"Aku sudah mengganggumu seharian." ucap Hayan tersinggung.
Hayan tidak pernah diabaikan seperti ini, semua orang pasti membatalkan janji mereka demi bersama dengannya. Ia menatap Idaline yang tersenyum lebar, menyuruhnya untuk cepat membatalkan janji dengan Mahapatih.
"Tidak masalah. Yang mengetahui harus memberitahu. Aku pergi dulu." Idaline harus menepati janjinya. Ia melesat pergi meski tahu Hayan tidak mau ditinggal.
"Dia berani meninggalkanku?!" marah Hayan. "Bukannya dia sangat cerdas? Kenapa tidak peka?" kesalnya mengintip kepergian Idaline dari jendela.
Sementara Idaline tersenyum semringah melihat meja tamu di ruangan Djahan. Sudah tersedia kertas dan kuas, tak lupa berbagai macam camilan.
"Keripik pisang dan es cokelat kan?" sambut Djahan berdiri dari meja kerjanya.
"Memang Mahapatih yang paling pengertian."
Idaline tidak harus melakukan salam dan tidak perlu menerima salam, hal-hal formal lainnya juga sepakat tidak perlu mereka lakukan. Idaline langsung mengambil duduk begitu Djahan menunjuk kursi dengan tangannya dan berjalan mendekat.
"Tapi Anda harus menguranginya. Tabib bilang gigi Anda akan sakit." pesan Djahan menuangkan air putih.
Idaline tersenyum kecil menerima air dari tangan Djahan. "Akan saya ingat."
••••••••••••••••••••
__ADS_1
Merekatkan kedua telapak tangan di depan dada, Idaline berdiri tegak dengan menempelkan telapak kaki kanan ke paha kiri dan lutut kanannya menekuk ke luar menjauhi tubuh. Selama beberapa detik ia bertahan di posisi itu kemudian kakinya berganti.
Idaline melakukan yoga di dalam kamar untuk menjaga kebugaran tubuhnya. Bejo tidak memperbolehkan Idaline berlarian di halaman beralasan kaki Idaline masih lemah untuk melakukan olahraga berat dan juga akan menimbulkan otot kaki yang besar.
Sudah tiga hari Hayan tidak mendatanginya dan Djahan belum memanggilnya sejak sore yang lalu. Jadwal malas-malasannya akhirnya terpenuhi.
"Kayanya tidak." gumam Idaline melihat Bejo yang bertugas di luar sudah kembali.
Bejo, wanita paruh baya yang memiliki tinggi sama dengan rekan-rekan prianya, berdiri menjulang di hadapan Idaline. Matanya yang lebar menyipit menatap tajam Idaline.
Yang ditatap tersenyum canggung merasa telah ditangkap basah sedang melakukan sebuah kejahatan besar.
"Saya dengar Anda meninggalkan Yang Mulia Pangeran dengan dingin di kediaman ini." ucap Bejo memperhatikan ruangan yang dikosongkan tengahnya. Meja, kursi, nakas, dan perabot-perabot yang semula menghiasi kamar, ditumpuk di sisi kanan dan kiri.
"Apa? Tidak, saya ada janji yang harus dipenuhi." Idaline membereskan karpet yoganya dan mengambil selendang menutupi lekuk tubuhnya. Ia tuntun Bejo keluar dari kamar.
Idaline menggerakkan matanya menyuruh dayang mengembalikan perabot ke tempat semula.
"Tetap saja itu sangat tidak sopan." Bejo duduk di ruang tamu menerima jahe hangat yang selalu dia dan Idaline minum bersama di pagi hari.
"Apa dia melapor?" Inilah sebab Idaline tak suka anak kecil. Mereka akan berkata sesuai yang mereka inginkan tanpa peduli keadaan dan situasi.
"Saya dengar dari para dayang beliau duduk menunggu hingga matahari terbenam. Sementara Anda pergi keluar meninggalkan beliau."
"Bibi datang lebih cepat dan bilang mendengarnya dari dayang??" Bola mata Idaline memutar tak percaya.
"Sudah kukatakan, aku memiliki janji."
Idaline sengaja merubah ucapannya menjadi non-formal agar fokus Bejo beralih dan sibuk membenarkannya. Ia tidak mau masalah ini semakin besar dan buruk.
Dayang dan pelayan tidaklah tuli. Kalau berita ini mulai keluar, akan ada pihak-pihak yang mencoba memanfaatkan keadaan.
"Dengar, Yang Mulia. Anda harus memprioritaskan keluarga ratu melebihi segalanya, bahkan jika harus mengorbankan nyawa." Bejo memegang bahu Idaline.
"Gagal."
Idaline menggerakkan punggungnya melepaskan tangan Bejo. "Setiap janji harus dipenuhi, kalau tidak aku akan merasa sangat buruk."
"Anda tidak salah. Tapi memprioritaskan–"
"Bibi!" potong Idaline. "Sepertinya Anda kelelahan hingga membahas hal yang sudah jelas ini. Ijem, antarkan bibi ke ruangannya."
"Anda sudah melakukan kesalahan. Salinlah buku tata krama sebanyak lima puluh halaman." balas Bejo tidak melewatkan kesempatan memperbaiki sikap Idaline.
"Ah bibi, aku telah melakukan kesalahan." Idaline memegang tangan Bejo.
Menulis panjang lebar adalah kelemahannya. Di awal kalimat tulisannya akan bagus namun selanjutnya ceker ayam yang berada di atas kertas. Tangannya pun akan kram karena ketika menulis ia menekan kuat-kuat setiap alat tulis.
Itu sebabnya ia selalu membuat rangkuman.
"Aku akan meminta maaf dengan benar. Mohon jangan melakukan hal kejam seperti itu." Idaline memandang harap pada Bejo. Matanya membulat dan bibirnya menekuk ke bawah.
Bejo merasa silau dengan ekspresi Idaline. Ia menghela napas panjang. "Raden Ajeng benar sekali, saya sangat kelelahan. Silakan minta maaf dengan benar."
"Terima kasih bi." Idaline berlari masuk ke dalam kamar tidak ingin mendengar omelan tambahan.
Bejo menggelengkan kepalanya, hatinya merasa sedih gadis sepolos itu akan masuk dalam intrik istana yang rumit.
"Apakah Anda akan menjadi sedingin es?"
••••••••••••••••••••
__ADS_1