TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]

TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]
076 - LAPANGAN BUBAT


__ADS_3

Saat hari berganti, suasana hati juga berganti. Hari ini Hayan kembali bekerja dengan serius dan membara.


Idaline jadi melihat dirinya di dunia modern yang cepat berubah mood, bahkan lebih cepat, bukan hitungan hari tetapi hitungan menit.


Dengan kondisi seperti itu dia sangat berterima kasih untuk orang-orang yang selalu menyayanginya.


Menerima segala kekurangan dan yang hal-hal yang terlalu berlebih.


Terima kasih untuk mereka yang tidak meninggalkan dirinya yang begitu absurd.


"Maharaniku, istirahat saja. Kemarin kamu sudah menggantikanku," ucap Hayan pada Idaline yang telah selesai menyortir pesan.


"Karena maharaja berkata demikian, saya akan kembali."


Idaline tidak membantah, malas-malasan adalah keinginannya. Apalagi pria yang sedang bekerja di depannya ini terus menerus menipunya kemarin siang dan dilanjut pada malam harinya.


Idaline hendak menaiki tandu namun langkahnya terhenti karena kedatangan kuda hitam, kuda yang tadi dikendarai Idaline dan Hayan berduaan.


Idaline mengelusnya dan dibalas jilatan dan dengusan, pertanda hati si kuda senang.


"Mau ikut?" tanya Idaline.


Si kuda mengangguk seolah paham pertanyaan Idaline.


"Yang Mulia Maharani, mohon maaf sebelumnya. Yang Mulia Maharaja memberikan titah agar Yang Mulia Maharani tidak mengendari kuda sendirian tanpa beliau."


Idaline merenggut kesal. Dia seperti seorang yang lemah saja. Tapi Idaline tetap menaiki tandu yang diletakkan di kakinya.


"Kakak, aku tidak bisa menemuimu dua hari ini," adu Candra menyambut dan membantu Idaline turun dari tandu.


"Hari ini aku lelah sekali. Candra sampaikan perkembangannya besok saja." Idaline berkata dengan lemah. Dia sungguh merasakan lemas. "Salah Hayan!" gerutunya dalam hati.


"Baik, kakak."


Setelah beberapa langkah pandangan Idaline menghitam, ia merasakan Candra menangkapnya dan memanggilnya penuh khawatir.


Sambil memeluk Idaline, Candra berteriak memerintahkan para dayang untuk memanggil tabib. Dayang-dayang yang panik karena teriakan Candra membiarkan pria itu menggotong Idaline sampai ke kamar.


Mereka melupakan peringatan dari Maharaja bahwa apabila ada laki-laki lain menyentuh Maharani seujung rambut saja, nyawa mereka akan jadi taruhannya.


Dayang-dayang itu baru menyadari sikap tidak sopan Candra saat Candra terus memanggil Maharani dan mengguncang-guncang tubuh perempuan tertinggi Bhumi Maja itu.


"Tuan, Anda-"


"Kakak!" panggil Candra membangunkan Idaline.


"Uh? Candra? Kamu belum pulang?" Kepala Idaline terasa sangat pening. Dayang sontak saja membantu Idaline untuk bersandar dengan nyaman.


Kemudian Idaline mengibaskan tangannya menyuruh para dayang untuk pergi melihat wajah Candra sangat serius.


"Kakak hamil."


Ucapan Candra membuat Idaline terkejut. Namun suara sedingin es milik Candra lebih membuat Idaline terkejut. Pria yang batal menikah itu selalu ramah padanya.


Idaline memijat pelipisnya. Tentu saja hal ini besar kemungkinan terjadi apalagi Hayan selalu saja dapat menipunya. Idaline tidak memikirkan untuk meminum obat pencegah kehamilan karena dia selalu disibukkan berbagai hal.


"Kalau kakak ingin pergi, aku siap membantu," tutur Candra dengan wajah serius.


Idaline memikirkannya, dia akan pergi bersama Djahan bila itu memungkinkan tetapi keluarga Widya yang jadi taruhannya. Lagipula waktunya tinggal sedikit jadi Idaline tidak memusingkan rencana pelarian diri bersama Djahan.


Nanti dia akan bersama Djahan dengan dirinya yang asli, Udelia.


"Kakak, Maharaja telah melamar wanita lain dan akan terus melakukannya. Daripada anak ini menderita dan kakak jadi terikat. Pikirkanlah dengan baik, kak!" jelas Candra coba meyakinkan Idaline.


"Candra, apa kamu pikir sekarang aku belum terikat?"


"Kalau pernikahan adalah sebuah ikatan, kakak tidak akan berpisah dengan mahapatih," balas Candra.


"Heh." Idaline mengangkat ujung kanan bibirnya. Anak kecil ini sudah berani membalasnya. "Tidak usah kamu pikirkan. Katakan pada yang lain jangan beri tahu maharaja dulu."

__ADS_1


"Baik, kak."


"Pulanglah, aku ingin beristirahat."


••••••••••••••••••••


"Maharani, apa yang terjadi?" tanya Hayan melihat barang-barang Idaline dikeluarkan dari kediamannya.


"Maharaja, rasanya sangat tidak pantas berada di sini ketika kalian akan menikah."


Idaline tidak mau mengganggu pasangan pengantin baru.


Dan dirinya tidak mau menambah kadar rasa nyaman di dalam hati pada pria di depannya.


"Sedap Malam masih direnovasi." Hayan tidak ingin mengengkangnya jadi hanya ini yang bisa dia katakan.


"Oh, aku belum melaporkan ya? Renovasinya sudah selesai, Candra membawa teman-temannya. Sihir bisa menerbangkan benda dengan mudah," ujar Idaline mengumpulkan berkas-berkas penting miliknya.


"Para penyihir yang tidak mau bergabung dengan orang lain itu membantu?" tanya Hayan keheranan. Orang-orang yang menutup diri itu tidak mungkin mau berbaur!


"Bukan tidak mau bergabung, mereka hanya tidak cocok dan harus menjaga emosinya tetap stabil," jelas Idaline yang dalam beberapa hari ini sering terlibat dengan rekan-rekan Candra. Idaline buru-buru menggendong berkasnya karena sepertinya suami mudanya ini akan menahannya.


"Sapta Prabu saja sulit menemui mereka," timpal Hayan.


"Penyihir tidak mau berjumpa orang yang berambisi besar."


Saat Idaline hendak meraih pena, benda hitam lonjong itu terjatuh dari meja. Idaline memandang penanya yang menggelinding di tanah hingga terhenti di kaki lemari.


"Dayang, ambilkan penaku!" perintah Idaline pada dayang lalu kembali fokus pada suaminya. "Aku permisi," pamitnya.


"Padahal biasa memakai kaki," gumam Hayan mengingat kaki Idaline yang selalu digunakan mengambil benda yang terjatuh. Hayan membiarkannya karena Idaline tidak pernah melakukan hal itu di muka umum.


Jika Idaline melakukannya di muka umum pasti saat Idaline memakai jarik dan akan terlihat surga dunia. Kakinya yang mulus, jari-jemarinya yang indah, bahkan mungkin bagian kesukaannya.


Tentu saja Hayan tidak akan memberikan kesempatan orang lain untuk melihatnya!


"Yang Mulia, Anda akan membiarkan Yang Mulia Maharani pindah begitu saja?" tanya Huna. Dia melihat beberapa hari ini Maharaja selalu menempel pada Maharani selain di waktu kerja.


Bahkan di waktu kerja Maharaja sering kedapatan sedang melamun.


Huna tahu Hayan melamuni Idaline karena Hayan terus memandangi sisir Idaline yang Hayan bawa diam-diam. Bahkan tak jarang Huna memergoki Hayan sedang mencium aroma sisir itu.


Di hari-hari selanjutnya yaitu setidaknya satu kali di waktu pagi, satu kali di waktu siang, dan satu kali di waktu sore, Maharaja akan melakukan hal tersebut seolah hal tersebut adalah hal yang tidak dapat ditinggalkan.


Untung saja Maharaja sangat profesional dan pekerjaan kerap selesai lebih cepat.


Namun memandangi dan menghirup aroma sisir?


Benar-benar sangat aneh!


"Ingat desain di Bale' Ndamel?" tanya Hayan menyadarkan Huna.


"Hamba sudah menyerahkannya pada kepala kuli," ujar Huna sopan. Dia mengkutuk otaknya yang sudah berani memanggil Maharaja dengan sebutan aneh.


Hayan tersenyum mendengar jawaban Huna. Jika saja jawaban lain yang didengarnya, mungkin bukan senyuman yang akan diterima Huna.


"Keraton Capuri akan mulai direnovasi besok."


Huna menganga mendengar ucapan yang lebih mengarah kepada titah. Saat menyerahkan desain Huna memberitahukan tata cara penunjukkan kuli agar dapat menjaga kerahasiaan bangunan inti Keraton itu.


Dia telah memberikan perintah untuk menemukan golongan pekerja pertama dalam waktu tiga hari. Jika dibangun besok berarti kuli dan bahan bangunannya harus sudah tersedia!


"Hamba akan siapkan sekarang juga," ucap Huna melesat memanggil seluruh abdi dalem dan dayang.


Idaline yang sedang terpejam menikmati aroma terapi mengintip Hayan yang dengan santai masuk ke dalam kamarnya di Kedaton Sedap Malam.


"Kenapa kemari?" tanya ketus Idaline.


"Keraton Capuri sedang diperbaiki," jawab Hayan meminum teh herbal di gelas bekas bibir Idaline, bibir yang dirindukannya.

__ADS_1


Setelah menyuruh Idaline untuk istirahat, Idaline terus saja menolak ajakannya untuk memadu kasih. Dia sangat gelisah Idaline sudah tidak lagi peduli padanya, namun setiap melihat wajah lelah Idaline yang terlelap, Hayan menjadi luluh dan merasa cukup menghirup pucuk kepalanya sepanjang malam.


Selalu seperti itu apabila Hayan mulai meminta haknya.


Idaline membuka matanya dan melotot. "Eh? Kamu sudah menyetujuinya? Padahal baru kuberikan tadi pagi. Lihatlah dulu dengan saksama!"


Idaline merasa tidak mengerjakannya dengan maksimal karena tubuhnya kadang lemas tak bertenaga.


Idaline tidak merasakan mual atau hal-hal lain yang dia ketahui, hanya saja di waktu siang menyapa dan malam mulai gelap, tubuh Idaline selalu minta bergelung di atas kasur dan tidak ingin mengerjakan hal lainnya. Tetapi Idaline tetap profesional mengerjakan tugasnya.


"Sepanjang hari aku memperhatikan desainmu."


"Maharaja, kedaton kambang masih kosong." Idaline mengusir dengan halus lalu memejamkan matanya. "Huna sedang menunggumu dengan gelisah," ujarnya tanpa membuka mata.


"Aku tidak merasakannya," gumam Hayan berdiri menuju ruang tamu. "Kamu bilang sudah menyelesaikan pindahan!" Hayan berkata dengan kesal. Dia paling benci apabila diganggu ketika bersama dengan Maharaninya.


Huna terlonjak, dia memegang jantungnya yang berdetak kencang. Ini bukan waktu yang tepat tapi berita yang didengarnya harus diberitahukan langsung pada Maharaja.


"Ehm. Hamba memberi salam kepada Yang Mulia Maharaja. Prabu Lingga Buana, Putri Citra Resmi, dan rombongan sudah sampai di Lapangan Bubat. Beliau menunggu jemputan istana."


"Laporkan saja hasilnya. Tidak perlu bertanya padaku. Semua sudah diurus Sapta Prabu," terang Hayan masih dengan kedongkolan.


"Ya.. Yang Mulia, perwakilan keluarga-keluarga besar telah berkunjung ke Lapangan Bubat. Kalau hanya mengirim prajurit.."


"Panggil Rakryan Tumenggung, perintahkan dia memimpin rangga untuk menjemput Prabu Lingga dan rombongan," putus Hayan cepat.


"Baik, Yang Mulia."


"Katakan pada Maharani, aku akan bekerja malam ini," pesan Hayan pada dayang.


"Yang Mulia–"


"Aku mendengarnya sangat jelas," potong Idaline. "Tidak usah berwajah sedih begitu." Idaline tersenyum tulus menambah luka di hati dayang.


"Karena tidak ada Maharaja, keluarkan sisa cokelat yang aku punya!" seru Idaline bersemangat.


Sementara itu di Bale' Ndamel, Hayan mendapatkan tamu yang tak terduga. Jika Hayan menjadi dirinya, mungkin Hayan sudah menghancurkan orang yang merebut Idaline.


Kadang Hayan merasa dan berharap cinta Djahan tidak tulus agar dia tidak lagi dihantui perasaan bersalah.


Namun pria itu tidak akan seperti itu.


Diamnya Djahan seperti ini membuat Hayan tidak bisa menebak kejutan yang kelak akan diberikan Djahan pada dirinya.


"Maharaja, kerajaan Galuh bukanlah tandingan kita. Mereka hanya mempunyai seperempat pulau ini."


Djahan yang mendengar kedatangan kerajaan Galuh di Bubat, sekali lagi memperingati Hayan yang terus mengabaikan masukkannya.


"Sedangkan Bhumi Maja sudah berhasil menaklukkan Lamuri," tambah Djahan mengingatkan betapa luasnya Maja yang telah berganti dari Kerajaan menjadi Bhumi.


Begitu Hayan naik tahta, seluruh informasi dari mata-mata dikumpulkan. Tanpa menunggu waktu, Hayan menyerang seluruh bagian pulau Suwarna yang sedang berperang antar kerajaannya.


Mereka yang sedang lelah atau fokus bertarung terkejut dengan kedatangan pasukan yang dikirim Hayan.


Hanya dalam sembilan bulan Suwarna takluk dibawah Bhumi Maja. Djahan merasa cita-cita besarnya menyatukan seluruh kepulauan benar-benar akan terwujud.


"Bagaimana Maharaja? Mereka akan besar kepala jika begitu saja melejit naik. Jika Anda menerima putri, ingatlah Maharani," desak Djahan tidak terima.


"Mahapatih.." Hayan menjadi bimbang.


"Maharaja, saya bukan membuat pilihan."


••• BERSAMBUNG •••


© Al-Fa4 | 29 Oktober 2021


 


 

__ADS_1


__ADS_2