![TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz--berpindah-ke-zaman-keemasan-.webp)
Idaline menatap Hayan di pantulan cermin sedang menunggunya bersiap.
Semalam pria itu datang mengucap maaf lalu berbaring sambil memeluknya.
Idaline pun kembali tidur tidak terlalu memusingkan yang terjadi.
Pria itu memang selalu datang saat malam hari.
"Aku ingin sendiri selama beberapa hari ke depan," kata Idaline memperhatikan Hayan sedang bersiap.
Kemandirian Idaline menurun pada Hayan. Pria itu tidak membutuhkan orang lain untuk membantunya mandi dan berpakaian.
Sekarang tubuh menjadi aset berharga bagi Hayan.
Tidak ada yang boleh melihat tubuhnya kecuali Maharaninya.
"Apa kamu kecewa bukan Mahapatih yang datang?" sindir Hayan.
Perempuan ini sangat berani menyebut nama pria lain saat berbaring di atas ranjangnya!
Idaline tidak menanggapi Hayan. Dia kembali fokus menyisir rambutnya. Dia merasa senang rambutnya bisa tumbuh dengan panjang meski tidak setebal rambut Udelia.
Rambut Udelia hitam, tebal, dan sedikit bergelombang, tumbuhnya lambat.
Berbeda dengan rambut Idaline yang cepat panjang dan lebih lurus namun tipis tidak setebal rambut Udelia.
"Idaline.." Hayan mengelus kepala Idaline yang diam tidak menanggapinya. "Ayo, semua sudah menunggu," ajaknya dengan lembut.
Hayan tidak bisa lagi marah pada perempuan ini.
Idaline nampaknya tidak peduli dengan keberadaan Hayan!
Jika Hayan terus mengabaikan Idaline, perang dingin ini tidak akan pernah berakhir.
Idaline memegang lengan Hayan dan berjalan dengan lambat di sisinya, dia tidak melepaskan tangannya bahkan ketika di dalam kereta.
Wanita yang sedikit membuncit perutnya itu menatap keluar menikmati taman yang dipenuhi berbagai bunga baru yang berwarna-warni.
Idaline tidak terlalu menyukai seni tapi mendesain barisan bunga sesuai jenis dan warna adalah wajib untuknya.
Dia tidak suka susunan yang tidak beraturan!
"Ibunda, kenapa kita berkumpul di sini?" tanya Netarja.
Dia, kedua orang tuanya, dan kedua sepupunya saat ini sedang berkumpul duduk di meja besar yang berisi berbagai jenis makanan dari yang sering mereka makan sampai makanan yang baru mereka lihat.
Tidak mungkin kan Maharaja mengundang mereka hanya untuk sekedar makan bersama?
Sekarang mereka bukanlah orang-orang yang senggang.
"Mungkin karena kemenangan Suwarna?" tanya balik Gitarja memperhatikan banyaknya makanan seperti sedang mengadakan pesta.
Dia juga tidak mengerti kenapa putranya menghalangi dirinya untuk keluar keraton. Padahal biasanya anak itu hanya peduli pada pekerjaan dan istrinya.
__ADS_1
Gitarja memahami kesibukan anak-anaknya jadi dia merasa heran putranya memiliki waktu untuk pertemuan keluarga.
Setidaknya di saat-saat tegang seperti sekarang sangat tidak mungkin membuat acara temu kangen keluarga.
"Kemenangan seperti itu cukup dilakukan di daerah," timpal Hayan melangkah masuk ke Bale' Bandhang, bale' terbesar kedua yang digunakan para selir raja kedua untuk melakukan upacara-upacara besar.
"Kami memberi salam kepada Yang Mulia Maharaja dan Yang Mulia Maharani. Semoga selalu dilimpahi kejayaan dan keagungan." Para bhre bangkit dan menundukkan sedikit tubuhnya menyambut kedatangan Hayan dan Idaline.
"Tidak perlu sungkan. Silakan duduk dengan nyaman," kata Hayan menyudahi salam formal mereka. Hayan tergemap kala Idaline melepas tangannya.
Dia tersenyum melihat Idaline mendekati ayah dan ibunya kemudian mencium tangan keduanya.
Dhara, ayah Hayan, mengusap lembut kepala Idaline dan memberikan do'a keselamatan.
Gitarja, ibu Hayan, melakukan hal yang sama lalu cipika cipiki, menempelkan pipinya ke pipi Idaline dan memeluk menantu pertamanya itu.
"Gimana kabarmu, nak?" tanya Gitarja usai memeluk Idaline. Gitarja memindai tubuh Idaline dari atas ke bawah.
"Istriku hamil," jawab Hayan mendahului Idaline.
Dia melingkarkan tangannya di pinggang sang istri.
Ibunya ini nampak geram melihat pakaian Idaline sangat polos tidak menunjukkan keagungan seorang istri Maharaja.
"Oooo." Netarja menutup mulutnya sambil tersenyum.
Ternyata keadaan keduanya sangat baik. Kerisauan Netarja selama ini ternyata percuma saja.
"Kenapa tidak memberi selamat padaku? Aku yang berjuang keras. Maharaniku hanya berdiam diri di bawahku menikma-" Hayan menghentikan ucapannya. Ia meringis merasakan benda tajam menusuk kulitnya.
Kuku Idaline yang tajam itu menancap di pinggangnya. Kuku Idaline tidak panjang tapi kuku pendeknya saja mampu meninggalkan bekas memerah di kulit Hayan.
Idaline menatap sengit Hayan. Bisa-bisanya pria ini mengatakan hal-hal memalukan.
Hayan pasti protes karena selama ini Idaline tidak pernah memintanya duluan atau memegang kendali!
"Putraku pasti menyiksamu. Maafkanlah keras kepalanya." Dhara menepuk pelan kepala Idaline. "Sehatlah selalu hingga anakmu menjadi seperti kalian berdua."
"Terima kasih, ayahanda."
"Selamat ayunda, kakanda," lontar Indudewi yang berdiri paling jauh, ia meletakkan tangan di punggung lalu menggerakkan jari telunjuk memberi kode pada perempuan di belakangnya.
"Selamat ayunda, kakanda. Semoga diberi kemudahan hingga persalinan," ucap Sudewi yang berdiri di samping Indudewi.
"Terima kasih semua," balas Idaline memberikan senyuman terbaiknya.
"Ayo duduk, putriku. Hati-hati." Gitarja dibantu Netarja menuntun Idaline duduk dengan nyaman di kursinya lalu ia kembali ke tempatnya di seberang Idaline.
Dhara memandang hangat keluarganya yang tetap akur meski berada di dalam tembok istana, dia menatap perut Idaline dan mendo'akan keselamatan cucunya.
Bagaimanapun kuatnya kedua orang tuanya, cucunya ini telah memiliki banyak musuh sejak di dalam kandungan dan suatu saat harus menghadapi mereka seorang diri.
Dia berharap cucunya cerdas dan tangguh sama seperti kedua orang tuanya.
__ADS_1
Sesaat kemudian dia merasakan hawa panas yang menguar, Dhara menaikkan alisnya menemukan Hayan sedang menatapnya tajam.
Putranya ini bisa-bisanya cemburu pada dirinya.
"Kenapa kakanda tidak mengatakannya?! Kami kan jadinya tidak mempersiapkan hadiah!" omel Netarja. Dia tidak mungkin membiarkan dirinya pergi tanpa memberikan hadiah.
Keponakannya itu kelak bisa menuntutnya karena tidak memberikan hadiah saat dirinya hadir!
"Selamat ya ayunda, kakanda," kata Netarja heboh. Sejurus kemudian tercetus ide dalam benaknya dan Netarja menggosok cincin di jari tengahnya.
"Ini. Kipas lipat buatan sanggar Pejeng Nagara. Meski ayunda tidak perlu benda lemah seperti ini, semoga hiasannya menyenangkan hati ayunda. Warna cokelat seharusnya cocok untuk perempuan ataupun laki-laki."
"Terima kasih, Netarja. Kipasnya sangat indah. Kamu tidak bisa menyebut kayu keramat seperti ini sebagai benda lemah."
"Ayunda terlalu memuji."
"Sayang sekali, saya membawa ikan-ikan kesukaan mbakyu."
Makan daging dan ikan bagi ibu hamil muda merupakan pantangan di kawasan Maja.
Menurut cerita yang beredar, bayi mereka akan memiliki bekas luka seperti luka bakar atau berbentuk seperti sisik bila memakan benda-benda itu.
Maka dari itu si ibu harus memakan sayuran sampai perutnya menonjol barulah boleh memakan daging-dagingan.
Apalagi ini adalah bayi yang berharga. Ketika boleh memakan daging pun harus dipilah dan dipilih.
Semakin tinggi kedudukan semakin banyak pantangan yang harus dihadapi agar bayi lahir sehat jiwa dan raganya.
"Sudewi, jangan menggoda Yang Mulia Maharani," tegur Indudewi.
"Bhre Wirabhumi, bagaimana kabar di sana? Semua sudah berjalan lancar?" tanya Hayan.
Beberapa tahun belakangan Wirabhumi adalah langganan bencana. Tahun ini termasuk yang terparah karena dilanda tiga kali gempa dalam selang waktu yang sebentar.
Dalam laporan yang diterima Hayan keparahannya tidak begitu besar. Tapi entah mengapa Hayan merasa tidak tenang.
Dia ingin mendengarnya langsung.
"Kakanda, kita ini sedang melakukan pertemuan keluarga loh." Netarja merenggut kesal. Sudah susah payah mereka berkumpul, kenapa tidak bisa melupakan masalah lain sejenak!?
"Berkat Maharaja, semua sudah membaik. Bahkan kami dikaruniai banyak ikan berdatangan," jawab Sudewi formal.
"Lihatlah, yah. Mereka malah bicara pekerjaan," adu Netarja pada Dhara.
"Mereka hanya membicarakan kabar, sayangku." Dhara mencubit pipi Netarja. Putrinya tetap manja seperti biasanya.
Netarja paling tidak senang membicarakan pekerjaan di meja makan.
"Yang Mulia Maharani, ada apa?" tanya Indudewi melihat teror di wajah Idaline.
••• BERSAMBUNG •••
© Al-Fa4 | 08 November 2021
__ADS_1